LOGIN
Aku tidak boleh mati! Aku harus tetap hidup!
Siapapun, tolong aku!
Suara itu bergema hampa, terjebak di dalam labirin pikiranku sendiri. Di sini, di tempat aku berada saat ini, semuanya tampak gelap gulita, pekat, dan teramat menyesakkan. Rasa dingin yang luar biasa merayap perlahan, membekukan aliran darahku, sementara tekanan air yang mahabesar terus mendorong tubuhku semakin dalam, tenggelam ke dasar samudera yang tak berdasar. Paru-paruku berdenyut menyakitkan, menjerit mendambakan setitik oksigen yang mustahil kuraih. Setiap kali aku mencoba membuka mulut untuk berteriak, yang masuk hanyalah cairan asin yang mencekik tenggorokanku.
Tolong!
Inikah akhir dari semua perjuanganku? Akhir dari hidup seorang Jia Li?
Sinar rembulan di atas permukaan laut perlahan menjauh, meredup hingga akhirnya lenyap sama sekali dari pandanganku. Kesadaranku mulai timbul dan tenggelam, digerogoti oleh rasa putus asa yang dingin. Namun, jauh di lubuk hatiku, sebuah penolakan keras menolak untuk padam.
Tidak! Aku bahkan belum memulai satupun pertarungan!
Bagaimana bisa aku mati di sini secara konyol? Mati sebagai korban dari pengkhianatan keji orang yang paling kupercaya? Aku belum membebaskan diriku dari jeruji takdir yang dipaksakan. Aku belum membuktikan bahwa aku bisa berdiri tegak. Dan yang paling membuat jiwaku menjerit adalah Ayah. Jika aku mati sekarang, maka rubah-rubah serakah di luar sana akan menang dan menertawakan kehancuranku.
Aku harus menyelamatkan semuanya! Aku… harus hidup!
Rasa sakit fisik akibat kehabisan napas mendadak kalah oleh amarah dan tekad yang membakar jiwaku. Dalam kegelapan mutlak air laut, jiwaku bersujud dan berdoa dengan sisa-sisa kekuatan terakhir.
Tuhan—atau siapapun itu, entah kekuatan apa pun yang mengatur semesta ini—jika saja aku diberi kesempatan sekali lagi untuk bernapas, aku bersumpah akan mengembalikan semuanya seperti semula. Aku akan merebut kembali harga diriku. Bahkan jika pada akhirnya aku harus mati lagi, setidaknya matikan aku dalam keadaan sudah memulai memperjuangkan segalanya! Jangan biarkan aku mati sebagai seorang pecundang yang malang!
Perlahan, keheningan total mulai mengunci segalanya. Wanita itu tidak lagi merasakan detak jantungnya sendiri. Tubuhnya terasa sangat penuh, berat, dan sesak. Rasa dingin akhirnya menyelimuti seluruh tubuhnya, membawa jiwanya terbang menjauh dari raga yang kini terombang-ambing di dalam gelapnya arus laut dalam.
********
-Tiga bulan kemudian-
"Sudah tiga bulan Nona Jia Li belum ditemukan, Tuan. Pihak kepolisian baru saja mengirimkan laporan resmi terakhir mereka pagi ini. Mereka... menduga bahwa Nona Jia Li telah meninggal dunia akibat tenggelam, mengingat batas waktu pencarian yang sudah terlalu lama. Apa yang akan Anda lakukan sekarang, Tuan?"
Pertanyaan itu meluncur dari bibir seorang pria muda berpostur tegap yang memakai setelan jas hitam yang sangat rapi. Dia adalah asisten pribadi kepercayaan keluarga, berdiri dengan kepala tertunduk, memegang map dokumen tebal dengan tangan yang kaku.
Pria paruh baya yang diajaknya bicara tidak langsung menjawab. Sejak pagi buta hingga petang mulai merayap naik menggantikan senja, pria itu masih setia berdiri diam, melihat ke luar jendela kaca besar yang menampilkan lampu-lampu kota. Wajahnya yang dulu berwibawa kini tampak begitu tirus, dipenuhi gumpalan kesedihan dan rasa pilu yang teramat sangat. Kehilangan putri tunggalnya adalah hantaman yang jauh lebih menghancurkan daripada kebangkrutan bisnisnya.
Setelah keheningan yang panjang dan menyakitkan, pria paruh baya itu akhirnya mengembuskan napas berat. Bahunya merosot turun.
