LOGINYasa tetap mencoba untuk menjelaskan, “Tuan, saya tidak disuruh oleh siapapun."
"Saya menyelamatkan Anda karena saya membutuhkan kekuatan Anda," lanjut Yasa.
Elang menatap Yasa dengan tatapan aneh, "Menyelamatkanmu? Maksudnya?"
"Saya menderita sebuah penyakit langka yang aneh, hanya Anda yang mampu menyembuhkan saya," jelas Yasa.
Elang melirik CEO muda dengan tatapan menilai dan kemudian berkata, "Kau tidak terlihat seperti orang sakit."
Dia tidak mengada-ada. Yasa Wiraya terlihat begitu sehat dan tidak kekurangan apapun. Dia bahkan memiliki tubuh atletis yang merupakan impian para pria.
Lantas, bagaimana mungkin dia menderita sebuah penyakit? Elang tidak mempercayainya.
"Penyakit saya tidak bisa terlihat dari luar, Tuan. Ada banyak masalah di tubuh saya dan hanya dengan kekuatan energi naga yang Anda milikilah saya bisa sembuh," kata Yasa dengan sabar.
"Dan bagaimana bisa aku melakukannya? Aku bukan dokter. Aku hanya seorang pelayan biasa, Tuan," kata Elang yang semakin heran."
"Tuan, Anda-"
"Ini mumpung kita berada di rumah sakit, bagaimana kalau kau mencari dokter terbaik di sini?" usul Elang.
Yasa tersenyum samar, tidak terlihat kesal dengan perkataan Elang. Dia hanya berujar, "Saya sudah bertemu dengan ratusan dokter, Tuan. Tapi tidak ada satupun yang bisa menyembuhkan penyakit saya."
Elang menghela napas jengkel, "Kalau dokter saja tidak menyembuhkanmu, bagaimana mungkin aku bisa melakukannya?"
Yandra yang mendengar hal itu mendesah pelan tapi tetap berdiri di samping ranjang Elang meskipun anehnya saat ini dia merasa sedikit agak kesal pada pria muda itu.
Namun, mengingat bahwa tuannya sangat membutuhkan kekuatan Elang untuk menyembuhkannya, dia tidak memiliki pilihan lain selain menahan diri menghadapi sikap menjengkelkan Elang.
"Ini karena energi di dalam tubuh Anda baru saja mengalir, belum sempurna. Lebih baik Anda istirahat!" ucap Yasa.
Elang tidak menanggapinya dan hanya naik ke atas ranjang lalu memejamkan mata.
Yandra melirik ke arah Yasa yang ternyata tidak terpengaruh dengan sikap Elang yang menjengkelkan itu.
Yasa malah berkata lagi, “Sebenarnya ada satu cara lain yang mungkin bisa Anda lakukan untuk membuktikan bahwa perkataan saya ini benar atau tidak tentang Anda yang merupakan pewaris ilmu Raja Naga.”
Elang tidak menanggapi tapi tetap mendengarkan.
Yasa tersenyum cerah, sebab dia tahu bahwa Elang yang terdiam itu justru sedang menyimak apa yang dia bicarakan.
“Yang bisa melihat tato itu hanyalah Anda dan orang-orang yang memiliki ikatan darah dengan Anda. Selain itu, tidak akan ada yang bisa melihatnya.”
Penjelasan Yasa seketika membuat Elang membuka matanya lebar-lebar.
"Maksudmu ... kau salah satu anggota keluargaku? Mana mungkin?" ucap Elang yang langsung duduk menatap Yasa.
Yasa menjawab, "Faktanya memang begitu. Saya dan Anda masih memiliki hubungan darah, meskipun sangat jauh."
Elang terdiam, pria itu memilih untuk tidak memberikan reaksi apapun dan memikirkan sesuatu.
Yandra yang begitu lega karena Yasa mendapatkan ide yang sangat brilian untuk membuat Elang mengerti sepenuhnya itu ikut berbicara, “Jadi, Anda bisa bertanya pada semua orang yang ada di rumah sakit ini. Saya bisa menjamin seratus persen bahwa tidak akan ada satupun dari mereka yang bisa melihat tato Anda.”
