Chapter: Yang Bertahan Lalu terdengar suara. Tangisan kecil. Rapuh. Nyata. Di balik pintu, Osric dan Elowen saling berpandangan—lega, nyaris runtuh. Dokter tersenyum tipis, kelelahan jelas tergurat di wajahnya. “Putramu hidup.” Sebastian membeku sesaat. Seolah dunia membutuhkan waktu untuk kembali ke tempatnya. Avelinne terisak—lega, gemetar. Dokter meletakkan bayi itu di dadanya. Kecil. Hangat. Bergerak lemah, namun bernapas. Sebastian menatap makhluk kecil itu lama sekali. Tangannya gemetar saat akhirnya menyentuhnya—seolah takut kenyataan ini akan menghilang jika disentuh terlalu cepat. “Avelinne…” suaranya pecah. “Dia—” “Aku tahu,” jawab Avelinne lirih. “Aku tahu.” Elowen masuk perlahan, matanya membesar. “Tuhan… dia lucu sekali.” Ia menyentuh jemari kecil yang mengepal itu. “Kita memanggilnya siapa?” Avelinne menoleh pada Sebastian—memberinya ruang, memberinya hak. “Elio,” kata Sebastian akhirnya. “Elio Devereux. Kurasa itu cocok.” Elowen mendengus pela
Last Updated: 2026-01-21
Chapter: Yang Tersisa Setelah Semua TerbakarMobil Sebastian meluncur perlahan melewati gerbang gudang anggur. Lampu depannya menyapu tanah berkerikil yang masih lembap, memantulkan sisa cahaya malam yang belum sepenuhnya reda. Beberapa detik kemudian, kereta kuda Osric menyusul dan berhenti dengan bunyi kayu yang tertahan—seolah enggan mengganggu keheningan yang tersisa. Avelinne turun lebih dulu. Pakaiannya kotor, abu melekat di lipatan gaun dan rambutnya. Langkahnya sedikit kaku, namun punggungnya tetap tegak, seakan tubuhnya menolak menunjukkan betapa lelah ia sebenarnya. Elowen sudah menghampiri, wajahnya tegang. “Kalian pulang? Apa yang terjadi?” “Aku baik-baik saja,” jawab Avelinne cepat—nyaris otomatis, seperti kalimat yang diucapkan sebelum rasa sakit sempat menyusul. Sebastian turun menyusul. Memar jelas terlihat di wajahnya, kemejanya kusut dan berjelaga. Ia tidak berhenti untuk menjelaskan. “Kita bicara di dalam,” katanya singkat. Ia melangkah pergi. Osric mengikutinya tanpa suara. Elowen m
Last Updated: 2026-01-20
Chapter: Darah dan Api MemilihIa melangkah cepat. Tangannya mencengkeram kerah Sebastian, lalu menghantamnya tanpa peringatan. Tubuh Sebastian terhempas ke lantai. Beberapa bangsawan mundur refleks. Sebagian berbalik, memilih keluar—tak ingin menjadi saksi ketika darah keluarga mulai tertumpah. Marcus tetap mencengkeram kerah itu, wajahnya merah, napasnya berat. “Kau pikir aku akan percaya?” Sebastian menatapnya datar, meski darah mulai merembes di sudut bibirnya. “Aku tak butuh kau percaya.” Marcus meninju lagi. Avelinne maju setengah langkah. Napasnya tertahan. “Sebastian!” Lady Vareen akhirnya bergerak. Tatapannya menusuk Marcus. “Cukup, Marcus!” Lucianne mundur perlahan. Wajahnya memucat, matanya berkilat panik. Ia menoleh sekali ke arah Henry—ambisi yang selama ini ia banggakan runtuh seketika—lalu pergi tanpa menoleh lagi. Sebastian berbalik. Ia membalas menghantam Marcus. Benturan itu mendorong tubuh mereka ke arah lemari penyimpanan. Botol-botol anggur jatuh, pecah beruntun
Last Updated: 2026-01-20
