MasukDia terdiam dan kembali memutar otaknya untuk menemukan segala kemungkinan.
Hanya dalam beberapa menit, Yandra telah kembali ke sisinya. Pria itu sudah membawa beberapa informasi penting tentang wanita itu.
“Bagaimana hasilnya?” Yasa bertanya dengan tidak sabar.
Yandra pun menjelaskan apa yang dia dapatkan, “Dia adalah Daiva Gunawan, seorang model papan atas yang saat ini menjalin hubungan dengan Cakra Buana.”
Nama itu terdengar tidak asing untuk Yasa.
“Cakra Buana?” Yasa mengulang nama itu dan dengan mudah dia bisa mengingat tentang pria yang juga telah malang melintang di dunia bisnis.
Orang yang disebutkan oleh Yandra itu tidak lain adalah salah satu pesaing bisnisnya di bidang perhotelan.
“Lantas … apa hubungan wanita ini dengan Elang, Yandra?”
Yandra pun menjawab, “Wanita ini pernah menjalin hubungan dengan Tuan Elang. Dia … meninggalkannya karena uang.”
Begitu mendengar cerita itu, Yasa menggertakkan giginya karena jengkel.
“Uang? Astaga! Dasar wanita matrealistis!” ucap Yasa yang tidak bisa menahan rasa kesalnya.
“Yandra, lalu apa hubungan Cakra Buana dengan raja?” Yasa tiba-tiba kembali memasang ekspresi serius.
Yandra yang sebelumnya juga telah menyelidiki tentang pria itu pun menjawab, “Mereka tidak memiliki hubungan apapun. Mereka hanya terhubung karena wanita ini, Tuan.”
Memang tidak ditemukan sebuah catatan ataupun foto di mana Elang dan Cakra pernah bertemu sebelumnya.
“Tunggu dulu, apakah mungkin jika Cakra Buana ini adalah orang di balik penculikan dan pemukulan yang terjadi pada Elang?” Yasa langsung berdiri karena emosi yang mendadak menyeruak di dadanya.
Dia tidak akan pernah bisa menerima hal itu. Siapapun yang berani menyakiti pewaris Ilmu Raja Naga ini akan berakhir menderita di tangannya. Tidak akan dia biarkan siapapun menyentuh Elang bisa hidup dengan tenang.
Yandra membalasnya dengan tatapan tidak yakin.
Dia pun berujar dengan hati-hati, “Tuan, Cakra Buana adalah seorang pebisnis besar. Sedangkan Tuan Elang adalah seorang pelayan biasa. Mengapa dia melakukan hal itu pada Tuan Elang?”
Yasa terdiam dan mencoba untuk menggali lebih dalam.
Jika dilihat dari kacamata orang biasa, jelas sekali kedua orang itu tidak mungkin berkaitan.
Mereka jelas-jelas berada di bidang yang berbeda. Selain itu, status sosial mereka pun juga sangat jauh berbeda.
Sejak menemukan Elang, Yasa sudah menyelidiki kehidupan Elang tapi memang belum secara menyeluruh.
Elang Viscala adalah seorang pria yang memiliki banyak sekali keterbatasan, salah satunya adalah dalam ekonomi. Penghasilannya sebagai seorang pelayan restoran bisa dibilang hanya cukup untuk menghidupi dirinya sendiri.
Sedangkan Cakra Buana, berbanding terbalik dari Elang. Pria itu bergelimpangan harta dan nyaris tidak pernah mengalami kesusahan sedikitpun.
Melihat dari status sosial yang sangat jauh berbeda itu, Yasa bahkan bisa memastikan bahwa dua orang itu tidak mungkin bertemu atau bahkan saling melintas.
Akan tetapi, ketika dia ingat bahwa dua orang itu terhubung melalui seorang wanita yang sama, Yasa pun berpikir bahwa bisa saja mereka kemungkinan pernah bertemu.
“Cari tahu masalah ini secepatnya, Yandra. Aku ingin tahu apakah Cakra Buana memang orang di balik penyerangan terhadap Elang.”
Yandra mengangguk dengan patuh, “Baik, Tuan.”
Sementara itu, Elang Viscala yang telah menunggu dengan sabar akhirnya mendapatkan kesempatannya.
Saat itu Daiva Gunawan sedang sendirian, seakan sedang menunggu sesuatu.
Elang bergegas berjalan ke arah wanita itu dan menyapanya dengan ramah, “Daiva.”
Gadis yang dipanggil namanya itu langsung menoleh ke arah Elang.
