Home / Fantasi / Elang, si Dewa Medis / 3. Sebuah Tanda

Share

3. Sebuah Tanda

Author: Zila Aicha
last update Last Updated: 2025-11-17 21:20:25

Mempercayai dua orang gila ini? 

Ah, itu jelas mustahil bagi seorang Elang Viscala yang notabene selalu berpikir secara rasional.

Dia jelas masih sangat waras. Dia tidak percaya hal-hal seperti yang dijelaskan oleh dua pria yang terlihat normal tapi ternyata memiliki gangguan otak itu. 

Tapi, dia sangat penasaran tentang punggungnya yang begitu sakit itu. Dokter yang memeriksanya tidak menemukan adanya gangguan pada tubuhnya. 

Namun, dia tidak bisa menampik bahwa sakit yang dia rasakan malam itu di luar batas yang bisa dia tahan. Terlalu menyakitkan sampai akhirnya dia tidak sanggup menahannya.

Dikarenakan rasa penasaran yang hampir mencekik lehernya, Elang akhirnya memutuskan untuk menelan ocehan tidak masuk akal itu.

 

“Jika penjelasanmu itu memang memang masuk akal, aku … mungkin akan percaya.”

Yasa tersenyum lega mendengarnya. 

Walaupun dia tahu, ekspresi mata Elang menunjukkan hal yang sebaliknya. Jelas sekali Elang tidak akan percaya dengan mudah kepadanya.

Namun, Yasa sudah cukup senang karena setidaknya Elang mau mendengarkan penjelasannya. Hal itu sudah cukup baik menurutnya. 

Dia bahkan mulai yakin bahwa lambat laun Elang akan percaya padanya secara penuh.

“Baiklah, sekarang ceritakan semua yang kau tahu!” Elang memerintah.

Yasa pun mengangguk patuh dan mulai bercerita, “Dahulu kala, sekitar tiga ribu tahun yang lalu, hiduplah Raja Naga Laut Timur yang mendiami daerah laut timur.”

Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Dia mewariskan ilmu penyembuhan yang hebat kepada anaknya. Selama ribuan itu ilmu selalu diwariskan.

"Akan tetapi, ilmu itu hanya bisa diturunkan kepada keturunan laki-laki yang lahir di saat bulan purnama. Selama puluhan tahun ini ilmu itu tidak bisa diwariskan karena tidak ada keturunan laki-laki yang lahir pada bulan purnama.”

Elang hampir saja memberikan tanggapan sinis, tapi dia berusaha menahan lidahnya dan tetap mengunci mulutnya untuk mendengarkan penjelasan pria itu.

“Tapi ... suatu ketika tanda adanya pewaris Ilmu Raja Naga mulai terlihat di langit lagi."

Belum-belum Elang sudah mengernyitkan dahi, merasa heran tapi dia tidak memberikan reaksi apapun sehingga Yasa menganggap Elang mengerti pembukaan cerita itu. 

Elang mengangkat alis kanan, terlihat mulai tertarik, “Tanda semacam apa?”

Yandra pun menjawab, “Tanda yang berupa cahaya biru terang di malam hari yang terpancar hingga di atas langit.”

Elang kembali terdiam. 

“Begitu melihat tanda penting itu, kami bergegas menuju ke tempat itu dan di sanalah kami menemukan Anda telah tergeletak dengan luka di sekujur tubuh Anda di tengah hujan yang deras,” kata Yandra.

Elang mendesah pelan, masih tidak tahu harus bagaimana menanggapinya. 

Tapi dua detik kemudian dia mendengar Yasa berkata, “Cahaya biru itu terpancar begitu kuat dari tubuh Anda. Itu berasal dari tanda di punggung Anda.”

Yandra mengamati ekspresi bingung di wajah Elang dan dia pun menambahkan, “Rasa sakit yang Anda rasakan itu karena energi naga di dalam tubuh Anda mulai bangkit dan mengali ke seluruh pembuluh darah Anda."

