MasukSuster tersebut mendengus kesal, ia memegang pinggangnya.
"Ternyata kamu cukup pintar juga. Benar, kami ingin mengusirmu dari kamar ini."
Eva menyipitkan matanya, "atas dasar apa kalian bisa mengusirku? Pak William sudah membayar biaya administrasinya!"
Mereka saling memandang satu sama lain, lalu salah satu dari mereka tertawa terbahak-bahak.
"William yang mana? Apa maksudmu William Vanderbilt?"
Eva menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "oh? Jadi kalian tahu dia?"
"Tentu saja tahu. Pak William itu adalah orang yang paling terpandang dan berprestasi di dunia kedokteran, kami semua sangat menghormatinya."
"Bahkan pak William juga menjadi salah satu investor terbesar di rumah sakit ini."
Mata Eva mulai melebar. Ia tak menyangka, kalau orang yang selama ini selalu menemaninya ternyata adalah orang besar. Eva sedikit tertunduk.
"Kenapa? Merasa malu karena kebohonganmu sudah terbongkar? Heh, kamu pikir pak William mau membantu orang cacat sepertimu? Jangan mimpi!"
Suster yang di sebelahnya mengangguk, "benar, pak William adalah orang yang sangat diidam-idamkan oleh setiap wanita, tapi sayang sekali... dia nggak pernah mau disentuh oleh wanita manapun."
Eva sedikit terkejut mendengarnya. Selama ini William selalu membantu dirinya saat ia membutuhkan bantuan bahkan sering terjadi kontak fisik di antara mereka.
'Nggak mau disentuh? Apa mereka lagi bercanda? Selama ini William sering menggendongku dan terkadang jahil juga... omong kosong apa yang sedang mereka bicarakan?' gumamnya dalam hati.
"Sudah, kita nggak punya waktu lagi. Gotong saja dia ke ruang kelas 3."
Kedua suster itu menghampiri Eva dari kanan dan kiri. Jantung Eva tercekat, ia merasa seperti sedang dikepung dari berbagai sisi. Saat tangan suster itu menyentuh Eva, bayangan di malam itu mulai berputar di benaknya. Malam di saat Eva dipukuli oleh ayahnya dan diseret pergi oleh pengawal.
Eva refleks menepis tangan suster, "JANGAN SENTUH AKU!! PERGI KAMU!"
Suster tersebut tampak tertegun sesaat, lalu ia mencoba lagi untuk menggotong Eva. Tetapi Eva terus berontak bahkan mendorong dengan kuat hingga mereka mundur beberapa langkah.
"Kalian ini ngapain sih? Gotong pasien saja nggak becus. Cepat bawa dia keluar, sebentar lagi bapak itu akan dibawa kesini."
Eva mengambil bantal di dekatnya dan melemparnya, "PERGI!"
Suster itu menangkap bantalnya, tetapi Eva terus melempar barang-barang yang ada di sekitarnya. Namun gerakannya terhenti saat tangannya memegang sebuah bunga yang ada di dekatnya. Nafasnya terengah-engah.
"Dasar gila!"
Salah satu suster menghampiri kasur Eva dan membuka kunci yang ada di roda kasur.
"Sudah, bawa sekalian kasurnya. Kita pindahkan dia."
Kedua suster lain mengangguk. Eva yang melihat suster mulai mendekatinya, ia menggenggam bunga tersebut dengan erat, seolah-olah ingin melindunginya.
'Kak William...' ucapnya dalam hati.
Kasur Eva didorong keluar dari bangsal.
----
Sore hari, William berjalan ke arah bangsal dengan membawa sekantong plastik di tangannya. Ekspresinya terlihat ceria.
William menoleh ke arah kantong plastik tersebut, "kalau Eva lihat makanan ini, dia pasti sangat senang."
William sampai di bangsal, ia memegang gagang pintu dan membukanya.
"Eva, aku bawakan makanan untuk-"
Kata-kata William terhenti, matanya pun membelalak. Ia melihat orang yang di dalam bangsal bukanlah Eva, melainkan bapak-bapak yang sudah berumur beserta istrinya. Mereka menoleh ke arah William dengan tatapan bingung.
"Uhm... maaf, apa kalian melihat seorang gadis yang berusia 19 tahun? Dia yang sebelumnya di sini..."
"Gadis? Kami tidak melihatnya, saat kami sudah sampai disini, ruangannya sudah kosong."
William terpaku, lalu kantong plastik yang ada di tangannya terlepas dan terjatuh. Tanpa berpikir panjang, ia langsung pergi meninggalkan bangsal, ia berlari menuju resepsionis.
