author-banner
Pilar Waisakha
Pilar Waisakha
Author

Novels by Pilar Waisakha

Pengantin Bangsawan Yang Kubenci

Pengantin Bangsawan Yang Kubenci

“Aku tidak mencintaimu, Sebastian… aku hanya ingin tanahku kembali.” — Avelinne Rosse “Kau bisa merampas kebunku, Avelinne… tapi jangan pernah coba merampas hatiku.” — Sebastian Devereux Antara cinta dan dendam, siapa yang akan hancur lebih dulu? Dendam membara menuntun Avelinne Rosse masuk ke lingkaran Sebastian Devereux—bangsawan anggur yang merampas warisan keluarganya. Namun di balik kebencian, tumbuh tarikan yang sama memabukkannya dengan anggur yang ia hasilkan. Saat cinta dan pengkhianatan berbaur, siapakah yang lebih dulu hancur?
Read
Chapter: Yang Bertahan
Lalu terdengar suara. Tangisan kecil. Rapuh. Nyata. Di balik pintu, Osric dan Elowen saling berpandangan—lega, nyaris runtuh. Dokter tersenyum tipis, kelelahan jelas tergurat di wajahnya. “Putramu hidup.” Sebastian membeku sesaat. Seolah dunia membutuhkan waktu untuk kembali ke tempatnya. Avelinne terisak—lega, gemetar. Dokter meletakkan bayi itu di dadanya. Kecil. Hangat. Bergerak lemah, namun bernapas. Sebastian menatap makhluk kecil itu lama sekali. Tangannya gemetar saat akhirnya menyentuhnya—seolah takut kenyataan ini akan menghilang jika disentuh terlalu cepat. “Avelinne…” suaranya pecah. “Dia—” “Aku tahu,” jawab Avelinne lirih. “Aku tahu.” Elowen masuk perlahan, matanya membesar. “Tuhan… dia lucu sekali.” Ia menyentuh jemari kecil yang mengepal itu. “Kita memanggilnya siapa?” Avelinne menoleh pada Sebastian—memberinya ruang, memberinya hak. “Elio,” kata Sebastian akhirnya. “Elio Devereux. Kurasa itu cocok.” Elowen mendengus pela
Last Updated: 2026-01-21
Chapter: Yang Tersisa Setelah Semua Terbakar
Mobil Sebastian meluncur perlahan melewati gerbang gudang anggur. Lampu depannya menyapu tanah berkerikil yang masih lembap, memantulkan sisa cahaya malam yang belum sepenuhnya reda. Beberapa detik kemudian, kereta kuda Osric menyusul dan berhenti dengan bunyi kayu yang tertahan—seolah enggan mengganggu keheningan yang tersisa. Avelinne turun lebih dulu. Pakaiannya kotor, abu melekat di lipatan gaun dan rambutnya. Langkahnya sedikit kaku, namun punggungnya tetap tegak, seakan tubuhnya menolak menunjukkan betapa lelah ia sebenarnya. Elowen sudah menghampiri, wajahnya tegang. “Kalian pulang? Apa yang terjadi?” “Aku baik-baik saja,” jawab Avelinne cepat—nyaris otomatis, seperti kalimat yang diucapkan sebelum rasa sakit sempat menyusul. Sebastian turun menyusul. Memar jelas terlihat di wajahnya, kemejanya kusut dan berjelaga. Ia tidak berhenti untuk menjelaskan. “Kita bicara di dalam,” katanya singkat. Ia melangkah pergi. Osric mengikutinya tanpa suara. Elowen m
Last Updated: 2026-01-20
Chapter: Darah dan Api Memilih
Ia melangkah cepat. Tangannya mencengkeram kerah Sebastian, lalu menghantamnya tanpa peringatan. Tubuh Sebastian terhempas ke lantai. Beberapa bangsawan mundur refleks. Sebagian berbalik, memilih keluar—tak ingin menjadi saksi ketika darah keluarga mulai tertumpah. Marcus tetap mencengkeram kerah itu, wajahnya merah, napasnya berat. “Kau pikir aku akan percaya?” Sebastian menatapnya datar, meski darah mulai merembes di sudut bibirnya. “Aku tak butuh kau percaya.” Marcus meninju lagi. Avelinne maju setengah langkah. Napasnya tertahan. “Sebastian!” Lady Vareen akhirnya bergerak. Tatapannya menusuk Marcus. “Cukup, Marcus!” Lucianne mundur perlahan. Wajahnya memucat, matanya berkilat panik. Ia menoleh sekali ke arah Henry—ambisi yang selama ini ia banggakan runtuh seketika—lalu pergi tanpa menoleh lagi. Sebastian berbalik. Ia membalas menghantam Marcus. Benturan itu mendorong tubuh mereka ke arah lemari penyimpanan. Botol-botol anggur jatuh, pecah beruntun
Last Updated: 2026-01-20
Chapter: Keheningan Menjadi Vonis
