FAZER LOGIN“Apa? Menikah siri? Di agama mereka?! GAK BISA! Sekali Papi bilang nggak bisa ya tetap nggak bisa! Papi nggak sudi mempunyai mantu seperti Sagara sialan itu! Sudah kehormatannya dirusak, sekarang mereka mau mencuri Ara dari Tuhannya juga? Enak sekali mereka! Nggak, nggak! Itu semua nggak akan pernah terjadi selagi Papi masih hidup, Clayton! Lebih baik Sagara mati di tangan Papi daripada Ara harus sujud di depan Tuhan mereka!” “Pi, hanya ini satu-satunya cara agar Sagara mau tanggung jawab sama Ara!” ucap Clayton memelas, suaranya parau menahan desakan emosi di dada. Lagi pula, apa yang dikatakan oleh Damar dan Diana semalam di panggilan telepon ada benarnya juga. Sagara sudah pada tahap obsesi yang berbahaya. Clayton yakin, jika pernikahan ini tidak terjadi, Sagara tidak akan pernah mundur. Sebaliknya, tanpa ikatan yang mengikatnya, dia pasti akan semakin liar dan menjadi-jadi untuk mendapatkan Ara. Saat n
“Apaaa? Coba katakan lagi? Mami dan Papi gak salah dengar, ‘kan? Ara, Clayton, katakan kalau ini hanya prank!” “Gak, Pi, Mi. Kami gak bohong!” Suasana di kamar Ara seketika membeku. Kim menutup mulutnya dengan kedua tangan, tubuhnya limbung hingga harus berpegangan pada pinggiran tempat tidur. Wajahnya pucat pasi, tak percaya dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut putra sulungnya. Dengan tangan mengepal di samping tubuh, Arnold berdiri kaku. Matanya yang tajam kini membelalak, memancarkan kemarahan yang begitu besar hingga urat-urat di lehernya menegang. “Ulangi sekali lagi, Clayton. Katakan kalau pendengaran kami salah!” ujar Arnold dengan suara rendah penuh kekecewaan. “Kalian gak salah dengar. Ara dinodai Sagara, Pi,” ulang Clayton dengan suara bergetar, ia ketakutan Arnold akan menghajar Ara karena kecerobohannya itu. “Sagara bajingan itu merusak Ara. Semalam aku sudah menghajarny
“Karena udah kejadian, maka dari itu Bunda cabut semua fasilitas kamu! Mobil, credit card, ATM, motor, dan semuanya!” tegas Diana tanpa kompromi. Memukul Sagara hanya akan menambah luka fisiknya. Namun, mematikan sumber keuangannya adalah cara terbaik untuk melumpuhkannya. Dengan begitu, Sagara akan dipaksa belajar menghargai uang, kehormatan, dan cara menghargai orang lain. Sagara shock. “Hah? Kok gitu sih, Bun? Bunda gak kasihan sama aku? Aku—” “Gak!” putus Diana diplomatos. “Gak hanya itu, kamu harus nikahin Ara dalam waktu dekat! Ngerti, Sagara Arsenio Setyawan?” potong Diana dengan tatapan yang sangat dingin. Sagara membelalakkan matanya, mengabaikan rasa perih di sekujur tubuhnya. Masih terkejut keuangannya dibatasi, kini ia dikejutkan dengan hal yang gak masuk akal lahi. “Apa? Nikahin dia? Bunda, aku masih 17 tahun! Masih SMA! Mana bisa aku nikahin—” “Nikahin atau Bunda cekik kamu sekarang! Salah siapa nidurin anak orang? Kamu mau pergi gitu aja setelah dapat enaknya?
Baru saja Diana terpejam di sofa, suara erangan tertahan memecah keheningan ruangan. Sagara mulai siuman, wajahnya meringis menahan nyeri yang luar biasa di bagian dadanya. “Aaargh ...” Damar yang sejak tadi duduk terjaga di sebelah ranjang, langsung menoleh dengan sorot mata dingin. Ia membangunkan istrinya, “Yang, Sagara bangun, tuh.” Lalu, ia menyindir dengan nada sarkastis, “Ha, sudah bangun, Jagoan?” Sagara mengerjapkan matanya yang bengkak, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya lampu rumah sakit yang sangat menyilaukan matanya. “A-ayah? Kenapa Ayah di sini?” tanyanya parau. Tidak hanya sakit, tapi juga takut. Ia takut Ayahnya akan membuatnya tambah babak belur. Namun, ia tetap di atas ranjang, tidak berusaha duduk. “Menurutmu?” sahut Damar pendek, sambil bersedekap dan berjalan mendekati putranya yang super bandel itu. Amarahnya sudah mencapai ubun-ubun. Tapi, dia tahan agar tak makin meledak kuat. Usai mengabaikan tatapan sang ayah, pandangan Sagara yang kabur mulai
Clayton menunduk dan berkata, “Tuan Setyawan, saya minta maaf atas kejadian ini. Saya benar-benar kalap karena shock, putra Anda menodai adik saya. Karena itu, saya siap Anda laporkan ke pihak berwajib.” Damar menoleh pada Clayton, “Aku tidak akan melaporkanmu, tenang saja.” “Hah? Kenapa, Tuan? Saya bersalah. Saya—” “Karena Sagara pantas kamu perlakukan seperti itu,” potong Damar dengan suara penuh sesal. Ia amati lagi Ara yang begitu kacau. Kasihan, sedih, dan tak dapat membayangkan bagaimana Ara bisa setegar itu setelah dilec3hkan. “Dia ... sangat badung dan sulit diatur. Dia pantas mendapatkan pelajaran agar tidak berbuat seenaknya sendiri. Seharusnya, kamilah yang minta maaf pada keluarga kalian, terutama pada Ara yang telah dirusak masa depannya oleh anak nakal itu.” Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti koridor rumah sakit itu. Tak ada lagi kata-kata yang keluar. Diana terus terisak dalam diam, wanita beranak tiga itu takut putranya meninggal. Meski Sagara
“B–benarkah? Kalian tidak bercanda, ‘kan? Ah, baik. Ya, aku usahakan. Iya!” Clayton mematung, ponselnya masih menempel di telinga sementara napasnya memburu. Berita bahwa Sagara dalam kondisi kritis dan harus segera dioperasi karena tulang rusuknya patah, membuatnya ketakutan setengah mampus. Amarah yang tadi menyala kini bercampur dengan kepanikan yang tak bisa ia sembunyikan. “Sial!” umpat Clayton, ia memukul dinding klinik dengan tangan kirinya hingga beberapa orang di sana menoleh kaget. Ia melirik Ara yang duduk lemas di sampingnya. Pikirannya beradu antara rasa muak dan kesal. “Ada apa, Bang?” tanya Ara dengan suara parau, ia bisa merasakan hal yang serius hanya dengan melihat wajah kakaknya. Clayton tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. “Gara kritis. Dia di Rumah Sakit