"Sampaikan kabar tersebut kepada media," jawabnya dengan suara yang parau, nyaris berbisik namun sarat akan kepasrahan. Dia tidak menoleh sedikit pun dari jendela. "Sudah saatnya publik tahu apa yang terjadi selama ini kepada putriku yang malang. Semoga saja... semuanya berjalan lancar setelah ini."
Dia memejamkan mata, membayangkan wajah senyum putrinya untuk yang terakhir kali, tanpa pernah tahu bahwa di belahan dimensi lain yang terpisahkan oleh ribuan tahun sejarah, sebuah takdir baru yang jauh lebih berbahaya justru baru saja dimulai untuk Jia Li.
"Jangan berbohong padaku, Hao Yu. Tatap mataku saat kau bicara."Suara Yi Fang terdengar begitu tipis, menyerupai hembusan angin malam yang menerobos lewat celah jendela kayu. Namun, nada di balik bisikan itu memiliki keteguhan yang sanggup meruntuhkan pertahanan terbatin pria tegap di hadapannya.Hao Yu berdiri mematung di ambang pintu kamar. Langkah kakinya yang biasa begitu mantap dan kokoh kini terasa seberat bongkahan batu gunung. Pria yang baru saja kembali dari gua Puncak Pinus Merah itu menundukkan kepalanya sangat rendah. Bahunya yang lebar bergetar halus, mencoba menahan emosi dahsyat yang mencabik-cabik dadanya sejak ia melangkah turun menyusuri jalan setapak bersalju."Aku... aku hanya kelelahan," sahut Hao Yu parau. Suara baritonnya pecah. Ia menolak menaikkan p
Suasana di dalam gua batu Puncak Pinus Merah mendadak hening total. Hanya terdengar derak halus dari ranting kayu yang terbakar di perapian kecil. Asap tipis yang membawa aroma wangi akar kayu hutan dan daun mint kering membumbung pelan ke udara, memberikan sensasi hangat yang menenangkan saraf-saraf Hao Yu yang tegang.Nenek Cenayang menatap pria tegap di hadapannya dengan pandangan yang dalam. Matanya mengamati bekas luka jahitan di pipi Hao Yu, membaca garis-garis kepedihan di dahinya, serta merasakan gelora keputusasaan dahsyat yang sedang mengamuk di dalam dada sang mantan panglima."Anak muda yang perkasa," tutur Nenek Cenayang dengan suara yang sangat lembut, bagaikan belas kasih seorang ibu yang menenangkan anaknya yang sedang ketakutan. "Kau telah memenangkan banyak pertempuran berdarah dengan pedang dan taktikmu di medan pe
Kabar mengenai kondisi Yi Fang yang tak kunjung membaik setelah pemeriksaan Tabib Shen bergerak lebih cepat daripada angin dingin yang menyapu perbukitan. Surat burung merpati darurat yang dikirimkan oleh sang tabib utama istana akhirnya tiba di meja kerja Raja Xiu Wei. Hanya butuh waktu dua hari bagi ibu kota untuk bertindak. Sebuah kereta kuda kayu cendana hitam tanpa embel-embel lambang kekaisaran tiba di kaki bukit Pegunungan Utara saat matahari berada tepat di puncak kepala.Dari dalam kereta kuda itu, melangkah keluar seorang pria berjubah hitam pekat. Kain sutra jubahnya disulam rumit dengan helai benang perak membentuk aksara-aksara kuno penjaga batas alam. Rambut peraknya terurai bebas diterpa angin dingin, memantulkan sinar matahari dengan pendar asing. Dialah Dukun Suci Kekaisaran—sosok misterius yang sangat jarang meninggalkan altar suci istana, sang penjaga rahasia keseimbangan energi spiritual seluruh tanah Canglan.Tanpa mengindahkan kepulan asap napas dari para pengawa
Darah hitam yang membasahi lantai kayu dan kain rami di kamar pondok memang telah dibersihkan hingga tak bersisa. Namun, aroma tembaga yang samar serta hawa dingin asing yang membekukan tulang masih tertinggal pekat di dalam udara. Di luar, embun pagi menyelimuti lereng Pegunungan Utara dalam kabut tipis yang kelabu. Pepohonan pinus berdiri tegak bagaikan prajurit bisu, menyaksikan penderitaan yang tak tersuarakan dari dalam rumah kayu sederhana itu.Di atas ranjang kayu, Yi Fang terbaring pucat. Wajahnya yang biasa merona anggun dan hangat kini memutih pasi, bagaikan ukiran pualam tanpa nyawa. Helaan napasnya teratur namun teramat tipis—seolah helai kehidupannya hanya terikat pada seutas benang lapuk yang sewaktu-waktu bisa terputus oleh hembusan angin paling pelan sekalipun. Bibirnya yang mengering masih membekaskan rona kehitaman pucat di garis sudutnya, menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya sengatan ghaib yang menghantam jiwanya semalam.Di samping ranjang, Hao Yu tak bergeming sed