Chapter: Keheningan Menjadi VonisKeheningan di ruangan itu tidak lahir dari keterkejutan. Ia lahir dari kesalahan hitung. Lampu gantung menggantung rendah, terlalu putih untuk disebut ramah. Meja kayu panjang membelah ruangan, dipenuhi peta distribusi, catatan rak pasar, dan botol-botol anggur yang dibiarkan tertutup. Tidak ada yang berniat mencicipi. Lady Vareen menoleh lebih dulu. Gerakannya halus, namun sorot matanya berubah. “Sebastian… kau—” Marcus bangkit setengah dari kursinya. Suaranya lebih cepat dari pikirannya. “Kau tidak diundang.” Sebastian melangkah masuk sepenuhnya. Ia menutup pintu di belakangnya—perlahan, tanpa suara keras—seolah memastikan tak ada jalan mundur bagi siapa pun di ruangan itu. “Laporan tentang gudangku,” katanya tenang, “tidak pernah menungguku untuk dipersilakan.” Ia meletakkan map kulit cokelat di atas meja. Tepat di tengah. Dorongannya ringan, nyaris sopan—namun cukup untuk membuat botol-botol di sekitarnya bergetar tipis. Henry menyipitkan mata. “Ini
Last Updated: 2026-01-19
Chapter: Konfrontasi Tanpa Jalan MundurIa menyeret petugas itu keluar. “Ini pelanggaran—” Sebastian tidak menoleh lagi. Mereka melewati koridor gudang dengan langkah cepat. Osric tersentak, lalu menyusul. Di ujung lorong, Avelinne dan Elowen melihat pemandangan itu. “Ada apa?” tanya Avelinne, suaranya tertahan. Sebastian sudah terlalu jauh untuk menjawab. Avelinne menoleh ke Osric. “Osric—apa yang terjadi?” Osric berhenti sejenak. “Pemalsuan sampel,” katanya rendah. “Laporan palsu. Penyalahgunaan wewenang.” “Ke mana mereka pergi?” Osric menggeleng. “Aku tidak tahu.” Avelinne menarik napas cepat. “Kita harus ikut. Aku takut dia akan—” “Aku siapkan kereta,” potong Osric. Terlambat. Di luar, mesin mobil Sebastian sudah menyala. Pintu dibanting. Roda berputar. Mobil itu meluncur pergi meninggalkan halaman gudang. Avelinne dan Osric saling pandang—cukup lama untuk menyadari satu hal: Sebastian tidak menuju klarifikasi. Ia menuju konfrontasi. Kereta bergerak menyus
Last Updated: 2026-01-19
Chapter: Tekanan Menyentuh TanahPagi belum sepenuhnya hangat ketika gudang anggur Sebastian mulai bergerak. Bukan hiruk-pikuk. Hanya ritme yang terjaga—peti dibuka, botol dipindahkan, segel diperiksa dua kali. Label Rosse Vineyard kini terpasang rapi, tidak mencolok, namun jelas. Nama itu berdiri tenang di kaca, seolah tidak menyadari kegaduhan yang ia bangkitkan di luar dinding batu ini. Sebastian berdiri di antara rak, memeriksa daftar pengiriman. Ia tidak mempercepat apa pun. Tidak pula menunda. Setiap instruksi pendek, setiap anggukan pekerja dibalas dengan ketenangan yang sama. Osric datang dari pintu samping. Langkahnya cepat, mantel masih belum dilepas. Ia berhenti beberapa langkah dari Sebastian, menurunkan suaranya meski gudang nyaris kosong. “Pasar bergerak,” katanya singkat. “Bukan cuma laku. Mereka membicarakannya.” Sebastian tidak menoleh. “Selalu begitu.” “Tidak seperti ini.” Osric mendekat, suaranya makin rendah. “Para pedagang tidak hanya menjual—mereka mengingat. Dan bangsawan mu
Last Updated: 2026-01-19
