author-banner
Pilar Waisakha
Pilar Waisakha
Author

Novels by Pilar Waisakha

PEREMPUAN MILIK MORETTI

PEREMPUAN MILIK MORETTI

Mature 21+ “Kau pikir aku akan berhenti?” Adriano tersenyum tipis. “Aku tidak berhenti pada hal yang sudah masuk ke wilayahku.” Ia dikurung di istana malam milik pria paling berbahaya di Genoa—bukan sebagai tawanan, bukan pula sebagai kekasih. Adriano Moretti terbiasa memerintah dengan darah dan kesunyian. Namun kehadiran Elena mengganggu ritme hidupnya—perempuan yang seharusnya sudah mati bertahun-tahun lalu. Satu atap. Satu ranjang. Terlalu banyak rahasia. Di balik sentuhan yang tertahan dan jarak yang menyiksa, masa lalu mulai merangkak kembali. Ketika kebenaran akhirnya terkuak, Adriano harus memilih: menaati darah yang membesarkannya… atau menghancurkan segalanya demi menyelamatkan perempuan yang datang terlalu terlambat ke hidupnya.
Read
Chapter: Untuk Kedua Kalinya
"Tidak." Satu kata itu berdiri di antara mereka. Adriano masih menggenggam tangan Elena. Valerius menggerakkan kursi rodanya sedikit maju. "Lepaskan dia." Adriano tidak bergeser. "Aku sudah kehilangan dia sekali." Mata Valerius turun pada jemari yang saling menggenggam. "Elena…" Perempuan itu menatapnya. Adriano tidak menoleh. "Tetap di sini." Jemari Elena bergerak kecil di dalam genggamannya. Valerius mengangkat wajah. Tatapannya melewati Adriano dan berhenti pada Elias yang masih terbaring di halaman. Darah membasahi sisi jas pria itu. Elias mengangkat mata. Mereka bertemu pandang. "Terkadang pengkhianat tidak datang dari luar," kata Valerius. Elias diam. "Mereka tumbuh di dalam rumah sendiri." Angin menyentuh ujung tirai pintu. Valerius menatapnya. "Jika malam itu kau menjalankan perintahku…" Pandangan lelaki tua itu bergeser kepada Elena. "…semua ini tidak akan terjadi." Elias menutup mata sesaat. "Saya tahu." Valerius merogo
Last Updated: 2026-09-14
Chapter: Ketika Pilihan Menjadi Perlawanan
“Aku tetap tidak akan membiarkannya menginjakkan kaki di rumah ini lagi.” Suara Valerius jatuh di ambang pintu. Adriano masih menggenggam tangan Elena. Jemari mereka belum terlepas sejak keluar dari halaman belakang. “Kenapa?” Valerius mengangkat dagu sedikit. “Karena dia adikmu.” Tatapan Adriano mengeras. “Dia?” “Silvia sudah meracuni pikiranmu, Adriano.” “Apa yang dia racuni?” Valerius diam. Adriano maju satu langkah. “Dia tidak pernah mengajariku untuk melawanmu.” “Karena kau masih terlalu muda untuk melihatnya.” “Dia yang membesarkanku.” “Dan itulah yang selama ini kutakutkan.” Adriano menatap lelaki tua di kursi roda itu.