Malam di lereng Pegunungan Utara terasa jauh lebih pekat dan mencekam dari biasanya. Angin kencang bertiup melintasi celah perbukitan, meliukkan pepohonan pinus dan menimbulkan suara raungan misterius yang bersahut-sahutan. Di dalam pondok kayu, api perapian berkobar gelisah, memancarkan bayang-bayang panjang yang menari-nari liar di dinding kayu.Yi Fang berbaring telentang di atas ranjang. Tubuhnya dibungkus oleh tiga lapis selimut kain rami tebal, tetapi hawa dingin yang menggerogoti tubuhnya sama sekali tidak berkurang sedikit pun. Wajahnya yang biasa merona anggun kini memucat pasi bagaikan mayat.Hao Yu duduk bersandar di sampingnya, memegang erat kedua tangan Yi Fang yang terasa dingin seperti es batu. Pria tegap itu tak membiarkan matanya terpejam sekejap pun. Firasat buruk yang teramat sangat terus menekan dadanya sejak kepulangan mereka dari tempat Tabib Song, membuat setiap detik yang berlalu terasa bagaikan siksaan yang lambat."Jam berapa sekarang, Hao Yu?" bisik Yi Fang
Lampu-lampu tabung dari ruang bawah tanah Kejaksaan Distrik Kota memantulkan cahaya dingin pada deretan layar monitor yang menampilkan berbagai berkas digital. Suara ketukan tombol keyboard berpadu dengan dengung mesin pendingin ruangan, menciptakan suasana tegang di dalam ruang kerja Unit Kejahatan Khusus dan Penyidik Kejaksaan.Jaksa Han berdiri menatap tajam ke arah layar utama di depannya. Di layar itu, terpampang rekaan topografi digital tiga dimensi dari area Tebing Wanghai—lokasi jatuhnya Jia Li, perancang busana muda berbakat pemilik Jia's Atelier."Bagaimana kemajuan dari analisis data komputer genggam yang disita dari apartemen Ming Na?" tanya Jaksa Han dengan suara serak.Seorang ahli forensik digital mengklik tetikusnya beberapa kali, memunculkan berkas terenkripsi, data transaksi perbankan Swiss, serta rekaman percakapan suara yang baru berhasil diekstrak."Hasilnya sangat mutlak, Pak," jelas teknisi itu. "Rekaman suara di komputer tua Ming Na membuktikan secara eksplisit
Lampu kristal raksasa yang menggantung megah di langit-langit restoran fine dining hotel bintang lima itu memancarkan kilau keemasan yang menyilaukan. Cahayanya memantul di atas permukaan meja panjang dari kayu jati solid yang dipoles sempurna tanpa noda, menciptakan ilusi yang mewah. Di atas meja i
Ayah menarik napasnya dengan payah, dadanya kembang kempis tak beraturan. Cengkeramannya di pergelangan tanganku mengendur, meninggalkan rasa kebas yang menjalar hingga ke ujung jari. Keheningan kembali merayap di dalam Jia’s Atelier, namun kali ini terasa jauh lebih pekat dan menakutkan daripada s
Suara ketukan ujung sepatu pantofel di atas lantai marmer Italia butikku terdengar bagaikan detak jam pasir yang sedang menghitung mundur sisa-sisa kejayaanku. Setiap ketukan membawa gaung yang berat, memantul di antara dinding-dinding kaca yang memajang mahakarya terbaikku. Pagi ini, atmosfer di d
Lampu-lampu kota melintas di luar jendela mobil bagaikan garis-garis cahaya yang buram dan membingungkan. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku mengemudikan sedan hitamku membelah jalanan protokol yang mulai lengang oleh kendaraan. Kepalaku terasa kosong, hampa, namun di saat yang sama, ada badai ya