“Jika pun ada yang bisa melihatnya, berarti orang itu adalah salah satu kerabat Anda,” Yandra menambahkan.
Dua pria itu memang tidak mendapatkan tanggapan dari Elang. Namun, mereka sangat yakin bahwa Elang pasti akan mencari cara untuk membuktikan bahwa dialah yang benar.
Seolah sengaja memberikan kesempatan bagi Elang untuk melakukan apa saja yang dia inginkan, Yasa pun berujar, “Tuan, saya akan pergi selama beberapa saat bersama Yandra.”
“Ada beberapa asisten dan pengawal yang saya tempatkan di luar ruangan ini. Jika Anda membutuhkan bantuan, Anda bisa menyampaikannya pada mereka dan saya pasti akan segera datang ke sini,” kata Yasa.
Setelah mengatakan hal itu, Yasa membungkukkan badannya dengan begitu hormat pada Elang lalu kemudian pergi bersama dengan Yandra yang berharap rajanya akan segera mempercayai mereka.
Ketika mereka sudah berada di luar ruangan Elang, Yandra pun bertanya pada Yasa, “Apakah tidak apa-apa membiarkan dia sendirian, Tuan? Dia tidak akan kabur?”
“Dia tidak akan kabur,” Yasa membalas dengan alis terangkat sebelah dan senyum di bibir.Yandra awalnya bingung, tapi kemudian dia pun memahami sepenuhnya perkataannya Yasa.
Yasa dan Yandra dikawal oleh beberapa pengawal berjalan menuju ke arah ruangan yang tidak terlalu jauh dari kamar yang ditempati oleh Elang.
Ruangan itu adalah sebuah ruangan kendali yang khusus digunakan oleh Yasa. Dia bisa mendapatkan ruang khusus itu karena memang dialah pemilik rumah sakit tersebut.
Rumah Sakit Hutan Hijau merupakan salah satu rumah sakit yang berada di bawah naungan yayasan yang dimiliki oleh Yasa Wiraya, Wiraya Corporation.
Maka dari itu, dengan begitu mudahnya dia memerintahkan para dokter untuk memeriksa keadaan rajanya.
Yasa tidak memberitahu tentang kepemilikannya pada rumah sakit itu untuk menghindari ketidaknyamanan Elang.Dia yang sudah menduga bahwa Elang tidak akan mudah mempercayai dirinya harus menggunakan berbagai macam cara, termasuk menyembunyikan beberapa hal mengenai dirinya.
Dia berpikir bahwa jika dia mengatakan rumah sakit itu miliknya, Elang akan lebih sulit percaya kepadanya.
Yasa duduk di sebuah kursi yang nyaman dengan berbagai monitor yang ada di depannya.Yandra berdiri di belakangnya sambil mengawasi salah satu monitor nomor dua belas yang menunjukkan bagian keluar kamar yang ditempati oleh Elang.
Setelah hampir tiga puluh menit lamanya mereka menunggu, mereka pun melihat secercah harapan ketika mereka melihat Elang keluar dari kamar itu.
Sementara itu, Elang yang tidak tahu bahwa dirinya sedang ditonton oleh dua pria yang mengaku sebagai pelayannya di kehidupan sebelumnya itu, cukup kaget ketika melihat banyak orang yang berada di depan kamarnya.
Begitu dia hendak melangkah menjauh dari kamar itu, seorang pria berkacamata hitam dengan setelan jas hitam berjalan mendekat ke arahnya.
“Tuan, apakah ada yang bisa kami bantu?”
Elang mengerutkan kening.
Sialan, aku pikir dia sedang membuat lelucon ketika mengatakan dia menempatkan penjaga dan asisten di depan kamarku, Elang membatin.
“Tidak ada, aku hanya ingin berjalan-jalan saja,” jawab Elang.
Pria yang Elang tebak merupakan seorang pengawal itu pun kembali berbicara, “Apakah Anda ingin ditemani, Tuan?”
“Ti-tidak, terima kasih. Aku tidak akan lama, hanya melihat-lihat area rumah sakit ini sebentar saja,” kata Elang yang tentu saja menolak mentah-mentah tawaran itu.
