LOGINI still find it hard to believe that my fiancé, David, abandoned me at the altar on our wedding day. When he finally answered my call, he announced without the slightest hesitation that he had fallen in love with another woman… who was none other than my best friend. My heart shattered into a thousand pieces. As I sank into despair, I accidentally overheard a conversation involving a man dressed in a suit. The woman who was supposed to marry him had just left him standing at the altar. Without thinking, I offered to take her place… for revenge. What will happen when two complete strangers impulsively say “I do”?
View MorePRANG!
Bunyi porselen mahal yang menghantam lantai marmer menggema nyaring, membelah keheningan sore. Pecahannya berhamburan, memantulkan sinar matahari layaknya serpihan berlian-indah namun berbahaya. Belum sempat gema itu hilang, jeritan melengking segera menyayat telinga. "KYAAAAA! Panas! Panas sekali!" Di tengah taman istana yang dipenuhi mawar bermekaran, seorang gadis muda berdiri kaku. Napasnya tercekat, sementara matanya mengerjap bingung berusaha mencerna realitas yang bergeser drastis. Namanya Kirana. Setidaknya, itulah yang ia yakini sedetik lalu. Ia ingat betul masih meringkuk di balik selimut kamar kos, ditemani hawa dingin AC suhu enam belas derajat dan keripik pedas usai menamatkan novel romansa kerajaan. Namun kini, dingin itu lenyap. Aroma lavender kamarnya berganti udara panas yang menyengat kulit, bercampur wangi mawar pekat dan aroma teh Earl Grey yang menusuk hidung. Jantung Kirana berdegup liar saat menunduk menatap tubuhnya sendiri. Kaus oblong dan celana pendeknya telah raib, berganti gaun merah darah berbahan sutra tebal dengan renda emas yang menyapu rumput. Di pinggangnya, korset melilit begitu erat seolah memaksa tulang rusuk menyatu, membuat pasokan oksigen di paru-parunya terasa dijatah. Tangan kanannya pun tampak asing, terlalu putih, terlalu halus, dengan kuku panjang bercat merah yang masih menggenggam gagang cangkir patah. "Apa yang ...," gumam Kirana. Suara yang keluar dari bibirnya membuatnya tertegun-lebih tinggi, dingin, dan berbalut keangkuhan yang tak pernah ia miliki. "Valeriana! Apa kau sudah gila?!" Bentakan itu menyambar keras. Kirana mendongak perlahan, mendapati seorang pria dengan ketampanan nyaris tak nyata berdiri beberapa langkah di hadapannya. Rambut pirang keemasannya berkilau diterpa matahari sore, kontras dengan mata biru jernih yang kini menatap Kirana penuh kebencian. Pria itu merangkul bahu gadis mungil yang menangis tersedu-sedu. Gadis itu tampak rapuh dengan rambut cokelat madu dan wajah bak boneka porselen. Gaun putihnya ternoda cairan cokelat di bagian dada, di mana uap panas masih mengepul tipis dari kulit lehernya yang mulai memerah. "S-sakit ... Yang Mulia, perih sekali ...," rintih gadis itu gemetar. Otak Kirana berputar cepat bak prosesor tua yang dipaksa bekerja keras. Pria tampan itu dipanggil Yang Mulia. Gadis polos itu menjadi korban. Dan dirinya sendiri ... dipanggil Valeriana. Darah seketika menyurut dari wajah Kirana. Tidak mungkin. Ini adalah adegan pembuka novel Cinta Sang Pangeran yang baru saja ia tamatkan! Kirana bukan lagi pegawai swasta yang gemar rebahan. Ia kini terjebak di tubuh Valeriana de Vallas. Sang Villainess. Istri durhaka yang terobsesi pada Putra Mahkota, wanita gila yang takdirnya tertulis dengan tinta darah: mati dipenggal di alun-alun kota disaksikan sorak sorai rakyat. Lututnya melemas. Jika bukan karena rangka penyangga gaun yang kaku, ia pasti sudah ambruk. "Jawab aku, Valeriana!" Pangeran Arthur melangkah maju, memancarkan aura intimidasi yang kuat. "Tega-teganya kau menyiram Elena dengan teh panas di pesta ulang tahunku sendiri! Di mana kau simpan otak dan hati nuranimu, hah?!" Taman istana mendadak sunyi. Musik orkestra terhenti. Puluhan pasang mata kini tertuju pada Kirana, diiringi bisik-bisik tajam para bangsawan di balik kipas bulu mereka. "Lihat itu, Duchess Vallas kumat lagi." "Benar-benar