Last Updated: 2026-09-12
Chapter: Rumah yang Tidak Menerimanya Kembali
“Kenapa kau meninggalkanku di panti asuhan?” Jemari Elena masih mencengkeram lengan Julian. Elias terbaring di tanah. Satu tangannya menekan luka di sisi tubuh. Darah merembes di sela jemarinya dan jatuh ke batu yang basah. Tatapannya berhenti pada wajah Elena. Ia tidak segera menjawab. Adriano menurunkan pistol beberapa senti. “Jawab.” Elias menarik napas pendek. “Karena aku punya seorang anak perempuan.” Tatapan Adriano berubah. “Anak?” Elias mengangguk. “Usianya tidak jauh darimu malam itu.” Elena mengerutkan kening. “Kau tidak pernah menceritakannya.” “Aku memang tidak pernah.” Elias menatap tangannya sendiri yang mulai berlumur darah. “Aku menyembunyikannya dari semua orang.” “Kenapa?” “Pekerjaanku.” Hanya itu. Elena menunggu. Elias mengangkat wajah. “Dunia tempatku bekerja selalu mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk menjatuhkan seseorang.” Tatapannya kembali kepada Elena. “Aku tidak akan memberikan mereka anakku.” Angin malam
Last Updated: 2026-09-09
Chapter: Anak yang Tidak Pernah Mati
“Sekarang katakan padaku siapa sebenarnya Elena.” Pistol Adriano tetap terangkat. Elias duduk di tanah, satu tangan menekan sisi tubuhnya. Darah merembes di sela jarinya. Tidak ada penjaga yang bergerak. Julian masih memeluk Elena dari samping. Jemari perempuan itu mencengkeram kain kemejanya. Elias menatap Adriano. Tidak menjawab. “Jawab.” Suara Adriano tidak keras. Itu membuat laras pistol di tangannya terasa lebih berat. Elias menarik napas. “Perempuan itu…” Ia berhenti. “Adalah anak yang kau temukan di tempat asalnya.” Adriano menyipitkan mata. “Tempat asalnya.” Elias diam. “Jawabanmu selalu berlandaskan perintah.” Adriano melangkah turun dari anak tangga. “Dua puluh delapan tahun lalu kau bilang sudah membereskan Alessandra.” Tatapan Elias turun. “Kau bilang mayat Silvia dibuang ke laut.” Satu langkah lagi. “Kau juga bilang anak itu sudah dibereskan.” Adriano mengangkat pistol sedikit. “Bagaimana?” Elias tidak menjawab. “Menembaknya?” Hanya suara angin
Last Updated: 2026-09-07
Chapter: Ketika Laras Itu Berubah Arah
Halaman belakang mansion membentang jauh di bawah cahaya lampu taman. Julian berjalan di depan. Tangannya tidak lepas dari tangan Elena. Mereka menerobos semak yang tumbuh di sepanjang dinding belakang. Ujung mantel Elena tersangkut ranting. Julian menariknya bebas tanpa berhenti. Kaki Elena menyentuh tanah tanpa sepatu. Setiap pijakan membuat luka di betisnya berdenyut. Ia menoleh. Dari arah mansion, gonggongan anjing masih terdengar dari balik kandang. Keras. Tidak putus. Julian mempererat genggamannya. “Jangan menoleh ke belakang.” Elena memandang punggungnya. “Kau yakin kita bisa keluar dari sini?” “Mobilku tidak jauh.” Ia menunjuk ke arah pepohonan di depan. “Sedikit lagi.” Elena memaksakan langkah. Tanah basah bergeser di bawah telapak kakinya. Sebuah akar mencuat dari permukaan. Ujung kakinya mengenainya. Bruk. Tubuh Elena jatuh ke samping. Julian langsung berbalik. “Elena.” Ia berjongkok. “Kau tidak
Last Updated: 2026-09-06
Chapter: Jalan Keluar yang Tidak Seharusnya Ada
“Siapa di luar?” Jemari pria itu meninggalkan gagang pintu. Satu langkah mundur. Pintu di sebelahnya tidak terkunci. Ia menyelinap masuk. Gelap. Daun pintu ditarik kembali hingga menyisakan celah tipis. Ia bergerak ke sisi lemari, merapatkan tubuh ke dinding yang berdekatan dengan jendela. Gagang pintu kamar Elena berputar. Klik. Pintu terbuka. Cahaya dari kamar tumpah ke koridor. Adriano keluar. Tatapannya langsung menyapu sepanjang lorong. Kosong. Matanya turun ke lantai. Naik lagi. Di ujung koridor, sebuah sosok melintas. Jas hitam. Sisi rambut yang memutih. Elias. Adriano menyipitkan mata. Sosok itu sudah menghilang di balik tikungan. Tatapannya masih tertahan di sana. Beberapa hari terakhir, terlalu banyak hal yang tidak dikatakan Elias. Dari dalam kamar terdengar suara Elena. “Ada apa?” Adriano menoleh. Ia masuk kembali. “Tidak ada.” Elena sudah mengangkat tubuh sedikit dari bantal. Tatapannya berpindah ke pintu. “Kau
Last Updated: 2026-09-05
ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen

ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen

“Istriku adalah rahasia negara. Dan aku adalah algojonya… yang mulai jatuh cinta.” Ia menikah demi misi. Ia mencintai demi kehancuran. Berlin pasca-perang — dunia di mana kebohongan bersembunyi di balik kehormatan. Margarethe Vogel terjerat dalam pernikahan palsu dengan Leonhardt von Richter, bangsawan sekaligus agen intelijen yang menyimpan rahasia lebih gelap dari perang itu sendiri. Ketika penyamaran berubah menjadi kenyataan, dan masa lalu mereka terbuka seperti luka lama, cinta dan kebenaran menjadi dua hal yang tak bisa diselamatkan bersamaan. Pernikahan hanyalah awal. Permainan sebenarnya baru dimulai.
