LOGINAkan tetapi, dia segera teringat bahwa dirinya adalah seorang pasien. Tiba-tiba saja sebuah ide terlintas di kepalanya. Segera saja dia berjalan ke arah beberapa perawat wanita dan berpura-pura sedang kesakitan.
“Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?”
“Anda dirawat di ruang mana? Biar saya bantu untuk kembali ke sana.”
“Dokter Anda siapa? Saya akan segera memanggil dokter Anda.”
Ketiga perawat itu tentu saja langsung menawarkan bantuan pada Elang yang memang wajahnya masih terlihat agak pucat.
Elang menggelengkan kepalanya, “Saya … hanya merasa punggung saya agak sakit.”
“Oh, apakah Anda mengalami patah tulang?”
Elang kembali menggelengkan kepalanya dan berbicara, “Tidak, tapi saya tidak tahu mengapa punggung saya terasa begitu sakit. Apakah saya boleh meminta bantuan?”
“Bantuan apa, Tuan?” tanya salah satu dari perawat itu.
Elang dengan memasang ekspresi wajah terlihat kesakitan menjawab, “Bisakah Anda melihat punggung saya. Maksud saya … apakah ada hal yang aneh di punggung saya?”
Ketiga perawat tersebut langsung terdiam dan melirik satu sama lain, menatap penuh curiga pada pria di depan mereka itu.
Elang yang menyadari perubahan wajah ketiga perawat itu pun cepat-cepat menambahkan, “Saya tidak tahu apakah punggung saya terluka karena tadi saya sempat terbentur. Saya hanya ingin memastikan saja.”
Ketiga perawat itu terlihat agak ragu-ragu tapi salah satu di antara mereka pun mengangguk, “Baik, Tuan. Silakan ke ruangan sebelah sini.”
Pada akhirnya kedua temannya pun juga ikut masuk ke dalam ruangan itu bersama dengan Elang.
Sialan, jika bukan karena untuk memastikan tato sialan itu, aku tidak akan sudi melakukan hal seperti ini, Elang membatin.
Dengan perlahan Elang menyingkap bagian baju belakangnya hingga bagian punggungnya terlihat jelas.
“Bagaimana? Apakah ada luka atau goresan?” Elang bertanya was-was.
Salah satu dari perawat itu kembali menjawab, “Tidak ada, Tuan. Punggung Anda bersih dari luka apapun.”
Elang menganggukkan kepalanya dan bertanya lagi dengan nada yang lebih hati-hati, “Apakah benar-benar tidak ada? Atau mungkin luka seperti tato?”
“Tato?”
Elang meringis dan mulai khawatir bila ketiga perawat itu akan berpikir hal yang tidak-tidak tentang dirinya.
“Sama sekali tidak ada, Tuan. Punggung Anda bersih,” jawab seorang perawat yang pertama kali setuju untuk melihat punggung Elang.
Elang menggigit bibir bawahnya dan kemudian segera merapikan bajunya lagi lalu membalikkan badannya menghadap ketiga perawat itu, “Kalau begitu terima kasih. Mungkin ini hanya efek dari … pemukulan yang saya terima.”
Dia melihat dua perawat itu terkejut dengan perkataannya tapi Elang buru-buru berkata, “Saya akan kembali ke ruangan saya.”
Setelah mengatakan hal itu, Elang keluar dari ruangan itu dan bergegas berjalan ke arah lain.
Dia tidak ingin menghabiskan waktu hanya untuk membicarakan masalah pemukulan yang mengakibatkan dirinya sampai dirawat di rumah sakit itu.
“Tidak, tidak. Mereka itu adalah perawat. Mereka bisa saja sudah menyuap mereka untuk berkata seperti yang mereka inginkan,” kata Elang.
Dan pria itu pun kemudian bertekad untuk menemukan beberapa orang lagi.
Kali ini dia memilih dua orang pasien. Mereka adalah pasangan lansia yang menurutnya akan jauh lebih mudah untuk diarahkan.