Matanya terbuka lebar seolah-olah dia seperti sedang melihat hantu.
“Elang, kamu … kenapa kamu bisa ada di sini?” Daiva bertanya dengan ekspresi terkejut sekaligus takut.
Sebelum Elang sempat menjawab pertanyaan gadis itu, Daiva sudah menyeretnya dengan menggandeng Elang.
Wanita itu melihat sekelilingnya sedang memastikan bahwa tidak ada orang yang memperhatikan mereka.
Elang mengernyitkan dahi melihat sikap Daiva, “Ada apa, Daiva? Apa yang kamu-”
“Ssst!” Daiva menyuruh pria itu terdiam dan buru-buru mendorong Elang untuk masuk ke dalam sebuah ruangan.
Elang yang terkejut itu pun langsung bertanya, “Daiva, apa yang sedang kamu lakukan?”
Daiva melongok ke arah luar pintu dan ketika dia merasa keadaan sudah aman, dia lalu menutup pintu itu.
Selanjutnya wanita itu menoleh ke arah Elang dan bertanya, “Kenapa kamu bisa ada di sini, Elang?”
Elang merasa aneh dengan sikap Daiva tetapi dengan santai dia pun menjawab, “Aku dirawat di rumah sakit ini.”
Daiva membelalakkan matanya, “Kamu dirawat … di sini? Kamu sakit?”
“Bukankah kamu baik-baik saja ketika makan malam denganku semalam?” Daiva bertanya dengan alis mengerut.
Elang menggelengkan kepalanya, “Ada sesuatu yang terjadi denganku.”
Pria itu pun menjelaskan bagaimana dia diculik oleh orang-orang yang tidak dia kenal dan berakhir dipukuli serta disiksa dengan cara yang mengerikan.
“Dia seperti sangat cemburu. Apa … orang itu mungkin kekasihmu?”
Sarah senang sekali karena Elang ternyata masih muda untuk dimanipulasi. Dia pun yakin kali ini dia juga akan berhasil membuat Elang masuk ke dalam perangkapnya. Gadis itu pun tersenyum manis dan bertanya, “Besok malam Bryan mengajakku untuk makan malam di Hotel Sky Line. Kamu tahu kan … itu restoran paling mahal dan juga terkenal di kota ini.”Lora yang sedikit agak penasaran itu pun menaikkan alisnya, tapi dia tidak menanggapi apapun. “Aku tahu. Lalu kenapa?” Elang bertanya lagi. “Yah … bagaimana jika kalian juga ikut menikmati makan malam di sana seperti kami?” Sarah bertanya sembari menatap lurus-lurus ke arah Elang.Elang terdiam selama beberapa saat. Dia pikir setelah dia membuat Sarah melihat bagaimana dirinya sekarang yang jauh berbeda dari dirinya yang dulu itu akan membuat Sarah langsung mengerti. Sayangnya, yang terjadi tidaklah seperti itu. Sarah malah terlihat tertarik kepada kehidupannya seperti caranya yang satu ini. Jelas Sarah ingin tahu bagaimana dirinya lebih
Di dalam hati, jelas Sarah sudah begitu sangat tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya.Dia benar-benar ingin membuat Elang dan kekasihnya yang cantik tapi begitu menjengkelkan itu ternganga atas kekayaannya dimiliki oleh Bryan.Jelas dia sangat yakin bila Bryan Milan lebih kaya dari Elang Viscala. Sebab Bryan telah menjanjikan dirinya untuk membeli tiga buah gedung sekaligus. Sementara Elang hanya mampu membeli dua gedung saja sehingga pemenang dari dua orang itu telah jelas, yakni Bryan. “Sayang, mengapa kamu hanya diam saja? Apa … urusan kantormu belum selesai jadi kamu belum bisa ke sini?” Sarah bertanya dengan nada cemas. Dari seberang sana akhirnya Bryan menjawab, “Sarah, aku minta maaf. Aku … sepertinya harus menunda untuk membeli gedung itu.”Awalnya Sarah malah terkikik geli mendengar ucapan sang kekasih, “Sayang, kamu sedang bercanda ya? Atau … kamu sedang merencanakan sebuah kejutan untukku jadinya kamu bilang seperti itu? Begitu ya?”Sarah kembali tertawa kecil seray