Read
Chapter: Salju di Atas Reruntuhan
Salju turun perlahan di atas Zürich. Putih. Sunyi. Dunia bergerak seperti biasa di luar jendela apartemen kecil itu—tram melintas di rel yang basah, orang-orang berjalan dengan mantel tebal dan tangan di saku, lampu toko memantul di trotoar yang membeku. Tidak ada yang terlihat berubah. Seolah dunia tidak pernah hampir runtuh bersama sebuah bunker tua di bawah Leipzig. Televisi kecil di sudut ruangan menyala pelan. Gambar gedung parlemen Jerman memenuhi layar. Wartawan berdesakan. Judul berita berganti cepat. SKANDAL JARINGAN ALTE HAND TERUNGKAP PEJABAT DAN INDUSTRIALIS DITANGKAP ARSIP RAHASIA PASCA-PERANG HILANG Foto Friedrich von Richter muncul sesaat sebelum berganti dengan rekaman reruntuhan fasilitas di Leipzig. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Begitu juga
Last Updated: 2026-05-24
Chapter: Detik Terakhir Leonhardt
06:18 Koridor evakuasi berguncang keras saat Rupert menghantam pintu darurat dengan bahunya. Panas langsung menyembur dari bawah bunker—kering, membakar paru-paru, bercampur bau logam hangus dan darah. Margarethe hampir tersandung ketika menopang Adelheid yang setengah sadar di sisinya. Tubuh gadis itu terasa terlalu ringan, seperti sesuatu yang perlahan menghilang dari dunia. Di belakang mereka, suara tembakan dan ledakan masih menggila di ruang inti. Lalu suara Ernst terdengar sekali lagi. Pendek. Serak. Pecah oleh asap dan umur. “PERGI!” Sesudah itu— rentetan peluru panjang meraung memenuhi lorong. Rupert tidak menoleh. Tak ada yang menoleh. Mereka berlari. Lampu merah di sepanjang koridor berkedip liar, memantul di dinding beton seperti denyut jantung sekarat. Pipa-pipa tua pecah di ata
Last Updated: 2026-05-23
Chapter: 06:51 Sebelum Runtuh
10:00 Sirene merah meraung di seluruh bunker. Lampu darurat berputar liar di langit-langit. Debu mulai runtuh dari sela-sela beton. Leonhardt berdiri beberapa detik di depan panel penghancur otomatis, napasnya berat, sementara angka di layar terus bergerak turun. 09:52 Dari ruang inti— raungan logam dan suara tembakan kembali meledak. Operative K bergerak lebih brutal sekarang. Lebih cepat. Seolah sesuatu di bawah bunker memberinya tenaga baru. Leonhardt langsung berbalik dan berlari kembali menuju ruang utama. Koridor bergetar di bawah kakinya. Pipa-pipa pecah di sepanjang dinding. Uap panas menyembur dari celah logam. Begitu ia mencapai ruang inti— kekacauan sudah berubah menjadi perang terbuka. 06-G menghantam salah satu agen ke dinding sampai tubuhnya tidak bergerak lagi. Rupert menembak dari balik konsol sambil berteriak memberi aba-aba. Margarethe masih memeluk Adelheid di dekat reruntuhan kursi transfer. Tubuh Adelheid menggigil hebat sekarang. Matanya sete
Last Updated: 2026-05-23
Chapter: Hitung Mundur Alte Hand
