Share

Bab 9: Neraka awal

Penulis: Ghazala Rizu
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-04 08:41:19

Lara ingat benar, saat ia menjadi Adel dulu, ia juga pernah merasa selelah ini.

Bukan bukan karena pekerjaan atau pulang terlambat karena terjebak macet bukan. Tapi karena ia seharian menjadi bride's maid pada acara nikahan kakak tirinya. Adel yang introvert, yang perlu ber'gua' selama sehari penuh setelah 6 hari kerja itu benar-benar merasa energinya habis terkuras.

Mirip seperti sekarang ini.

Sepulangnya ia dari pesta -yang kata paduka itu kecil- ia langsung merebahkan diri di kasur besarnya. Lara menghela nafas dalam-dalam, memejamkan matanya. Mengingatkan dirinya kalau ini baru hari pertama kehidupan resminya sebagai putri Elara Sinclair. Lara meringis membayangkan bagaimana nasib ia di hari-hari selanjutnya.

Baru saja ia memejamkan matanya, suara ketukan pintu terdengar.

"Putri, yang mulia permaisuri ingin berkunjung."

sialan. runtuknya dalam hati. Rasa-rasanya Lara ingin mengunci pintu kamarnya, menyumpal telinganya, tidak peduli siapa yang berdiri di depan pintu kamarnya. Ia hanya ingin tidur sekarang!

Tapi Lara tidak mau mati terlalu awal dalam cerita ini. Tidak lucu jika sang permaisuri malah naik pitam dan membunuhnya karena ia membangkang bukan?

Dengan langkah gontai, lara membuka pintu kamarnya. Sang permaisuri dengan rambut pirang dan mata selegam malam berjalan masuk. Dagunya sedikit terangkat, dan beliaupun langsung duduk di kursi tanpa menunggu Lara mempersilahkannya.

Dasar nenek lampir, makinya dalam hati.

Tenang lara, senyum. Senyum karirnya keluarin ayo! perintahnya dalam hati.

Tapi baru saja ia ingin tersenyum, tiba-tiba saja Lara merasakan nafasnya sesak bukan main. Dadanya sakit, sakit sekali.

"Hah, kau malah berakting lagi." Sahut sang permaisuri.

Lara yang masih berusaha menangkap oksigen dengan paru-parunya merasakan lututnya melemas. Ia jatuh berlutut, kepalanya mulai berkunang-kunang.

Ini, apakah ia akan mati sekarang? batinnya.

sesak, tolong aku. Lara berusaha berteriak, tapi tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya.

"Tuan Putri!" Cornell panik, ia berangsut mendekati Tuannya tapi pelayan sang permaisuri menahannya.

"Aku bahkan belum menyentuhnya sama sekali, tapi dia sudah kesulitan nafas seperti ikan terdampar di daratan." Sahut permaisuri, ada nada senang di dalamnya, "Biarkan dia seperti ini dulu, setengah menit tidak akan membuatnya mati, bukan?" tanyanya retoris. Tidak ada satupun pelayan yang berani menjawabnya. Mereka tahu betul bahwa sang putri bisa saja mati saat ini. Tapi mereka tidak mau melawan permaisuri.

Lara sudah kebas, ia sudah tidak bisa merasakan apapun. Dalam hatinya ia sangat yakin kalau dia akan mati saat ini juga. mati lagi. Bibirnya sudah membiru, tapi beberapa detik sebelum Lara memejamkan mata, ia merasakan tangan Cornell yang kasar itu memegang kepala dan menahan bahunya.

"Minum ini putri, tolong."

Entah bagaimana atau apa yang ia minum saat ini, tapi Lara bisa merasakan tubuhnya menghangat dan nafasnya kembali lagi perlahan. Tangannya mencengkram Cornell dan menangis terisak. Benar-benar menangis, meraung.

Permaisuri di hadapannya malah tertawa terbahak-bahak, " Sebegitu takutnya kamu padaku, hm tuan putri?" Wanita paruh baya yang luar biasa anggun itu melipat kakinya. Tangannya menyentuh dagunya, membuat pose berpikir, "Aku cukup terhibur, tapi rasanya aku kurang puas." Permaisuri mendekat dan menjambak rambut Lara. Lara memekik tertahan, "Lihat aku."

Bukannya tatapan ketakutan yang ia dapatkan, tapi malah tatapan marah. Alis permaisuri terangkat, tidak pernah seumur hidupnya ia mendapatkan tatapan seperti itu. Bahkan dari Luiz dan Lioren, anak-anak kandungnya sekalipun.

