Home / Romansa / Dua Wajah Sang Kaisar / Bab 1: Jam Pasir

Share

Bab 1: Jam Pasir

Author: Kyung Eya
last update publish date: 2026-05-23 09:20:26

Suara ketukan ujung sepatu pantofel di atas lantai marmer Italia butikku terdengar bagaikan detak jam pasir yang sedang menghitung mundur sisa-sisa kejayaanku. Setiap ketukan membawa gaung yang berat, memantul di antara dinding-dinding kaca yang memajang mahakarya terbaikku. Pagi ini, atmosfer di dalam Jia’s Atelier terasa begitu mencekik, seolah-olah pasokan oksigen telah ditarik paksa dari ruangan.

Butik gaun pengantin mewah ini kubangun dengan darah, keringat, dan air mata selama lima tahun terakhir. Meskipun ini adalah idealisme dan pembuktian diriku, secara legalitas Jia’s Atelier bernaung langsung di bawah bendera Perusahaan Yuchong—konglomerasi tekstil dan properti raksasa milik keluarga kami yang telah dirintis oleh Ayah sejak puluhan tahun lalu. Keberadaan butik ini adalah simbol kemegahan modern dari dinasti bisnis Marga Li.

Biasanya, alunan musik jaz lembut akan mengalir dari pengeras suara tersembunyi, menemani aroma teh kamomil hangat yang menenangkan para calon pengantin kelas atas. Namun hari ini, keheningan yang mati melanda tempat ini. Semua asistenku, para penjahit senior yang biasanya sibuk dengan jarum mereka, hingga staf magang yang paling ceria sekalipun, kini berdiri tertunduk diam. Tangan mereka saling bertautan dengan gelisah. Pandangan mereka semua terpaku pada satu titik yang sama: sebuah layar televisi besar yang terpasang di dinding ruang tunggu utama.

Di layar itu, seorang pembawa berita keuangan dengan setelan formal berbicara dengan nada yang teramat lugas, namun setiap katanya terasa seperti hantaman palu godam yang menghancurkan hidupku.

"Saham komoditas global mungkin sedang berfluktuasi tipis pagi ini, namun bagi raksasa bisnis Perusahaan Yuchong, hari ini adalah awal dari kejatuhan total yang tak terhindarkan. Setelah isu korupsi masif dan penggelapan dana internal oleh salah satu direksi utama mencuat ke publik semalam, saham raksasa tekstil dan properti milik keluarga Li ini langsung terjun bebas ke titik terendah mereka dalam dua dekade terakhir. Berita mengejutkan baru saja dikonfirmasi oleh otoritas bursa: dua perusahaan anak terbesar resmi memutus kontrak secara sepihak. Di sisi lain, kompetitor abadi mereka, NeiWei Corp., dilaporkan baru saja mengakuisisi beberapa aset strategis yang dilepas pasar..."

Aku memejamkan mata erat-erat, mencoba menghalau resonansi suara dari televisi itu agar tidak menembus gendang telingaku, namun sia-sia. Kata-kata itu terus berdengung, memicu rasa pening yang luar biasa di pelipisku. Gelas porselen tipis berisi kopi hitam tanpa gula di tangan kananku mulai bergetar begitu hebat. Getaran itu berasal langsung dari syaraf-syarafku yang menegang, sebuah reaksi bawah sadar yang tidak bisa kukendalikan sama sekali.

Hingga akhirnya, cairan hitam pekat yang masih mengepulkan uap tipis itu memercik keluar dari bibir cangkir. Cairan itu jatuh tepat di atas sketsa gaun pengantin sutra yang baru setengah kuselesaikan di atas meja kerja kayu jati milikku. Noda hitam itu menyebar dengan cepat, meresap ke dalam serat kertas manila, merusak keindahan desain gaun impian berpotongan A-line yang tadinya kurancang sebagai menu utama untuk pameran busana musim depan. Persis seperti nasib masa depanku saat ini: ternoda, rusak, dan cacat dalam sekejap mata hanya karena serangan fajar yang terstruktur dari NeiWei Corp.