Koridor timur terbuka perlahan di belakang inti reaktor.Gelap.Panjang.Lampu merah darurat berkedip di sepanjang dinding logam, menciptakan bayangan yang patah-patah di wajah semua orang.Friedrich berdiri tepat di tengah jalur itu.Pistol di tangannya stabil.Tidak gemetar sedikit pun.Leonhardt menatapnya beberapa detik tanpa bergerak.Di belakang mereka, bunker terus bergetar.Suara tembakan.Jeritan logam.Raungan subjek-subjek eksperimen yang masih bertarung dengan pasukan Ernst dan agen bercampur menjadi satu.Namun di lorong itu—semuanya terasa jauh.Friedrich mengangkat pistolnya sedikit lebih tinggi.“Dari awal aku sudah tahu kau akan sampai ke titik ini.”Leonhardt berjalan satu langkah maju.Darah masih menetes dari dagunya.“Kau selalu bicara seolah semua orang cuma bagian dari rencanamu.”“Karena me
Last Updated: 2026-05-22
Chapter: Kau Harus Melewatiku Dulu
“Halo… Adelheid.” Suara itu keluar dari seluruh bunker. Dari dinding baja. Dari kabel-kabel hitam yang menggeliat di lantai. Dari inti putih yang kini terbuka penuh di bawah ruang utama. Terlalu berat untuk disebut suara manusia. Margarethe langsung memeluk Adelheid lebih erat. “Tidak,” bisiknya cepat di telinga adiknya. “Jangan dengarkan.” Tubuh Adelheid dingin. Terlalu dingin. Matanya terbuka lebar, memantulkan cahaya putih dari inti yang berdenyut di bawah mereka. Transfer cetak biru selesai: 99% Monitor-monitor di ruang inti berubah bersamaan. Lingkaran putih muncul di setiap layar. Berdenyut. Seperti pupil raksasa yang sedang membuka mata. AETERNUS ONLINE Rupert mengangkat senapannya dan menembak layar utama. Bang. Kaca pecah berhamburan. Tulisan itu tetap muncul. Di monitor lain. Lalu monitor berikutnya. Dan berikutnya lagi. “Matikan semuanya!” bentaknya. Dua agen Swiss langsung menembaki panel-panel di dinding. Percikan api menyala. Sistem tidak berhe
Last Updated: 2026-05-22
Chapter: 99%
Transfer cetak biru selesai: 91%Angka itu terus bergerak.Tanpa peduli darah.Tanpa peduli jeritan.Tanpa peduli siapa yang mati di sekelilingnya.Adelheid duduk membeku di kursi logam.Kepalanya sedikit tertunduk sekarang.Napasnya tipis.Terlalu tipis.Kabel-kabel hitam di belakang lehernya berdenyut mengikuti ritme mesin di bawah bunker.Monitor di atas kursi mulai dipenuhi gambar yang berubah terlalu cepat untuk dipahami.Wajah.Peta.Kode genetik.Dan satu simbol yang terus muncul berulang.AETERNUSMargarethe merangkak kembali ke arahnya meski telapak tangannya masih gemetar akibat sengatan listrik.“Adel…”Tidak ada jawaban.Hanya kedipan kecil di mata Adelheid.Seolah ia mendengar dari tempat yang sangat jauh.Di sisi lain ruangan, Operative K menghantam Leonhardt ke kolom logam.Dentuman keras mengguncang lantai.Leonhardt jatuh satu lutut.Napasnya tersengal sekarang.Darah menetes dari dagunya ke lantai.Operative K berjalan mendekat perlahan.Tidak buru-buru mengakhiri.“
Last Updated: 2026-05-21
Pengantin Bangsawan Yang Kubenci

Pengantin Bangsawan Yang Kubenci

“Aku tidak mencintaimu, Sebastian… aku hanya ingin tanahku kembali.” — Avelinne Rosse “Kau bisa merampas kebunku, Avelinne… tapi jangan pernah coba merampas hatiku.” — Sebastian Devereux Antara cinta dan dendam, siapa yang akan hancur lebih dulu? Dendam membara menuntun Avelinne Rosse masuk ke lingkaran Sebastian Devereux—bangsawan anggur yang merampas warisan keluarganya. Namun di balik kebencian, tumbuh tarikan yang sama memabukkannya dengan anggur yang ia hasilkan. Saat cinta dan pengkhianatan berbaur, siapakah yang lebih dulu hancur?