Keheningan di ruangan itu tidak lahir dari keterkejutan. Ia lahir dari kesalahan hitung. Lampu gantung menggantung rendah, terlalu putih untuk disebut ramah. Meja kayu panjang membelah ruangan, dipenuhi peta distribusi, catatan rak pasar, dan botol-botol anggur yang dibiarkan tertutup. Tidak ada yang berniat mencicipi. Lady Vareen menoleh lebih dulu. Gerakannya halus, namun sorot matanya berubah. “Sebastian… kau—” Marcus bangkit setengah dari kursinya. Suaranya lebih cepat dari pikirannya. “Kau tidak diundang.” Sebastian melangkah masuk sepenuhnya. Ia menutup pintu di belakangnya—perlahan, tanpa suara keras—seolah memastikan tak ada jalan mundur bagi siapa pun di ruangan itu. “Laporan tentang gudangku,” katanya tenang, “tidak pernah menungguku untuk dipersilakan.” Ia meletakkan map kulit cokelat di atas meja. Tepat di tengah. Dorongannya ringan, nyaris sopan—namun cukup untuk membuat botol-botol di sekitarnya bergetar tipis. Henry menyipitkan mata. “Ini
Last Updated: 2026-01-19
Chapter: Konfrontasi Tanpa Jalan Mundur
Ia menyeret petugas itu keluar. “Ini pelanggaran—” Sebastian tidak menoleh lagi. Mereka melewati koridor gudang dengan langkah cepat. Osric tersentak, lalu menyusul. Di ujung lorong, Avelinne dan Elowen melihat pemandangan itu. “Ada apa?” tanya Avelinne, suaranya tertahan. Sebastian sudah terlalu jauh untuk menjawab. Avelinne menoleh ke Osric. “Osric—apa yang terjadi?” Osric berhenti sejenak. “Pemalsuan sampel,” katanya rendah. “Laporan palsu. Penyalahgunaan wewenang.” “Ke mana mereka pergi?” Osric menggeleng. “Aku tidak tahu.” Avelinne menarik napas cepat. “Kita harus ikut. Aku takut dia akan—” “Aku siapkan kereta,” potong Osric. Terlambat. Di luar, mesin mobil Sebastian sudah menyala. Pintu dibanting. Roda berputar. Mobil itu meluncur pergi meninggalkan halaman gudang. Avelinne dan Osric saling pandang—cukup lama untuk menyadari satu hal: Sebastian tidak menuju klarifikasi. Ia menuju konfrontasi. Kereta bergerak menyus
Last Updated: 2026-01-19
Chapter: Tekanan Menyentuh Tanah
Pagi belum sepenuhnya hangat ketika gudang anggur Sebastian mulai bergerak. Bukan hiruk-pikuk. Hanya ritme yang terjaga—peti dibuka, botol dipindahkan, segel diperiksa dua kali. Label Rosse Vineyard kini terpasang rapi, tidak mencolok, namun jelas. Nama itu berdiri tenang di kaca, seolah tidak menyadari kegaduhan yang ia bangkitkan di luar dinding batu ini. Sebastian berdiri di antara rak, memeriksa daftar pengiriman. Ia tidak mempercepat apa pun. Tidak pula menunda. Setiap instruksi pendek, setiap anggukan pekerja dibalas dengan ketenangan yang sama. Osric datang dari pintu samping. Langkahnya cepat, mantel masih belum dilepas. Ia berhenti beberapa langkah dari Sebastian, menurunkan suaranya meski gudang nyaris kosong. “Pasar bergerak,” katanya singkat. “Bukan cuma laku. Mereka membicarakannya.” Sebastian tidak menoleh. “Selalu begitu.” “Tidak seperti ini.” Osric mendekat, suaranya makin rendah. “Para pedagang tidak hanya menjual—mereka mengingat. Dan bangsawan mu
Last Updated: 2026-01-19
PEREMPUAN MILIK MORETTI

PEREMPUAN MILIK MORETTI

Mature 21+ “Kau pikir aku akan berhenti?” Adriano tersenyum tipis. “Aku tidak berhenti pada hal yang sudah masuk ke wilayahku.” Ia dikurung di istana malam milik pria paling berbahaya di Genoa—bukan sebagai tawanan, bukan pula sebagai kekasih. Adriano Moretti terbiasa memerintah dengan darah dan kesunyian. Namun kehadiran Elena mengganggu ritme hidupnya—perempuan yang seharusnya sudah mati bertahun-tahun lalu. Satu atap. Satu ranjang. Terlalu banyak rahasia. Di balik sentuhan yang tertahan dan jarak yang menyiksa, masa lalu mulai merangkak kembali. Ketika kebenaran akhirnya terkuak, Adriano harus memilih: menaati darah yang membesarkannya… atau menghancurkan segalanya demi menyelamatkan perempuan yang datang terlalu terlambat ke hidupnya.