Chapter: Pintu yang Dijaga Bayangan Mereka bertiga melangkah menyusuri jalur sempit yang memotong lereng pegunungan. Salju yang jatuh semalam telah memadat, membuat setiap langkah berbunyi pelan—seperti bisikan yang enggan terdengar terlalu jelas. Kabut tipis melayang rendah di antara pepohonan cemara, menyamarkan jarak dan arah. Dunia seakan mengecil menjadi garis putih, bayangan gelap, dan tiga sosok yang bergerak pelan di antaranya. “Adelheid, bisa lebih pelan sedikit?” bisik Leonhardt tanpa menoleh. “Langkahmu seperti rombongan pawai. Bahkan domba di desa bawah bisa mendengar kau mengeluh.” Adelheid mendengus. “Maaf. Aku belum sekolah jadi James Bond.” “James Bond tidak pakai parfum sebanyak itu,” gumam Margarethe, setengah geli. “Aku gugup!” sahut Adelheid cepat. “Parfum lavender menenangkan saraf. Itu ilmu pengetahuan. Kau bisa cek nanti.” Margarethe mendesah kecil. Leonhardt hanya menunduk sebentar—entah menahan tawa atau sekadar menarik napas. Tak lama kemudian, di balik kabut dan pepohonan, munc
Last Updated: 2026-01-25
Chapter: Rahasia yang Terlihat di Lorong SunyiMatanya melebar. Napasan kecil tercekat di tenggorokannya. Ia tidak bersuara. Hanya… melihat. Di dalam, Leonhardt seketika tersadar. Ia bergerak cepat—bukan panik, tapi refleks seorang pria yang tahu apa yang harus dilindungi. Ia melepaskan diri dan membaringkan Margarethe perlahan di atas kasur. Selimut ditarik ke atas tubuhnya. Gerakannya hati-hati, seolah dunia bisa pecah jika terlalu keras. Lalu ia berdiri dan melangkah keluar kamar. Pintu ditutup dari luar. Di lorong motel yang dingin dan sunyi, Leonhardt dan Adelheid berdiri berhadapan. Tak satu pun langsung bicara. Leonhardt merapikan dasinya yang kusut, jasnya yang miring—gerakan kecil, mekanis, seperti sedang mencoba menyusun kembali sesuatu yang tak bisa benar-benar dirapikan. Akhirnya Adelheid membuka suara. Nadanya masih terguncang. “Barusan itu…” “…termasuk misi rahasia?” Leonhardt menghela napas. Ia tidak menatapnya saat menjawab. “Anggap saja… kau tidak melihatnya.” Hening. “Karena ini…
Last Updated: 2026-01-25
Chapter: Operasi di Atas Seprai “Lain kali,” gumam Adelheid sambil menyeringai, “kita biarkan dia latihan vokal dulu sebelum menyanyikan lagu kebangsaan dalam mode jazz-blues.” Leonhardt sudah berdiri. Kursinya bergeser pelan di lantai kayu. “Kita pulang.” Adelheid hendak ikut bangkit, tapi pria tua itu meraih pergelangan tangannya. Jarinya gemetar—antara alkohol dan sesuatu yang lebih lama terkubur. “Hey, nona… kau belum menunjukkan kemampuanmu,” katanya dengan tawa serak. “Sekarang giliranmu.” Adelheid menoleh dengan senyum yang tiba-tiba berubah berbahaya. “Baiklah, kalau itu maumu. Tapi jangan menyesal.” Di meja, Margarethe terkekeh kecil—suara pecah yang lebih mirip desahan—lalu kepalanya jatuh ke atas permukaan kayu. Adelheid langsung menoleh pada Leonhardt. “Bawa dia pulang. Aku beri satu pertunjukan untuk pria tua ini.” Leonhardt mendengus. “Kalau kau tidak muncul dalam satu jam, aku kirim pasukan pencari.” Adelheid sudah melangkah menuju panggung kecil. “Kalau aku ditangkap,” kat
Last Updated: 2026-01-24
