Godric mulai pulih perlahan. Kemungkinan besar Heidy masih ketakutan, jadi beberapa hari berikutnya dia termasuk cukup tenang. Arlina memperhatikan bahwa beberapa kali Heidy ingin bicara dengannya tapi akhirnya tidak jadi. Dia pun berpura-pura tidak melihat dan sibuk mengurus pekerjaannya.Sampai ketika Godric keluar dari rumah sakit, Heidy mengetuk pintu kantor.Arlina mengangkat kepala dan melihatnya berdiri di ambang pintu. "Arlina, Ibu ingin bicara denganmu."Di kantor masih ada rekan kerja lain. Semua orang sudah terbiasa melihat sikap kasar dan tak sopan Heidy. Jadi ketika mendengar ucapannya, mereka serentak menatap Arlina dengan penuh rasa iba. Punya keluarga seperti itu, memang bikin pusing.Arlina berdiri dan berjalan keluar. Di ujung koridor bangsal ada sebuah balkon kecil, di situlah Arlina dan Heidy berdiri.Keduanya tidak langsung bicara. Arlina juga tidak terburu-buru. Dia menunggu ibunya membuka mulut terlebih dahulu dengan tenang."Arlina, ayahmu sudah keluar dari ruma
"Ugh ...." Arlina tak kuasa menahan desahannya. Dari tubuhnya timbul perasaan hampa yang membuatnya gemetar.Setelah celananya ditanggalkan, ujung jari Rexa yang panas menyentuh kulitnya dan membuatnya merinding. Tubuh Arlina bergetar hebat. Di telinganya, terdengar tawa rendah Rexa.Arlina tahu persis apa yang membuatnya tertawa. Wajahnya pun panas membara dan kedua tangannya yang lemah meninju pelan tubuh Rexa."Jangan buru-buru, Sayang."Di atas ranjang, Rexa seakan berubah menjadi orang lain. Napasnya yang panas berembus lembut ke telinga Arlina. "Kita punya banyak waktu."Baru kemudian Arlina sadar apa maksud dari ucapannya itu. Namun saat ini, tubuhnya yang penuh keringat hanya bisa pasrah mengikuti setiap gerakan Rexa.Suara napas yang berat terdengar di kamar. Cahaya yang menembus tirai menyinari tubuh mereka yang saling bertaut. Pemandangan itu membuat wajah memerah dan jantung berdebar kencang.....Setelah hasrat yang besar itu bergolak, yang tersisa hanya perasaan lemah dan
Rexa menatapnya beberapa detik dalam diam, lalu menghela napas sambil tersenyum tak berdaya. Dia menutup buku tebal itu, lalu membaringkan Arlina dengan hati-hati.Sepertinya Arlina memang benar-benar lelah, sehingga tidak bereaksi sama sekali.Rexa sempat ingin mencubit pipinya, tapi takut membangunkannya. Akhirnya, Rexa pun mengurungkan niat. Dia lalu berbaring di sampingnya dan keduanya pun tertidur dalam pelukan.Arlina baru terbangun sore harinya.Sebagai dokter, ritme hidupnya sering terbalik antara siang dan malam. Jadi, meskipun bisa tidur setelah shift malam, dia tidak pernah bisa tidur terlalu lama.Begitu membuka mata, yang pertama dia lihat adalah wajah tampan Rexa. Kulitnya halus, garis wajahnya tegas, dan bibir tipisnya terkatup rapat.Benar-benar rupawan.Arlina menatapnya sejenak, lalu perlahan menjulurkan tangan untuk mencubit pipinya. Melihat Rexa tidak bereaksi, Arlina lanjut mencubit ujung hidungnya.Masih tidak ada reaksi. Arlina seperti merasa tertantang. DIa akhi
Baik sebagai seorang anak maupun sebagai dokter, Arlina tentu tidak menginginkan Godric mengalami hal buruk apa pun."Mau aku ajak kamu sarapan?""Mau," Arlina langsung menjawab, lalu menambahkan, "Tapi sekarang jam segini, harusnya sudah masuk waktu makan siang, 'kan?"Rexa terkekeh di atas kepalanya, "Sarapan dan makan siang sekalian saja."Bunga segar yang dibeli semalam masih ada di mobil. Arlina memeluk bunga itu sambil menghirup aromanya. Seketika, rasa lelah di seluruh tubuhnya berangsur hilang.Mereka mencari sebuah kedai pangsit kecil di dekat kompleks untuk makan. Lalu setelah kembali ke rumah, mereka mandi dan berbaring di tempat tidur. Bersandar di pelukan Rexa, Arlina merasa sangat tenang.Meski semalaman keduanya tidak tidur, anehnya mereka sama sekali belum merasa mengantuk. Manusia memang perlu punya sesuatu yang bisa ditunggu.Arlina tidak bisa menyangkal bahwa pekerjaannya memang melelahkan. Ditambah lagi sifatnya yang selalu serius, setiap kali selesai kerja dia mera
Nada Maxton yang penuh pembenaran membuat Heidy begitu marah sampai sesak napas."Balikin ponsel itu!"Melihat anaknya hendak merebut kembali, Heidy yang sudah dikuasai emosi langsung menghantamkan ponsel itu ke lantai.Terdengar suara benturan, lalu ponsel itu hancur jadi beberapa bagian. Wajah Maxton seketika menjadi kelam, dia mendorong Heidy dengan keras, "Kamu gila ya! Ponsel itu baru kubeli!"Heidy yang lengah, tubuhnya langsung terhuyung dan terjatuh ke lantai. Tulang ekornya terasa nyeri dan air matanya pun tak terbendung. Dia menoleh, mendapati Maxton sama sekali tidak berniat menolongnya.Sebaliknya, anak itu malah sibuk memunguti serpihan ponselnya sambil meracau, "Ngapain sih bikin ribut? Cepat transfer aku 20 juta, biar aku beli yang baru."Padahal demi biaya perawatan Godric, keluarga mereka sudah menanggung banyak utang. Bukannya membantu, Maxton malah masih meminta uang.Hati Heidy terasa benar-benar dingin. Dia berteriak, "Jangan mimpi! Dari kecil sampai sekarang, bera
Heidy selama ini selalu bersikap kuat di depan Arlina, tidak pernah terlihat begitu rapuh seperti sekarang. Bulu matanya bergetar hebat, menatap Arlina dengan penuh permohonan."Kami akan berusaha sebaik mungkin." Saat Arlina mengucapkan kalimat itu, entah mengapa dia merasa sedikit linglung.Identitasnya saat ini lebih seperti seorang dokter yang berbicara pada keluarga pasien, seakan-akan orang yang akan dioperasi itu bukanlah ayah kandungnya sendiri.Dia mengangkat kepala, melihat sosok tinggi semampai Rexa berdiri tidak jauh darinya. "Kamu pulang saja dulu, aku mungkin nggak akan selesai dalam waktu dekat," kata Arlina padanya.Rexa tersenyum tipis, "Nggak apa-apa, aku akan menunggumu."Senyuman itu membawa rasa tenang, membuat hati Arlina seolah terisi kembali dengan kekuatan. Dia mengangguk pelan, lalu masuk ke ruang operasi bersama Hubert.Lampu operasi menyala. Arlina mengenakan pakaian bedah lengkap dan hanya menyisakan sepasang mata yang terlihat. Godric berbaring di meja ope