Sarah malah tertawa menanggapi ucapan Lora.“Nona, sekarang aku tahu. Kau … itu sedang cemburu kepadaku.”Lora melongo kaget, “A-apa?”Tentu saja wanita itu terkejut dengan apa yang dipikirkan Sarah.“Tu-tunggu dulu, Nona. Bagaimana bisa kau mengira aku cemburu?” Lora kembali menyatakan kebingungannya.Sementara Elang yang sedari tadi hanya memperhatikan kedua wanita itu berbicara pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Wanita memang selalu membuat bingung, Elang membatin.“Ya tentu saja begitu. Kau … pasti tertarik kepada kekasihku yang tampan dan kaya itu kan? Jadi … kamu membuatku ragu terhadap kekasihku sendiri agar kamu nantinya bisa mendekatinya. Iya kan?” tuduh Sarah.Lora tercengang sampai dia kehilangan kata-kata selama beberapa detik lamanya. Sungguh ia tidak pernah menyangka bila mantan kekasih bos barunya itu benar-benar luar biasa percaya diri. Sarah bahkan berkata seolah-olah dirinya sedang menggoda Bryan dan mencoba untuk membuat mereka putus. “Sudahlah, Nona. Aku t
Elang tidak menjawab dan malah menatap ekspresi dari sang agen yang sedang menatapnya dengan ragu-ragu itu. “Kau tidak percaya kalau aku bisa membelinya ya?” Elang bertanya dengan nada santai, sama sekali tidak terlihat tersinggung.Leonardo seketika menjawab dengan terbata-bata, “Bu-bukan seperti itu, Tuan. Saya hanya … sangat terkejut karena ….”Dia menelan ludah dengan susah payah karena tiba-tiba saja dia khawatir bila Elang akan batal membeli dua gedung mewah itu karena kecurigaannya yang bodoh itu.Maka, staf agen yang masih begitu muda itu pun berkata pelan, “Saya siapkan semua dokumennya sekarang, Tuan. Mohon tunggu sekitar 30 menit.”“Lima belas menit,” ucap Elang yang terlihat tergesa-gesa. Leonardo terbelalak kaget. Melihat wajah terkejut Leonardo, Elang berbicara lagi, “Jika kau bisa menyelesaikannya dalam waktu 15 menit, maka aku akan memberimu tip sebanyak 2 persen dari harga dua gedung itu.”Leonardo ternganga. “A-anda serius, Tuan?”“Aku tidak pernah bermain-main de
Leonardo benar-benar tidak mengerti.Dia begitu sangat heran mengapa wanita cantik seperti Lora mau menjadi kekasih seorang pemuda miskin itu.Namun, dari perkataan Lora, dia jelas tidak mungkin salah bila pemuda itu sungguh-sungguh ingin membeli salah satu gedung di Green Rose.Akan tetapi, sebuah pertanyaan pun langsung timbul di benaknya.Apa benar dia memiliki uang? Atau jangan-jangan wanita cantik ini ditipu oleh pria ini? pikir Leonardo.Oh, Leonardo benar-benar bingung sekarang.Tapi, tiba-tiba saja dia teringat akan perkataan seseorang yang cukup dia kenal.Seorang manajer senior berpesan kepadanya untuk tidak melihat seseorang dari penampilan luarnya saja.Kadangkala penampilan luar itu bisa sangat menipu.Ada banyak orang yang terlihat begitu keren dari penampilan luarnya dan bahkan terbilang memiliki aura kuat serta didukung dengan semua pakaian branded.Tapi, penampilan luar itu
Sarah hanya termangu, terlalu bingung menanggapi ucapan Lora.Gadis muda itu pun mencoba untuk memproses semua hal yang baru saja terjadi.Pertama-tama tadi dia melihat mantan kekasihnya yang tiba-tiba saja ada di kawasan elit yang di dalamnya terdapat gedung-gedung dengan harga yang begitu mahal hingga membuatnya sakit perut saat memikirkan harganya.Selanjutnya dia juga melihat mantan kekasihnya yang dulunya dia tahu adalah seorang pria muda miskin yang tidak memiliki apapun kini malah memiliki seorang gadis cantik di sampingnya.Gadis itu pun juga sangat elegan dan bahkan dia harus mengakui bahwa dia jauh lebih cantik daripada dirinya.Selain itu, Elang Viscala bahkan mengatakan pada dirinya ingin membeli sebuah gedung mewah di Green Rose itu.Tidak hanya sampai di situ saja, Elang juga bahkan mentraktir dirinya makan di sebuah restoran yang ketika dia melihat harga menunya saja dia hanya bisa melotot kaget.&







