Share

Chapter 134

last update Tanggal publikasi: 2026-05-27 10:00:45

Di balik megahnya pundak grand piano Steinvay Imperial Noir-lah Samuel melindungi sang ayah dari serangan pesan yang menduduki layar ponselnya. Dingin lantai marmer Retrovia Carrèra belum sanggup Ganta tinggalkan. Hanya kedua lengan gemetar, rapuh,merengkuh sang anak dalam derai air mata. Gestur tangan Samuel di balik pundak Ganta—setia menenangkan tangisan sang ayah—memanggil Julius mendekat.

Pemuda bertindik langsung menurunkan telinganya

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 135

    “Sam.”Dominic cepat berdiri sebelum pemuda itu betul-betul meninggalkannya.Pundak Samuel bergerak ke belakang. Tangan sang pengacara muda sempat terangkat menyentuhnya, berhenti di udara dengan gestur tak nyaman.“No. Sorry,” sanggahnya sendiri. “Saya izin panggil partner. Recording kalau kita butuh validasi yang tepat, harus memakai orang profesional.”Samuel lirik sedikit gelagat sang pengacara yang kembali ke duduknya, dengan tak nyaman. Lalu menyahut, “Iya, memang itu maksudku.”Dominic mengangguk tipis. Koper klimisnya menyimpan sebuah benda metalik hitam—ponsel, Cipher X Pro Edition. Beberapa pesan masuk sebagaimana sang pengacara muda yang selalu sibuk. Beberapa nomor pribadi yang menghubungi kontak profesionalnya, Dominic lebih tertarik pada sebuah kontak—tanpa nama, jemarinya langsung menekan begitu bunyi dimulai.“Daisy? Kode-9?” ucap pengacara itu saat panggilan berlangsung.Suara samar

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 134

    Di balik megahnya pundak grand piano Steinvay Imperial Noir-lah Samuel melindungi sang ayah dari serangan pesan yang menduduki layar ponselnya. Dingin lantai marmer Retrovia Carrèra belum sanggup Ganta tinggalkan. Hanya kedua lengan gemetar, rapuh,merengkuh sang anak dalam derai air mata. Gestur tangan Samuel di balik pundak Ganta—setia menenangkan tangisan sang ayah—memanggil Julius mendekat.Pemuda bertindik langsung menurunkan telinganya. Julius mengangguk angguk, kemudian, mencatat. Samuel dalam bisiknya menyampaikan sesuatu dari pesan yang baru Ia baca.“Gitu aja?” Julius, juga berbisik. Samuel mendelik untuk peringatan sebagaimana suara Julius masih cukup jelas didengar ayahnya. “Oke, oke, sorry. Siap. Sebetulnya enggak perlu dikasih tau pun, gue enggak akan ikut campur, Sam. Intinya perintah Om Ganta, itu yang gue lakuin. Enggak. Jonathan juga enggak. Oh, kalau itu gue

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 133

    “Damn. Make it fast! Fast!”“Buruan, Jo.”“Ini udah cepet!”“Sini, ah! Gue yang nyetir!”“Apaan!? Lu mabok!”Di samping pendingin udara Thermavolt Silent Climate Syste, sebuah jam digital mobil memburu panas—bukan jamnya, waktunya. Ricuh klakson mobil dari arah belakang dan saksi bisu lainnya, betapa kencang Jonathan Wilyono menggerus mesin mobil Maybäch S680 Obsidian.Dan, belum cukup juga. Serangan dari kedua kaki liar Julius—di belakang kursi kemudinya—merantai kemarahan sang pemuda. Kilometer pada penanda mobil mentok, hingga alarm berdering. Masih belum cukup juga, Jonathan terus disiram ocehan.“Buruan lagi, Jonathan!” Sikunya—Julius—mulai menganggu konsentrasi sang pengemudi. “Ini asisten Paman Ganta telpon-telpon terus, berisik! Enggak bisa cepat, aku aja yang me