Benar saja, hanya dengan beberapa kalimat saja mereka pun langsung setuju untuk membantu Elang.
“Tidak ada, Nak.”
“Benar, tidak ada apapun di punggungmu.”
Elang mengernyitkan dahi, “Apa Anda yakin, Tuan?”
“Iya, Nak. Punggungmu mulus, tak ada noda sedikitpun. Tato … yang kau bicarakan tadi juga tidak ada. Apakah kau jangan-jangan bermimpi memiliki tato itu?” tanya si kakek.
Elang tersenyum masam tapi dia cepat-cepat mengucapkan terima kasihnya kepada dua orang tua itu lalu meninggalkan ruang periksa itu.
Dia bersandar pada dinding dan bergumam, “Mereka adalah lansia. Mereka juga menggunakan kacamata. Yang berarti penglihatan mereka tidak terlalu bagus.”
“Jadi, belum tentu mereka bisa melihat dengan benar,” tambah Elang, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Pria itu mendesah pelan dan segera mengedarkan arah pandangnya untuk memilih orang lagi.
Tapi, ketika dia melihat ke arah lift yang sedang terbuka, dia melihat seorang wanita yang dikenalnya.
“Daiva. Apa yang sedang dia lakukan di sini?”
Seolah dia ingat bahwa kejadian yang membuatnya harus menderita luka banyak itu berkaitan dengan wanita itu, Elang pun segera berjalan mendekat ke arah wanita yang sedang berdiri dengan ponsel di telinganya.
"Daiva."
Wanita muda cantik yang menjadi pelanggan di restoran tempatnya bekerja itu rupanya tidak mendengar panggilan Elang Viscala.
Wanita itu malah terlihat sibuk dengan ponselnya, tidak memperdulikan sekelilingnya.
Mungkin hal itu karena jarak mereka yang cukup jauh sehingga suara Elang tidak terdengar oleh wanita itu.
Elang sangat ingin berbicara dengan wanita itu. Dia ingin tahu tentang lelaki yang menghajarnya.
Bagaimanapun juga, dirinya diculik dan dipukuli sampai hampir kehilangan nyawanya juga salah satunya dikarenakan wanita itu.
Padahal dia dan Daiva putus dengan cara yang baik-baik. Wanita itu mengatakan lelah bersama dengan lelaki yang miskin seperti dirinya.
Elang tidak sekalipun mencegah Daiva untuk pergi darinya. Dia membiarkan wanita itu meninggalkannya. Meskipun dia kecewa dengan keputusan wanita itu, Elang tetap menerimanya.
Beberapa waktu lamanya mereka tidak pernah berkomunikasi sampai tiba hari di mana dia harus terlibat lagi dengan Daiva.
Daiva adalah seorang model yang cukup populer. Pada malam itu, Daiva pergi ke restoran tempat Elang bekerja dan memesan sebuah ruangan privat.
Dikarenakan Elang hanya seorang pelayan restoran, dia pun harus menjalankan tugasnya untuk melayani Daiva.
Dia ingat bagaimana Daiva terlihat biasa saja saat bertemu dengannya di restoran itu. Tidak ada hal aneh yang terjadi selain saling menyapa.
Namun, memang ketika dia mengantar makanan ke ruangan privat itu Daiva meminta untuk ditemani makan. Elang menurut dan hanya duduk di sana. Dia bahkan tidak menyentuh makanan ataupun minuman yang Daiva pesan.
Maka, Elang begitu heran ketika dia berjalan keluar dari restoran dan malah diculik oleh orang yang tidak dia kenal.
“Daiva,” Elang menggunakan percobaan terakhirnya untuk memanggil mantan kekasihnya itu.
Akan tetapi, usahanya masih gagal. Dia melihat Daiva ternyata bertemu dengan seseorang di rumah sakit itu.
Tidak ingin mengganggu apapun urusan yang sedang dilakukan oleh Daiva, Elang memutuskan untuk menunggu.
Pria itu duduk di salah satu kursi tunggu dengan sambil menatap ke arah Daiva yang masih asyik berbicara dengan orang yang tidak dia kenal.