Chapter: Blues di Bawah Asap dan BirBeberapa menit kemudian, sudah ada tiga gelas di depan mereka. Margarethe menenggak yang pertama terlalu cepat. Yang kedua lebih pelan. Yang ketiga… dengan senyum miring. Leonhardt menatapnya ragu. “Kau yakin ini ide bagus?” “Aku hanya sedang… beradaptasi dengan budaya lokal,” katanya ringan—kalimat yang persis sama seperti dulu, tapi kini terdengar jauh lebih rapuh. Adelheid terkekeh. “Dia tidak pernah mabuk di rumah Ernst. Ini… versi pascaperang.” Margarethe menoleh, matanya berkilau oleh alkohol dan sesuatu yang lebih dalam. “Kau tahu apa yang lucu? Selama ini aku hidup seolah aku harus selalu mengendalikan segalanya. Ternyata… aku bahkan tidak tahu siapa yang menuliskannya.” Leonhardt tidak menjawab. Ia hanya menatapnya—lebih lama dari yang seharusnya. Lalu, tanpa peringatan, Adelheid berdiri dan melompat ke panggung kecil di sudut ruangan, meraih gitar dari salah satu pemain musik. “Perhatian, dunia!” serunya. “Lagu ini untuk kakakku yang keras kepala… dan pria ne
Last Updated: 2026-01-24
Chapter: Umpan untuk Ayah yang HilangRuangan seakan kehilangan suhu. Leonhardt perlahan menurunkan pistol—bukan karena percaya, tapi karena instingnya mengatakan satu hal: ini bukan ancaman yang bisa ditembak. “Nama itu bahkan tidak muncul di arsip ayahku,” katanya pelan. “Karena seseorang memastikan begitu,” jawab pria itu. “Dan seseorang itu sangat berkuasa.” Margarethe menatap foto itu. Jari-jarinya sedikit bergetar saat menyentuh tepi kertas. “Dia…” suaranya hampir tak terdengar, “…ayah kami?” Pria itu mengangguk tipis. “Ilmuwan utama dalam pengembangan program biologis generasi baru. Menghilang sebelum Reich runtuh. Kami mengejarnya hampir sepuluh tahun.” Adelheid menutup wajahnya dengan satu tangan. “Oke. Ini sudah masuk wilayah telenovela perang dingin.” Leonhardt menatap pria itu tajam. “Dan Friedrich tahu tentang ini.” “Lebih dari yang kalian kira,” jawabnya. Ia menutup koper perlahan. “Dan jika kami benar… Margarethe bukan hanya bagian dari sejarah ini.” Ia menatap Margarethe lurus-lur
Last Updated: 2026-01-23
Chapter: Ketika Sejarah Mengetuk Pintu Udara dini hari merayap masuk lewat celah-celah jendela kayu apartemen, membawa dingin yang tak sekadar menyentuh kulit—melainkan ingatan. Hujan belum benar-benar berhenti. Tetesannya masih jatuh pelan di luar, seperti jam yang menolak bergerak maju. Di ruang tengah yang sempit, lampu kecil menyala pucat. Margarethe duduk di kursi kayu dekat jendela. Rambutnya masih lembap, beberapa helai menempel di pipinya. Mantelnya belum ia lepaskan sepenuhnya—seolah ia tak yakin ruangan ini benar-benar tempat yang aman untuk menanggalkan apa pun. Di atas meja, map merah bersegel tergeletak. Warisan Friedrich. Tak satu pun dari mereka menyentuhnya. Leonhardt masuk dari lorong belakang. Sepatunya basah, mantel kulitnya masih menahan bau hujan dan logam. Tatapannya langsung tertuju pada punggung Margarethe—siluet yang tampak lebih kecil dari biasanya di balik kaca buram. Ia mengambil selimut dari sandaran kursi lain dan mendekat. Gerakannya pelan, hampir hati-hati. Selimut itu disamp
Last Updated: 2026-01-23