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 132

    “Guys!”Kain splint fiber OrthoFlex Carbon-X Support terkoyak dramatis dari jarak kejauhan. Dua menit berlalu Ganta lenyap dari rumah sakit, Dokter Kishibe baru sanggup mengumpulkan keberanian. Gemetaran di kakinya berpindah ke panik wajahnya. Sigap tangannya mendorong sebuah monitor jantung Philivon CardioWatch MX—baru, sebelumnya dirusak Ganta—masuki. Cepat-cepat bertangan dingin, Dokter Kishibe nyalakan sambungan listriknya.“Sam!”Tepi ranjang logam Yillrom AdvantaCare ICU Bed-X tertimpa tubuh Samuel yang ambruk secara tiba-tiba. Beruntung dua pemuda di sampingnya setia menopang. Berbondong-bodong petugas medis datang, seluruhnya sigap memberikan Samuel pertolongan pertama.Beep. Beep. Beep.“Fuck. Pressure drop.” Kishibe bertetes keringat dingin. “Jo, angkat kepalanya. Julius, ambil—yap, itu, alat pompa. Bantu aku angkat lehernya s

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 131

    “Oh my—““Jangan dekat-dekat!”“Itu... beneran? Betulan ada orang tua yang bertengkar sama anaknya? Bukannya si anak baru selesai operasi?”“Masalah apa, sih?”“Ssshhh! Let’s not get involved!”“Aku mau periksa pasien itu, tadinya, tapi—ah, enggak jadi. Horor.”“Hey! Aku lihat ada darah tadi! Apa baiknya kita panggil polisi saja? Kalau sampai ada yang meninggal—hiii!”Tabloid baru turun pada lantai VIP VVIP St. Aurelius Medivine Hospital. Tercatat, Main Headline: Seorang Anak dan Orang Tua Bertengkar Tengah Malam. Rumah Sakit lebih berisik daripada gedung baru orkestra.Semua saling berbisik. Saling bergosip. Tanpa ada yang berani langsung menyaksikan.Selayaknya, hanya ada koridor putih berbau obat sana-sini. Kali ini? Jauh lebih sepi. Sebab keributan tuntas di

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 130

    “Ma! Ma!”“Lihat! Ada orang gila!”Warna-warni gaun Amber McCartney Kids setiap anak berlarian mengitari taman. Paving penuh jatuhan bunga, balon Helium PartyHovse Floating Star Series berterbangan di angkasa. Keributan hangat, cerah, penuh tawa, salah satu di antaranya berhenti tak sengaja pada kesialan.‘Ada orang gila sejak kemarin duduk di taman.’ Para orang tua mulai membisikkan.Seorang diri, tubuh basah kuyup for-God-knows dari air hujan, keringat, atau air matanya. Penghuni setia beberapa hari kursi Victorian Garden Cast-Iron Bench, tanpa ada yang berani menegur.Anak-anak bergaun manis kerap melempar batu pada sosok diam itu. Terkadang, lututnya hingga berdarah. Tak ada yang mencegah. Kecuali para orang tua yang takut anaknya terkena bad influence——Sienna, tak berbentuk lagi sebagai manusia.“Sssshhh!” S

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 33

    – L’Ultima Mossa — Checkmate –“Tenang. Jonathan tidak akan bangun, kecuali kamu berteriak.”Salah, Sienna.Bahkan sebelum kalian masuk ke dalam ruangan pun, Jonathan telah membuka matanya.“Ngh~”“Samuel~”Mentereng pada bias aswad lembayung sang perjaka, apa yang menjadi cobaan terbesar Jonathan

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 32

    Sienna Halim POV Jantungku runtuh sesaat, berakhir tenang kembali begitu tersadar siapa pelaku yang membanting pintu dengan membabi buta. “Sudah selesai kangen-kangennya?” Usai menghancurkan pintu, Samuel berjalan tenang masuk ke dalam. Ada sebuah tas hitam yang dijinjing lengan kokohnya. Sed

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 30

    Sienna Halim POV“Samuel! Fighting!”Bibirku bergelung manyun. Cewek tadi… ia bangkit dari kursi cheerleaders dan langsung melompat-lompat. Pom-pom pelangi mengayun-anyun seraya helai rambutnya yang terbawa angin, mengenaiku di sampingnya. Menilik ia mengeja nama Samuel dengan awfully familiar, mu

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 29

    Sienna Halim POV Tubuhku kotor, lengket, bau keringat. Lutut kesat dari darah mengering, pinggir kaki masih terkilir. Aku lelah, jenuh, ingin cepat-cepat pulang. Terlihat dari batasan pagar jurusan yang membentengi, tidak sedikit anak-anak dari kelas lain yang merekam perkelahian kami. Kalau bukan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status