Beranda / Fantasi / Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka / Bab 8: Hanya peduli dan kasihan

Share

Bab 8: Hanya peduli dan kasihan

Penulis: Ghazala Rizu
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-03 20:21:38

Lara menunggu Lioren dan Kael sambil melihat-lihat makanan yang ada di pesta ini. matanya berbinar saat melihat macaroon dan pudding custard di bagian dessert.

"Semuanya, terimakasih telah menghadiri pesta ini, " Paduka secara tiba-tiba berkata, "mungkin beberapa dari kalian heran, untuk apa pesta ini? Hari ini bukan ulang tahunku maupun permaisuri, " Paduka tersenyum, ada kebanggaan tercermin di senyumnya. Lara berpikir, setampan apa paduka saat muda, jika di usia tua pun beliau masih bisa memancarkan senyuman semenawan ini. "Aku secara personal mengadakan pesta ini untuk kesembuhan salah satu putri tercintaku yang seperti kalian tahu, ia mengalami koma beberapa waktu yang lalu." Lara tersentak kaget, jangan bilang dia... dia yang akan disoraki dengan gembira. Tidak, tolong, ia tidak butuh spotlight, dia hanya ingin hidup damai di kehidupan ini...

"Semuanya tepuk tangan untuk putriku, Elara Sinclair!" Semua pasang mata, benar-benar semua orang di ruangan ini, melihat Lara yang sedang berdiri tempat disamping stand pudding curstard sambil bertepuk tangan. Beberapa ada yang tersenyum, beberapa ada yang heran. Mungkin baru kali ini mereka melihat sosok Elara Sinclair dengan jelas, setelah selama ini mereka hanya mendengar dari rumor saja.

Lara yang bahkan di kehidupan sebelumnya sebagai Adelia pun tidak pernah mendapatkan perhatian sebesar ini, tidak sanggup menutupi kegugupannya. Dengan canggung ia tersenyum dan sedikit dadah-dadah lalu membungkuk sedikit. Dalam hati dia meruntuk kenapa tadi pake dadah-dadah segala ?! tapi ya mau bagaimana lagi. Sekarang Lara hanya bisa bernafas pelan dengan muka semerah tomat.

Sekilas ia bisa melihat beberapa lady menutup mukanya dengan kipas. Mungkin mereka menertawainya ataupun sedikit menggosipkan apa yang tadi baru saja mereka lihat. Lara sadar betul bahwa responnya tadi tidak mencerminkan putri kerajaan yang sudah dididik dengan tata cara kerajaan seumur hidupnya.

"Kemarilah nak," Panggil ayahnya, sang paduka. