Share

Dua Wajah Sang Kaisar
Dua Wajah Sang Kaisar
Author: Kyung Eya

Prolog

Author: Kyung Eya
last update publish date: 2026-05-23 09:02:08

Aku tidak boleh mati! Aku harus tetap hidup!

Siapapun, tolong aku!

Suara itu bergema hampa, terjebak di dalam labirin pikiranku sendiri. Di sini, di tempat aku berada saat ini, semuanya tampak gelap gulita, pekat, dan teramat menyesakkan. Rasa dingin yang luar biasa merayap perlahan, membekukan aliran darahku, sementara tekanan air yang mahabesar terus mendorong tubuhku semakin dalam, tenggelam ke dasar samudera yang tak berdasar. Paru-paruku berdenyut menyakitkan, menjerit mendambakan setitik oksigen yang mustahil kuraih. Setiap kali aku mencoba membuka mulut untuk berteriak, yang masuk hanyalah cairan asin yang mencekik tenggorokanku.

Tolong!

Inikah akhir dari semua perjuanganku? Akhir dari hidup seorang Jia Li?

Sinar rembulan di atas permukaan laut perlahan menjauh, meredup hingga akhirnya lenyap sama sekali dari pandanganku. Kesadaranku mulai timbul dan tenggelam, digerogoti oleh rasa putus asa yang dingin. Namun, jauh di lubuk hatiku, sebuah penolakan keras menolak untuk padam.

Tidak! Aku bahkan belum memulai satupun pertarungan!

Bagaimana bisa aku mati di sini secara konyol? Mati sebagai korban dari pengkhianatan keji orang yang paling kupercaya? Aku belum membebaskan diriku dari jeruji takdir yang dipaksakan. Aku belum membuktikan bahwa aku bisa berdiri tegak. Dan yang paling membuat jiwaku menjerit adalah Ayah. Jika aku mati sekarang, maka rubah-rubah serakah di luar sana akan menang dan menertawakan kehancuranku.

Aku harus menyelamatkan semuanya! Aku… harus hidup!

Rasa sakit fisik akibat kehabisan napas mendadak kalah oleh amarah dan tekad yang membakar jiwaku. Dalam kegelapan mutlak air laut, jiwaku bersujud dan berdoa dengan sisa-sisa kekuatan terakhir.

Tuhan—atau siapapun itu, entah kekuatan apa pun yang mengatur semesta ini—jika saja aku diberi kesempatan sekali lagi untuk bernapas, aku bersumpah akan mengembalikan semuanya seperti semula. Aku akan merebut kembali harga diriku. Bahkan jika pada akhirnya aku harus mati lagi, setidaknya matikan aku dalam keadaan sudah memulai memperjuangkan segalanya! Jangan biarkan aku mati sebagai seorang pecundang yang malang!

Perlahan, keheningan total mulai mengunci segalanya. Wanita itu tidak lagi merasakan detak jantungnya sendiri. Tubuhnya terasa sangat penuh, berat, dan sesak. Rasa dingin yang absolut akhirnya menyelimuti seluruh tubuhnya, membawa jiwanya terbang menjauh dari raga yang kini terombang-ambing di dalam gelapnya arus laut dalam.

********

-Tiga bulan kemudian-

"Sudah tiga bulan Nona Jia Li belum ditemukan, Tuan. Pihak kepolisian baru saja mengirimkan laporan resmi terakhir mereka pagi ini. Mereka... menduga bahwa Nona Jia Li telah meninggal dunia akibat tenggelam, mengingat batas waktu pencarian yang sudah terlalu lama. Apa yang akan Anda lakukan sekarang, Tuan?"

Pertanyaan itu meluncur dari bibir seorang pria muda berpostur tegap yang memakai setelan jas hitam yang sangat rapi. Dia adalah asisten pribadi kepercayaan keluarga, berdiri dengan kepala tertunduk, memegang map dokumen tebal dengan tangan yang kaku.

Pria paruh baya yang diajaknya bicara tidak langsung menjawab. Sejak pagi buta hingga petang mulai merayap naik menggantikan senja, pria itu masih setia berdiri diam, melihat ke luar jendela kaca besar yang menampilkan lampu-lampu kota. Wajahnya yang dulu berwibawa kini tampak begitu tirus, dipenuhi gumpalan kesedihan dan rasa pilu yang teramat sangat. Kehilangan putri tunggalnya adalah hantaman yang jauh lebih menghancurkan daripada kebangkrutan bisnisnya.