Di sebelah sketsa yang hancur itu, ponsel pintarku bervibrasi tanpa henti di atas meja kerja. Permukaan kacanya menyala bergantian tanpa jeda tunggal, menampilkan rentetan panggilan masuk dan notifikasi pesan teks yang membuat kepalaku berdenyut menyakitkan. Mulai dari para investor yang panik menagih kejelasan atas modal yang mereka tanam, jurnalis gosip media daring yang haus akan berita kejatuhan eksklusif Marga Li, rekan sesama desainer yang berpura-pura simpati, hingga satu nama yang paling membuat dadaku sesak seketika saat membacanya: Ayah.

Aku menarik telapak tanganku kembali, menolak untuk tenggelam dalam kepanikan yang melumpuhkan akal sehat. Sebagai seorang desainer ternama dan wanita yang terbiasa memegang kendali penuh atas hidup, keputusan, dan emosinya sendiri, aku memaksa diriku untuk menarik napas dalam-dalam. Kuhirup udara dingin dari pengkondisi ruangan sedalam mungkin, mencoba menstabilkan debar jantungku yang berpacu liar tak beraturan di balik rusukku. Aku melangkah mundur satu langkah, meletakkan gelas kopi porselen itu dengan perlahan di sudut meja yang kering agar tidak menimbulkan kekacauan visual lebih lanjut. Aku harus tetap terlihat tenang di hadapan para karyawanku. Jika sang pemimpin menunjukkan gestur runtuh, maka seluruh istana ini akan roboh seketika.

Baru saja tanganku terulur dengan ragu untuk meraih ponsel yang masih terus berdenting itu, pintu kaca ganda di bagian depan butik didorong terbuka dari luar dengan sangat kasar. Hantaman pintu itu begitu kuat hingga menimbulkan denting keras yang nyaring dan berisik pada lonceng tembaga antik yang tergantung di kusen atasnya. Suara itu memecah keheningan butik yang mati seperti petir yang menyambar di siang bolong. Beberapa staf magang di dekat pintu masuk terpekik pelan, melompat mundur karena terkejut.

Ayah berdiri di sana, di ambang pintu yang terbuka lebar.

Yang Li. Pria yang biasanya selalu tampil necis, anggun, berwibawa, dengan setelan jas custom-made potongan Italia terbaik dan selalu memancarkan aura otoriter yang mutlak sebagai CEO tertinggi Perusahaan Yuchong, kini tampak seperti pria paruh baya biasa yang baru saja kehilangan seluruh kekuatan hidupnya. Dia terlihat begitu ringkih, tua, dan rapuh dalam balutan kemeja kerja yang kusut. Rambutnya yang mulai memutih perak, yang biasanya tertata rapi tanpa ada satu helai pun yang mencuat salah arah, kini tampak berantakan seolah habis dicengkeram dengan rasa frustrasi yang luar biasa hebat di dalam mobil sepanjang perjalanan kemari. Wajahnya sepucat kertas kalkir, kehilangan seluruh rona kehidupan yang biasanya mendominasi penampilannya.

Tangan kirinya mencengkeram dada kemeja putihnya dengan sangat erat, meremas kain itu tepat di bagian jantungnya yang tampaknya berdegup terlalu cepat dan menyakitkan akibat dikhianati dari dalam dan ditekan habis-habisan oleh manuver kejam NeiWei Corp. di lantai bursa. Napasnya memburu, pendek-pendek, berat, dan terdengar sangat putus asa di telingaku.

"Jia Li..." suaranya terdengar parau, pecah, dan bergetar hebat, seolah pita suaranya baru saja terkoyak oleh kenyataan pahit yang harus dihadapinya di luar sana. Dia melangkah maju dengan limbung, menyeret kakinya yang tampak kehilangan tenaga untuk menopang berat tubuhnya sendiri. "Kita hancur, Nak. Yuchong... semuanya habis. Tidak ada lagi yang tersisa untuk kita selamatkan."

