مشاركة

{Bab 46} Rasa Penasaran

last update تاريخ النشر: 2026-04-10 23:46:28

Wajah Leon mengeras, garis rahangnya menegang jelas, seolah setiap otot di wajahnya bekerja keras menahan sesuatu yang hampir meledak. Tatapannya yang semula dingin kini berubah lebih tajam, mengandung tekanan yang tidak lagi ia sembunyikan sepenuhnya. "Sepertinya kau benar-benar ingin menguji kesabaranku."

Meski demikian, sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk senyum yang sama sekali tidak hangat. Senyum itu justru terasa lebih seperti ejekan yang disengaja, dingin dan merenda
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Duke Magnus, Lady Elyana Membutuhkanmu!    {Bab 111} Cuci Otak Mariana

    Setelah perjalanan sekitar satu jam dari kediaman Count Arcelmont, Leon akhirnya tiba di kediamannya sendiri.Kediaman Duke Gabriellion.Sebuah pagar besar berwarna putih menyambutnya, menjulang kokoh seolah menjadi simbol kemurnian dan kehormatan keluarga. Para pengawal yang berjaga segera menunduk hormat dan dengan sigap membukakan pagar begitu melihat sang Duke mendekat.Derit besi pagar terdengar panjang saat terbuka.Begitu celah cukup lebar, Leon kembali mengarahkan kudanya untuk berlari masuk tanpa memperlambat laju. Para pelayan di halaman depan tersentak melihat kondisi wajahnya yang berlumuran darah.Ia berhenti di halaman depan kediamannya dengan tarikan kekang yang tajam.Kuda itu meringkik pelan.Leon turun tanpa berkata apa-apa, menyerahkan kendali pada pengawal yang segera membawa kuda itu ke kandang.Baru saat itulah pupil biru lautnya menangkap sosok yang sangat dikenalnya.Mariana."Yang Mulia!"Wanita muda itu berlari menghampiri Leon. Rambut cokelatnya bergoyang an

  • Duke Magnus, Lady Elyana Membutuhkanmu!    {Bab 110} Penghinaan pada Leon

    Keheningan langsung menegang. Udara terasa berat, seolah setiap napas yang diambil para bangsawan di ruangan itu harus melewati tekanan tak kasatmata."Dan rambut pirangmu adalah..." Aldren tidak berhenti. Pandangannya perlahan bergeser, menelusuri fitur Leon dengan ketelitian yang hampir terasa menghakimi. "Genetik dari keluarga Arcelmont."Kalimat itu sederhana, namun dampaknya jauh dari ringan. Beberapa orang di sekitar mereka saling bertukar pandang, merasakan arah percakapan yang mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.Leon tersenyum meremehkan.Senyum itu tipis, tajam, dan penuh ejekan. Seolah semua tekanan yang dibangun Aldren sama sekali tidak berarti baginya."Tapi tetap saja, Yang Mulia..." Pupil biru laut Leon menatap dingin ke pupil hijau gelap Aldren. "Aku belajar dari pamanmu, Cassian Valtazar, dia salah menikah dengan adiknya." Leon menunjuk ke arah Edward, menatapnya dengan penuh keremehan. "Adik orang itu tidak bisa memberikan pewaris tahta untuk kel

  • Duke Magnus, Lady Elyana Membutuhkanmu!    {Bab 109} Cucu Keluarga Arcelmont

    Di halaman depan kediaman Count, suasana sudah berubah menjadi mencekam bahkan sebelum Aldren dan Caelum tiba.Leon berdiri dengan sikap angkuh di tengah halaman batu, sepatu mahalnya dengan santai menginjak kepala seorang pengawal yang terjatuh di tanah. Mata biru laut Leon menatap dingin ke arah bangunan kediaman Count, seolah-olah seluruh tempat itu tidak lebih dari sekadar wilayah yang bisa ia injak sesuka hati.Di sekelilingnya, para pengawal lain membentuk barisan di depan pintu masuk dengan senjata terangkat. Caelum sampai lebih dulu di halaman depan. Pupil biru cerah itu bertemu dengan pupil biru laut Leon, menatapnya dengan tatapan mengejek. "Bagus!" Caelum bertepuk tangan dengan pelan, membuat para pengawal menurunkan senjata mereka dari pintu masuk kediaman count, membiarkan Caelum keluar.Langkah kaki Caelum santai saat melangkah ke luar kediaman count, tidak berhenti bertepuk tangan pelan.Di belakangnya, Aldren juga muncul dari pintu utama, berhenti beberapa langkah da