Maka wanita paruh baya itupun mempererat jambakannya, "Apa? kau mau melawanku? Gadis tak tahu diri." Permaisuri menghempaskan rambut Lara sekaligus hingga gadis itu tersungkur. "Melihatku saja kau sampai sesak nafas, bagaimana bisa kau melawanku? harusnya kau bersyukur aku membiarkanmu bernafas lebih lama dari ibumu."

"Anak bajingan."

DEG. Lara bergetar mendengarnya. Tangannya mulai tremor, punggungnya terasa dingin dan ia mulai berkeringat dingin. Lara melihat kedua tangannya yang bergetar. Kenapa? kenapa lagi dengan tubuh ini? batinnya berteriak bingung. Dan ia teringat bahwa frasa 'anak bajingan' pernah ia dengar sebelumnya, di mimpi tentang memori Elara.

Lara berusaha mengepalkan tangannya yang bergetar.

"Sudah puas, yang mulia? silahkan pergi." Ujar Lara disela-sela nafasnya yang lemah. Baik Cornell maupun pelayan sang permaisuri yang ia tak tahu namanya itu melotot kaget. Sama-sekali tidak menyangka bahwa sang putri masih sanggup melawan padahal tadi ia nyaris mati.

"KAU!" Tangan permaisuri sudah melayang, Lara memejamkan matanya bersiap mendapatkan tamparan, namun tidak ada. Ia membuka tangannya dan melihat sang pelayan menahan tangan permaisuri.

"Jangan yang mulia, luka itu akan terlihat. Bisa jadi besok paduka mengunjungi putri dan itu akan menjadi masalah besar." Ujar sang pelayan tenang. Seolah ia sudah sangat-sangat terbiasa dengan tindakan permaisuri yang seperti itu.

"Ck, " permaisuri berdecak kesal, "Mana jarumku? "

"Yang mulia, paduka masih ada di ista-"

"Aku tak peduli, cepat berikan padaku! "

Lara membelalakkan matanya, Cornell hanya diam, matanya sudah berkaca-kaca.

Disinilah neraka awal dimulai

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   Bab 15 : Izin

    Setelah perdebatan alot antara mereka , Lara dan Kael, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk bertemu dengan yang mulia paduka sore ini. Berdua. Kenapa? Karena Lara terlalu takut untuk menemui paduka sendiri. Pertama karena ingatan Elara tentang paduka itu hanya sedikit, dan kedua, ia takut apa yang dilakukanya bisa memancing kemarahan permaisuri. Hal itu jelas akan sangat menyulitkan dirinya sendiri. Selain itu, Kael akan bertugas menjadi orang yang menemani Lara nanti ke pasar, jadi lara rasa kael harus, wajib, wajib sekali ikut dalam misinya meminta izin paduka. "Jadi apa yang membuat kalian berdua mengunjungiku?" tanya paduka pada mereka berdua. Lara yang hanya melirik Kael dengan ujung matanya hanya diam,seolah meminta Kael yang berbicara saja. 'Untuk merayakan kesembuhannya, Putri Elara ingin berjalan-jalan keluar istana, tuan. Ia ingin berkeliling ke pasar.' Ucap Kael tenang. Arkael terlalu sering berurusan dengan tetuanya di menara, jadi ia terbiasa untuk menutup kegugupan

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   Bab 14: Daftar keinginan Lara

    Setelah Cornell pergi dari kamarnya, Lara teringat lagi dengan list yang akan dia buat. gadis itu menyiapkan pensil dan buku catatanya, Lalu menulis: 'daftar keinginanku' diatasnya. 1. Jalan-jalan ke pasar. 2. Coba buat macaroon 3. Berjalan-jalan keliling istana tanpa rasa takut 4. Hidup menua disini. Lara termenung saat menuliskan keinginan keempatnya. Hidup menua ditempat ini seolah menjadi awal misinya saat ia hidup kembali di dunia ini. Dunia fiksi dimana ia seharusnya sudah mati di awal kehidupan. Harusnya, Putri Elara tidak pernah terbangun dalam koma dan mati saat itu. lalu kematiannya berubah menjadi katalis dalam cerita ini. Jika ia mati, maka Lioren akan memberontak dan melawan sang permaisuri. Luca akan tergeser kedudukannya dan digantikan oleh Lioren sebagai ratu di negara ini. Di cerita aslinya, Lioren akan menghukum semua orang yang menyebabkan kematian Elara, kecuali ibunya. Sang Permaisuri akan diturunkan dari kedudukannya dan dipulangkan ke kampung

