Share

Bab 72

Author: Ghea
"Aku barusan ngomong panjang lebar ke kamu, kamu cuma balas satu kata itu? Aku suruh kamu untuk ceritakan apa pun ke keluargamu."

Tiba-tiba Arlina menjawab, "Memangnya Ibu peduli?"

Pertanyaannya tidak terlalu jelas. Heidy pun mengernyitkan alis. "Apa maksudmu?"

Suara Arlina serak saat menjawab, "Nggak ada."

Heidy mendengus, "Kamu tuh ya, pintar di sekolah juga percuma kalau ngomong saja nggak jelas."

Arlina sudah malas berdebat. "Aku mau baca buku."

"Iya, iya, tahu." Heidy teringat sesuatu lalu menambahkan, "Sekarang ini lagi musim flu, kamu di sekolah saja dulu, jangan pulang. Takutnya nanti nularin ke adikmu."

Tiba-tiba suara berdengung memenuhi telinga Arlina. Dia menarik napas panjang, seolah baru bisa bernapas lega lagi. Dengan tenang, dia menjawab, "Iya, aku mengerti."

Begitu telepon ditutup, Arlina hampir tidak bisa menahan diri untuk melempar ponselnya ke lantai. Kegelisahan dalam hatinya sulit dibendung, seakan memenuhi seluruh rongga dadanya. Dia berdiri, lalu membuka pintu r
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Bundanya Khaliza
arlina harus belajar juga menyusui kan Dan mencintai rexa... bukan hanya rexa yang berusaha
goodnovel comment avatar
BlackCard
boleh tuker posisi gak sih sama arlina ...
goodnovel comment avatar
Yen Anton
aduh jadi panasaran bacanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dosenku di Siang Hari, Suamiku di Malam Hari   Bab 492

    Godric mulai pulih perlahan. Kemungkinan besar Heidy masih ketakutan, jadi beberapa hari berikutnya dia termasuk cukup tenang. Arlina memperhatikan bahwa beberapa kali Heidy ingin bicara dengannya tapi akhirnya tidak jadi. Dia pun berpura-pura tidak melihat dan sibuk mengurus pekerjaannya.Sampai ketika Godric keluar dari rumah sakit, Heidy mengetuk pintu kantor.Arlina mengangkat kepala dan melihatnya berdiri di ambang pintu. "Arlina, Ibu ingin bicara denganmu."Di kantor masih ada rekan kerja lain. Semua orang sudah terbiasa melihat sikap kasar dan tak sopan Heidy. Jadi ketika mendengar ucapannya, mereka serentak menatap Arlina dengan penuh rasa iba. Punya keluarga seperti itu, memang bikin pusing.Arlina berdiri dan berjalan keluar. Di ujung koridor bangsal ada sebuah balkon kecil, di situlah Arlina dan Heidy berdiri.Keduanya tidak langsung bicara. Arlina juga tidak terburu-buru. Dia menunggu ibunya membuka mulut terlebih dahulu dengan tenang."Arlina, ayahmu sudah keluar dari ruma

  • Dosenku di Siang Hari, Suamiku di Malam Hari   Bab 491

    "Ugh ...." Arlina tak kuasa menahan desahannya. Dari tubuhnya timbul perasaan hampa yang membuatnya gemetar.Setelah celananya ditanggalkan, ujung jari Rexa yang panas menyentuh kulitnya dan membuatnya merinding. Tubuh Arlina bergetar hebat. Di telinganya, terdengar tawa rendah Rexa.Arlina tahu persis apa yang membuatnya tertawa. Wajahnya pun panas membara dan kedua tangannya yang lemah meninju pelan tubuh Rexa."Jangan buru-buru, Sayang."Di atas ranjang, Rexa seakan berubah menjadi orang lain. Napasnya yang panas berembus lembut ke telinga Arlina. "Kita punya banyak waktu."Baru kemudian Arlina sadar apa maksud dari ucapannya itu. Namun saat ini, tubuhnya yang penuh keringat hanya bisa pasrah mengikuti setiap gerakan Rexa.Suara napas yang berat terdengar di kamar. Cahaya yang menembus tirai menyinari tubuh mereka yang saling bertaut. Pemandangan itu membuat wajah memerah dan jantung berdebar kencang.....Setelah hasrat yang besar itu bergolak, yang tersisa hanya perasaan lemah dan