Salah satu orang melihat kedatangan William, "pak William ada ap-"
"Pasien yang ada di ruang 302, dia dipindahkan kemana?"
Tatapan William tajam hingga membuat orang resepsionis itu merinding, "di-dia ada di ruang kelas 3 lantai 2, kalau bapak mau-"
Belum sempat menyelesaikan pembicaraannya, William langsung melesat pergi ke lantai 2. Di lorong rumah sakit, William melihat ke dalam ruangan satu per satu.
Langkah William terhenti di salah satu pintu yang tersisa, nafasnya terengah-engah. Lalu ia memegang gagang pintu dan membukanya. Saat pintu terbuka, ia melihat sosok yang familiar di ujung ruangan.
Eva memeluk sebuah bantal dengan sangat erat, tubuhnya gemetaran, matanya pun membesar.
"Eva!"
William langsung menghampiri Eva. Eva menoleh ke arah William, matanya mulai berkaca-kaca.
"Kak... William..."
Melihat kondisi Eva yang menyedihkan, dada William terasa sangat sesak. Ia perlahan-lahan mengulurkan tangannya dan menyentuh pipinya. Tubuh Eva menegang, tetapi ia tidak menolak atau menepis tangannya.
Terdengar suara yang lembut dan serak, "apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini padamu?"
Pertahanan yang sudah susah payah ia bangun, kini runtuh begitu saja. Air mata mengalir sangat deras di wajahnya, lalu ia memeluk pinggang William sambil menangis dengan kencang.
William menepuk punggung Eva dengan lembut, "maaf, aku datang terlambat. Sekarang aku sudah disini, nggak akan ada yang menyakitimu lagi."
Orang-orang yang ada di dalam ruangan, semuanya memperhatikan mereka, tetapi mereka sudah tidak peduli lagi.
Setelah menangis cukup lama, Eva mulai merasa tenang dan melepaskan pelukannya. William membungkukkan badan dan memegang pipi Eva dengan kedua tangannya.
"Eva... katakan padaku. Mereka mengusirmu?"
Eva mengangguk pelan. William sedikit menunduk, tatapannya menjadi gelap. Ia merasa kesal karena sudah memperlakukan Eva seperti ini.
Ia menghela nafas, " ya sudah, mulai sekarang kamu ikut aku saja ya. Hari ini kita keluar dari rumah sakit, bagaimana?"
Eva diam sejenak, lalu ia mengangguk setuju. Tanpa berlama-lama, William langsung menggendong Eva dan keluar dari bangsal.
Begitu keluar, mereka berpas-pasan dengan beberapa suster yang sebelumnya mengusir Eva.
William bangkit berdiri dan tersenyum tipis. "Tidak masalah, Anda datang di waktu yang tepat. Terima kasih sudah mau menyempatkan waktu untuk datang ke sini, Pak Kenneth."William mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Kenneth. Kenneth menoleh ke arah Eva yang sejak tadi sedang memperhatikannya. Kenneth tersenyum. "Oh, kalau tidak salah kamu ... gadis yang bernama Eva itu, ya?"Eva memiringkan kepalanya. "Bagaimana Bapak bisa mengetahui nama saya? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?""Ah, ternyata benar kalau kamu tidak mengingatnya." Kenneth menekukkan lututnya. "Wajar saja, karena kita memang belum pernah bertemu sebelumnya. Apakah kamu masih ingat momen saat kamu berada di rumah sakit dulu?""Yang seorang suster pernah mengusirmu keluar."Eva menaikkan kedua alisnya. Tentu saja ia masih mengingatnya dengan jelas hingga sekarang. Bagaimana cara para suster itu memperlakukannya dan membawanya ke ruang inap lain yang tidak nyaman. Untung sa
Ibu Ruth terkekeh kecil. "Sungguh, saya sama sekali tidak menyangka kalau saya bisa kalah langkah darimu, Pak William. Semua analisis dan bukti yang Bapak miliki benar-benar di luar dugaanku. Anda sungguh hebat sekali.""Oh?" William mencondongkan tubuhnya. "Jadi… Anda sudah mengakui kekalahan Anda begitu saja?"Ibu Ruth mendengus kecil. "Saya agak benci jika harus mengaku kalah. Tapi apa boleh buat ... Bapak sudah mengeluarkan cukup banyak bukti di depan mereka semua, jadi saya sudah tidak punya alasan untuk mengelak lagi. Setidaknya, ini salah satu cara untuk melindungi harga diriku.""Tapi ada satu hal yang ingin saya tanyakan padamu, Pak William."William menaikkan sebelah alisnya. "Apa?""Mengenai kedatanganku di ruang CCTV itu beserta penjaga kampus yang sedang patroli ... apakah ... itu juga bagian dari rencana Anda?"William menyilangkan satu kakinya. "Begitulah. Akhirnya Anda menyadarinya juga, Ibu Ruth."Ibu Ruth meng
