LOGINMereka semua saling memandang, lalu salah satu suster menoleh ke arah Eva.
'Bukannya dia pasien yang baru saja dipindahkan?' pikirnya.
"Maaf, anda mau bawa kemana pasien kami?" ucap salah satu suster.
Eva mengenali suara itu dan tubuhnya pun menegang. Tiba-tiba William merasakan sebuah getaran pada tangannya, ia melirik ke arah Eva dan melihat tubuhnya yang sedang gemetar, wajahnya menjadi pucat. Saat ia berpikir sejenak, akhirnya ia menyadari situasi yang sebenarnya.
Tangan William menggenggam erat tubuh gadis itu, seolah-olah memberikan tanda kalau semuanya akan baik-baik saja. Perlahan-lahan, tubuh Eva menjadi rileks dan tanpa sadar ia membenamkan kepalanya di dada pria itu.
Pandangan William menyapu ke arah suster tersebut, "apakah kalian yang memindahkannya kesini?"
Salah satu suster menyilangkan tangannya di depan dada, "iya, kami yang memindahkannya. Kenapa?"
William tersenyum sinis, "hmph. Sombong sekali kata-katamu, atas dasar apa kalian memindahkan pasien seenaknya?"
Suster tersebut mendengus, "tentu saja atas dasar kenyamanan pasien. Pasien yang ditempatkan di kamar VIP itu adalah orang yang sangat penting dan terpandang jadi perlu perawatan khusus. Jadi kami tidak salah 'kan kalau memindahkannya? Toh dia juga sudah dirawat selama sebulan disana."
William menyipitkan matanya, "jadi kalian merawat pasien hanya karena memandang status ya? Seperti inikah sikap seorang perawat? Saya jadi penasaran dengan latar pendidikan kalian..."
"Heh, apa urusannya denganmu? Kami ini lulusan dari Universitas ternama, kami berhasil masuk ke rumah sakit ini juga berkat kemampuan kami sendiri."
"Benar itu. Kami hanya menjalankan tugas kami saja, kenapa kami yang disalahkan?" sela salah satu suster.
William menarik nafasnya, "dari yang saya tahu, setiap rumah sakit itu punya prosedurnya masing-masing. Kalau mau memindahkan pasien ke kamar lain, bukankah kalian harus memberitahu pasien dan juga keluarganya? Tanpa pemberitahuan itu, berarti sama saja 'kan kalau kalian mengusir pasien tersebut... itu sudah melanggar kode etik lho."
Suster itu terkekeh pelan, "mengusir? Bahkan keluarga pasien ini saja tidak pernah datang sekalipun untuk menjenguk, lalu tidak tercantum nomor telepon keluarganya. Kalau sudah seperti ini, kami harus melapor kemana?"
Mendengar kata-kata itu, hati Eva terasa tertusuk oleh pisau. Raut wajahnya pun berubah menjadi sedih.
Benar juga, bahkan sekarang dirinya sudah tidak memiliki keluarga lagi. Bukan hal yang aneh kalau para suster itu langsung mengusirnya begitu saja, lagipula mereka hanya menjalankan tugasnya.
Eva menggenggam baju William dengan erat.
"Masalah pemindahan kamar, kalian bisa melaporkannya kepadaku."
Eva tertegun, ia menoleh ke arah William. Tatapan mereka saling bertemu, William hanya tersenyum.
"Melapor padamu?" suster tersebut memegang dagunya, "ohh, jadi kamu ya... pria yang selalu menemani pasien cacat itu? Wahh... sangat loyalitas sekali ya, ternyata ada pria tampan yang rela mengurus orang yang cacat sepertinya."
Pandangan William menggelap, ia menatap mereka dengan tajam. Aura di sekitarnya membuat siapapun menjadi tertekan dan terintimidasi. Kedua suster yang lain merasa bulu kuduknya merinding.
"Lalu kenapa kalau dia lumpuh? Dia juga termasuk seseorang yang memiliki hak untuk hidup. Kalian memanggilnya pasien cacat, apa kalian sudah merasa sempurna?"
Mata Eva mulai terasa panas, ia ingin menangis. Baru kali ini ada seseorang yang mau membelanya sampai sejauh ini.
"Ada apa ini?"
Tiba-tiba muncul seorang dokter sambil membawa kursi roda. Ia menatap para suster dengan tatapan heran, lalu tatapannya beralih kepada William.
Dokter tersebut membungkukkan badan, "selamat sore, pak William. Ini kursi rodanya sudah saya bawakan."
Para suster itu saling memandang.
William menurunkan Eva ke kursi roda. Sedangkan salah satu suster menghampiri dokter tersebut.
"Dokter, mengapa anda memanggil pria ini 'pak William'?"
"Kamu tidak tahu pak William?"
"Te-tentu saja saya tahu, pak William itu orang yang terpandang dan yang paling dihormati di berbagai rumah sakit, 'kan?"
