Share

Hak Istimewa yang Dicabut

Penulis: Pilar Waisakha
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-31 20:41:31

Gerbang besi menutup perlahan di belakang mobil, tanpa bunyi yang perlu diingat. Hujan masih turun tipis, membuat halaman batu tampak berkilau—rapi, terawat, dan terlalu tenang untuk sebuah rumah yang menyimpan begitu banyak keputusan.

Leonhardt berjalan lebih dulu. Tidak terburu-buru. Tidak ragu. Setiap langkahnya seperti pengakuan yang tidak diucapkan.

Margarethe dan Adelheid tetap di mobil.

Bukan karena disuruh.

Karena mereka tahu—ini bukan ruangan untuk tiga orang.

Pintu utama terbuka sebelum ia menyentuh bel.

Friedrich von Richter berdiri di ambang, mantel rumahnya rapi, tangan bersarung kulit tipis. Wajahnya tidak menunjukkan kejutan. Tidak juga kelegaan. Hanya penerimaan terhadap sesuatu yang sudah ia perhitungkan.

“Kau pulang larut,” katanya.

Leonhardt melewati ambang tanpa menjawab. Bau kayu tua, cerutu dingin, dan kertas arsip menyambutnya seperti kenangan yang tidak meminta izin.

Ruang kerja itu sama seperti terakhir kali ia lihat—rak-rak penuh, meja ber
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Rumah yang Menunggu Pengakuan

    Sementara Margarethe kembali ke rumah yang membesarkannya, Leonhardt dan Adelheid menuju ke arah berlawanan. Mobil hitam itu berhenti di halaman rumah von Richter dengan bunyi mesin yang dimatikan perlahan—seolah bahkan mesin pun tahu tempat ini tidak menyukai suara mendadak. Udara malam terasa lebih dingin di sini, bukan karena cuaca, melainkan karena ingatan. Rumah itu berdiri seperti biasa: besar, simetris, dan tak ramah terhadap spontanitas. Lebih menyerupai markas pensiunan jenderal daripada tempat bernapas manusia. Adelheid melepas sabuk pengaman, menghembuskan napas pelan. “Aku tidak pernah berpikir akan kembali ke rumah ini,” gumamnya, setengah pada dirinya sendiri. Leonhardt membuka pintu. Engselnya berderit lirih. “Karena segalanya dimulai dari sini,” jawabnya singkat. Mereka masuk. Di dalam, rumah itu terlalu sepi. Bukan sepi malam—melainkan sepi yang disengaja, sepi yang dipelihara. Lampu-lampu menyala seperlunya. Tidak ada pelayan. Tidak ada radio. Tidak

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Rumah yang Tidak Pernah Berbohong

    Ernst bangkit dari kursi goyangnya. Gerakannya lambat, bukan karena ragu, melainkan karena tubuh renta itu sudah terlalu sering menanggung keputusan yang tak pernah ringan. Tangannya berhenti sejenak di gagang pintu—seolah ia telah tahu siapa yang berdiri di baliknya, bahkan sebelum kunci diputar. Pintu terbuka. Di bawah cahaya lampu teras yang redup, Margarethe berdiri. Rambutnya kusut. Mantel panjangnya basah dan berdebu, seperti seseorang yang berjalan jauh tanpa benar-benar tahu ke mana arah langkahnya. Matanya sembab—bukan karena tangis, melainkan karena terlalu lama menahan sesuatu yang tidak tahu harus diletakkan di mana. Ia tidak berkata apa-apa. Ia melangkah masuk—dan memeluk Ernst. Pelukan itu tidak tergesa. Tidak kuat. Pelukan seorang anak yang akhirnya kelelahan berpura-pura menjadi dewasa. Ernst membeku. Beberapa detik pertama, ia tidak membalas. Tangannya menggantung di udara—bukan karena tak ingin, melainkan karena dadanya terlalu penuh. Lalu, perlahan, tangann