Terdengar suara tarikan napas setiap orang yang ada di ruangan. Tidak ada satu pun orang yang tidak terkejut saat mendengar pernyataan dari William. Kini, semua mata memandang ke arah Ibu Ruth, menunggu jawaban dari dosen tersebut.Ibu Ruth semakin menggertakkan giginya. Ia merasa sangat kesal, tetapi di satu sisi ia juga ingin berusaha untuk tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan lebih jauh. Namun, hanya melihat wajah William ataupun Eva sudah cukup untuk membuatnya semakin naik darah. Ia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.Ibu Ruth mulai membuka mulutnya kembali setelah beberapa detik terdiam. "Bagaimana kalau Bapak tahu orang itu adalah saya? Bisa saja orang yang masuk itu adalah orang lain, kan? Lagipula saya sendiri juga selalu pulang tepat waktu, mana sempat saya masuk ke ruangan CCTV?""Karena saya melihatnya dengan mata dan kepala saya sendiri," ucap Surya sambil mengusap bawah hidungnya dengan jari telunjuk.Ibu Ruth menatap tajam ke arah
William diam sejenak. Ujung bibirnya bergerak naik secara perlahan. “Jadi, kamu masih ingat rupanya … daya ingatmu boleh juga.”Eva terkekeh kecil. Ia menggaruk bagian belakang kepalanya. "Tidak juga kok, Pak ... hanya teringat saja."Pak Johnson mengerutkan dahinya. “Tunggu sebentar… Apa kalian bilang? CCTV-nya rusak? Maksudnya, CCTV yang ada di sudut ruangan ini?”Pak Johnson menunjuk ke arah CCTV yang berada di sudut ruangan di atas pintu keluar. Semua orang mengikuti arah tunjukkan Pak Johnson.William mengangguk. “Benar, CCTV yang itu. Kalau tidak salah, waktu itu Bapak juga sempat meminta kepada saya untuk memanggil teknisi yang berpengalaman untuk memperbaikinya, bukan? Karena Bapak sendiri kesulitan untuk menemukan tekn
Ibu Ruth diam sejenak. Ia merasa tercengang mendengar perkataan Eva. Kemudian, ia tidak bisa menahan tawanya.“Kamu serius berkata seperti itu, Eva? Kamu minta bukti? Bahkan tanpa bukti pun, orang-orang pasti akan menganggap kalian punya hubungan yang sangat spesial. Kedekatan kalian itu tidak normal untuk hubungan antara dosen dan juga mahasiswi.”Eva menumpukan dagunya di telapak tangan. “Oh? Kedekatan yang seperti apa? Apa yang Ibu maksud itu saat di mana Pak William membawa saya ke ruang dosen setelah kejadian Ibu menuduh saya menyontek?”Ibu Ruth sangat tidak menyukai kata ‘menuduh’ karena kata-kata itu bisa merobek harga dirinya yang tinggi. Ujung bibir Ibu Ruth berkedut. “Ya, itu salah satunya.”Eva menghela napas pa
Ibu Ruth dan Ibu Vio saling bertukar pandang. Masing-masing dari mereka saling melemparkan tatapan tajam dan dingin seperti sebuah bongkahan es. Selama beberapa saat, mereka hanya berdiam diri saja, tidak ada satu pun di antara mereka yang berbicara. Entah mengapa, suasana di ruangan tersebut menjadi tegang.Sedangkan Pak Johnson mengusap dahinya sambil menggelengkan kepalanya. Ia merasa sangat pusing dengan perselisihan antara mereka berdua. Yang awalnya ia ingin masalah ini bisa cepat diselesaikan, malah menjadi panjang dan juga rumit.Pak Johnson mendengus. “Bisakah kalian tidak bertengkar? Kalau masih mau melanjutkan pertengkaran, saya akan menelepon seseorang untuk menyiapkan sebuah ring tinju untuk kalian.”Ibu Vio menunjuk ke arah Ibu Ruth. “Pak Johnson, Ibu ini sudah melanggar etika. Seharu







