Mag-log inJonathan Wilyono POV
“Jonathan!”Namaku menyusul, memantul, terjerembab ke ruang telinga.Bongkahan batu kerikil menyembul lewat injakan sepatu kotorku. Terlalu signifikan, namun cukup untuk membuatku tersadar:Napasku melambat senada dengan jerit suara Sienna.Telapak tanganku terangkat ke udara. Gestur, yang orang kira untuk memanggilnya. Sosok gadis di ujung koridor itu mulai menyadari tingkah anehku. Lambaianku naik—namun, bukan untuk Sienna.Pemuda di depannya ini tampak seperti versi lain dari Samuel Yudhistira yang Sienna kenal—jauh lebih dewasa, tajam, neat, dan…Jauh lebih memikat.Dari jarak yang berhasil Samuel pangkas, ketampannya terlihat jauh lebih jelas. Sejak kapan, Samuel terlihat sangat unreal? Garis rahang tajam bagai ukiran, hidung tinggi ramping, bibirnya sedikit merona. Sienna tak paham Samuel memakai riasan atau tidak—wajah pucatnya makin tampak memesona. Percik cahaya dari chandelier terpancar mengenai sudut kiri wajahnya, gadis itu menikmati keindahan wajah berpahat patung Yunani.Samuel sedikit menunduk, sebelum menempatkan lengannya pada pinggang ramping Sienna. Dalam beberapa waktu mereka tak bertemu, Samuel berubah drastis.Tinggi pemuda itu tampaknya bertambah. Lingkar bahunya—lebar, lebih tegap. Lengannya penuh dengan otot-otot firm. Bahkan tebalnya setelah tuxedo, sulit menyembunyikan bayangan tub
“—ack, hey! Sie!”“Jo! Cepat kejar Sie!”Pecah, panik. Angelina sampai tersandung dengan kegagalannya, mencegah sang sepupu beranjak lari meninggalkan mereka.Veil panjang diangkat amatir. Dua tangkupan lengan, memeluk bagian terdepan gaun, lari sekonyong-konyong—Sienna. Frame hitam kacamata baru dikenakan Jonathan, ketika pemuda itu menyaksikan aksi kejar-kejaran tiga gadis dengan satu mempelai wanita. Tak ada waktu untuk membeku, Jonathan mengitari kap mobilnya, berlangkah panjang.“Ray! Apaan!?” Jonathan memekik, dari kejauhan, mengejar mereka bertiga.Gadis itu—Raya, menoleh ke belakang tanpa mengecilkan kecepatan langkah. “Buruan kejar Sienna! Dia kabur, masuk ke dalam! Firasatku enggak enak! Cepat kamu kejar dia!”“Hah!?” Jonathan meninggikan suara, “Kabur masuk ke dalam, maksudnya gimana!?”“Sie—tungg
“—yah,”“—kapan, ya, terakhir—aku lupa. Yudhistira itu banyak, banyak banget mixed blood. Sam, Victoria, walau mereka cousins, basically mereka hampir enggak ada ‘darah’. Dulu, Tante Diana sama Paman Ganta juga dijodohkan. Cuma, karena ada Tante Carla, so, enggak jadi.”“Tapi, gara-gara itu juga Tante Diana ngebet banget buat jodohin anak semata wayangnya, Victoria—dan, tau, gak? Bahkan dari bayi! Vi, sama Sam itu lahirnya barengan. Cuma beda beberapa jam doang. Duluan Vi, baru Sam. Begitu Sam lahir, Tante Diana yang masih pakai hospital gown, buru-buru ke kamar bersalin Tante Carla—dan, ugh, mau tau apa?”“Tante Diana maksa Paman Ganta buat jodohin anak mereka berdua! Yang basically masih bayi! Ugh, dengar cerita itu dari orang tuaku pun, merinding setengah mati. Yakin, Sam pasti enggak per