Mendengar penuturan Yandra, Elang pun bertanya, “Energi naga? Apa lagi maksudnya itu?”

Yasa menelan ludah dan menggigit bibir bawahnya, terlihat ragu-ragu menjawab.

"Sebelum saya menjawab, maukah Anda memperlihatkan punggung Anda kepada kami?"

Elang sontak membelalakkan mata, menatap Yasa dengan tatapan ngeri, “Hei, kau … apa maksudmu?” 

Dengan tenang Yasa menjawab, “Saya ingin membuktikan bahwa perkataan saya benar.”

Elang tercengang.

Merasa seolah tidak memiliki pilihan lain, Elang akhirnya melepaskan baju atasnya dibantu oleh Yandra dengan agak canggung.

Ah, dia tidak pernah melakukan hal memalukan seperti itu di depan orang lain, meskipun itu adalah kekasihnya sendiri sekalipun.

Tapi demi mengetahui sesuatu yang membuatnya bertanya-tanya dia pun rela melakukannya. 

Elang lalu diminta untuk berjalan ke depan sebuah kaca berukuran sangat besar yang terletak di pinggir ruangan. 

Sejujurnya Elang mulai khawatir karena walaupun cerita yang telah diutarakan oleh dua pria itu terdengar seperti cerita dongeng, tapi dia tidak sekalipun melihat ekspresi ragu-ragu di wajah mereka. 

Seolah-olah semua yang mereka katakan itu adalah kebenaran. 

Sebelum Elang sempat melihat punggungnya sendiri, dia melihat Yasa tersenyum dan bahkan Yandra tersenyum sampai giginya terlihat saat melihat cermin di belakang Elang.

“Anda benar-benar pewaris Ilmu Raja Naga.”

“Tidak diragukan Anda memang Dewa Medis.”

Yasa pun kemudian mengambil kaca lain agar Elang bisa melihat pantulan dari punggungnya. 

Elang ternganga saat melihat punggungnya yang seharusnya bersih dari apapun termasuk luka kini malah dipenuhi oleh tato. 

Matanya menatap tak percaya, “Tato? Bagaimana bisa ada tato di punggungku?”

Dia menggelengkan kepalanya dengan penuh rasa bingung dan heran, “Aku tidak pernah membuat tato ini.”

Yasa menjawab, “Tuan, tato itu adalah tanda bahwa Anda memang Dewa Medis.”

Elang masih tidak bisa mempercayai hal itu. 

Ketika dia memperhatikan gambar tato itu dia memang bisa melihat dengan jelas bahwa di bagian tengah terdapat gambar naga besar dengan beberapa bintang yang mengelilinginya. 

Saat dia menghitung, bintang itu berjumlah tujuh.

Apa maksudnya? pikir Elang bingung.

Namun, otaknya mengirimkan sinyal bahwa semua itu hanyalah omong kosong belaka.

Dengan ekspresi bingung Elang menatap tidak percaya pada dua pria yang sedari tadi menjejali kepalanya dengan segala hal macam hal aneh.

“Tidak. Ini pasti ulah kalian, bukan?” Elang menuduh dengan curiga. 

“Kalianlah yang melakukan ini. Kalian yang membuat tato di punggungku ini.”

Yasa dan Yandra tidak terlihat terkejut melihat reaksi Elang, seakan mereka sudah menduganya.

Elang mundur beberapa langkah, “Kalian pasti memanfaatkan waktu ketika aku tidak sadar. Benar, kan?”

“Apa tujuan kalian yang sebenarnya? Untuk apa membuat cerita konyol seperti itu? Kalian … ingin memerasku? Hei, Bung. Aku bukan orang kaya yang bisa kalian mintai uang.”

Napasnya terengah-engah karena sebenarnya kondisinya belum cukup terlalu stabil. 

Rupanya saat dia menggunakan tenaganya untuk marah-marah itu membuat dirinya kehilangan sebagian besar tenaganya. 