Aku tersentak melihat kondisi fisik dan mental pria yang selama puluhan tahun hidupku selalu menjadi pilar pelindung dan tempatku bersandar. Rasa takut yang belum pernah kurasakan sebelumnya—sejenis rasa takut yang dingin dan mengakar—mendadak menyergap seluruh kesadaranku. Aku melupakan semua egoku tentang kemandirian, mengabaikan tumpahan kopi hitam yang kini telah merembes sepenuhnya di atas sketsa gaunku, lalu berlari sekencang mungkin memutari meja kerja untuk menghampirinya.

Aku menahan kedua bahunya yang gemetar parah, merasakan betapa dinginnya kulit Ayah saat itu melalui kain kemejanya. Dengan hati-hati dan penuh kelembutan, kutuntun tubuhnya yang mulai limbung dan kehilangan keseimbangan itu untuk duduk di sofa beludru merah marun terdekat yang terletak di ruang tunggu.

"Ayah, tenanglah. Tarik napas perlahan, lihat aku, ikuti ritme napasku," kataku, berusaha sekuat tenaga agar suaraku sendiri terdengar tegar dan kokoh, meskipun di dalam dada, ada tangis yang mendesak kuat ingin meledak di tenggorokanku. Aku berbalik ke arah asisten utamaku yang berdiri membeku tak jauh dari sana. "Ambilkan air hangat sekarang! Dan panggil ambulans jika kondisi Ayah tidak membaik!"

"Tidak perlu, Jia Li... jangan panggil siapa pun! Air hangat atau obat kimia dari dokter tidak akan bisa mengubah angka kerugian kita di papan bursa!"

Yang Li mendadak bergerak cepat, mencengkeram pergelangan tangan kananku dengan kekuatan mekanis yang mengejutkan dari seorang pria yang tampaknya sedang sekarat. Cengkeramannya mengunci gerakanku seketika. Matanya yang memerah, dipenuhi urat darah yang pecah dan berkaca-kaca, menatap lurus ke dalam manik mataku dengan sebaris keputusasaan yang begitu pekat, begitu gelap, hingga membuat bulu kudukku meremang.

"Jika dalam minggu ini kita tidak bisa membayar ganti rugi likuiditas yang dituntut oleh para investor asing, dan denda pemutusan kontrak sepihak yang diajukan oleh konsorsium bank pemerintah, Ayah tidak akan lagi duduk di kursi kantor Yuchong, Jia Li. Ayah akan memakai baju tahanan oranye sebelum bulan ini berakhir," bisik Ayah dengan suara yang bergetar menahan tangis tuanya.

"NeiWei Corp benar-benar mengunci semua pergerakan hukum dan finansial kita dari segala arah. Mereka tidak hanya ingin mengalahkan Yuchong, Nak. Mereka ingin membunuh kita. Mereka ingin menghapus nama Marga Li dari peta bisnis kota ini untuk selamanya tanpa sisa."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 106: Nyala Kecil Sebelum Gulita

    Tidak ada lagi pembicaraan mengenai tabib, obat-obatan herbal, atau pencarian mantra penyembuhan. Keputusan telah diambil, dan kini yang tersisa hanyalah kepasrahan yang manis serta duka yang teramat dalam namun dibungkus oleh rasa kasih yang meluap.Pagi itu, sinar matahari terbit memancarkan warna keemasan yang lembut menembus celah jendela. Di dalam kamar, Yi Fang duduk bersandar di tumpukan bantal wol tebal. Wajahnya masih pucat pasi dan tubuhnya makin melemah seiring berjalannya hari, namun matanya memancarkan kedamaian yang tak tergoyahkan.Di pangkuannya, terbentang selembar kain selimut bayi berbahan rami paling halus. Jemari lenturnya yang kian kurus dan dingin memegang sebatang jarum perak kecil serta benang sutra berwarna indigo dan emas. Dengan kehati-hatian yang luar biasa, Yi Fang menusukkan jarum itu menembus serat kain, menganyam pola sulaman yang indah.Hao Yu melangkah masuk membawa sebuah mangkuk tanah liat berisi sup kaldu burung puyuh hangat yang ia rebus sejak su

