MasukLeon terdiam sejenak. Wajahnya menegang, garis rahangnya mengeras tanpa ia sadari. Tatapannya sempat menghindar dari Mariana, seolah mencari tempat lain untuk berlabuh, namun akhirnya kembali lagi pada wanita di hadapannya.
'Elyana ingin tahu apa yang terjadi padaku? Bagaimana aku harus menjawabnya?'Pertanyaan itu berputar di benaknya, berulang kali, semakin lama semakin menekan. Ada banyak jawaban yang bisa ia berikan, tetapi tak satu pun terasa aman."Bagaimana j"Aku adalah putri tunggal dari Count Edward Arcelmont. Tentu saja aku berhak memutuskan siapa yang boleh masuk dan tidak!" jawab Elyana dengan tegas.Suaranya terdengar jelas di tengah ketegangan yang memenuhi area gerbang depan. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam nada bicaranya. Meski berdiri di hadapan seorang Duke wilayah Utara, Elyana tetap mempertahankan postur tegak dan tatapan lurusnya.Leon menatap Elyana beberapa detik tanpa berbicara. Tatapannya dingin, tajam, dan perlahan mulai dipenuhi sesuatu yang lebih gelap.Kemudian ia mengangkat sebelah alisnya tipis."Kau hanya seorang perempuan yang tidak bisa menuruti perkataan pria," jawabnya dengan sinis.Nada bicaranya rendah, namun cukup tajam untuk membuat beberapa pengawal di sekitar sana menegang. Bahkan beberapa pelayan yang tadi masih sibuk mengatur persediaan mulai menghentikan aktivitas mereka secara diam-diam.Tatapan Elyana langsung mengeras."Berhenti
Pagi kembali menerangi kerajaan Valtarian.Langit yang semula gelap perlahan berubah menjadi semburat keemasan. Cahaya matahari pagi menyapu dinding-dinding batu kediaman Arcelmont, memantulkan kilau lembut pada jendela-jendela besar dan pagar besi hitam yang mengelilingi area depan mansion bangsawan itu.Namun pagi kali ini jauh dari kata tenang.Suara derap kaki kuda memenuhi udara sejak fajar belum sepenuhnya tinggi. Pasukan berkuda dengan armor kerajaan berjajar rapi di halaman depan, membentuk barisan pengawal yang mengelilingi sebuah kereta kencana berwarna hitam dengan lambang keluarga kerajaan terukir megah di sisinya.Di belakangnya, beberapa kereta kuda lain memenuhi area halaman yang luas. Roda-roda besar mereka meninggalkan jejak di tanah, sementara para pelayan dan prajurit sibuk menurunkan karung gandum, peti makanan, benih tanaman, hingga pupuk dalam jumlah besar.Suasana sibuk itu dipenuhi suara perintah dan langkah kaki y
"Mungkin saja," jawab Elyana dengan santai.Ia melipat kembali surat di tangannya dengan rapi, lalu bangkit dari kursi di depan meja rias. Gaun panjangnya bergerak lembut mengikuti langkahnya saat ia berjalan meninggalkan kamar tanpa tergesa-gesa, namun cukup cepat untuk menunjukkan bahwa pikirannya sedang tertuju pada sesuatu yang penting."Aku ingin memberitahukan pada ayahku dulu!"Pintu kamar terbuka, lalu tertutup kembali sesaat setelah Elyana keluar. Suara langkah kakinya menggema pelan di sepanjang lorong kediaman Arcelmont yang luas dan sunyi. Di belakang sana, sang pelayan masih berdiri diam di tempatnya semula.Tatapannya kosong penuh kebingungan.Ia masih belum mampu mencerna bagaimana percakapan santai tadi bisa berubah menjadi pembahasan mengenai kejatuhan seorang Duke. Jantungnya bahkan masih berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.Sementara itu, Elyana terus melangkah tanpa menoleh sedikit pun.Wajah cantiknya tetap tenang, tetapi pupil birunya tampak hidup oleh se
