MasukSuara ketukan ujung sepatu pantofel di atas lantai marmer Italia butikku terdengar bagaikan detak jam pasir yang sedang menghitung mundur sisa-sisa kejayaanku. Setiap ketukan membawa gaung yang berat, memantul di antara dinding-dinding kaca yang memajang mahakarya terbaikku. Pagi ini, atmosfer di dalam Jia’s Atelier terasa begitu mencekik, seolah-olah pasokan oksigen telah ditarik paksa dari ruangan.
Butik gaun pengantin mewah ini kubangun dengan darah, keringat, dan air mata selama lima tahun terakhir. Meskipun ini adalah idealisme dan pembuktian diriku, secara legalitas Jia’s Atelier bernaung langsung di bawah bendera Perusahaan Yuchong—konglomerasi tekstil dan properti raksasa milik keluarga kami yang telah dirintis oleh Ayah sejak puluhan tahun lalu. Keberadaan butik ini adalah simbol kemegahan modern dari dinasti bisnis Marga Li.
Biasanya, alunan musik jaz lembut akan mengalir dari pengeras suara tersembunyi, menemani aroma teh kamomil hangat yang menenangkan para calon pengantin kelas atas. Namun hari ini, keheningan yang mati melanda tempat ini. Semua asistenku, para penjahit senior yang biasanya sibuk dengan jarum mereka, hingga staf magang yang paling ceria sekalipun, kini berdiri tertunduk diam. Tangan mereka saling bertautan dengan gelisah. Pandangan mereka semua terpaku pada satu titik yang sama: sebuah layar televisi besar yang terpasang di dinding ruang tunggu utama.
Di layar itu, seorang pembawa berita keuangan dengan setelan formal berbicara dengan nada yang teramat lugas, namun setiap katanya terasa seperti hantaman palu godam yang menghancurkan hidupku.
"Saham komoditas global mungkin sedang berfluktuasi tipis pagi ini, namun bagi raksasa bisnis Perusahaan Yuchong, hari ini adalah awal dari kejatuhan total yang tak terhindarkan. Setelah isu korupsi masif dan penggelapan dana internal oleh salah satu direksi utama mencuat ke publik semalam, saham raksasa tekstil dan properti milik keluarga Li ini langsung terjun bebas ke titik terendah mereka dalam dua dekade terakhir. Berita mengejutkan baru saja dikonfirmasi oleh otoritas bursa: dua perusahaan anak terbesar resmi memutus kontrak secara sepihak. Di sisi lain, kompetitor abadi mereka, NeiWei Corp., dilaporkan baru saja mengakuisisi beberapa aset strategis yang dilepas pasar..."
Aku memejamkan mata erat-erat, mencoba menghalau resonansi suara dari televisi itu agar tidak menembus gendang telingaku, namun sia-sia. Kata-kata itu terus berdengung, memicu rasa pening yang luar biasa di pelipisku. Gelas porselen tipis berisi kopi hitam tanpa gula di tangan kananku mulai bergetar begitu hebat. Getaran itu berasal langsung dari syaraf-syarafku yang menegang, sebuah reaksi bawah sadar yang tidak bisa kukendalikan sama sekali.
Hingga akhirnya, cairan hitam pekat yang masih mengepulkan uap tipis itu memercik keluar dari bibir cangkir. Cairan itu jatuh tepat di atas sketsa gaun pengantin sutra yang baru setengah kuselesaikan di atas meja kerja kayu jati milikku. Noda hitam itu menyebar dengan cepat, meresap ke dalam serat kertas manila, merusak keindahan desain gaun impian berpotongan A-line yang tadinya kurancang sebagai menu utama untuk pameran busana musim depan. Persis seperti nasib masa depanku saat ini: ternoda, rusak, dan cacat dalam sekejap mata hanya karena serangan fajar yang terstruktur dari NeiWei Corp.
Di sebelah sketsa yang hancur itu, ponsel pintarku bervibrasi tanpa henti di atas meja kerja. Permukaan kacanya menyala bergantian tanpa jeda tunggal, menampilkan rentetan panggilan masuk dan notifikasi pesan teks yang membuat kepalaku berdenyut menyakitkan. Mulai dari para investor yang panik menagih kejelasan atas modal yang mereka tanam, jurnalis gosip media daring yang haus akan berita kejatuhan eksklusif Marga Li, rekan sesama desainer yang berpura-pura simpati, hingga satu nama yang paling membuat dadaku sesak seketika saat membacanya: Ayah.