Sementara itu, di ruang kendali, Yasa dan Yandra tidak sekalipun melepaskan arah pandang mereka dari monitor di depan mereka. Kedua orang itu mulai penasaran.
“Siapa dia?” Yasa bertanya dengan alis mengerut sambil tetap memperhatikan gerak-gerik wanita itu.
Yandra yang juga tidak mengetahui asal muasal wanita itu tetapi dia berkata, “Biar saya selidiki sebentar, Tuan.”
Yasa menganggukkan kepalanya, menyetujui.
Yandra pun segera berpaling dari monitor lalu mulai melakukan pencarian terhadap wanita yang sedang diperhatikan oleh Elang.
Sedangkan Yasa sendiri mulai berpikir serius.
“Apakah mungkin dia adalah ... wanita yang menyebabkan Elang diculik?"
Sarah senang sekali karena Elang ternyata masih muda untuk dimanipulasi. Dia pun yakin kali ini dia juga akan berhasil membuat Elang masuk ke dalam perangkapnya. Gadis itu pun tersenyum manis dan bertanya, “Besok malam Bryan mengajakku untuk makan malam di Hotel Sky Line. Kamu tahu kan … itu restoran paling mahal dan juga terkenal di kota ini.”Lora yang sedikit agak penasaran itu pun menaikkan alisnya, tapi dia tidak menanggapi apapun. “Aku tahu. Lalu kenapa?” Elang bertanya lagi. “Yah … bagaimana jika kalian juga ikut menikmati makan malam di sana seperti kami?” Sarah bertanya sembari menatap lurus-lurus ke arah Elang.Elang terdiam selama beberapa saat. Dia pikir setelah dia membuat Sarah melihat bagaimana dirinya sekarang yang jauh berbeda dari dirinya yang dulu itu akan membuat Sarah langsung mengerti. Sayangnya, yang terjadi tidaklah seperti itu. Sarah malah terlihat tertarik kepada kehidupannya seperti caranya yang satu ini. Jelas Sarah ingin tahu bagaimana dirinya lebih
Di dalam hati, jelas Sarah sudah begitu sangat tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya.Dia benar-benar ingin membuat Elang dan kekasihnya yang cantik tapi begitu menjengkelkan itu ternganga atas kekayaannya dimiliki oleh Bryan.Jelas dia sangat yakin bila Bryan Milan lebih kaya dari Elang Viscala. Sebab Bryan telah menjanjikan dirinya untuk membeli tiga buah gedung sekaligus. Sementara Elang hanya mampu membeli dua gedung saja sehingga pemenang dari dua orang itu telah jelas, yakni Bryan. “Sayang, mengapa kamu hanya diam saja? Apa … urusan kantormu belum selesai jadi kamu belum bisa ke sini?” Sarah bertanya dengan nada cemas. Dari seberang sana akhirnya Bryan menjawab, “Sarah, aku minta maaf. Aku … sepertinya harus menunda untuk membeli gedung itu.”Awalnya Sarah malah terkikik geli mendengar ucapan sang kekasih, “Sayang, kamu sedang bercanda ya? Atau … kamu sedang merencanakan sebuah kejutan untukku jadinya kamu bilang seperti itu? Begitu ya?”Sarah kembali tertawa kecil seray
Sarah malah tertawa menanggapi ucapan Lora.“Nona, sekarang aku tahu. Kau … itu sedang cemburu kepadaku.”Lora melongo kaget, “A-apa?”Tentu saja wanita itu terkejut dengan apa yang dipikirkan Sarah.“Tu-tunggu dulu, Nona. Bagaimana bisa kau mengira aku cemburu?” Lora kembali menyatakan kebingungannya.Sementara Elang yang sedari tadi hanya memperhatikan kedua wanita itu berbicara pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Wanita memang selalu membuat bingung, Elang membatin.“Ya tentu saja begitu. Kau … pasti tertarik kepada kekasihku yang tampan dan kaya itu kan? Jadi … kamu membuatku ragu terhadap kekasihku sendiri agar kamu nantinya bisa mendekatinya. Iya kan?” tuduh Sarah.Lora tercengang sampai dia kehilangan kata-kata selama beberapa detik lamanya. Sungguh ia tidak pernah menyangka bila mantan kekasih bos barunya itu benar-benar luar biasa percaya diri. Sarah bahkan berkata seolah-olah dirinya sedang menggoda Bryan dan mencoba untuk membuat mereka putus. “Sudahlah, Nona. Aku t