  • Dosenku di Siang Hari, Suamiku di Malam Hari   Bab 490

    Rexa menatapnya beberapa detik dalam diam, lalu menghela napas sambil tersenyum tak berdaya. Dia menutup buku tebal itu, lalu membaringkan Arlina dengan hati-hati.Sepertinya Arlina memang benar-benar lelah, sehingga tidak bereaksi sama sekali.Rexa sempat ingin mencubit pipinya, tapi takut membangunkannya. Akhirnya, Rexa pun mengurungkan niat. Dia lalu berbaring di sampingnya dan keduanya pun tertidur dalam pelukan.Arlina baru terbangun sore harinya.Sebagai dokter, ritme hidupnya sering terbalik antara siang dan malam. Jadi, meskipun bisa tidur setelah shift malam, dia tidak pernah bisa tidur terlalu lama.Begitu membuka mata, yang pertama dia lihat adalah wajah tampan Rexa. Kulitnya halus, garis wajahnya tegas, dan bibir tipisnya terkatup rapat.Benar-benar rupawan.Arlina menatapnya sejenak, lalu perlahan menjulurkan tangan untuk mencubit pipinya. Melihat Rexa tidak bereaksi, Arlina lanjut mencubit ujung hidungnya.Masih tidak ada reaksi. Arlina seperti merasa tertantang. DIa akhi

  • Dosenku di Siang Hari, Suamiku di Malam Hari   Bab 489

    Baik sebagai seorang anak maupun sebagai dokter, Arlina tentu tidak menginginkan Godric mengalami hal buruk apa pun."Mau aku ajak kamu sarapan?""Mau," Arlina langsung menjawab, lalu menambahkan, "Tapi sekarang jam segini, harusnya sudah masuk waktu makan siang, 'kan?"Rexa terkekeh di atas kepalanya, "Sarapan dan makan siang sekalian saja."Bunga segar yang dibeli semalam masih ada di mobil. Arlina memeluk bunga itu sambil menghirup aromanya. Seketika, rasa lelah di seluruh tubuhnya berangsur hilang.Mereka mencari sebuah kedai pangsit kecil di dekat kompleks untuk makan. Lalu setelah kembali ke rumah, mereka mandi dan berbaring di tempat tidur. Bersandar di pelukan Rexa, Arlina merasa sangat tenang.Meski semalaman keduanya tidak tidur, anehnya mereka sama sekali belum merasa mengantuk. Manusia memang perlu punya sesuatu yang bisa ditunggu.Arlina tidak bisa menyangkal bahwa pekerjaannya memang melelahkan. Ditambah lagi sifatnya yang selalu serius, setiap kali selesai kerja dia mera

  • Dosenku di Siang Hari, Suamiku di Malam Hari   Bab 488

    Nada Maxton yang penuh pembenaran membuat Heidy begitu marah sampai sesak napas."Balikin ponsel itu!"Melihat anaknya hendak merebut kembali, Heidy yang sudah dikuasai emosi langsung menghantamkan ponsel itu ke lantai.Terdengar suara benturan, lalu ponsel itu hancur jadi beberapa bagian. Wajah Maxton seketika menjadi kelam, dia mendorong Heidy dengan keras, "Kamu gila ya! Ponsel itu baru kubeli!"Heidy yang lengah, tubuhnya langsung terhuyung dan terjatuh ke lantai. Tulang ekornya terasa nyeri dan air matanya pun tak terbendung. Dia menoleh, mendapati Maxton sama sekali tidak berniat menolongnya.Sebaliknya, anak itu malah sibuk memunguti serpihan ponselnya sambil meracau, "Ngapain sih bikin ribut? Cepat transfer aku 20 juta, biar aku beli yang baru."Padahal demi biaya perawatan Godric, keluarga mereka sudah menanggung banyak utang. Bukannya membantu, Maxton malah masih meminta uang.Hati Heidy terasa benar-benar dingin. Dia berteriak, "Jangan mimpi! Dari kecil sampai sekarang, bera

  • Dosenku di Siang Hari, Suamiku di Malam Hari   Bab 487

    Heidy selama ini selalu bersikap kuat di depan Arlina, tidak pernah terlihat begitu rapuh seperti sekarang. Bulu matanya bergetar hebat, menatap Arlina dengan penuh permohonan."Kami akan berusaha sebaik mungkin." Saat Arlina mengucapkan kalimat itu, entah mengapa dia merasa sedikit linglung.Identitasnya saat ini lebih seperti seorang dokter yang berbicara pada keluarga pasien, seakan-akan orang yang akan dioperasi itu bukanlah ayah kandungnya sendiri.Dia mengangkat kepala, melihat sosok tinggi semampai Rexa berdiri tidak jauh darinya. "Kamu pulang saja dulu, aku mungkin nggak akan selesai dalam waktu dekat," kata Arlina padanya.Rexa tersenyum tipis, "Nggak apa-apa, aku akan menunggumu."Senyuman itu membawa rasa tenang, membuat hati Arlina seolah terisi kembali dengan kekuatan. Dia mengangguk pelan, lalu masuk ke ruang operasi bersama Hubert.Lampu operasi menyala. Arlina mengenakan pakaian bedah lengkap dan hanya menyisakan sepasang mata yang terlihat. Godric berbaring di meja ope

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status