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 105: Keputusan di Bawah Rembulan

    "Jangan berbohong padaku, Hao Yu. Tatap mataku saat kau bicara."Suara Yi Fang terdengar begitu tipis, menyerupai hembusan angin malam yang menerobos lewat celah jendela kayu. Namun, nada di balik bisikan itu memiliki keteguhan yang sanggup meruntuhkan pertahanan terbatin pria tegap di hadapannya.Hao Yu berdiri mematung di ambang pintu kamar. Langkah kakinya yang biasa begitu mantap dan kokoh kini terasa seberat bongkahan batu gunung. Pria yang baru saja kembali dari gua Puncak Pinus Merah itu menundukkan kepalanya sangat rendah. Bahunya yang lebar bergetar halus, mencoba menahan emosi dahsyat yang mencabik-cabik dadanya sejak ia melangkah turun menyusuri jalan setapak bersalju."Aku... aku hanya kelelahan," sahut Hao Yu parau. Suara baritonnya pecah. Ia menolak menaikkan p

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 104: Bisikan sang Cenayang Pegunungan

    Suasana di dalam gua batu Puncak Pinus Merah mendadak hening total. Hanya terdengar derak halus dari ranting kayu yang terbakar di perapian kecil. Asap tipis yang membawa aroma wangi akar kayu hutan dan daun mint kering membumbung pelan ke udara, memberikan sensasi hangat yang menenangkan saraf-saraf Hao Yu yang tegang.Nenek Cenayang menatap pria tegap di hadapannya dengan pandangan yang dalam. Matanya mengamati bekas luka jahitan di pipi Hao Yu, membaca garis-garis kepedihan di dahinya, serta merasakan gelora keputusasaan dahsyat yang sedang mengamuk di dalam dada sang mantan panglima."Anak muda yang perkasa," tutur Nenek Cenayang dengan suara yang sangat lembut, bagaikan belas kasih seorang ibu yang menenangkan anaknya yang sedang ketakutan. "Kau telah memenangkan banyak pertempuran berdarah dengan pedang dan taktikmu di medan pe

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 103: Jejak Petunjuk di Hutan Pinus

    Kabar mengenai kondisi Yi Fang yang tak kunjung membaik setelah pemeriksaan Tabib Shen bergerak lebih cepat daripada angin dingin yang menyapu perbukitan. Surat burung merpati darurat yang dikirimkan oleh sang tabib utama istana akhirnya tiba di meja kerja Raja Xiu Wei. Hanya butuh waktu dua hari bagi ibu kota untuk bertindak. Sebuah kereta kuda kayu cendana hitam tanpa embel-embel lambang kekaisaran tiba di kaki bukit Pegunungan Utara saat matahari berada tepat di puncak kepala.Dari dalam kereta kuda itu, melangkah keluar seorang pria berjubah hitam pekat. Kain sutra jubahnya disulam rumit dengan helai benang perak membentuk aksara-aksara kuno penjaga batas alam. Rambut peraknya terurai bebas diterpa angin dingin, memantulkan sinar matahari dengan pendar asing. Dialah Dukun Suci Kekaisaran—sosok misterius yang sangat jarang meninggalkan altar suci istana, sang penjaga rahasia keseimbangan energi spiritual seluruh tanah Canglan.Tanpa mengindahkan kepulan asap napas dari para pengawa

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 102: Tangisan di Pondok Sunyi