Read
Chapter: Ia Mengambil Lebih Dari Tubuhnya
Jarak itu tidak kembali. Tangan Adriano tetap di sana—tidak mengendur, tidak bertambah. Cukup untuk menahan Elena di titik yang sudah ia ubah. Air dari rambut Elena jatuh pelan. Teratur. Menyentuh marmer, menyatu dengan jejak yang belum kering. Tidak ada yang bergerak. Lalu—tangan Adriano bergeser. Bukan untuk melepas. Turun. Lebih rendah. Elena tidak mundur. Ia hanya tidak pergi. Napasnya berubah sedikit—tidak cukup untuk disebut penolakan. Adriano menunduk. Wajahnya terlalu dekat untuk disangkal. Ia bisa berhenti. Ia tidak melakukannya. “Ini belum selesai.” Suaranya rendah. Rata. Bukan ancaman. Bukan ajakan. Sebuah keputusan. Elena tidak menjawab. Tangannya masih terjebak di antara mereka—tertahan oleh kain basah, oleh posisi yang tidak ia ubah. “Kalau kau mulai,” lanjut Adriano, nyaris tanpa napas, “kau tidak berhenti di tengah.” Elena mengangkat dagunya sedikit. Bukan menantang. Bukan menghindar. “Aku tidak berhenti.” Sunyi j
Last Updated: 2026-04-24
Chapter: Ia Tidak Memberinya Pilihan
Pintu terbuka tanpa suara yang benar-benar terdengar. Elena masuk lebih dulu. Air dari rambutnya jatuh satu per satu ke lantai marmer, membentuk jejak yang tidak rapi. Gaunnya menempel di tubuh, berat oleh hujan, bukan membentuk—hanya mengikuti. Kakinya tanpa sepatu; lumpur tipis menempel di telapak, tertinggal di setiap langkah. Ia tidak memperlambat. Di belakangnya, Adriano masuk beberapa detik kemudian. Jasnya lembap, garis bahunya tetap rapi. Langkahnya tidak berubah, tetap lurus, tetap stabil, seolah hujan di luar tidak pernah benar-benar menyentuhnya. Ia melewati jejak itu tanpa menghindar. Air dan lumpur terpotong oleh langkahnya, bukan dihapus. Koridor tidak kosong. Elias sudah di sana. Berdiri di sisi dinding, cukup dekat untuk melihat, cukup jauh untuk tidak berada di jalur. Elena lewat lebih dulu. Tatapan Elias turun, bukan ke wajahnya, tapi ke air yang jatuh dari ujung rambut, ke kain yang menempel, ke kaki yang meninggalkan garis di lantai. Lalu ke belakang.