Jika tidak, tentu saja Elang akan kesulitan bergerak dan dua orang aneh itu akan langsung tahu bahwa dia ingin membuktikan kebenaran atas perkataan mereka.
“Kalau begitu silakan, Tuan. Mohon beritahu kami jika Anda membutuhkan sesuatu. Kami akan tetap berada di sekitar sini.”
Elang menganggukkan kepalanya dan buru-buru meninggalkan area itu.
Dia melihat-lihat area rumah sakit tersebut dan baru tak sadar bahwa ternyata rumah sakit itu begitu sangat mewah.
Rumah sakit itu adalah jenis rumah sakit yang tidak mungkin akan didatangi oleh Elang ketika dia sakit.
Hanya melihat dari bangunannya saja, Elang langsung tahu bahwa dia harus merogoh kantong yang begitu dalam untuk membayar biaya perawatan di rumah sakit itu.
Dia kemudian berhenti di sebuah lorong dan mulai ragu-ragu.
“Bagaimana caranya membuat orang mau melihat punggungku?”
Sarah malah tertawa menanggapi ucapan Lora.“Nona, sekarang aku tahu. Kau … itu sedang cemburu kepadaku.”Lora melongo kaget, “A-apa?”Tentu saja wanita itu terkejut dengan apa yang dipikirkan Sarah.“Tu-tunggu dulu, Nona. Bagaimana bisa kau mengira aku cemburu?” Lora kembali menyatakan kebingungannya.Sementara Elang yang sedari tadi hanya memperhatikan kedua wanita itu berbicara pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Wanita memang selalu membuat bingung, Elang membatin.“Ya tentu saja begitu. Kau … pasti tertarik kepada kekasihku yang tampan dan kaya itu kan? Jadi … kamu membuatku ragu terhadap kekasihku sendiri agar kamu nantinya bisa mendekatinya. Iya kan?” tuduh Sarah.Lora tercengang sampai dia kehilangan kata-kata selama beberapa detik lamanya. Sungguh ia tidak pernah menyangka bila mantan kekasih bos barunya itu benar-benar luar biasa percaya diri. Sarah bahkan berkata seolah-olah dirinya sedang menggoda Bryan dan mencoba untuk membuat mereka putus. “Sudahlah, Nona. Aku t
Elang tidak menjawab dan malah menatap ekspresi dari sang agen yang sedang menatapnya dengan ragu-ragu itu. “Kau tidak percaya kalau aku bisa membelinya ya?” Elang bertanya dengan nada santai, sama sekali tidak terlihat tersinggung.Leonardo seketika menjawab dengan terbata-bata, “Bu-bukan seperti itu, Tuan. Saya hanya … sangat terkejut karena ….”Dia menelan ludah dengan susah payah karena tiba-tiba saja dia khawatir bila Elang akan batal membeli dua gedung mewah itu karena kecurigaannya yang bodoh itu.Maka, staf agen yang masih begitu muda itu pun berkata pelan, “Saya siapkan semua dokumennya sekarang, Tuan. Mohon tunggu sekitar 30 menit.”“Lima belas menit,” ucap Elang yang terlihat tergesa-gesa. Leonardo terbelalak kaget. Melihat wajah terkejut Leonardo, Elang berbicara lagi, “Jika kau bisa menyelesaikannya dalam waktu 15 menit, maka aku akan memberimu tip sebanyak 2 persen dari harga dua gedung itu.”Leonardo ternganga. “A-anda serius, Tuan?”“Aku tidak pernah bermain-main de
Leonardo benar-benar tidak mengerti.Dia begitu sangat heran mengapa wanita cantik seperti Lora mau menjadi kekasih seorang pemuda miskin itu.Namun, dari perkataan Lora, dia jelas tidak mungkin salah bila pemuda itu sungguh-sungguh ingin membeli salah satu gedung di Green Rose.Akan tetapi, sebuah pertanyaan pun langsung timbul di benaknya.Apa benar dia memiliki uang? Atau jangan-jangan wanita cantik ini ditipu oleh pria ini? pikir Leonardo.Oh, Leonardo benar-benar bingung sekarang.Tapi, tiba-tiba saja dia teringat akan perkataan seseorang yang cukup dia kenal.Seorang manajer senior berpesan kepadanya untuk tidak melihat seseorang dari penampilan luarnya saja.Kadangkala penampilan luar itu bisa sangat menipu.Ada banyak orang yang terlihat begitu keren dari penampilan luarnya dan bahkan terbilang memiliki aura kuat serta didukung dengan semua pakaian branded.Tapi, penampilan luar itu