Pelayan itu segera mengangguk, meski ada keraguan tipis yang sempat melintas di matanya. Ia melangkahkan kaki menuju jendela dengan gerakan cepat namun tetap terjaga, seolah ada sesuatu yang tak terlihat sedang mengawasinya. Jemarinya meraih pengait jendela, lalu membukanya perlahan.Dan benar saja, seekor burung gagak berwarna hitam pekat melesat masuk tanpa ragu, sayapnya mengepak kuat sebelum akhirnya melambat di dalam ruangan yang hangat itu.Seperti biasanya, gagak itu sama sekali tidak memperhatikan keberadaan orang lain di dalam kamar. Tatapannya tajam dan terarah, seakan hanya mengenali satu tujuan. Ia melewati pelayan begitu saja, nyaris tanpa suara, lalu terus terbang lurus menuju sosok yang duduk di depan meja rias.Elyana.Burung itu menurunkan ketinggian dengan presisi yang mengagumkan, lalu mendarat dengan ringan di pangkuan Elyana. Tidak ada kepanikan, tidak ada gerakan menolak. Elyana tetap duduk tenang, seolah hal itu adalah sesua
Mariana duduk di atas ranjang, kedua tangannya saling bertaut di pangkuan. Pandangannya sesekali melirik ke arah pintu, menunggu dengan perasaan yang sulit ia tenangkan. Waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya, seolah sengaja menguji kesabarannya.Pintu kamar akhirnya terbuka perlahan.Engselnya berderit pelan, memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti ruangan. Seorang pria bertubuh tinggi dan tegap melangkah masuk, mengenakan pakaian duke berwarna putih bersih dengan mantel senada yang menjuntai anggun.Leon Gabriellion."Sayang, aku pulang," ucap Leon sambil melangkahkan kaki mendekat.Tanpa memberi ruang bagi Mariana untuk bereaksi lebih jauh, ia langsung memeluk tubuh calon istrinya yang jauh lebih kecil. Pelukan itu erat, hangat, namun juga terasa menahan, seolah ada sesuatu yang ingin ia pastikan tetap berada dalam kendalinya.Mariana terdiam sejenak dalam pelukan itu sebelum perlahan mengangkat wajahnya. Soro
"Kenapa kau sangat Rasis? Padahal kau juga sama-sama rakyat jelata! Jangan lupa daratan, rakyat jelata!" bentak Leon, emosinya akhirnya pecah.Suara itu memecah ketegangan yang sebelumnya tertahan, menggetarkan udara di sekitar mereka. Alianne mengerutkan alisnya, jelas terganggu, namun bukan karena tekanan dari Leon. Lebih karena ia benar-benar tidak memahami arah kemarahan itu. "Dia kenapa, sih?" tanyanya dengan kesal, nadanya terdengar jujur, seolah pertanyaan itu bukan sindiran, melainkan kebingungan yang nyata."Marahi saja, kakak ipar! Jika dia marah, aku akan memukulnya lagi!" ucap Caelum ringan.Nada bicaranya santai, bahkan nyaris bercanda. Namun senyum yang terukir di wajahnya tidak membawa kehangatan. Ada ancaman yang jelas tersembunyi di sana, sesuatu yang siap dilepaskan kapan saja jika situasi memanas sedikit lagi.Namun sebelum situasi benar-benar berubah menjadi kekerasan terbuka, Aldren bergerak.Tubuhnya berbal
Musik perlahan mereda, lalu benar-benar berhenti. Suara alat musik yang tadinya mengalun lembut kini menghilang, digantikan oleh bisik-bisik halus para bangsawan. Itu adalah tanda yang jelas. Saatnya bertukar pasangan.Beberapa pasangan mulai berpisah dengan anggun, saling memberi hormat sebelum me
“Hah— hahaha...” Tawa Edward pecah tiba-tiba.Bukan tawa yang ringan, melainkan tawa yang terdengar retak, dipaksakan, nyaris seperti seseorang yang berdiri di tepi kewarasannya sendiri. Suara itu menggema di ruangan yang sejak tadi dipenuhi ketegangan, membuat udara yang sudah berat ter
“Yang Mulia Duke Valzaren...” Edward mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Magnus, suaranya diturunkan, seolah takut dinding pun ikut mendengar. “Masalah ini jauh lebih rumit dari yang terlihat. Masalahnya...”Kalimatnya menggantung di udara. Untuk sesaat, hanya suara detak jam tua di sudut ruanga
Mendengar itu, Elyana terkejut bukan main. Apa-apaan maksud pria itu? Ini sama sekali tidak ada dalam perjanjian mereka!Elyana melirik tajam ke arah Magnus. Sementara itu yang dituju hanya memasang wajah serius. "Permainan macam apa yang sedang kalian mainkan?" suara Edward menggelegar. Matanya m