Setelah keheningan yang panjang dan menyakitkan, pria paruh baya itu akhirnya mengembuskan napas berat. Bahunya merosot turun.

"Sampaikan kabar tersebut kepada media," jawabnya dengan suara yang parau, nyaris berbisik namun sarat akan kepasrahan. Dia tidak menoleh sedikit pun dari jendela. "Sudah saatnya publik tahu apa yang terjadi selama ini kepada putriku yang malang. Semoga saja... semuanya berjalan lancar setelah ini."

Dia memejamkan mata, membayangkan wajah senyum putrinya untuk yang terakhir kali, tanpa pernah tahu bahwa di belahan dimensi lain yang terpisahkan oleh ribuan tahun sejarah, sebuah takdir baru yang jauh lebih berbahaya justru baru saja dimulai untuk Jia Li.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 12: Sang Penyelamat di Pondok Sunyi

    Tangan pemuda bernama Hao Yu itu terasa hangat, kasar oleh kapalan, namun memiliki kekuatan yang luar biasa besar saat menarik tubuh ringkih Jia Li—yang kini harus memaksa seluruh kesadarannya untuk membiasakan diri dipanggil dengan nama asing, Yi Fang—keluar dari kegelapan lubang bawah tanah yang pengap. Ketika tubuh ringkih itu berhasil ditarik sepenuhnya ke atas permukaan lantai papan kayu yang kasar dan dipenuhi serat-serat tajam, Yi Fang tidak mampu lagi menahan keseimbangan raganya. Dia langsung tersungkur dengan lutut membentur lantai, dada yang naik-turun menahan perih, serta terbatuk-batuk kecil akibat debu tanah liat kering yang sempat menyumbat saluran tenggorokannya selama masa persembunyian. Paru-parunya yang terasa begitu rapuh dan kecil berdenyut menyakitkan, seolah-olah menolak udara malam yang berembus masuk secara mendadak dari celah-celah sempit jendela pondok yang terbuat dari jalinan rumbia kering.Hao Yu tidak membuang waktu untuk sekadar menunjukkan rasa iba yan

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 11: Raga Asing di Balik Jeruji Tanah

    Rasa sesak yang menyerang kesadaran itu datang bersamaan dengan aroma tanah basah dan bau apek dari akar-akar pohon yang membusuk. Ketika netra itu pertama kali terbuka, hal pertama yang tertangkap bukanlah gemerlap lampu gantung kristal di butik mewah Jia’s Atelier, bukan pula pantulan cahaya rembulan di atas riak tebing Wanghai yang dingin. Melainkan sebuah kegelapan yang pekat dan pengap. Sesuatu yang terasa seperti dinding tanah liat yang sempit mengimpit tubuhnya dari segala sisi.Jia Li mencoba menggerakkan ujung jemarinya, namun rasa sakit yang luar biasa langsung menjalar dari pergelangan tangan hingga ke pangkal bahunya. Kulitnya terasa kasar, dipenuhi goresan luka kering, dan dibungkus oleh sehelai kain kasar berwarna kelabu yang terasa gatal menempel di kulit. Ini bukan sutra, bukan satin, dan jelas bukan pakaian modern."Ugh..." Sebuah lenguhan tipis lolos dari bilah bibirnya. Namun, Jia Li langsung tersentak. Suara itu bukan miliknya. Suara yang keluar terdengar jauh lebi

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 10: Retakan di Puncak Kekuasaan