Read
Chapter: Yang Bertahan
Lalu terdengar suara. Tangisan kecil. Rapuh. Nyata. Di balik pintu, Osric dan Elowen saling berpandangan—lega, nyaris runtuh. Dokter tersenyum tipis, kelelahan jelas tergurat di wajahnya. “Putramu hidup.” Sebastian membeku sesaat. Seolah dunia membutuhkan waktu untuk kembali ke tempatnya. Avelinne terisak—lega, gemetar. Dokter meletakkan bayi itu di dadanya. Kecil. Hangat. Bergerak lemah, namun bernapas. Sebastian menatap makhluk kecil itu lama sekali. Tangannya gemetar saat akhirnya menyentuhnya—seolah takut kenyataan ini akan menghilang jika disentuh terlalu cepat. “Avelinne…” suaranya pecah. “Dia—” “Aku tahu,” jawab Avelinne lirih. “Aku tahu.” Elowen masuk perlahan, matanya membesar. “Tuhan… dia lucu sekali.” Ia menyentuh jemari kecil yang mengepal itu. “Kita memanggilnya siapa?” Avelinne menoleh pada Sebastian—memberinya ruang, memberinya hak. “Elio,” kata Sebastian akhirnya. “Elio Devereux. Kurasa itu cocok.” Elowen mendengus pela
Last Updated: 2026-01-21
Chapter: Yang Tersisa Setelah Semua Terbakar
Mobil Sebastian meluncur perlahan melewati gerbang gudang anggur. Lampu depannya menyapu tanah berkerikil yang masih lembap, memantulkan sisa cahaya malam yang belum sepenuhnya reda. Beberapa detik kemudian, kereta kuda Osric menyusul dan berhenti dengan bunyi kayu yang tertahan—seolah enggan mengganggu keheningan yang tersisa. Avelinne turun lebih dulu. Pakaiannya kotor, abu melekat di lipatan gaun dan rambutnya. Langkahnya sedikit kaku, namun punggungnya tetap tegak, seakan tubuhnya menolak menunjukkan betapa lelah ia sebenarnya. Elowen sudah menghampiri, wajahnya tegang. “Kalian pulang? Apa yang terjadi?” “Aku baik-baik saja,” jawab Avelinne cepat—nyaris otomatis, seperti kalimat yang diucapkan sebelum rasa sakit sempat menyusul. Sebastian turun menyusul. Memar jelas terlihat di wajahnya, kemejanya kusut dan berjelaga. Ia tidak berhenti untuk menjelaskan. “Kita bicara di dalam,” katanya singkat. Ia melangkah pergi. Osric mengikutinya tanpa suara. Elowen m
Last Updated: 2026-01-20
Chapter: Darah dan Api Memilih
Ia melangkah cepat. Tangannya mencengkeram kerah Sebastian, lalu menghantamnya tanpa peringatan. Tubuh Sebastian terhempas ke lantai. Beberapa bangsawan mundur refleks. Sebagian berbalik, memilih keluar—tak ingin menjadi saksi ketika darah keluarga mulai tertumpah. Marcus tetap mencengkeram kerah itu, wajahnya merah, napasnya berat. “Kau pikir aku akan percaya?” Sebastian menatapnya datar, meski darah mulai merembes di sudut bibirnya. “Aku tak butuh kau percaya.” Marcus meninju lagi. Avelinne maju setengah langkah. Napasnya tertahan. “Sebastian!” Lady Vareen akhirnya bergerak. Tatapannya menusuk Marcus. “Cukup, Marcus!” Lucianne mundur perlahan. Wajahnya memucat, matanya berkilat panik. Ia menoleh sekali ke arah Henry—ambisi yang selama ini ia banggakan runtuh seketika—lalu pergi tanpa menoleh lagi. Sebastian berbalik. Ia membalas menghantam Marcus. Benturan itu mendorong tubuh mereka ke arah lemari penyimpanan. Botol-botol anggur jatuh, pecah beruntun
Last Updated: 2026-01-20
Chapter: Keheningan Menjadi Vonis