tak tahu malu. Sudah bersuami masih mengejar Pangeran." "Kasihan Nona Elena. Tak heran Duke Kael tak pernah membawa istrinya ke perbatasan." Cemoohan itu menusuk bagai jarum halus. Tatapan mereka bukan kekaguman, melainkan jijik—seolah Kirana adalah serangga kotor di pesta mewah. Tubuh Kirana gemetar hebat. Nyeri di kaki akibat sepatu hak tinggi, cekikan korset, dan sorot membunuh Pangeran Arthur terasa terlalu nyata untuk sekadar mimpi. Dalam novel, Valeriana asli takkan gentar. Ia akan mendongak angkuh dan berteriak bahwa gadis kampung itu pantas disiram air mendidih. Teriakan yang menjadi paku pertama di peti matinya. Namun, Kirana hanyalah gadis biasa yang ingin hidup tenang. "A-aku ...." Lidahnya kelu. Tenggorokannya kering kerontang. Elena yang masih dalam pelukan Arthur perlahan mendongak. Air mata sebening kristal mengalir sempurna di pipi meronanya. Akting kelas Oscar. "Yang Mulia," isak Elena lembut, namun cukup keras untuk memuaskan telinga yang haus drama. "Sudahlah. Tolong jangan marahi Duchess Valeriana. Mungkin ... mungkin beliau sedang banyak pikiran karena Duke Kael jarang pulang. Saya mengerti perasaan beliau." Sialan. Kalimat itu terdengar seperti pembelaan malaikat, padahal isinya racun murni. Tanpa menuduh langsung, Elena menanamkan stigma bahwa Valeriana adalah istri frustrasi yang melampiaskan amarah rumah tangganya pada orang tak bersalah. Rahang Arthur mengeras begitu nama Kael disebut. "Jangan berani-berani membawa nama Duke Kael yang terhormat untuk menutupi kelakuan busukmu," geramnya seraya menunjuk wajah Valeriana. "Duke Kael adalah pahlawan perang! Pria malang yang bernasib sial karena terikat pernikahan politik dengan wanita sepertimu! Dia pasti malu setengah mati memiliki istri seperti dirimu!" Kata-kata itu menghantam ulu hati. Bukan karena harga diri, melainkan karena Kirana tahu itu benar. Duke Kael de Vallas. Ingatan tentang karakter favoritnya itu seketika membanjiri benak Kirana. Suami sah dari tubuh ini. Pria dingin yang kerap dihina Valeriana asli sebagai "Monster Bau Darah", padahal sesungguhnya ia mencintai istrinya sepenuh hati. Kael adalah perisai yang selalu membereskan kekacauan Valeriana dalam diam. Dan akhirnya? Ia mati tragis. Dituduh memberontak demi melindungi istrinya yang bodoh, disiksa, hingga akhirnya bunuh diri saat mendengar Valeriana dieksekusi. 'Aku tidak mau mati,’ jerit batin Kirana panik. Aku juga tidak mau Kael mati! Kenapa aku harus masuk di momen seburuk ini?!' "Minta maaf!" Suara dingin Arthur memutus lamunannya. "Sekarang juga. Berlutut dan minta maaf pada Elena di depan semua orang." Mata Kirana membelalak. Berlutut? Permintaan itu membuat kerumunan menahan napas. Memaksa seorang Duchess berlutut pada putri Baron rendahan adalah penghinaan luar biasa yang akan menyeret martabat keluarga Vallas ke dalam lumpur. Jika ia menolak, Arthur makin murka. Jika ia menurut, ia menghancurkan nama baik suaminya. Maju salah, mundur pun celaka. "Kau tuli, Valeriana?" desak Arthur, melangkah seolah hendak memaksanya tunduk secara fisik. Kirana mundur selangkah, jantungnya serasa hendak meledak. Ia sendirian di dunia asing, dikelilingi musuh. 'Tuhan ... tolong aku. Siapa saja ....' Saat tangan Arthur terulur hendak mencengkeram bahunya, suara derap langkah kaki berat tiba-tiba menggema. Bukan langkah biasa. Itu bunyi sepatu bot militer yang menghantam jalan setapak batu-keras, teratur, dan mengintimidasi. Irama asing di tengah pesta yang dipenuhi sepatu dansa. Kerumunan bangsawan yang tadinya sibuk bergosip seketika terbelah dengan wajah pucat penuh segan. Kirana menoleh, mengikuti arah pandang semua orang. Napasnya tercekat. Di ujung jalan setapak, berdiri sosok tinggi menjulang dalam seragam militer hitam berornamen perak. Jubah hitamnya berkibar pelan, membawa hawa dingin yang kontras dengan terik matahari. Wajahnya datar tanpa emosi bak pahatan pualam, namun sepasang mata abu-abu setajam badai itu menyapu area sebelum berhenti tepat pada Kirana.Chapter ElevenWhen I met him, everything about his face showed that he was not at all happy with me.I greeted him, unable to meet his gaze.He broke the silence that filled the entire room.