Yandra cepat-cepat mendekati Elang dan langsung berkata, “Mohon istirahat dulu, Tuan!”

Yasa hendak membantu Elang tapi Elang menghindarinya dan berkata, “Katakan padaku! Siapa yang sebenarnya menyuruh kalian melakukan ini?” 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Elang, si Dewa Medis   82. Kamu Benar-Benar Sialan!

    Sarah senang sekali karena Elang ternyata masih muda untuk dimanipulasi. Dia pun yakin kali ini dia juga akan berhasil membuat Elang masuk ke dalam perangkapnya. Gadis itu pun tersenyum manis dan bertanya, “Besok malam Bryan mengajakku untuk makan malam di Hotel Sky Line. Kamu tahu kan … itu restoran paling mahal dan juga terkenal di kota ini.”Lora yang sedikit agak penasaran itu pun menaikkan alisnya, tapi dia tidak menanggapi apapun. “Aku tahu. Lalu kenapa?” Elang bertanya lagi. “Yah … bagaimana jika kalian juga ikut menikmati makan malam di sana seperti kami?” Sarah bertanya sembari menatap lurus-lurus ke arah Elang.Elang terdiam selama beberapa saat. Dia pikir setelah dia membuat Sarah melihat bagaimana dirinya sekarang yang jauh berbeda dari dirinya yang dulu itu akan membuat Sarah langsung mengerti. Sayangnya, yang terjadi tidaklah seperti itu. Sarah malah terlihat tertarik kepada kehidupannya seperti caranya yang satu ini. Jelas Sarah ingin tahu bagaimana dirinya lebih

  • Elang, si Dewa Medis   81. Ah, Begitu Rupanya!

    Di dalam hati, jelas Sarah sudah begitu sangat tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya.Dia benar-benar ingin membuat Elang dan kekasihnya yang cantik tapi begitu menjengkelkan itu ternganga atas kekayaannya dimiliki oleh Bryan.Jelas dia sangat yakin bila Bryan Milan lebih kaya dari Elang Viscala. Sebab Bryan telah menjanjikan dirinya untuk membeli tiga buah gedung sekaligus. Sementara Elang hanya mampu membeli dua gedung saja sehingga pemenang dari dua orang itu telah jelas, yakni Bryan. “Sayang, mengapa kamu hanya diam saja? Apa … urusan kantormu belum selesai jadi kamu belum bisa ke sini?” Sarah bertanya dengan nada cemas. Dari seberang sana akhirnya Bryan menjawab, “Sarah, aku minta maaf. Aku … sepertinya harus menunda untuk membeli gedung itu.”Awalnya Sarah malah terkikik geli mendengar ucapan sang kekasih, “Sayang, kamu sedang bercanda ya? Atau … kamu sedang merencanakan sebuah kejutan untukku jadinya kamu bilang seperti itu? Begitu ya?”Sarah kembali tertawa kecil seray

  • Elang, si Dewa Medis   80. Kamu Tidak Berhak Tahu!

    Sarah malah tertawa menanggapi ucapan Lora.“Nona, sekarang aku tahu. Kau … itu sedang cemburu kepadaku.”Lora melongo kaget, “A-apa?”Tentu saja wanita itu terkejut dengan apa yang dipikirkan Sarah.“Tu-tunggu dulu, Nona. Bagaimana bisa kau mengira aku cemburu?” Lora kembali menyatakan kebingungannya.Sementara Elang yang sedari tadi hanya memperhatikan kedua wanita itu berbicara pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Wanita memang selalu membuat bingung, Elang membatin.“Ya tentu saja begitu. Kau … pasti tertarik kepada kekasihku yang tampan dan kaya itu kan? Jadi … kamu membuatku ragu terhadap kekasihku sendiri agar kamu nantinya bisa mendekatinya. Iya kan?” tuduh Sarah.Lora tercengang sampai dia kehilangan kata-kata selama beberapa detik lamanya. Sungguh ia tidak pernah menyangka bila mantan kekasih bos barunya itu benar-benar luar biasa percaya diri. Sarah bahkan berkata seolah-olah dirinya sedang menggoda Bryan dan mencoba untuk membuat mereka putus. “Sudahlah, Nona. Aku t

  • Elang, si Dewa Medis   79. Aku Mau Tiga Gedung!