Aku menarik telapak tanganku kembali, menolak untuk tenggelam dalam kepanikan yang melumpuhkan akal sehat. Sebagai seorang desainer ternama dan wanita yang terbiasa memegang kendali penuh atas hidup, keputusan, dan emosinya sendiri, aku memaksa diriku untuk menarik napas dalam-dalam. Kuhirup udara dingin dari pengkondisi ruangan sedalam mungkin, mencoba menstabilkan debar jantungku yang berpacu liar tak beraturan di balik rusukku. Aku melangkah mundur satu langkah, meletakkan gelas kopi porselen itu dengan perlahan di sudut meja yang kering agar tidak menimbulkan kekacauan visual lebih lanjut. Aku harus tetap terlihat tenang di hadapan para karyawanku. Jika sang pemimpin menunjukkan gestur runtuh, maka seluruh istana ini akan roboh seketika.
Baru saja tanganku terulur dengan ragu untuk meraih ponsel yang masih terus berdenting itu, pintu kaca ganda di bagian depan butik didorong terbuka dari luar dengan sangat kasar. Hantaman pintu itu begitu kuat hingga menimbulkan denting keras yang nyaring dan berisik pada lonceng tembaga antik yang tergantung di kusen atasnya. Suara itu memecah keheningan butik yang mati seperti petir yang menyambar di siang bolong. Beberapa staf magang di dekat pintu masuk terpekik pelan, melompat mundur karena terkejut.
Ayah berdiri di sana, di ambang pintu yang terbuka lebar.
Yang Li. Pria yang biasanya selalu tampil necis, anggun, berwibawa, dengan setelan jas custom-made potongan Italia terbaik dan selalu memancarkan aura otoriter yang mutlak sebagai CEO tertinggi Perusahaan Yuchong, kini tampak seperti pria paruh baya biasa yang baru saja kehilangan seluruh kekuatan hidupnya. Dia terlihat begitu ringkih, tua, dan rapuh dalam balutan kemeja kerja yang kusut. Rambutnya yang mulai memutih perak, yang biasanya tertata rapi tanpa ada satu helai pun yang mencuat salah arah, kini tampak berantakan seolah habis dicengkeram dengan rasa frustrasi yang luar biasa hebat di dalam mobil sepanjang perjalanan kemari. Wajahnya sepucat kertas kalkir, kehilangan seluruh rona kehidupan yang biasanya mendominasi penampilannya.
Tangan kirinya mencengkeram dada kemeja putihnya dengan sangat erat, meremas kain itu tepat di bagian jantungnya yang tampaknya berdegup terlalu cepat dan menyakitkan akibat dikhianati dari dalam dan ditekan habis-habisan oleh manuver kejam NeiWei Corp. di lantai bursa. Napasnya memburu, pendek-pendek, berat, dan terdengar sangat putus asa di telingaku.
"Jia Li..." suaranya terdengar parau, pecah, dan bergetar hebat, seolah pita suaranya baru saja terkoyak oleh kenyataan pahit yang harus dihadapinya di luar sana. Dia melangkah maju dengan limbung, menyeret kakinya yang tampak kehilangan tenaga untuk menopang berat tubuhnya sendiri. "Kita hancur, Nak. Yuchong... semuanya habis. Tidak ada lagi yang tersisa untuk kita selamatkan."
Aku tersentak melihat kondisi fisik dan mental pria yang selama puluhan tahun hidupku selalu menjadi pilar pelindung dan tempatku bersandar. Rasa takut yang belum pernah kurasakan sebelumnya—sejenis rasa takut yang dingin dan mengakar—mendadak menyergap seluruh kesadaranku. Aku melupakan semua egoku tentang kemandirian, mengabaikan tumpahan kopi hitam yang kini telah merembes sepenuhnya di atas sketsa gaunku, lalu berlari sekencang mungkin memutari meja kerja untuk menghampirinya.
Aku menahan kedua bahunya yang gemetar parah, merasakan betapa dinginnya kulit Ayah saat itu melalui kain kemejanya. Dengan hati-hati dan penuh kelembutan, kutuntun tubuhnya yang mulai limbung dan kehilangan keseimbangan itu untuk duduk di sofa beludru merah marun terdekat yang terletak di ruang tunggu.
"Ayah, tenanglah. Tarik napas perlahan, lihat aku, ikuti ritme napasku," kataku, berusaha sekuat tenaga agar suaraku sendiri terdengar tegar dan kokoh, meskipun di dalam dada, ada tangis yang mendesak kuat ingin meledak di tenggorokanku. Aku berbalik ke arah asisten utamaku yang berdiri membeku tak jauh dari sana. "Ambilkan air hangat sekarang! Dan panggil ambulans jika kondisi Ayah tidak membaik!"
"Tidak perlu, Jia Li... jangan panggil siapa pun! Air hangat atau obat kimia dari dokter tidak akan bisa mengubah angka kerugian kita di papan bursa!"
