Share

Sup dan Kecurigaan

last update Huling Na-update: 2025-12-26 11:11:13

Tempat persembunyian itu tenang dengan cara yang hampir menipu.

Api kompor menyala kecil di dapur sempit, cukup untuk memanaskan panci tua yang kini berisi sup bening dengan potongan sayur tak beraturan. Uap tipis naik perlahan, membawa aroma kaldu yang hangat—aroma rumah, jika rumah tak pernah benar-benar aman.

Margarethe berdiri di depan kompor, satu tangan memegang sendok kayu, tangan lain menahan buku tua yang terbuka di atas meja. Sampulnya lusuh, sudut-sudutnya mengelupas. Judulnya hampir pudar, tapi isi halamannya justru terlalu rapi untuk sekadar buku resep biasa.

Tulisan tangan kecil dan presisi memenuhi margin.

Beberapa baris bahkan dicoret ulang, diganti dengan istilah yang terasa asing bagi dapur.

Margarethe menghentikan gerakan mengaduknya dan membaca ulang satu catatan kecil di sisi halaman.

Langkah 4: Jika suhu turun mendadak, jangan panik. Seperti saat kode alpha diganti oleh sistem Echo Zwei.

Ia mengerutkan kening.

“Ini buku resep,” gumamnya pelan, “
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Garis yang Ditarik dalam Diam

    Leonhardt menyetir tanpa musik. Jalan pesisir memanjang gelap di depan mereka, hanya disela lampu-lampu kecil yang muncul lalu lenyap seperti pikiran yang tidak ingin diingat. Setir di tangannya stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang baru saja mengetahui bahwa sebagian hidupnya mungkin dibangun di atas asumsi yang salah. Ia tidak menoleh ke kursi penumpang. Ia tahu Margarethe ada di sana—kehadirannya terasa seperti tekanan udara yang berubah, bukan seperti suara atau gerakan. Leonhardt belajar sejak lama bahwa beberapa hal tidak perlu dilihat untuk dipastikan keberadaannya. Ia fokus ke jalan. Karena jika ia menoleh, ia tidak yakin apa yang akan ia lihat: wanita yang sama seperti kemarin, atau seseorang yang tiba-tiba menjadi bagian dari sejarah yang selama ini ia kejar dari jarak aman. Ia mengingat kata-kata Ernst. Bukan bunyinya—melainkan celahnya. Ernst tidak pernah berbohong terang-terangan. Ia memilih diam di tempat yang tepat, menutup sebagian kebenaran den

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Garis yang Digeser di Dalam Gelap

    Malam telah jatuh sepenuhnya di Berlin Barat. Di ruang kerja yang tak pernah benar-benar tidur, Friedrich von Richter berdiri di depan peta tua yang menggantung di dinding. Kertasnya telah menguning, lipatannya menyimpan bekas tangan yang sama selama puluhan tahun. Jarum penunjuk distrik ditandai dengan titik-titik kecil—merah, biru, hitam—sistem klasifikasi yang hanya ia pahami sepenuhnya. Satu titik dilingkari ulang dengan pensil abu-abu: Charlottenburg. Ia tidak bergerak. Tidak duduk. Tidak menyalakan cerutu. Di belakangnya, pintu terbuka tanpa suara. Wilhelm masuk dengan langkah yang nyaris tidak terdengar, membawa sebuah amplop tipis. Warnanya pudar, seperti benda yang seharusnya tidak lagi berpindah tangan. “Konfrontasi telah terjadi, Jenderal,” ucap Wilhelm pelan. Friedrich tidak menoleh. Anggukan kecil saja sudah cukup—bukan sebagai respons, melainkan pengakuan bahwa informasi itu datang tepat waktu. Atau mungkin, terlambat. “Lambat,” kata Friedrich akh

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Kebenaran yang Disisakan Setengah