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Surat yang Menggeser Jarak

    Malam itu, di dalam mobil tua yang berbau kabel hangus dan debu arsip sejarah, mereka duduk dalam diam. Seperti tiga arwah yang baru saja lolos dari liang waktu—tidak sepenuhnya hidup, tidak sepenuhnya bebas. Adelheid duduk di kursi depan, meregangkan tubuh dengan gerakan berlebihan, lalu menguap keras. “Aku rasa aku baru saja memecahkan rekor dunia,” gumamnya, “menyelinap tercepat dari kejaran anjing penjaga.” Margarethe menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Senyum tipis—lelah—tertarik di sudut bibirnya. “Itu bukan anjing,” katanya datar. “Itu petugas kebersihan.” Leonhardt tidak ikut menanggapi. Ia duduk di samping Adelheid, membuka map hasil penyusupan. Tangannya berhenti di satu lembar surat berkop lusuh. Tinta hitamnya tebal, tegas—tulisan tangan yang terlalu ia kenal. Sorot matanya berubah. “Ini…” gumamnya pelan. “Surat dari ayahku. Ditujukan pada seseorang bernama Tangan Kiri.” Ia menarik napas singkat. “Ini bukan prosedur militer. Ini jaringan bayangan.”

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Lapisan Pertama yang Terbuka

    Malam kembali menutup Pegunungan Harz dengan kesabaran yang dingin. Kabut turun rendah, menggulung di antara batang-batang pinus seperti asap yang lupa ke mana harus pergi. Dari kejauhan, bangunan arsip itu tampak seperti bangkai kapal yang terdampar di daratan—beton kusam, jendela sempit, dan antena tua yang sudah lama berhenti percaya pada langit. Mereka tidak lagi terlihat seperti tamu penginapan. Leonhardt berjalan paling depan, mantel gelap menutup posturnya, cetak biru bangunan terlipat rapi di tangan. Setiap langkahnya terukur—bukan karena ragu, melainkan karena ia tahu: tempat seperti ini menghukum kesalahan sekecil apa pun. Margarethe mengikuti setengah langkah di belakang. Langkahnya presisi, nyaris tanpa suara. Wajahnya tenang, tapi pikirannya bekerja cepat—mengurai ulang kata-kata Friedrich, jeda-jeda yang disengaja, dan kebenaran yang dipotong rapi agar tampak masuk akal. Di barisan paling belakang, Adelheid berjalan santai dengan termos bergambar kelinci tergantung

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Malam Tanpa Jeda, Pagi Tanpa Janji

    Beberapa jam kemudian. Leonhardt terbaring di tengah. Margarethe di sisi kanan, memunggunginya. Garis bahunya kaku, seolah setiap tarikan napas adalah sebuah keputusan. Adelheid di kiri, bersedekap rapat—posisi bertahan yang terlalu sadar untuk disebut tidur. Jam tua di sudut kamar berdetak pelan. Terlalu pelan. Ritmenya seperti jantung yang memilih bertahan hidup, bukan berlari. “Kalau salah satu dari kalian ngorok,” bisik Margarethe tanpa menoleh, “aku akan mengaktifkan mode penyiksaan mental.” “Aku tidak ngorok,” sergah Adelheid cepat. Leonhardt menutup mata. “Aku… cuma bicara dalam tidur.” Diam. Lalu dua suara bersamaan—tajam, refleksif: “Apa?” Sunyi kembali jatuh. Tebal. Mengendap. Leonhardt tidak tidur. Ia menghitung detik—bukan untuk menenangkan diri, melainkan untuk menjaga jarak dari pikirannya sendiri. Dari wajah Friedrich yang berdiri di ambang cahaya lampu. Dari nada suaranya yang terlalu tenang saat mengucapkan hal-hal yang seharusnya

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Pengasingan Bernama Alpenglück

    Setelah pengakuan malam itu, Friedrich tidak memberi mereka pilihan. Ia tidak memerintahkan dengan suara keras, tidak pula menjelaskan panjang lebar. Ia hanya mengucapkan satu kalimat—tenang, presisi, seperti keputusan yang sudah lama menunggu giliran untuk dieksekusi: “Pergilah ke Harz. Gunakan nama sandi Alpenglück. Itu satu-satunya tempat yang belum disentuh pengawasan mereka.” Tiga jam kemudian, udara dingin pegunungan menyambut mereka. Kabut menggantung rendah di antara pohon-pohon pinus, menelan suara dan jarak. Bangunan tua dari batu granit itu muncul perlahan dari balik pepohonan—bukan seperti tempat perlindungan, melainkan seperti ingatan yang menolak dikubur sepenuhnya. Lampu-lampu kecil di teras menyala redup, seolah hanya ada agar orang tahu tempat itu masih ada. Di meja resepsionis yang remang, seorang perempuan paruh baya dengan logat Saxony menyerahkan kunci kamar dengan tangan sedikit bergetar. Matanya sempat menyapu wajah mereka satu per satu, lalu berhent

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status