Keheningan di ruangan itu tidak lahir dari keterkejutan. Ia lahir dari kesalahan hitung. Lampu gantung menggantung rendah, terlalu putih untuk disebut ramah. Meja kayu panjang membelah ruangan, dipenuhi peta distribusi, catatan rak pasar, dan botol-botol anggur yang dibiarkan tertutup. Tidak ada yang berniat mencicipi. Lady Vareen menoleh lebih dulu. Gerakannya halus, namun sorot matanya berubah. “Sebastian… kau—” Marcus bangkit setengah dari kursinya. Suaranya lebih cepat dari pikirannya. “Kau tidak diundang.” Sebastian melangkah masuk sepenuhnya. Ia menutup pintu di belakangnya—perlahan, tanpa suara keras—seolah memastikan tak ada jalan mundur bagi siapa pun di ruangan itu. “Laporan tentang gudangku,” katanya tenang, “tidak pernah menungguku untuk dipersilakan.” Ia meletakkan map kulit cokelat di atas meja. Tepat di tengah. Dorongannya ringan, nyaris sopan—namun cukup untuk membuat botol-botol di sekitarnya bergetar tipis. Henry menyipitkan mata. “Ini
Last Updated: 2026-01-19
Chapter: Konfrontasi Tanpa Jalan Mundur
Ia menyeret petugas itu keluar. “Ini pelanggaran—” Sebastian tidak menoleh lagi. Mereka melewati koridor gudang dengan langkah cepat. Osric tersentak, lalu menyusul. Di ujung lorong, Avelinne dan Elowen melihat pemandangan itu. “Ada apa?” tanya Avelinne, suaranya tertahan. Sebastian sudah terlalu jauh untuk menjawab. Avelinne menoleh ke Osric. “Osric—apa yang terjadi?” Osric berhenti sejenak. “Pemalsuan sampel,” katanya rendah. “Laporan palsu. Penyalahgunaan wewenang.” “Ke mana mereka pergi?” Osric menggeleng. “Aku tidak tahu.” Avelinne menarik napas cepat. “Kita harus ikut. Aku takut dia akan—” “Aku siapkan kereta,” potong Osric. Terlambat. Di luar, mesin mobil Sebastian sudah menyala. Pintu dibanting. Roda berputar. Mobil itu meluncur pergi meninggalkan halaman gudang. Avelinne dan Osric saling pandang—cukup lama untuk menyadari satu hal: Sebastian tidak menuju klarifikasi. Ia menuju konfrontasi. Kereta bergerak menyus
Last Updated: 2026-01-19
Chapter: Tekanan Menyentuh Tanah
Pagi belum sepenuhnya hangat ketika gudang anggur Sebastian mulai bergerak. Bukan hiruk-pikuk. Hanya ritme yang terjaga—peti dibuka, botol dipindahkan, segel diperiksa dua kali. Label Rosse Vineyard kini terpasang rapi, tidak mencolok, namun jelas. Nama itu berdiri tenang di kaca, seolah tidak menyadari kegaduhan yang ia bangkitkan di luar dinding batu ini. Sebastian berdiri di antara rak, memeriksa daftar pengiriman. Ia tidak mempercepat apa pun. Tidak pula menunda. Setiap instruksi pendek, setiap anggukan pekerja dibalas dengan ketenangan yang sama. Osric datang dari pintu samping. Langkahnya cepat, mantel masih belum dilepas. Ia berhenti beberapa langkah dari Sebastian, menurunkan suaranya meski gudang nyaris kosong. “Pasar bergerak,” katanya singkat. “Bukan cuma laku. Mereka membicarakannya.” Sebastian tidak menoleh. “Selalu begitu.” “Tidak seperti ini.” Osric mendekat, suaranya makin rendah. “Para pedagang tidak hanya menjual—mereka mengingat. Dan bangsawan mu
Last Updated: 2026-01-19
You May Also Like
DI ATAS RANJANG MAFIA
DI ATAS RANJANG MAFIA
Mafia · Dewa Amour
14.0K views
Kesayangan Tuan Mafia
Kesayangan Tuan Mafia
Mafia · Davian
13.5K views
Istri Rahasia Sang Bos Mafia
Istri Rahasia Sang Bos Mafia
Mafia · Rizki Adinda
11.6K views
PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA
PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA
Mafia · sugi ria
10.5K views
TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA
TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA
Mafia · Libra Syafarika
10.3K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status