    Pintu kayu tua itu terbuka dengan bunyi yang terlalu pelan untuk sebuah rumah yang telah lama berhenti menyambut tamu. Ernst Vogel berdiri di ambang pintu. Mantel militernya masih rapi meski warnanya telah pudar, seolah waktu hanya berani menyentuh kain—bukan disiplin yang membentuk tubuhnya. Rambutnya memutih, tapi matanya tetap tajam, seperti arsip yang menolak dilupakan. Ia menatap mereka satu per satu. Margarethe. Leonhardt. Adelheid. Tak ada senyum. Tak ada sapaan. “Aku tahu kenapa kalian datang,” katanya akhirnya. Suaranya rendah, stabil—suara seseorang yang telah lama menyiapkan kalimat ini, tapi tak pernah berharap harus mengucapkannya. Tak ada yang menjawab. Angin malam bergerak pelan di halaman, membawa bau tanah lembap dan daun tua. Lampu teras berpendar kekuningan, menciptakan bayangan panjang yang membuat jarak di antara mereka terasa lebih lebar dari sebelumnya. Ernst memusatkan pandangannya pada Margarethe. “Dan aku tahu,” lanjutnya, “kau akhir

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Arah yang Dipilih, Jaringan yang Bangun

    Beberapa menit berlalu. Dari ruang sebelah, terdengar kursi digeser pelan. Leonhardt keluar terakhir. Matanya merah oleh kurang tidur. Kemejanya masih sama seperti semalam—kusut di lengan, kancing atas terbuka. Di tangannya, setumpuk kertas yang sudah disatukan seadanya. Ia berhenti di ambang dapur, menatap dua wanita itu sejenak, seolah memastikan dunia kecil ini belum runtuh sepenuhnya. “Kau tidak tidur,” kata Margarethe akhirnya. Bukan pertanyaan. Leonhardt mengangguk tipis. “Tidak sepenuhnya.” Ia meletakkan kertas-kertas itu di meja, menjauhkan sebagian agar tidak terkena sisa air teh. Adelheid melirik sekilas—cukup lama untuk mengenali foto dan cap arsip—lalu menarik pandangannya kembali, seolah tahu ada hal-hal yang lebih aman tidak dibaca sambil sarapan. “Jadi,” katanya, mencoba ringan, “pagi yang cerah untuk membongkar silsilah keluarga, ya?” Tak ada yang tertawa. Leonhardt duduk. Untuk pertama kalinya sejak pagi, bahunya turun sedikit—bukan karena

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Rumah yang Bergeser

    Malam merambat pelan di persembunyian itu—tanpa angin, tanpa suara kota. Bangunan tua yang mereka tempati terasa seperti rongga di luar peta, berdiri di antara dua waktu yang tak saling menyapa. Lampu di ruang tengah telah dipadamkan. Hanya satu cahaya kecil dari dapur yang tersisa, redup dan kekuningan, memantul di dinding retak yang menyimpan lebih banyak cerita daripada yang mau diingat siapa pun. Margarethe terjaga. Ia duduk di tepi ranjang sempit, punggungnya tegak, tangan bertaut di pangkuan. Selimut wol menutupi separuh tubuhnya, tapi tidak memberikan kehangatan yang cukup untuk mengusir dingin yang terasa datang dari dalam. Pikirannya berulang-ulang kembali ke halaman rumah Ernst—ke nada suaranya, ke jeda-jeda yang terlalu panjang, ke kalimat yang berhenti tepat sebelum kebenaran utuh terucap. Ia menutup mata. Tidak ada teriakan. Tidak ada tangis. Yang ada hanya satu perasaan asing: seolah tempat yang selama ini ia sebut rumah telah bergeser sedikit ke belakang, cuku

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Bayangan yang Mulai Mengukur

    Angin malam menyapu halaman rumah von Richter tanpa suara. Lampu-lampu taman menyala stabil—terlalu stabil—seolah dunia luar tak pernah mencurigai apa pun. Ketertiban masih dipercaya. Dan itulah masalahnya. Friedrich von Richter berdiri di ruang kerjanya, sendirian. Mantel hitam telah dilepas dan digantung rapi. Sarung tangan disusun sejajar di tepi meja. Tidak ada satu pun yang bergeser dari tempatnya—kebiasaan lama yang menolak retak, bahkan ketika dunia di sekitarnya mulai bergerak. Ia menatap jendela tinggi yang menghadap halaman. Di kaca, pantulan wajahnya tampak tenang. Tidak marah. Tidak terkejut. Wajah seseorang yang sedang menghitung ulang, bukan bereaksi. Ketukan pelan terdengar di ambang pintu. Wilhelm masuk tanpa menunggu izin, membawa map tipis berwarna abu-abu. Posturnya kaku, namun sorot matanya menyimpan keraguan yang jarang muncul. “Laporan awal,” katanya. “Pergerakan kecil. Tidak resmi. Tapi terkoordinasi.” Friedrich tidak menoleh. “Dari mana?” “F

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status