Share

Bab 117

Penulis: Janice Sinclair
"Lempar yang paling kiri, bukankah sudah jelas?"

"Kamu yakin?"

"Aku sangat yakin, tapi kalau kamu kalah di ronde ini, jangan salahkan aku."

"Kalau kalah, aku bakal beresin kamu pas balik nanti."

"Kenapa kamu seperti ini? Aku nggak yakin sekarang. Tunggu sebentar!"

Begitu Kiana selesai berbicara, Tristan mengambil kartu paling kiri dan melemparkannya. Begitu Tristan melemparkannya, Melvin, yang berada di seberangnya, mendorong kartu-kartu di tangannya.

"Pak Tristan murah hati! Aku menang!"

Kiana terdiam.

Tristan mendengus pelan. "Tunggu saja. Aku akan kembali dalam dua hari lagi."

"Kenapa kamu salahkan aku? Salahkan saja kemampuan kartumu yang buruk!"

Tristan berdiri sambil memegang ponsel. Kamera tampak bergoyang sebentar. Dia mungkin pergi ke teras, lalu duduk di kursi di luar, merokok sambil menikmati angin sepoi-sepoi, dan sesekali melirik kamera.

"Sudah jam berapa?" tanya pria itu.

"Jam 11.30. Sudah larut."

"Ngantuk?"

"Em."

"Istirahat baik-baik malam ini. Besok kamu pasti nangis."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dulu Kau Permainkan Aku, Kini Aku Istri Sultan   Bab 320

    Pria itu berjalan keluar dengan lesu, tersandung, dan terjatuh ke bawah.Lalu, matanya menjadi makin merah. Air mata menggenang di matanya."Pak Maruli, apa kamu baik-baik saja?"Bu Sonia bergegas mendekat dan mencoba membantu pria itu berdiri, tetapi pria itu seakan menempel di lantai dan sama sekali tidak bisa diangkat.Melihat pria yang hampir menangis itu, Bu Sonia bertanya dengan datar, "Apa yang Pak Tristan lakukan padamu?"Menyadari pertanyaannya salah, dia segera mengubah nada bicaranya. "Kamu dimarahi Pak Tristan?"Pak Maruli menggelengkan kepalanya. "Pak Tristan nggak memarahiku.""Dia nggak sampai memukulmu, 'kan?""Tentu saja nggak.""Terus?""Pak Tristan tanya sudah berapa tahun aku bekerja di perusahaan ini. Aku bilang 20 tahun. Terus, dia bilang ....""Dia bilang apa?""Dia bilang, kalau melatih hewan selama 20 tahun, hewan itu seharusnya juga sudah pintar. Sebaliknya, aku sudah diajari berkali-kali, tapi masih saja salah. Tapi walau salah, aku masih lebih baik daripada

  • Dulu Kau Permainkan Aku, Kini Aku Istri Sultan   Bab 319

    Ekspresi Nathan berubah muram. "Aku datang antar obat buat Ibu.""Nggak perlu pura-pura baik.""Kalau begitu, minumlah obatnya. Aku akan pergi sekarang juga."Nyonya Tania menarik napas dalam-dalam, lalu menahan emosinya, dan mulai meminum obatnya.Memanfaatkan momen ini, Nathan melirik Kiana dan menunjuk kepalanya sendiri, lalu melirik ibunya yang sedang minum obat. Terakhir, dia menggelengkan kepalanya dan melambaikan tangannya dengan panik.Meskipun Kiana tidak ingin mengerti, dia tetap memahami maksud Nathan. Kondisi mental Nyonya Tania sangat buruk. Nathan memperingatkannya agar tidak membuatnya marah atau berdebat dengannya."Kamu bahkan nggak menghadiri pernikahanku dengan Tristan, tapi kamu datang menemuiku hari ini khusus untuk mengingatkanku tentang perjanjian satu tahun, lalu memintaku berjanji agar nggak membiarkan Tristan jatuh cinta padaku. Jelas sekali, kamu sudah menyadari atau yakin kalau Tristan jatuh cinta padaku."Nyonya Tania membanting gelas air ke meja dan memelo

