FAZER LOGINDua tangan refleks mencari pegangan pada sisi Valmere Gold Crest Chair, tegang napas patah menjadi potongan pendek. Usaha keras Jonathan agar tak terjerembab ke dada gadis di depannya—Christine, menarik leher dasi Jonathan sekuat tenaga. Pemuda itu telah menunjukkan tanda-tanda hilang napas—tercekik, pun, Christine tak mempedulikan belas kasihan.“Coba ngomong,” suara Christine berubah rendah. “Kamu tadi telpon, terus dimatiin. Apa? Ada apa? Cepat ngomong.”“Enggak. Sorry, Christ. Tadi salah pencet,” gemetaran, Jonathan akhirnya bisa jawab. Sebisa mungkin pemuda itu alihkan wajah ke samping. Gestur perintah Christine untuk menatapnya benar-benar di abaikan.“Hah?” Tarikan pada leher dasi Jonathan terlepas, sang gadis mundur sedikit. Belahan samping sanggulnya Ia remas—kencang—sebagai ledakan emosi. Jonathan dilihatnya dari atas; mungkin jika ini adalah hari-hari
Hujan cahaya menuruni siku-siku ballroom. Porselen Montclaire Porcelaine seterang gading-gading pada pilar—prok, prok, prok, berisik penghuninya. Tepuk tangan meriah disambut pagelaran terakhir sebagai main dishes. Melamun namun juga mengikuti, sendok perak Vandôme Sterling Set bertengger di atas piring Jonathan yang setia penuh. Sienna sudah wanti-wanti untuk Jonathan habiskan lunch sekaligus breakfast-nya hari ini, mengingat sang pemuda hilang berat badan terlampau banyak.Tanyakan pada perut Jonathan yang selalu mual setiap di meja makan. Apalagi, partner duduknya sudah pergi sedari tadi.Detak tepuk tangannya cemas sendiri. Pernikahan telah meluncur dari acara puncak, Jonathan duduk sendirian di tengah lautan berisiknya manusia. Kursi Rivelle Banquet Goldback, genggaman bertumpu pada paha, siku-siku tak nyaman di tempatnya. Formal attire Jonathan pakai mendadak ter
Ganta Yudhistira POVDenting pianissimo dari tuts ivory—tempo, satu ketukan, naik dua per empat, enam, delapan—sang maestra mulai menguasai luas podium. Irama strings, one, two, three. Bagai berhitung. Ketukan ritme pinggul sang gadis terus berirama.Turun menyentak, deep, masuk ke dalam, memenuhi rongga. Ditarik kasar, desahan, lalu, menyentak. Sang pria di bawahnya dijadikan bahan mainan, bahan percobaan. Tubuh ganta bagai grand piano berbagai tuts. Tiap sentuhan sang gadis berikan, Ganta mendesah dengan cara berbeda.Naik turun, sang gadis memompa kelamin pria di bawahnya. Suasana jatuh bagai andante con moto. Sang pria pasrah mendesah, tenaganya tak kuat lagi hanya sekadar mendorong ‘rival’ yang menungganginya.Maju mundur, tergesa, namun juga tidak. Lutut sang gadis menekan sisi bantalan sofa, bahunya condong ke depan, sebelah paha mengangkang ke
Ganta Yudhistira POVFerris wheel—oh, salah. Yang tengah berputar-putar dramatis di atas matanya, adalah kepalanya sendiri.Tak satupun bagian dari ruangan mewah itu stay pada tempatnya. Temaram lampu kristai Lunaris Halo Drop bergeser perlahan. Begitu pula tanganya, yang terasa tak bisa diam di suatu tempat.Ganta asing merasakan isi kepalanya sendiri. Gelas terakhir liquor membuat tenggorokan tersayat-sayat. Ia mabuk, kah? Jarang sekali, seorang Ganta bisa kehilangan control kendali diri. Saraf tubuhnya lambat menerima perintah. Ibarat tubuh dan pikirannya terpisah dalam dua ruangan.Raba-raba tangannya mencari sesuatu yang bisa dihubungi. Di bawah telapak, sesuatu berkedut—hangat, lembut, kenyal. Samar, namun bergerak napas. Pria itu masih berada pada badan sofa Meridien Cuir Prestige—seingatnya—dan tak ada seseorang selain dirinya.Kain upholstery mahal berke