Yang Li mendadak bergerak cepat, mencengkeram pergelangan tangan kananku dengan kekuatan mekanis yang mengejutkan dari seorang pria yang tampaknya sedang sekarat. Cengkeramannya mengunci gerakanku seketika. Matanya yang memerah, dipenuhi urat darah yang pecah dan berkaca-kaca, menatap lurus ke dalam manik mataku dengan sebaris keputusasaan yang begitu pekat, begitu gelap, hingga membuat bulu kudukku meremang.
"Jika dalam minggu ini kita tidak bisa membayar ganti rugi likuiditas yang dituntut oleh para investor asing, dan denda pemutusan kontrak sepihak yang diajukan oleh konsorsium bank pemerintah, Ayah tidak akan lagi duduk di kursi kantor Yuchong, Jia Li. Ayah akan memakai baju tahanan oranye sebelum bulan ini berakhir," bisik Ayah dengan suara yang bergetar menahan tangis tuanya.
"NeiWei Corp benar-benar mengunci semua pergerakan hukum dan finansial kita dari segala arah. Mereka tidak hanya ingin mengalahkan Yuchong, Nak. Mereka ingin membunuh kita. Mereka ingin menghapus nama Marga Li dari peta bisnis kota ini untuk selamanya tanpa sisa."
Malam di lereng Pegunungan Utara terasa jauh lebih pekat dan mencekam dari biasanya. Angin kencang bertiup melintasi celah perbukitan, meliukkan pepohonan pinus dan menimbulkan suara raungan misterius yang bersahut-sahutan. Di dalam pondok kayu, api perapian berkobar gelisah, memancarkan bayang-bayang panjang yang menari-nari liar di dinding kayu.Yi Fang berbaring telentang di atas ranjang. Tubuhnya dibungkus oleh tiga lapis selimut kain rami tebal, tetapi hawa dingin yang menggerogoti tubuhnya sama sekali tidak berkurang sedikit pun. Wajahnya yang biasa merona anggun kini memucat pasi bagaikan mayat.Hao Yu duduk bersandar di sampingnya, memegang erat kedua tangan Yi Fang yang terasa dingin seperti es batu. Pria tegap itu tak membiarkan matanya terpejam sekejap pun. Firasat buruk yang teramat sangat terus menekan dadanya sejak kepulangan mereka dari tempat Tabib Song, membuat setiap detik yang berlalu terasa bagaikan siksaan yang lambat."Jam berapa sekarang, Hao Yu?" bisik Yi Fang
Lampu-lampu tabung dari ruang bawah tanah Kejaksaan Distrik Kota memantulkan cahaya dingin pada deretan layar monitor yang menampilkan berbagai berkas digital. Suara ketukan tombol keyboard berpadu dengan dengung mesin pendingin ruangan, menciptakan suasana tegang di dalam ruang kerja Unit Kejahatan Khusus dan Penyidik Kejaksaan.Jaksa Han berdiri menatap tajam ke arah layar utama di depannya. Di layar itu, terpampang rekaan topografi digital tiga dimensi dari area Tebing Wanghai—lokasi jatuhnya Jia Li, perancang busana muda berbakat pemilik Jia's Atelier."Bagaimana kemajuan dari analisis data komputer genggam yang disita dari apartemen Ming Na?" tanya Jaksa Han dengan suara serak.Seorang ahli forensik digital mengklik tetikusnya beberapa kali, memunculkan berkas terenkripsi, data transaksi perbankan Swiss, serta rekaman percakapan suara yang baru berhasil diekstrak."Hasilnya sangat mutlak, Pak," jelas teknisi itu. "Rekaman suara di komputer tua Ming Na membuktikan secara eksplisit
Hawa dingin malam di perbukitan biasanya menghadirkan ketenangan tersendiri bagi siapa saja yang berlindung di dalam rumah kayu mereka. Suara derak kayu bakar dari tungku perapian berpadu lembut dengan helaan napas teratur dari sosok pria tegap yang tertidur lelap di sisi ranjang. Namun bagi Yi Fang, malam itu justru menjadi awal dari siksaan yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.Sentuhan hangat dari telapak tangan Hao Yu yang melingkar di perutnya sama sekali tak mampu mengusir rasa beku yang mendadak menyeruak dari balik tulang belakangnya. Itu bukan dingin yang berasal dari hembusan angin perbatasan yang menerobos celah jendela. Rasa dingin itu merayap dari dalam sumsum tulangnya sendiri, merembes pelan mematikan tiap sel darah yang mengalir di dalam tubuhnya.Yi Fang terbangun dengan mata melotot lebar. Paru-parunya mendadak mengempis sepenuhnya, menolak untuk menarik udara sekeliling. Ia mencoba menghirup napas, tetapi dadanya seolah dihimpit batu berukuran raksasa. Rasanya