Last Updated: 2026-04-21
Chapter: Kali Ini Ia Tidak Menunggu
Langit belum sepenuhnya gelap, tapi warnanya sudah kehilangan keputusan. Adriano masih di jendela. Di bawah, pola itu tetap sama—sikat menyentuh batu, air bergerak mengikuti, ember bergeser dalam jarak yang konsisten, seolah dunia tidak pernah meminta variasi darinya. Di kaca, bayangannya samar. Tidak cukup jelas untuk disebut refleksi, cukup untuk memastikan ia belum berpindah. “Aku akan membawanya ke museum.” Kalimat itu keluar tanpa ia menoleh. Tidak ada pengantar. Tidak ada penjelasan. Di belakangnya, Valerius diam sepersekian detik. “Kau bisa membawa siapa pun,” katanya akhirnya, nada tetap datar. “Tapi bukan dia.” Tidak ada tekanan. Tidak perlu. Adriano tidak bergerak. Di luar, angin pertama menyentuh permukaan kolam—tidak cukup kuat untuk mengubah bentuknya, hanya menggeser lapisan atas yang hampir tidak terlihat. “Aku butuh dia.” Masih tanpa menoleh. Valerius tidak langsung menjawab. “Kebutuhan,” katanya pelan, “tidak mengubah tempat seseo
Last Updated: 2026-04-21
Chapter: Batas Itu Sedang Dibuat
Koridor Moretti tidak pernah benar-benar kosong, hanya berganti tingkat kepadatan. Langkah Adriano memecahnya tanpa usaha. Ritmenya stabil, lurus, seperti sesuatu yang tidak sedang berjalan—melainkan kembali ke jalurnya sendiri. Di tangannya, lembar laporan terlipat dua; sudutnya sudah menyimpan tekanan jari yang sama sejak ia mengambilnya. Lampu di atas kepala tidak berkedip. Tidak ada yang perlu diperbaiki di ruang ini, atau setidaknya tidak oleh sistem yang mengaturnya. Pintu di ujung koridor sudah terbuka sebelum ia menyentuhnya. Ruang dalam tidak menunggu. Valerius sudah ada di sana. Kursi roda berhenti pada posisi yang tidak mengganggu garis meja. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Jaraknya seperti sudah dihitung sebelum Adriano masuk. Tidak ada sapaan. Tidak ada gerakan yang tidak perlu. Adriano masuk, menutup pintu di belakangnya. Bunyi kliknya pendek, seperti menandai sesuatu yang sudah selesai diputuskan lebih dulu. Pandangan mereka bertemu. Tidak lama. Ti
Last Updated: 2026-04-20
Chapter: Seseorang Menggeser Garisnya
Langkah berlanjut, koridor terlewati tanpa jeda, belokan diambil, dan pintu di ujung sudah terbuka saat Elena masuk. Tangannya langsung bekerja. Rak logam berdiri rapat, lorong di antaranya hanya cukup untuk satu jalur. Lembar pelindung bergeser beberapa milimeter. Sudut kain ditarik hingga sejajar dengan tepi rak. Sebuah fragmen diputar sepersekian—cukup untuk memutus garis ukiran, lalu membiarkannya jatuh kembali dalam bentuk berbeda. Ia tidak berhenti pada satu benda. Jarak antar objek kembali rata. Garis yang tadi bertemu—tidak lagi. Ia berhenti di satu rak. Tiga fragmen batu diletakkan terpisah. Ukiran melingkar, berhenti sebelum menyatu. Tangannya tidak menyentuh permukaan ukiran. Hanya alasnya yang didorong sedikit. Cahaya bergeser. Retakan tipis muncul di satu lengkung. Hilang. Lantainya yang berubah lebih dulu. Tekanan tipis bergeser di satu garis—lurus, stabil, tanpa jeda yang terputus. Tidak ada suara langkah. Hanya satu dorong yang tidak ragu.
Last Updated: 2026-04-19
Chapter: Yang Tidak Seharusnya Ada
Pintu kamar mandi masih tertutup. Air mengalir tipis di baliknya—stabil, teratur. Elena berdiri di sisi ranjang, tidak duduk, tidak bergerak sepenuhnya. Ponsel di tangannya. Layar menyala. Singkat. Satu baris muncul—lalu hilang sebelum sempat dibaca utuh. Jarinya naik. Berhenti di atas kaca. Tidak menyentuh. Setengah napas. Bukan ragu. Menghitung. Air di dalam berubah tekanan, sedikit lebih keras—lalu kembali. Jarinya turun. Layar mati. Ia tidak menyalakannya lagi. Gerakannya bersih, cepat—tanpa tergesa. Ponsel itu diselipkan ke bawah bantal, sudutnya tepat, tidak menonjol. Kain kembali rata. Tangannya keluar kosong. Air berhenti. Sunyi turun terlalu cepat. Klik kecil dari dalam. Elena sudah berbaring saat pintu terbuka. Adriano keluar. Langkahnya lurus, tidak menuju ranjang. Handuk di bahunya; air masih jatuh dari ujung rambut, menelusuri garis leher tanpa dihapus. Ia melewati meja, mengambil gelas—tidak langsung diminum. Berhenti sedetik. Bukan pad
Last Updated: 2026-04-17
ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen

ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen

“Istriku adalah rahasia negara. Dan aku adalah algojonya… yang mulai jatuh cinta.” Ia menikah demi misi. Ia mencintai demi kehancuran. Berlin pasca-perang — dunia di mana kebohongan bersembunyi di balik kehormatan. Margarethe Vogel terjerat dalam pernikahan palsu dengan Leonhardt von Richter, bangsawan sekaligus agen intelijen yang menyimpan rahasia lebih gelap dari perang itu sendiri. Ketika penyamaran berubah menjadi kenyataan, dan masa lalu mereka terbuka seperti luka lama, cinta dan kebenaran menjadi dua hal yang tak bisa diselamatkan bersamaan. Pernikahan hanyalah awal. Permainan sebenarnya baru dimulai.