Dokter itu mengangguk, "benar." ia menunjuk ke arah William, "orang yang berdiri disini adalah pak William."
Para suster itu matanya membelalak dan mulutnya ternganga.
"Ja-jadi... selama ini pria yang selalu menemani pasien ini adalah..."
Wajah suster itu berubah menjadi pucat. Habis sudah! Mereka sudah menyinggung orang penting bahkan meledeknya.
William menyeringai, "baru takut sekarang? Terlambat!"
Dokter tersebut menoleh ke arah suster dan menoleh lagi ke arah William, "sebenarnya ada apa ini?"
"Mereka sudah memindahkan Eva ke ruang kelas 3 tanpa sepengetahuan saya. Apakah dokter yang meminta mereka?"
"Hah?!" Dokter tersebut terkejut, ia refleks memegang dadanya. "Saya tidak pernah meminta mereka untuk memindahkannya."
"Ta-ta-tapi... kalau dia tidak dipindahkan ke kamar lain, lalu bagaimana dengan pasien yang baru-baru ini masuk? Keluarganya sudah membayar lunas semua biaya administrasinya, 'kan?"
Dokter tersebut menyipitkan matanya, "pasien itu bukannya saya minta dimasukkan ke kamar 301 ya?"
Suster itu terkejut, jantungnya terasa mencelos. Ia mundur beberapa langkah. "Sa-saya..."
Dokter itu mendecak, "dasar bodoh! Kalian bukan hanya menyinggung pak William, tapi kalian juga sudah melanggar kode etik."
Ia menoleh ke arah William, "pak William, maaf sudah menimbulkan kekacauan ini. Nanti saya yang akan memberi mereka pelajaran, lalu mengenai gadis ini..."
"Oh, benar juga." William mengambil secarik kertas dari sakunya lalu memberikannya kepada dokter.
"Saya sudah mengurus semua biaya administrasi Eva, ini adalah bukti pembayarannya."
"A-anda sudah mengurus semuanya?"
William mengangguk, "benar. Kami akan keluar malam ini."
"Kenapa tiba-tiba? Bukankah seharusnya Eva akan keluar besok?"
William menoleh ke arah suster tersebut. "Mereka sudah memindahkan Eva seenaknya tanpa pemberitahuan. Menurut anda, apakah saya masih tetap mempercayakannya kepada orang yang sudah melanggar kode etik?"
Dokter itu menggelengkan kepalanya, "oh, baiklah. saya mengerti, saya akan membantu anda mengurus dokumen-dokumen yang diperlukan. Mari ikut saya."
William mendorong kursi roda Eva dan pergi mengikuti dokter. Saat mereka melewati para suster, William menoleh ke belakang dan menatap mereka dengan sangat tajam.
Mereka yang menatapnya seketika merasakan seluruh tubuhnya merinding, lalu mereka terduduk lemas.
Di depan kantor dosen, William sedang menikmati secangkir kopi yang ia bawa, sambil menatap ke luar jendela. Melihat birunya langit yang disertai dengan awan-awan yang berjalan dengan perlahan. Pikirannya saat ini sedang dipenuhi oleh berbagai macam hal.Tetapi, lamunan itu akhirnya terpecah saat seseorang menepuk pundaknya. "Yo, brother."William mendecak. "Bisa nggak, kamu jangan panggil aku begitu? Kita ini masih di kampus, kau ingat?"Surya menutup mulut dengan tangannya. "Ups, maaf. Kebiasaan soalnya, hehe."William menghela nafas kecil, lalu ia kembali menyeruput kopi. Surya menatap sejenak cangkir yang dipegang oleh William. "Ngomong-ngomong, apa yang bapak lakukan di sini? Dan ... kenapa bapak bawa cangkir kopi keluar ruangan?"William diam sejenak, tatapannya tidak beralih sedikit pun dari jendela. "Cuman mau cari udara segar."Surya menaikkan alisnya. "Udara segar? Di sini?" Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu menoleh kembali ke
Di kelas, Eva sedang mencatat beberapa poin penting yang baru saja ia pelajari. Catatan itu ia buat dengan serapi mungkin agar ia bisa dengan mudah memahaminya. Di catatan tersebut, terdapat beberapa poin yang diwarnai menggunakan stabilo, lalu terdapat beberapa tulisan yang diberi kotak.Saat sedang mencatat, Eva sesekali melirik ke arah Clara yang ada di sebelahnya. Clara menenggelamkan kepalanya di lipatan tangannya. Semenjak mereka dipanggil ke ruang meeting, sikap Clara yang awalnya ceria dan juga cerewet, berubah menjadi pendiam. Bahkan, saat mereka berdua bertemu saja, Clara hanya menyapanya dengan senyuman saja.Eva hendak melanjutkan mencatat lagi, tetapi ia masih tidak terbiasa dengan sikap Clara yang seperti ini. Tubuhnnya berputar hingga menghadap Clara. "Clara, kamu nggak apa-apa?" Eva menggoyangkan tangannya."Hmm ..." Clara hanya menjawab tanpa melirik sedikit pun."Kamu mau pergi ke kantin, nggak? Kita beli makanan kesukaanmu."Clar