"Kalau jarumnya ditusuk sejajar begitu, pola garis bintik-bintiknya tidak akan melengkung pas di sudut."Yi Fang menatap ke arah tangan besar yang mencoba memegang jarum sulam kecil di depannya. Hao Yu duduk di atas bangku kayu, napasnya tertahan dan dahinya berkerut ketat seolah sedang menghadapi ribuan prajurit musuh di garis depan. Pria berbadan tegap itu tampak begitu canggung memegang sehelai benang sutra tipis dengan jemarinya yang penuh kapalan.Yi Fang tidak bisa menahan tawa kecilnya. Suara tawanya yang merdu dan renyah mengudara, menghangatkan ruangan dalam pondok kayu yang malam itu mulai diselimuti hawa dingin perbukitan."Kau ini mantan Panglima Perbatasan yang ditakuti seluruh pasukan musuh," goda Yi Fang seraya mengusap lengan tegap suaminya. "Tapi cuma karena sebatang jarum kecil, wajahmu bisa tegang sampai berkeringat begitu."Hao Yu menghela napas pasrah. Ia menurunkan jarum sulam tersebut, lalu menatap Yi Fang dengan binar kebahagiaan yang berbinar lembut di matanya
Musim gugur perlahan melarikan diri, berganti menjadi hembusan dingin awal musim salju yang lembut. Kabut putih tebal saban pagi membungkus lembah perbukitan Utara, menyulap pepohonan pinus hijau menjadi deretan raksasa berhias kristal es tipis. Namun di dalam pondok kayu di lereng gunung itu, kehangatan tidak pernah pudar. Asap tipis membumbung pelan dari cerobong dapur setiap pagi, membawa aroma kayu bakar dan rebusan sup herbal segar.Kehidupan baru mereka berjalan dalam irama yang sangat damai. Hao Yu menjalani hari-harinya sebagai pria pegunungan sejati. Setiap pagi, ia membelah gelondongan kayu bakar dengan kapak besinya, merawat dua ekor kuda di kandang samping, atau berkeliling hutan membawa busur panah untuk berburu kelinci liar. Warga desa kecil di kaki bukit sama sekali tidak tahu bahwa pria berwajah tegas dengan bekas luka di pipi itu adalah seorang Pangeran dari Canglan. Mereka hanya mengenalnya sebagai 'Tuan Yu', seorang pemburu ulung yang tidak segan membantukan tenagan
Suara gemericik air sungai yang menghantam bebatuan licin terdengar bagaikan alunan musik alam yang menyegarkan telinga. Roda kereta kayu berderit pelan menyusuri jalan tanah berkerikil di antara lembah hijau yang membentang luas. Lima hari perjalanan meninggalkan ibu kota terasa seperti melintasi dua dunia yang berbeda. Bau debu kota, kepulan asap dupa istana, dan ketegangan intrik politik perlahan menguap, digantikan oleh aroma tanah basah serta embun segar yang menempel di balik daun-daun pinus.Perjalanan menyusuri wilayah utara ini berlangsung tanpa hambatan. Tidak ada lagi prajurit pengintai yang membuntut dari balik semak-semak, tak ada lagi anak panah beracun yang mengintai di balik pepohonan. Hanya ada kicauan burung-burung liar dan hembusan angin sejuk yang membelai lembut wajah.Di balik jendela kereta yang terbuka setenga
Lampu-lampu kota melintas di luar jendela mobil bagaikan garis-garis cahaya yang buram dan membingungkan. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku mengemudikan sedan hitamku membelah jalanan protokol yang mulai lengang oleh kendaraan. Kepalaku terasa kosong, hampa, namun di saat yang sama, ada badai ya
Wang Jun terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar sangat meremehkan dan sarat akan keangkuhan, seolah pertanyaan defensif yang kuajukan adalah hal paling konyol dan naif yang pernah dia dengar dari seorang wanita paruh bangkrut."Seorang wanita yang menyandang nama belakang Marga Wang tidak perlu
Lampu kristal raksasa yang menggantung megah di langit-langit restoran fine dining hotel bintang lima itu memancarkan kilau keemasan yang menyilaukan. Cahayanya memantul di atas permukaan meja panjang dari kayu jati solid yang dipoles sempurna tanpa noda, menciptakan ilusi yang mewah. Di atas meja i
Ayah menarik napasnya dengan payah, dadanya kembang kempis tak beraturan. Cengkeramannya di pergelangan tanganku mengendur, meninggalkan rasa kebas yang menjalar hingga ke ujung jari. Keheningan kembali merayap di dalam Jia’s Atelier, namun kali ini terasa jauh lebih pekat dan menakutkan daripada s