  • Duke Magnus, Lady Elyana Membutuhkanmu!    {Bab 108} Pembuat Keributan

    "Aku adalah putri tunggal dari Count Edward Arcelmont. Tentu saja aku berhak memutuskan siapa yang boleh masuk dan tidak!" jawab Elyana dengan tegas.Suaranya terdengar jelas di tengah ketegangan yang memenuhi area gerbang depan. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam nada bicaranya. Meski berdiri di hadapan seorang Duke wilayah Utara, Elyana tetap mempertahankan postur tegak dan tatapan lurusnya.Leon menatap Elyana beberapa detik tanpa berbicara. Tatapannya dingin, tajam, dan perlahan mulai dipenuhi sesuatu yang lebih gelap.Kemudian ia mengangkat sebelah alisnya tipis."Kau hanya seorang perempuan yang tidak bisa menuruti perkataan pria," jawabnya dengan sinis.Nada bicaranya rendah, namun cukup tajam untuk membuat beberapa pengawal di sekitar sana menegang. Bahkan beberapa pelayan yang tadi masih sibuk mengatur persediaan mulai menghentikan aktivitas mereka secara diam-diam.Tatapan Elyana langsung mengeras."Berhenti

  • Duke Magnus, Lady Elyana Membutuhkanmu!    {Bab 107} Kedatangan Raja

    Pagi kembali menerangi kerajaan Valtarian.Langit yang semula gelap perlahan berubah menjadi semburat keemasan. Cahaya matahari pagi menyapu dinding-dinding batu kediaman Arcelmont, memantulkan kilau lembut pada jendela-jendela besar dan pagar besi hitam yang mengelilingi area depan mansion bangsawan itu.Namun pagi kali ini jauh dari kata tenang.Suara derap kaki kuda memenuhi udara sejak fajar belum sepenuhnya tinggi. Pasukan berkuda dengan armor kerajaan berjajar rapi di halaman depan, membentuk barisan pengawal yang mengelilingi sebuah kereta kencana berwarna hitam dengan lambang keluarga kerajaan terukir megah di sisinya.Di belakangnya, beberapa kereta kuda lain memenuhi area halaman yang luas. Roda-roda besar mereka meninggalkan jejak di tanah, sementara para pelayan dan prajurit sibuk menurunkan karung gandum, peti makanan, benih tanaman, hingga pupuk dalam jumlah besar.Suasana sibuk itu dipenuhi suara perintah dan langkah kaki y

  • Duke Magnus, Lady Elyana Membutuhkanmu!    {Bab 106} Surat Kedatangan Raja

    "Mungkin saja," jawab Elyana dengan santai.Ia melipat kembali surat di tangannya dengan rapi, lalu bangkit dari kursi di depan meja rias. Gaun panjangnya bergerak lembut mengikuti langkahnya saat ia berjalan meninggalkan kamar tanpa tergesa-gesa, namun cukup cepat untuk menunjukkan bahwa pikirannya sedang tertuju pada sesuatu yang penting."Aku ingin memberitahukan pada ayahku dulu!"Pintu kamar terbuka, lalu tertutup kembali sesaat setelah Elyana keluar. Suara langkah kakinya menggema pelan di sepanjang lorong kediaman Arcelmont yang luas dan sunyi. Di belakang sana, sang pelayan masih berdiri diam di tempatnya semula.Tatapannya kosong penuh kebingungan.Ia masih belum mampu mencerna bagaimana percakapan santai tadi bisa berubah menjadi pembahasan mengenai kejatuhan seorang Duke. Jantungnya bahkan masih berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.Sementara itu, Elyana terus melangkah tanpa menoleh sedikit pun.Wajah cantiknya tetap tenang, tetapi pupil birunya tampak hidup oleh se

  • Duke Magnus, Lady Elyana Membutuhkanmu!    {Bab 36} Hadiah Pernikahan

    Musik perlahan mereda, lalu benar-benar berhenti. Suara alat musik yang tadinya mengalun lembut kini menghilang, digantikan oleh bisik-bisik halus para bangsawan. Itu adalah tanda yang jelas. Saatnya bertukar pasangan.Beberapa pasangan mulai berpisah dengan anggun, saling memberi hormat sebelum me

  • Duke Magnus, Lady Elyana Membutuhkanmu!    {Bab 21} Lady Elyana Arcelmont

    “Hah— hahaha...” Tawa Edward pecah tiba-tiba.Bukan tawa yang ringan, melainkan tawa yang terdengar retak, dipaksakan, nyaris seperti seseorang yang berdiri di tepi kewarasannya sendiri. Suara itu menggema di ruangan yang sejak tadi dipenuhi ketegangan, membuat udara yang sudah berat ter

  • Duke Magnus, Lady Elyana Membutuhkanmu!    {Bab 20} Serangan Batin

    “Yang Mulia Duke Valzaren...” Edward mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Magnus, suaranya diturunkan, seolah takut dinding pun ikut mendengar. “Masalah ini jauh lebih rumit dari yang terlihat. Masalahnya...”Kalimatnya menggantung di udara. Untuk sesaat, hanya suara detak jam tua di sudut ruanga

  • Duke Magnus, Lady Elyana Membutuhkanmu!    {Bab 8} Rencana Meminta Maaf

    Mendengar itu, Elyana terkejut bukan main. Apa-apaan maksud pria itu? Ini sama sekali tidak ada dalam perjanjian mereka!Elyana melirik tajam ke arah Magnus. Sementara itu yang dituju hanya memasang wajah serius. "Permainan macam apa yang sedang kalian mainkan?" suara Edward menggelegar. Matanya m

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status