  • Dulu Kau Permainkan Aku, Kini Aku Istri Sultan   Bab 318

    Bisnis utama Grup Sagara telah diserahkan kepada Tristan. Nyonya Tania hanya mengerjakan proyek Resor Harbor, jadi dia umumnya tidak datang ke Grup Sagara. Terlebih lagi, setelah menyelesaikan proyek ini, dia dirumorkan akan sepenuhnya pensiun.Begitu melihatnya masuk, orang-orang dari Grup Sagara segera berdiri.Kiana juga bergegas memimpin kelompoknya untuk berdiri. Setelah Nyonya Tania duduk, mereka baru duduk kembali.Nyonya Tania tidak berbicara dan rapat pun terus berlanjut.Saat rapat berakhir, tidak ada yang berani bergerak. Semua orang menunggu Nyonya Tania berbicara.Nyonya Tania menundukkan pandangannya dan berkata, "Kalian semua keluar dulu."Kedua belah pihak bangkit dan pergi, tetapi Kiana tidak bergerak.Sesuai dugaannya, Nyonya Tania mendongak dan menatapnya. Matanya menjadi gelap, lalu dia berkata dengan dingin, "Aku nggak mengerti mengapa Ishan memilihmu."Kiana mengerutkan bibir. Tidak mengerti mengapa Ishan memilihnya untuk menikah dengan Tristan, melahirkan keturun

  • Dulu Kau Permainkan Aku, Kini Aku Istri Sultan   Bab 317

    "Kiana, pergilah ke kantor polisi dan katakan ini hanya kesalahpahaman. Minta mereka untuk membebaskan Yovan."Lihat, itulah tujuannya yang sesungguhnya.Mana mungkin pertobatan dengan motif tersembunyi bisa tulus?Kiana membungkuk dan tersenyum tipis. "Kalau aku pergi ke kantor polisi dan meminta agar Yovan dibebaskan, terus apa keuntungannya bagiku?""Ki, kita masih sahabat baik!"Pft! Kiana tertawa terbahak-bahak."Aku nggak berani menerima keuntungan seperti itu. Aku pasti akan menghindar sejauh mungkin dari ular berbisa sepertimu."Wajah Rachel memerah. "Kalau begitu, keuntungan apa yang kamu inginkan? Aku bisa kasih kamu apa saja.""Huh. Kamu punya apa memangnya?""Aku ....""Kamu nggak punya uang, tapi masih berani tanya apa yang aku inginkan? Bukankah itu lelucon? Kalau nggak ada imbalan, atas dasar apa aku harus membantumu? Berdasarkan persahabatan di masa lalu? Apa kita masih punya persahabatan? Kalaupun ada, pasti sudah berubah menjadi kebencian sejak lama! Jadi, aku nggak p

  • Dulu Kau Permainkan Aku, Kini Aku Istri Sultan   Bab 316

    Perkataan ini membuat Tristan sangat marah. Dia mendorong Kiana ke belakang dan menggigit bibir bawahnya dengan keras."Tarik kembali ucapanmu tadi!"Bibirnya terasa sakit, tetapi Kiana tersenyum bahagia."Kecuali kamu bisa membuktikannya.""Kamu pengin mati malam ini?""Mati di atas ranjangmu?"Tristan meraih pinggangnya dan mengangkatnya tiba-tiba. Saat wanita itu berpegangan padanya dengan panik, Tristan menciumnya dengan paksa, lalu mulai menanggalkan pakaiannya ....Api itu berkobar cukup lama, tetapi Tristan tidak tega menggunakan terlalu banyak tenaga dan terus melindungi punggungnya. Setelah tubuh Kiana lemas, dia baru melepaskannya. Dia membawanya mandi, kemudian mengoleskan salep pada memar di punggungnya. Setelah itu, dia membaringkannya kembali dan menariknya ke dalam pelukannya."Tidurlah. Mimpi indah," kata Tristan dengan lembut.Kiana mendekapnya lebih erat. "Kalau kamu muncul dalam mimpiku, itu pasti akan menjadi mimpi yang indah."Saat Kiana turun ke bawah di pagi hari

  • Dulu Kau Permainkan Aku, Kini Aku Istri Sultan   Bab 315

    Jordi menghela napas lega dan berkata, "Aku akan bawa dia ke kantor polisi."Setelah menggumamkan 'hm', Tristan pun berbalik dan berjalan mendekati Kiana.Wanita itu masih terpaku di tempat. Tubuhnya yang tertutupi mantel tampak gemetar, sampai Tristan memeluknya."Dia sudah mengaku kalau apa yang dia katakan semuanya bohong?" kata Kiana dengan suara bergetar."Hm," gumam Tristan."Kamu percaya?"Tristan membuka mantelnya, lalu membungkuk, dan ikut meringkuk ke dalam. Meski di dalamnya gelap dan dia tidak bisa melihat wajah Kiana, dia bisa merasakan kehadirannya. Dia mencondongkan tubuh dan mencium air mata Kiana sedikit demi sedikit dari sudut matanya."Aku percaya padamu."Kiana terisak dan menangis tersedu-sedu.Tristan tersenyum lembut dan memeluknya lagi.Kiana tidak tahu berapa lama dia menangis di bawah mantelnya. Saat dia keluar, dia melihat lapisan embun beku perak menutupi tubuhnya. Dia mendongak ke langit, di mana bulan purnama yang terang bersinar.Kini hanya dia dan Trista

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status