Read
Chapter: Diarahkan ke Jalan Buntu
Mesin meraung lebih keras dari yang diperlukan. Leonhardt tidak memperlambat. Tangan di setir kaku, terlalu stabil untuk seseorang yang baru saja keluar dari baku tembak. Kabut masih mengejar di kaca belakang. Sankt Lorenz menghilang sedikit demi sedikit. Tidak ada yang bicara. Hanya napas dan suara mesin. Adelheid duduk di belakang. Buku kecil itu terbuka di pangkuannya. Senter kecil di tangannya bergetar halus, cahayanya menari di atas tulisan yang hampir pudar. Subjek 7: A.V. Jarinya berhenti di huruf itu. Tidak bergerak. Margarethe menoleh, sekilas. “Tutupi,” katanya pelan. Adelheid tidak menutupnya. “Kalau aku menutupnya…” suaranya rendah, “…apa itu juga hilang?” Tidak ada yang langsung menjawab. Leonhardt melirik kaca spion. Lampu. Jauh. Terlalu jauh untuk dikenali. Tapi tetap ada. Ia mempercepat. Ulrich di kursi depan tidak menoleh. Tangannya bertumpu di lutut. “Kau ingin jawaban,” katanya. Adelheid tertawa kecil. Kering. “Aku ingin tahu apakah aku p
Last Updated: 2026-04-25
Chapter: Yang Lolos Tetap Ditandai
Bunyi klik itu nyaris tak terdengar. Tapi semua kepala menoleh. Satu panel di dinding bergeser. Halus. Seolah sudah sering dibuka, bukan dibobol. Lorong di baliknya menyala sendiri. Lampu kuning redup berderet memanjang. Cahaya dingin, rapi. Terlalu bersih untuk tempat seperti ini. Sepatu bot. Pelan. Teratur. Mendekat. Siluet muncul lebih dulu. Tegap. Tenang. Tidak tergesa. Lalu wajahnya. Seragam gelap. Emblem elang di bahu. “Selamat datang, Herr von Richter…” Ia berhenti beberapa langkah dari ambang. Matanya menyapu ruangan. “…dan para tamunya.” Pistol di tangannya sudah siap. Tidak diarahkan. Belum. Leonhardt mundur satu langkah. Bukan takut. Menghitung. Senyum tipis muncul. “Kami tidak datang untuk menyerahkan diri.” Pria itu mengangkat pistol sedikit. Cukup untuk menjawab. “Tidak.” Suaranya datar. “Kalian datang untuk menggali.” Ia melirik rak-rak arsip yang berantakan. “Dan lupa… beberapa hal dikubur karena alasan.” Sunyi jatuh. Debu masi
Last Updated: 2026-04-25
Chapter: Penjaga di Bawah Lorenz
Kabut turun lebih dulu dari mereka, menelan jalan sempit sebelum roda mobil menyentuhnya. Sankt Lorenz tidak menyambut. Ia hanya… ada. Siluet gereja tua muncul perlahan, menjulang patah. Jendela-jendelanya kosong, seperti mata yang sudah lama berhenti melihat. Leonhardt mematikan mesin. Sunyi langsung jatuh. Tidak ada suara kota. Tidak ada langkah manusia. Hanya angin—dan sesuatu yang menunggu. “Tempat ini ditinggalkan setelah ledakan,” katanya, tangannya masih di setir. Tidak ada yang bertanya. Adelheid menatap keluar. “Ditinggalkan… atau disembunyikan.” Ia membuka pintu, udara dingin langsung menyusup. Margarethe keluar tanpa bicara, matanya tertuju pada gereja. Tidak ada keraguan di sana. Ulrich turun terakhir. Tangannya sudah menggenggam sesuatu—potongan logam kecil. Ia menunjukkannya sebentar, tanpa penjelasan. “Ini akan membuka jalan.” Leonhardt sudah berjalan lebih dulu. Langkah mereka melewati pelataran. Batu-batu retak, rumput liar tumbuh di sela-sel
Last Updated: 2026-04-23
Chapter: Garis yang Tidak Mengakui