Sarah hanya termangu, terlalu bingung menanggapi ucapan Lora.Gadis muda itu pun mencoba untuk memproses semua hal yang baru saja terjadi.Pertama-tama tadi dia melihat mantan kekasihnya yang tiba-tiba saja ada di kawasan elit yang di dalamnya terdapat gedung-gedung dengan harga yang begitu mahal hingga membuatnya sakit perut saat memikirkan harganya.Selanjutnya dia juga melihat mantan kekasihnya yang dulunya dia tahu adalah seorang pria muda miskin yang tidak memiliki apapun kini malah memiliki seorang gadis cantik di sampingnya.Gadis itu pun juga sangat elegan dan bahkan dia harus mengakui bahwa dia jauh lebih cantik daripada dirinya.Selain itu, Elang Viscala bahkan mengatakan pada dirinya ingin membeli sebuah gedung mewah di Green Rose itu.Tidak hanya sampai di situ saja, Elang juga bahkan mentraktir dirinya makan di sebuah restoran yang ketika dia melihat harga menunya saja dia hanya bisa melotot kaget.&
Sarah yang tidak mau kalah pun langsung mengangguk tanpa ragu, “Ya, tentu saja. Kita lihat … seberapa kompeten agen yang kau maksud itu, Nona.”“Jika dia buruk maka aku tidak akan berikan tip sedikitpun untuk dia,” lanjut Sarah kejam.Lora tertawa kecil menanggapinya, “Oh, Nona. Sungguh itu sesuatu yang tidak diperlukan sebab kami sudah membayar penuh berikut dengan tip untuk agen itu. Jadi, bersantailah!”Sarah membalasnya dengan senyuman sinis.“Mari! Kita akan bertemu dengan agen tersebut di sana!” Lora menuju ke arah bagian sebuah tempat yang mirip dengan restoran terbuka.Bryan mengerutkan kening, sedikit agak cemas.Tetapi pria muda itu tetap berjalan dengan menggandeng kekasihnya. Keduanya sama-sama sedang berpikir serius. Sarah sebetulnya ingin mengetahui apakah mantan kekasihnya itu benar-benar telah berubah menjadi orang kaya dan memiliki kekayaan yang banyak. Dan karena jika itu terjadi maka dia berpikir untuk memikirkan kembali hubungannya dengan Elang. Apalagi jika ke
Bryan mendecakkan lidah mendengar perkataan Sarah. Pria itu menaikkan alis kanannya lalu berkata, “Sarah, apa maksudmu berbicara seperti itu kepadaku? Kau … meragukan kekayaannya aku miliki ya?”Sarah mengangkat bahunya, tanda dia tidak mengerti, “Yah, kau tadi mengatakan ingin membeli gedung di sini, tapi … setelah kita berkeliling selama hampir 2 jam lamanya, nyatanya kamu tidak membeli satu pun dari gedung di sini.”“Itu karena tidak ada yang cocok dan tidak ada yang sesuai seleraku,” jawab Bryan.Sarah mengernyitkan dahi, “Kau bilang kalau gedung-gedung di kawasan Green Rose ini adalah gedung-gedung terbaik. Lalu kenapa kamu bilang tidak ada yang membuatmu tertarik, Bryan?”“Bukannya kamu itu pergi ke sini karena kamu sangat tertarik dengan desain-nya ya?” Sarah menambahkan dengan alis mengerut.Bryan mendesah jengkel dan dengan cepat menanggapi ucapan kekasihnya itu, “Yah, di dalam website mereka gedung-gedung ini terlihat begitu menawan dan berkilau. Tapi … siapa yang menyangka