“Ahh—“Pegangannya pada gagang food cart jatuh. Sosok tunggal penghuni Darmont Élite Sovereign Series di tengah ruangan mendadak pingsan, atau mabuk—hidung Angelina nyeri mencium pekatnya aroma liquor dari tubuh pria itu. Tak bermaksud untuk ‘salah sentuh’, Angelina luruskan kedua lengannya ke udara. Gagang telepon di samping meja Noirvante Silk Line Ia raih susah payah.Satu dial tersambung—Ludwig. Sambil mencoba mendorong tubuh berat Ganta kembali bersandar, Angelina panggil cepat sang atasan itu.“Maaf, Pak Ludwig. Ah—ini Angelina. Benar. Maaf, saya rasa ada yang salah dengan penempatan nomor—apa? Tapi, Pak, pemula seperti saya belum diajarkan cara entertaining tamu exclusive. Bukankah seharusnya Madame Emma—““Layani saja, Angel. Lelaki itu sama, beda pekerjaan, pun. Aku dan Pak Ganta itu sama. Pleasure, hm? pleasure. Kamu kerja di sini, paham dengan itu, kan? Enggak perlu didikte lagi
Scatt—Kristal dari Virelli Obsidian Cut Series memecah serpihan sekujur lantai. Amber dari lampur Bar membuat kilaunya terpantul pada ribuan beling-beling. Tak seharusnya ada di sana, Angelina hanya meretakkan salah satu di antara mereka. Mungkin, karena melakukan kesalahan di hari pertama kerja. Manajer Scoff memarahinya—membanting series gelas-gelas mahal itu, lebih tepatnya—tanpa mendengarkan alasan sang pelayan baru.Angelina sial. Hari pertama kerja, Ia harus jadi pagar ayu pernikahan sang sepupu. Jika boleh memilih, Angelina ingin fokus membantu Sienna, daripada harus kerja—dan dimarahi juga—sebagai pelayan. Nasib kata, uang mengalahkan segalanya. Dan di sinilah Angelina, terpaksa membereskan serpihan gelas kristal dengan tangan polos.Manajer Scoff—harusnya Pak Noel yang meng-assistance hari ini—mendorong bahu Angelina dengan ujung sepatunya. Menendang. Gadis itu sedang sibuk m
Sienna Halim POV Jantungku runtuh sesaat, berakhir tenang kembali begitu tersadar siapa pelaku yang membanting pintu dengan membabi buta. “Sudah selesai kangen-kangennya?” Usai menghancurkan pintu, Samuel berjalan tenang masuk ke dalam. Ada sebuah tas hitam yang dijinjing lengan kokohnya. Sed
Sienna Halim POV“Samuel! Fighting!”Bibirku bergelung manyun. Cewek tadi… ia bangkit dari kursi cheerleaders dan langsung melompat-lompat. Pom-pom pelangi mengayun-anyun seraya helai rambutnya yang terbawa angin, mengenaiku di sampingnya. Menilik ia mengeja nama Samuel dengan awfully familiar, mu
Sienna Halim POV Tubuhku kotor, lengket, bau keringat. Lutut kesat dari darah mengering, pinggir kaki masih terkilir. Aku lelah, jenuh, ingin cepat-cepat pulang. Terlihat dari batasan pagar jurusan yang membentengi, tidak sedikit anak-anak dari kelas lain yang merekam perkelahian kami. Kalau bukan
Sienna Halim POV“Dikunyah, jangan enggak.”“Tsk. Males. Pahit.”“Dikunyah. Sekarang.”Bibirku jatuh tersungkur menanggapi bebaris tangan yang menyerobot masuk ke bantalan lidahku. Pucuk botol dingin diketuknya dengan sengaja—Jonathan, terus membujukku minum obat setengah jam lamanya. Janjinya dite