Gedung itu berdiri tanpa nama. Terkubur di antara dinding-dinding tua yang setengah runtuh, seolah kota sengaja melupakannya. Tidak ada tanda. Tidak ada penjaga. Hanya pintu baja yang terlalu utuh untuk bangunan yang seharusnya sudah mati. Leonhardt berhenti di depannya. Tangannya terangkat—sejenak tidak menyentuh apa pun. Lalu jari telunjuknya menekan panel kecil di samping. Desis halus. Lampu indikator berkedip. Klak. Pintu terbuka sedikit—cukup untuk membiarkan udara lama keluar. “Kita punya lima belas menit,” katanya, tanpa menoleh. Margarethe masuk lebih dulu. Adelheid tepat di belakangnya. Lorong panjang menyambut mereka. Lampu-lampu redup menggantung rendah—sebagian berkedip, sebagian sudah mati. Langkah mereka bergema. Terlalu jelas. Bau debu, kertas tua, dan sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang pernah hidup di sini. Leonhardt bergerak cepat. Langkahnya pasti, seolah tubuhnya mengingat tempat ini lebih dulu daripada pikirannya. Margarethe memperhatikan sekilas, ti
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Nama yang Tidak Pernah Hilang
Kabut tipis menempel di permukaan danau yang membeku. Tak ada riak. Tak ada suara. Villa tua itu berdiri diam di tepinya—seperti sesuatu yang sengaja dilupakan, tapi tak pernah benar-benar hilang. Friedrich von Richter berdiri di depan jendela tinggi. Cahaya redup memantul di kaca, membelah wajahnya menjadi dua bayangan yang tak pernah benar-benar menyatu. Di tangannya, segelas cognac. Tidak disentuh. Di belakangnya, seorang pria tua berseragam hitam menunggu. Posturnya tegak. Namun napasnya tertahan. “Siaran itu… sudah menyebar,” ucapnya akhirnya. Pelan. Terukur. “Moskow. Paris. New York.” Ia berhenti sejenak. “Mereka menyebut nama Anda.” Tidak ada jawaban. Friedrich menurunkan gelasnya ke meja kecil di samping. Bunyi kaca menyentuh kayu—terlalu halus untuk disebut suara. Tangannya tidak sepenuhnya stabil. Hanya sepersekian detik. Cukup untuk terlihat. “Leonhardt?” Satu kata. Tanpa emosi. “Masih hidup,” jawab pria itu. “Bersama Margarethe Vogel. Ulrich Kelle
Last Updated: 2026-04-14
Chapter: Di Antara Dua Versi Kebenaran
Tidak ada yang langsung menjawab. Kartu hitam itu tetap di meja. Diam. Seolah menunggu seseorang cukup bodoh… atau cukup putus asa… untuk menyentuhnya. Suara rotor di luar tidak berubah. Stabil. Seperti detak jantung yang tidak peduli siapa yang mati di dalam ruangan ini. Leonhardt akhirnya bergerak. Bukan ke kartu. Bukan ke pintu. Ke radio. Ia mematikan saklar kecil itu. Klik. Suara statik lenyap. Sunyi—lebih berat dari sebelumnya. “Kalau kami ikut,” katanya pelan, “apa yang kalian lakukan dengan siaran itu?” Pria dari Direktion Null tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan tangan Leonhardt yang masih berada di radio. “Kami tidak menghapusnya,” jawabnya akhirnya. “Penghapusan menciptakan pertanyaan.” Margarethe menyipit. “Kami mengubah konteksnya.” Satu kalimat. Cukup. Adelheid menghela napas pendek. “Jadi… kalian memutarbalikkan semuanya.” “Menyesuaikan,” koreksinya lagi. Leonhardt tertawa kecil. Kali ini terdengar jelas. “Dan kami jadi apa?” “Bagian
Last Updated: 2026-04-11
You may also like
Suara Di Bilik Iparku
Suara Di Bilik Iparku
Romansa · Jingga Amelia
91.8K views
Little Wife
Little Wife
Romansa · Asia July
91.3K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status