    Elang tidak menjawab dan malah menatap ekspresi dari sang agen yang sedang menatapnya dengan ragu-ragu itu. “Kau tidak percaya kalau aku bisa membelinya ya?” Elang bertanya dengan nada santai, sama sekali tidak terlihat tersinggung.Leonardo seketika menjawab dengan terbata-bata, “Bu-bukan seperti itu, Tuan. Saya hanya … sangat terkejut karena ….”Dia menelan ludah dengan susah payah karena tiba-tiba saja dia khawatir bila Elang akan batal membeli dua gedung mewah itu karena kecurigaannya yang bodoh itu.Maka, staf agen yang masih begitu muda itu pun berkata pelan, “Saya siapkan semua dokumennya sekarang, Tuan. Mohon tunggu sekitar 30 menit.”“Lima belas menit,” ucap Elang yang terlihat tergesa-gesa. Leonardo terbelalak kaget. Melihat wajah terkejut Leonardo, Elang berbicara lagi, “Jika kau bisa menyelesaikannya dalam waktu 15 menit, maka aku akan memberimu tip sebanyak 2 persen dari harga dua gedung itu.”Leonardo ternganga. “A-anda serius, Tuan?”“Aku tidak pernah bermain-main de

  • Elang, si Dewa Medis   78. Sekarang?

    Leonardo benar-benar tidak mengerti.Dia begitu sangat heran mengapa wanita cantik seperti Lora mau menjadi kekasih seorang pemuda miskin itu.Namun, dari perkataan Lora, dia jelas tidak mungkin salah bila pemuda itu sungguh-sungguh ingin membeli salah satu gedung di Green Rose.Akan tetapi, sebuah pertanyaan pun langsung timbul di benaknya.Apa benar dia memiliki uang? Atau jangan-jangan wanita cantik ini ditipu oleh pria ini? pikir Leonardo.Oh, Leonardo benar-benar bingung sekarang.Tapi, tiba-tiba saja dia teringat akan perkataan seseorang yang cukup dia kenal.Seorang manajer senior berpesan kepadanya untuk tidak melihat seseorang dari penampilan luarnya saja.Kadangkala penampilan luar itu bisa sangat menipu.Ada banyak orang yang terlihat begitu keren dari penampilan luarnya dan bahkan terbilang memiliki aura kuat serta didukung dengan semua pakaian branded.Tapi, penampilan luar itu

  • Elang, si Dewa Medis   77. Apa Ini Tidak Salah?

    Sarah hanya termangu, terlalu bingung menanggapi ucapan Lora.Gadis muda itu pun mencoba untuk memproses semua hal yang baru saja terjadi.Pertama-tama tadi dia melihat mantan kekasihnya yang tiba-tiba saja ada di kawasan elit yang di dalamnya terdapat gedung-gedung dengan harga yang begitu mahal hingga membuatnya sakit perut saat memikirkan harganya.Selanjutnya dia juga melihat mantan kekasihnya yang dulunya dia tahu adalah seorang pria muda miskin yang tidak memiliki apapun kini malah memiliki seorang gadis cantik di sampingnya.Gadis itu pun juga sangat elegan dan bahkan dia harus mengakui bahwa dia jauh lebih cantik daripada dirinya.Selain itu, Elang Viscala bahkan mengatakan pada dirinya ingin membeli sebuah gedung mewah di Green Rose itu.Tidak hanya sampai di situ saja, Elang juga bahkan mentraktir dirinya makan di sebuah restoran yang ketika dia melihat harga menunya saja dia hanya bisa melotot kaget.&

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status