Di sebuah kamar yang diterangi oleh lampu, William mengoleskan obat salep ke tangan Eva yang terkena pukulan. Ujung jarinya menyentuh kulit tangan sang istri dengan lembut dan hati-hati, memastikan agar tidak menimbulkan rasa nyeri.Eva tidak berkata apa-apa, ia hanya diam saja sambil menatap wajah William yang sangat serius. Alisnya sedikit menurun dan terlihat kerutan samar di dahinya. Tetapi, Eva memilih diam sambil menikmati pemandangan ini. Padahal pria ini baru saja meluapkan emosinya, tapi ia masih bisa merawat lukanya seperti ini.Terdengar sebuah suara berat yang memecah keheningan. "Kenapa kamu begitu ceroboh sampai membuat dirimu terluka, hm?"Eva menghela nafas kecil. "Aku cuman nggak mau kamu kena pukul ayahmu. Itu saja."William setengah melirik ke arah Eva, menatapnya sejenak. "Seharusnya kamu nggak perlu melakukan itu ... aku sendiri juga masih bisa menghindar, kok. Kamu lupa dengan janjimu padaku?""Aku masih ingat dengan janjiku untuk menjaga diri, tapi yang tadi itu
William menyeringai lebar, ia merasa sangat puas ketika melihat wajah terkejut mereka. "Kalian semua pasti sangat terkejut, 'kan? Kalau aku sih sama sekali nggak kaget, karena istriku itu ... bukanlah wanita lemah yang mau diinjak begitu saja oleh kalian. Dia sangat kuat."Eva mengulum bibirnya, ia berusaha sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh sekuat tenaga. Ia sama sekali tidak ingin terlihat lemah di depan mertua dan juga musuh bebuyutannya itu. Ia ingin bisa menjadi seorang istri yang baik dan juga kuat bagi William, bisa berada di sisinya dan menghadapi banyak rintangan bersama-sama.Itu adalah impiannya.William menoleh ke arah jam tangannya. "Sudah mulai larut malam. Aku rasa percakapan kita cukup sampai di sini saja."Michael mengerutkan dahinya. "Apa?! Jadi kamu berniat mengusir kami?""Maaf, pak Michael. Bukan bermaksud untuk mengusir, tapi ini memang sudah larut malam dan kami harus istirahat. Jika ingin berbincang lagi, kita bisa a
Caroline buru-buru menggelengkan kepalanya. "Tentu saja, aku cinta karena dirimu, William. Aku sama sekali nggak peduli, kamu berasal dari keluarga mana, aku cinta kamu karena kamu sangat lah keren bagiku. Aku sudah hidup berkecukupan, jadi untuk apa aku mengincar hartamu?""Hmph. Ternyata bukan cuman matre saja, tapi seorang pembual handal."Mata Caroline semakin berkaca-kaca. "William, kamu ngomong apa? Kamu sebegitu bencinya kah padaku? Jadi, kamu nggak percaya dengan perkataanku?""Apa kamu lupa, waktu kita masih kecil, aku sering membantumu? Bahkan waktu aku dengar kamu sakit pun, aku juga sudah berniat untuk menjengukmu, apakah semua yang aku lakukan ini sama sekali nggak ada artinya di matamu?"Pelayan rumah datang dan menyerahkan sebuah kompresan kepada William. William menerimanya dan langsung berjalan menuju sofa. Mereka melewati Caroline begitu saja. Sesampainya di sofa, William menurunkan Eva.Ia berlutut di depan Eva, dan menarik tanga
Pelayan rumah membantu membukakan pintu, begitu mereka masuk ke dalam, raut wajah William langsung berubah menjadi masam, saat ia melihat keluarganya berkumpul di ruang tamu. William berbisik kepada pelayan rumah yang mengikuti mereka."Begitu mereka pulang, tolong bersihkan sofa-sofanya sekalian, ya."Pelayan rumah tersebut mengangguk. "Baik, Tuan."Caroline yang melihat William datang, ia langsung bangkit berdiri dan menghampirinya. "William, akhirnya kamu pulang—"Matanya langsung membelalak ketika melihat Eva yang ada di depannya. Eva memiringkan kepalanya sambil tersenyum tipis. "Halo, kak Caroline. Kita bertemu lagi.""Eva? Kamu lagi ngapain di sini? Kok ... kamu bisa sama William?"Eva menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Lho, kenapa kamu bingung? Ini 'kan rumahku, jadi bukan hal yang aneh 'kan kalau aku ada di sini?""Apa?"Ujung bibir William berkedut, ia menahan senyumnya. Lalu, dua orang lagi muncul dar







![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)