    Darah hitam yang membasahi lantai kayu dan kain rami di kamar pondok memang telah dibersihkan hingga tak bersisa. Namun, aroma tembaga yang samar serta hawa dingin asing yang membekukan tulang masih tertinggal pekat di dalam udara. Di luar, embun pagi menyelimuti lereng Pegunungan Utara dalam kabut tipis yang kelabu. Pepohonan pinus berdiri tegak bagaikan prajurit bisu, menyaksikan penderitaan yang tak tersuarakan dari dalam rumah kayu sederhana itu.Di atas ranjang kayu, Yi Fang terbaring pucat. Wajahnya yang biasa merona anggun dan hangat kini memutih pasi, bagaikan ukiran pualam tanpa nyawa. Helaan napasnya teratur namun teramat tipis—seolah helai kehidupannya hanya terikat pada seutas benang lapuk yang sewaktu-waktu bisa terputus oleh hembusan angin paling pelan sekalipun. Bibirnya yang mengering masih membekaskan rona kehitaman pucat di garis sudutnya, menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya sengatan ghaib yang menghantam jiwanya semalam.Di samping ranjang, Hao Yu tak bergeming sed

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 101: Benturan Energi Dua Linimasa

    Malam di lereng Pegunungan Utara terasa jauh lebih pekat dan mencekam dari biasanya. Angin kencang bertiup melintasi celah perbukitan, meliukkan pepohonan pinus dan menimbulkan suara raungan misterius yang bersahut-sahutan. Di dalam pondok kayu, api perapian berkobar gelisah, memancarkan bayang-bayang panjang yang menari-nari liar di dinding kayu.Yi Fang berbaring telentang di atas ranjang. Tubuhnya dibungkus oleh tiga lapis selimut kain rami tebal, tetapi hawa dingin yang menggerogoti tubuhnya sama sekali tidak berkurang sedikit pun. Wajahnya yang biasa merona anggun kini memucat pasi bagaikan mayat.Hao Yu duduk bersandar di sampingnya, memegang erat kedua tangan Yi Fang yang terasa dingin seperti es batu. Pria tegap itu tak membiarkan matanya terpejam sekejap pun. Firasat buruk yang teramat sangat terus menekan dadanya sejak kepulangan mereka dari tempat Tabib Song, membuat setiap detik yang berlalu terasa bagaikan siksaan yang lambat."Jam berapa sekarang, Hao Yu?" bisik Yi Fang

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 5: Pelarian ke Ujung Dunia

    Lampu-lampu kota melintas di luar jendela mobil bagaikan garis-garis cahaya yang buram dan membingungkan. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku mengemudikan sedan hitamku membelah jalanan protokol yang mulai lengang oleh kendaraan. Kepalaku terasa kosong, hampa, namun di saat yang sama, ada badai ya

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 4: Sayap yang Dipatahkan

    Wang Jun terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar sangat meremehkan dan sarat akan keangkuhan, seolah pertanyaan defensif yang kuajukan adalah hal paling konyol dan naif yang pernah dia dengar dari seorang wanita paruh bangkrut."Seorang wanita yang menyandang nama belakang Marga Wang tidak perlu

  • Dua Wajah Sang Kaisar   Bab 3: Jamuan di Atas Air Mata

    Lampu kristal raksasa yang menggantung megah di langit-langit restoran fine dining hotel bintang lima itu memancarkan kilau keemasan yang menyilaukan. Cahayanya memantul di atas permukaan meja panjang dari kayu jati solid yang dipoles sempurna tanpa noda, menciptakan ilusi yang mewah. Di atas meja i

  • Dua Wajah Sang Kaisar   Prolog

    Aku tidak boleh mati! Aku harus tetap hidup!Siapapun, tolong aku!Suara itu bergema hampa, terjebak di dalam labirin pikiranku sendiri. Di sini, di tempat aku berada saat ini, semuanya tampak gelap gulita, pekat, dan teramat menyesakkan. Rasa dingin yang luar biasa merayap perlahan, membekukan alir

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status