LOGINPintu kayu tua itu terbuka dengan bunyi yang terlalu pelan untuk sebuah rumah yang telah lama berhenti menyambut tamu. Ernst Vogel berdiri di ambang pintu. Mantel militernya masih rapi meski warnanya telah pudar, seolah waktu hanya berani menyentuh kain—bukan disiplin yang membentuk tubuhnya. Rambutnya memutih, tapi matanya tetap tajam, seperti arsip yang menolak dilupakan. Ia menatap mereka satu per satu. Margarethe. Leonhardt. Adelheid. Tak ada senyum. Tak ada sapaan. “Aku tahu kenapa kalian datang,” katanya akhirnya. Suaranya rendah, stabil—suara seseorang yang telah lama menyiapkan kalimat ini, tapi tak pernah berharap harus mengucapkannya. Tak ada yang menjawab. Angin malam bergerak pelan di halaman, membawa bau tanah lembap dan daun tua. Lampu teras berpendar kekuningan, menciptakan bayangan panjang yang membuat jarak di antara mereka terasa lebih lebar dari sebelumnya. Ernst memusatkan pandangannya pada Margarethe. “Dan aku tahu,” lanjutnya, “kau akhir
Beberapa menit berlalu. Dari ruang sebelah, terdengar kursi digeser pelan. Leonhardt keluar terakhir. Matanya merah oleh kurang tidur. Kemejanya masih sama seperti semalam—kusut di lengan, kancing atas terbuka. Di tangannya, setumpuk kertas yang sudah disatukan seadanya. Ia berhenti di ambang dapur, menatap dua wanita itu sejenak, seolah memastikan dunia kecil ini belum runtuh sepenuhnya. “Kau tidak tidur,” kata Margarethe akhirnya. Bukan pertanyaan. Leonhardt mengangguk tipis. “Tidak sepenuhnya.” Ia meletakkan kertas-kertas itu di meja, menjauhkan sebagian agar tidak terkena sisa air teh. Adelheid melirik sekilas—cukup lama untuk mengenali foto dan cap arsip—lalu menarik pandangannya kembali, seolah tahu ada hal-hal yang lebih aman tidak dibaca sambil sarapan. “Jadi,” katanya, mencoba ringan, “pagi yang cerah untuk membongkar silsilah keluarga, ya?” Tak ada yang tertawa. Leonhardt duduk. Untuk pertama kalinya sejak pagi, bahunya turun sedikit—bukan karena
Malam merambat pelan di persembunyian itu—tanpa angin, tanpa suara kota. Bangunan tua yang mereka tempati terasa seperti rongga di luar peta, berdiri di antara dua waktu yang tak saling menyapa. Lampu di ruang tengah telah dipadamkan. Hanya satu cahaya kecil dari dapur yang tersisa, redup dan kekuningan, memantul di dinding retak yang menyimpan lebih banyak cerita daripada yang mau diingat siapa pun. Margarethe terjaga. Ia duduk di tepi ranjang sempit, punggungnya tegak, tangan bertaut di pangkuan. Selimut wol menutupi separuh tubuhnya, tapi tidak memberikan kehangatan yang cukup untuk mengusir dingin yang terasa datang dari dalam. Pikirannya berulang-ulang kembali ke halaman rumah Ernst—ke nada suaranya, ke jeda-jeda yang terlalu panjang, ke kalimat yang berhenti tepat sebelum kebenaran utuh terucap. Ia menutup mata. Tidak ada teriakan. Tidak ada tangis. Yang ada hanya satu perasaan asing: seolah tempat yang selama ini ia sebut rumah telah bergeser sedikit ke belakang, cuku
Angin malam menyapu halaman rumah von Richter tanpa suara. Lampu-lampu taman menyala stabil—terlalu stabil—seolah dunia luar tak pernah mencurigai apa pun. Ketertiban masih dipercaya. Dan itulah masalahnya. Friedrich von Richter berdiri di ruang kerjanya, sendirian. Mantel hitam telah dilepas dan digantung rapi. Sarung tangan disusun sejajar di tepi meja. Tidak ada satu pun yang bergeser dari tempatnya—kebiasaan lama yang menolak retak, bahkan ketika dunia di sekitarnya mulai bergerak. Ia menatap jendela tinggi yang menghadap halaman. Di kaca, pantulan wajahnya tampak tenang. Tidak marah. Tidak terkejut. Wajah seseorang yang sedang menghitung ulang, bukan bereaksi. Ketukan pelan terdengar di ambang pintu. Wilhelm masuk tanpa menunggu izin, membawa map tipis berwarna abu-abu. Posturnya kaku, namun sorot matanya menyimpan keraguan yang jarang muncul. “Laporan awal,” katanya. “Pergerakan kecil. Tidak resmi. Tapi terkoordinasi.” Friedrich tidak menoleh. “Dari mana?” “F
Pukul satu dini hari. Lampu-lampu kota menyala samar—redup seperti kelopak mata yang dipaksa tetap terbuka. Sebuah mobil tua berhenti perlahan di belakang Gedung Arsip Pemerintah, bangunan besar yang telah “dibekukan” oleh Kementerian Dalam Negeri lebih dari lima belas tahun lalu. Secara resmi karena dianggap tak relevan. Secara tidak resmi—karena terlalu banyak dokumen yang terlalu berbahaya untuk diingat siapa pun. Mesinnya dimatikan. Keheningan turun dengan cepat. Di dalam mobil, Adelheid membuka bungkus biskuit dengan malas. Radio kecil berfrekuensi privat menyala redup di tangannya, hanya mengeluarkan desis pelan. “Kalau ada yang mencurigakan,” pesan Leonhardt sebelumnya, “dua ketukan pendek. Jangan keluar sampai aku bilang.” Sebagai kompensasi, ia meninggalkan sekotak snack, satu selimut tipis, dan perhatian yang tak pernah benar-benar diucapkan. “Seperti jaga pos di musim salju,” gumam Adelheid sambil menggigit biskuit. “Tanpa rekan setim dan tanpa upah lembur.”
Di dapur kecil yang sempit, Margarethe membuka buku resep tua—lembarannya lusuh, penuh bercak minyak dan catatan tangan yang saling tumpang tindih. Di meja, bahan makanan sederhana tersusun apa adanya: kentang, bawang, dan sisa kaldu dari tempat sebelumnya. “Ada sisa kentang, bawang, dan…” Margarethe berhenti, mengerutkan dahi. “…tunggu. Siapa yang mencorat-coret buku resepku?” Adelheid, yang semula duduk santai di kursi, berdiri dan mendekat dari belakang. Ia melirik halaman itu, lalu mengangkat alis. “Maksudmu ‘Tambahkan sedikit merica biar ada kejutan’ ini?” Margarethe menyipitkan mata. “Ini bukan tulisanku.” Ia menoleh tajam ke arah Adelheid. “Kau?” “Jangan lihat aku seperti itu. Aku menulis catatan lebih jujur,” jawab Adelheid ringan. Dari dekat jendela, Leonhardt bersuara pelan tanpa menoleh. “…Mungkin tikus.” Adelheid menoleh lambat. Tatapannya tajam. “Tikus yang tahu proporsi bumbu dapur dan menulis dengan huruf tegak bersambung rapi seperti kepala seko