“What were you thinking when you accepted an interview without my permission?”I blinked as I realized that the news had already reached him.I hadn’t really thought about it. I simply wanted to make sure everything was in place before launching my business.“Well… they were the ones who called me for an interview, and you weren’t home… I decided to accept their invitation.”He shook his head.“Do you ever think? Do you know the kind of damage you could have caused if you had said something you weren’t supposed to say?”I cleared my throat, feeling a little proud of myself.“I didn’t say anything inappropriate… I was really very careful.”He didn’t seem convinced.“The problem with you is that you don’t listen.”I was beginning to get tired of this argument, and besides, it was only a simple inte
Chapter TenAs soon as Lucas left, I grabbed my phone and started scrolling through my social media. I let out a cry of surprise when I saw the messages.Most of them were congratulating me on managing to land a billionaire.Lucas Bernard, the most sought-after bachelor in the city.Some were even asking for an interview with me. I decided to seize this opportunity since I was going to launch my business soon, in order to attract clients.I replied by text to accept the interview.I continued scrolling when I saw David and Ophelia having a great time in Dubai.She was with a baby. I zoomed in to see the resemblance to David.Tears welled up in my eyes. That could have been us if only he hadn't chosen her over me.While I was here, stuck with a man who wanted nothing to do with me. A fucking marriage of convenience!He was having a great time with my best friend.I wondered how Ophelia could have betrayed me like that.I put down the phone and went into the bathroom. If I wasted time l
Chapter NineThere was no way I was going to let him touch me; he was someone I barely knew.Without thinking too much, I took a seat on the other side of the bed.I didn't blame him at all. It was David, my ex, who had led me to agree to marry a man I had barely met at the courthouse.If he had shown up that day, I wouldn't have found myself in Lucas's mansion.I was still lost in my thoughts, thinking about everything that had happened recently, when sleep finally took over.My biological clock never failed me, and at exactly five in the morning, my eyes opened wide, ready to face the day.Lucas was already awake and had gone to the bathroom to take a shower.I had taken annual leave from work because of my wedding, so I didn't have to return right away, but now I couldn't afford to stay here doing nothing.I sat on the bed, waiting for Lucas to come out of the bathroom.He came out and entered the dressing room to change.I couldn't help myself; my eyes wandered over his well-built
Chapter Eight I focused my attention on something else, trying with all my might not to think about Lucas, even though his image invaded my mind.His attitude didn’t seem like something I could tolerate in the long run.Suggesting that we be friends was a decision I knew was necessary if I wanted to survive there.Avoiding the problem wouldn’t have solved anything. At least, it allowed me to keep my mind at ease.I went to my wardrobe in search of the perfect dress to wear. I chose one that I had bought during one of my shopping trips and tried it on.I was still admiring myself in front of the mirror when he entered.He didn’t say a word. He simply stared at me, which made me even more nervous.I slightly turned my gaze toward him, waiting for his opinion on the dress I was wearing.He made no comment.“Let’s go,” he simply said.I shrugged, irritated by his tone and attitude after everything we had said earlier.He didn’t seem interested at all.Undoubtedly… I was completely delusi


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.