—poof, poof, poof.Dengung Lamirengalle Hair Dryer tanpa jeda. Uapnya mengepul-ngepul di atas kepala. Sanggulan diangkat lebih tinggi, mensejajarkan lekuk leher jenjang milik paras cantik. Bercampur harum powder stay dengan white-floral elegan juga, seorang make-up artist yang berlulut di lantai. Hem gaun panjang dirapikan oleh tangan bersarung katun hitam, asistennya yang lain, bantu melengserkan lekukan pada veil panjang. Hampir sepanjang luas karpet Persia.“Antingnya kurang satu—ukuran S, oval cut—ah, bukan, bukan. Raya, bisa tolong bantu cariin? Astaga, ini sudah jam berapa.” Membawa kotak perhiasan berbordir, Angelina sibuk mondar-mandir. Setengah panik, mereka tidak kekurangan tenaga. Hanya saja, mendadak waktu melaju begitu cepat. Tak terasa, embun pagi habis mengempis.Tak ada yang tau kapan jemputan Sienna datang. Juga, tak seorangpun bisa ditanya.Di si
Haute Couture—belum pernah menjelma pada suite predestial berporos beberapa jam.Hadapan pintu raksasa ganda, lusinan hired bodyguard—terbuka, bukan lagi sebatas kamar hotel. Lanskap kecil berisikan koper-koper aluminium, berjejer, mengantre untuk memenuhi masing-masing perannya.Garmet bag panjang berlogo house mode, tripod crystal, botol-botolan mahal berjejer pada meja rias besar. Lantai marmer hotel Mortelmour penuh dengan jejeran nama-nama beauty professional, wajah yang hanya muncul pada majalah-majalah mendunia La’Pairre, Cle de Peau Beaute, Haute Couture, Gucci Magazine, Khhuhodo. Pada tengah ruangan, sumber cahaya menggantung.Jika gaun maka kemilaunya melehibi pancaran mentari. Jika perhiasan maka batu-batuan mulianya memenuhi jajaran tabel koleksi.Warna ivory opaline dipilih untuk menonjolkan skin tone calon pemakainya n
“Premature Rupture of Membranes, atau—PROM,” Raya menimpa wajah lelahnya dengan lengan, penjelasannya penuh dengan hela napas tersengal. “Singkatnya, water broke early. Sienna ngeluh sakit di bagian bawah… apa, itu, abdomen? Enggak lama, ketubannya merembes. Kupikir awalnya, ketubannya pecah. Tapi, tadi, dokter bilang, cuma merembes. Bukan cuma, sih, still very serious. Air ketuban merembes bukan waktunya itu termasuk kelainan.”“Isn’t that… very dangerous?” Jonathan terang-terangan cemas lewat matanya. Ponsel tadi melekat dalam genggaman, perlahan diturunkan oleh gemetaran. Tatapannya bagai tercekik, berlarian dari arah pintu kamar mandi—gugup menunggu Sienna keluar—lalu, ke hadapan Raya yang sama pucatnya dengan dia.“It is,” Raya menjawab. Napasnya juga sama-sama pendek, frustasi. “Banget, malahan. Setau
Sienna Halim POV“Samuel! Fighting!”Bibirku bergelung manyun. Cewek tadi… ia bangkit dari kursi cheerleaders dan langsung melompat-lompat. Pom-pom pelangi mengayun-anyun seraya helai rambutnya yang terbawa angin, mengenaiku di sampingnya. Menilik ia mengeja nama Samuel dengan awfully familiar, mu
Sienna Halim POV Tubuhku kotor, lengket, bau keringat. Lutut kesat dari darah mengering, pinggir kaki masih terkilir. Aku lelah, jenuh, ingin cepat-cepat pulang. Terlihat dari batasan pagar jurusan yang membentengi, tidak sedikit anak-anak dari kelas lain yang merekam perkelahian kami. Kalau bukan
Sienna Halim POV“Dikunyah, jangan enggak.”“Tsk. Males. Pahit.”“Dikunyah. Sekarang.”Bibirku jatuh tersungkur menanggapi bebaris tangan yang menyerobot masuk ke bantalan lidahku. Pucuk botol dingin diketuknya dengan sengaja—Jonathan, terus membujukku minum obat setengah jam lamanya. Janjinya dite
Samuel Yudhistira POV “Ugh—uhuk. Ah. Hng—ugh. Ha…” “Kenapa, Sam? Ugh—sakit? Atau, enak?” Jalur napasku terblokir cengkraman tangannya. Sienna bermain di atas. Kontrol seluruh permainan ada di tangannya sekarang. Apapun gadis itu lakukan, demi mencegahku pingsan. Termasuk, membuat sisa-sisa