Elang tidak menjawab dan malah menatap ekspresi dari sang agen yang sedang menatapnya dengan ragu-ragu itu. “Kau tidak percaya kalau aku bisa membelinya ya?” Elang bertanya dengan nada santai, sama sekali tidak terlihat tersinggung.Leonardo seketika menjawab dengan terbata-bata, “Bu-bukan seperti itu, Tuan. Saya hanya … sangat terkejut karena ….”Dia menelan ludah dengan susah payah karena tiba-tiba saja dia khawatir bila Elang akan batal membeli dua gedung mewah itu karena kecurigaannya yang bodoh itu.Maka, staf agen yang masih begitu muda itu pun berkata pelan, “Saya siapkan semua dokumennya sekarang, Tuan. Mohon tunggu sekitar 30 menit.”“Lima belas menit,” ucap Elang yang terlihat tergesa-gesa. Leonardo terbelalak kaget. Melihat wajah terkejut Leonardo, Elang berbicara lagi, “Jika kau bisa menyelesaikannya dalam waktu 15 menit, maka aku akan memberimu tip sebanyak 2 persen dari harga dua gedung itu.”Leonardo ternganga. “A-anda serius, Tuan?”“Aku tidak pernah bermain-main de
Leonardo benar-benar tidak mengerti.Dia begitu sangat heran mengapa wanita cantik seperti Lora mau menjadi kekasih seorang pemuda miskin itu.Namun, dari perkataan Lora, dia jelas tidak mungkin salah bila pemuda itu sungguh-sungguh ingin membeli salah satu gedung di Green Rose.Akan tetapi, sebuah pertanyaan pun langsung timbul di benaknya.Apa benar dia memiliki uang? Atau jangan-jangan wanita cantik ini ditipu oleh pria ini? pikir Leonardo.Oh, Leonardo benar-benar bingung sekarang.Tapi, tiba-tiba saja dia teringat akan perkataan seseorang yang cukup dia kenal.Seorang manajer senior berpesan kepadanya untuk tidak melihat seseorang dari penampilan luarnya saja.Kadangkala penampilan luar itu bisa sangat menipu.Ada banyak orang yang terlihat begitu keren dari penampilan luarnya dan bahkan terbilang memiliki aura kuat serta didukung dengan semua pakaian branded.Tapi, penampilan luar itu
Sarah hanya termangu, terlalu bingung menanggapi ucapan Lora.Gadis muda itu pun mencoba untuk memproses semua hal yang baru saja terjadi.Pertama-tama tadi dia melihat mantan kekasihnya yang tiba-tiba saja ada di kawasan elit yang di dalamnya terdapat gedung-gedung dengan harga yang begitu mahal hingga membuatnya sakit perut saat memikirkan harganya.Selanjutnya dia juga melihat mantan kekasihnya yang dulunya dia tahu adalah seorang pria muda miskin yang tidak memiliki apapun kini malah memiliki seorang gadis cantik di sampingnya.Gadis itu pun juga sangat elegan dan bahkan dia harus mengakui bahwa dia jauh lebih cantik daripada dirinya.Selain itu, Elang Viscala bahkan mengatakan pada dirinya ingin membeli sebuah gedung mewah di Green Rose itu.Tidak hanya sampai di situ saja, Elang juga bahkan mentraktir dirinya makan di sebuah restoran yang ketika dia melihat harga menunya saja dia hanya bisa melotot kaget.&