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   Bab 13: Ketakutan Elara

    Buat saja daftarnya. Itu kata Kael. Dan dengan santainya Lara mengikuti perkataan pria itu. ya, meskipun jauh di dalam lubuk hatinya terbersit sedikit rasa pesimis, tapi ia tetap senang. Setidaknya di dunia ini ada yang mau mendengarkan keinginan-keinginan bodohnya tanpa menghakiminya. 'Aku juga pernah membuat daftar keinginanku, dulu...' lirih Lara dalam hati. Tapi bukunya dibaca oleh adiknya, lalu ia perlihatkan catatan itu pada ayahnya. Dan ayahnya hanya tertawa tanpa berkata apapun. Dulu, gadis itu masih kelas 10 SMA. masih banyak mimpi-mimpi yang ada di benaknya. Ia masih memiliki rasa optimis saat itu. Kalimat 'Kau akan mencapainya kalau bekerja keras' itu benar-benar ia yakini. Tapi semuanya berubah saat ibundanya tiada. Ayah ketagihan Judi, membuatnya terlilit dalam hutang yang tak kunjung lunas. Adiknya bekerja, tapi adik semata wayangnya itu, yang ia harap bisa sedikit membantunya itu malah memutuskan hubungannya dengan keluarga. Entah apa yang dipikirkannya, t

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   Bab 12: kamu harus tahu

    Lara terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering. Suara batuknya cukup keras membuat Kael yang sedari tadi menunggunya bangun di kursi dekat ranjangnya berinsiatif memberinya minum. Tanpa banyak berkata Lara langsung duduk di bagian headboard kasurnya dan minum. "Terimakasih," ujarnya pelan. Entah kenapa suaranya terasa menghilang. Memelan, dan rasanya sakit sekali. "Jangan banyak bicara dulu. Chakra di sekitar tenggorokanmu tidak stabil." Kael menyimpan gelas Lara di meja di samping kasurnya, "Aku sudah meminta dokter kerajaan untuk membuatkan vitamin supaya imunmu membaik." Lara hanya mengangguk pelan. ia sama sekali tidak mengerti dengan sistem dunia ini bekerja. Apa itu chakra? kenapa istana ini punya dokter dan penyihir juga? apa memang lumrah di dunia ini untuk percaya pada penyihir? pikirnya. karena terlalu sakit untuk bicara, Lara mengambil pensil dan buku tulis dari lacinya lalu menulis beberapa kalimat yang sangat ingin ia tanyakan pada si penyihir men

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   Bab 11: Tentang putri Elara

    "Sebenarnya permaisuri memang selalu mengunjungi kami, tuan." Arkael masih diam. Menunggu Cornell berbicara lebih banyak lagi. "Sejak Putri masih kecil, permaisuri kerap datang kesini hanya untuk menyiksa ibunya. Putri Cecilia." Cornell menghela nafas, tiba-tiba ia mengingat mendiang Cecilia, "Sepertinya permaisuri menyimpan dendam pada Putri Cecilia. Entah apa, tapi beliau tidak bisa benar-benar membunuhnya." "Lalu?" "Tapi perlahan kesehatan beliau terus menurun dan akhirnya meninggal dunia." Kael diam mendengar itu. Tidak mungkin seluruh proses penyiksaan itu tidak berefek untuk Elara. Kael masih diam menunggu Cornell berbicara lagi. Namun otaknya masih tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana trauma yang dialami putri Elara. "Aku yakin putri pasti mengalami trauma karenanya," Sahut Kael. "Betul tuan, Putri selalu meminum obat agar tidak sesak nafas jika ia mau bertemu permaisuri. Nafasnya menjadi pendek tiap kali putri melihat permaisuri." "Apakah ada hal lain sela

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   Bab 10: Kenapa?

    Lara bangun dengan posisi tengkurap. Punggungnya sakit karena beberapa tusukan jarum dan rasanya ia terlalu lelah untuk sekedar menangis. Jadi begini rasanya jadi tokoh yang disiksa di sinetron-sinetron itu? pikirnya. Lara berpikir, bagaimana dulu Elara hidup ya... apakah ia akan menangis di pagi harinya, atau berakhir mengisolasi diri seperti yang selalu ia lakukan (sebagai Elara). kalau Lara ... ia marah. Ia tak terima diperlakukan seperti ini. Tapi jelas tidak mungkin untuk langsung mendatangi permaisuri dan menamparnya. Ya kalau begitu ceritanya hidupnya akan tamat dan novel ini akan berjalan sesuai alur lamanya. Tapi sekarang 'kan Adelia - yang ada di dalam tubuh Elara, ini sangat sekali ingin hidup. Adelia - yang mendeklarasikan dirinya sebagai Lara- ini hanya terdiam sambil menunggu obat yang akan di bawakan oleh Cornell. Punggungnya sakit, tentu saja. Tapi hatinya tidak sesedih itu untuk menangis. Entah karena ia sudah tahu bahwa ia akan disiksa cepat atau lambat, atau h

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status