    Pengumuman resmi mengenai kepastian kematian Jia Li yang dirilis oleh juru bicara hukum keluarga Li malam itu langsung memicu gempa tektonik berskala besar di seluruh penjuru kota. Portal berita daring berlomba-lomba memasang tajuk utama dengan foto wajah cantik sang desainer yang mengenakan gaun rancangannya, sementara jaringan televisi nasional menyiarkan dokumenter pendek tentang perjalanan karier gemilang Jia’s Atelier yang harus berakhir secara tragis di tebing pantai pinggiran kota. Namun, di balik riuh rendah ucapan duka cita yang mengalir dari para selebritas, kolektor seni, dan sosialita papan atas, suasana di dalam ruang rapat utama Perusahaan Yuchong justru terasa sangat kontras—bagaikan sebuah ruang eksekusi yang dingin, mencekam, dan hampa udara.Yang Li duduk terdiam di kepala meja kayu ek panjang yang mengilap, tatapan matanya yang sayu lurus menatap tumpukan berkas laporan keuangan kuartal terakhir yang berserakan berantakan di hadapannya. Di sekeliling meja bundar ter

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 9: Tabir Keheningan

    Operasi kemanusiaan berskala besar yang digelar di kaki Tebing Wanghai perlahan-lahan mulai menyusut seiring berjalannya waktu, menyisakan keheningan yang jauh lebih mencekam dan menyiksa daripada gemuruh ombak itu sendiri. Minggu-minggu pertama setelah malam nahas itu adalah neraka yang berjalan bagi semua orang yang terlibat di lapangan.Perahu karet tim Rescue berulang kali membelah ombak besar yang ganas, para penyelam profesional mempertaruhkan nyawa menembus kegelapan palung laut dalam yang pekat serta dingin, dan helikopter patroli menyisir setiap jengkal batuan karang tajam dari udara sepanjang hari. Namun, samudra selatan seolah-olah telah mengunci rapat rahasia tentang keberadaan Jia Li. Tidak ada sepotong kain gaun satin hitamnya yang ditemukan tersangkut di batu, tidak ada barang pribadi seperti ponsel atau tas yang mengapung, seolah-olah sang desainer muda berbakat itu telah menguap begitu saja ke dalam kabut malam yang tebal tanpa meninggalkan jejak biologis sedikit pun.

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 8: Gema di Atas Karang Hitam

    Fajar belum sepenuhnya pecah di langit ufuk timur, namun garis pantai di bagian bawah tebing Wanghai telah berubah menjadi medan kesibukan yang luar biasa suram, dingin, dan menegangkan sejak beberapa jam yang lalu. Kabut laut yang semalam menyelimuti puncak tebing kini mulai terangkat perlahan oleh embusan angin pagi yang kencang, menyisakan pemandangan laut selatan yang masih berombak besar dan berwarna abu-abu pekat yang mengerikan. Suara raungan sirine yang melengking dari mobil tim Rescue serta tiga unit mobil polisi memecah kesunyian pagi yang berkabut, beradu konstan dengan deru ombak liar yang menghantam kaki-kaki karang hitam dengan suara berdentum keras, seolah ikut meratapi tragedi yang baru saja terjadi.Garis polisi berwarna kuning terang telah terpasang melingkar sempurna di atas tebing, menutup akses publik ke area tanah longsor di tepi tebing tempat jatuhnya Jia Li semalam. Beberapa petugas forensik dengan pakaian jingga yang mencolok tampak berjongkok dengan penuh keh

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 7: Arus Jiwa Tanpa Wujud

    Aku tidak boleh mati! Aku harus tetap hidup!Siapa pun, tolong aku!Suara itu bergema hampa, terjebak di dalam labirin pikiranku sendiri. Di sini, di tempat aku berada saat ini, semuanya tampak gelap gulita, pekat, dan teramat menyesakkan. Rasa dingin yang luar biasa merayap perlahan, membekukan aliran darahku, sementara tekanan air yang mahabesar terus mendorong tubuhku semakin dalam, tenggelam ke dasar samudera yang tak berdasar. Paru-paruku berdenyut menyakitkan, menjerit mendambakan setitik oksigen yang mustahil kuraih. Setiap kali aku mencoba membuka mulut untuk berteriak, yang masuk hanyalah cairan asin yang mencekik tenggorokanku.Tolong!Inikah akhir dari semua perjuanganku? Akhir dari hidup seorang Jia Li?Sinar rembulan di atas permukaan laut perlahan menjauh, meredup hingga akhirnya lenyap sama sekali dari pandanganku. Kesadaranku mulai timbul dan tenggelam, digerogoti oleh rasa putus asa yang dingin. Namun, jauh di lubuk hatiku, sebuah penolakan keras menolak untuk padam.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status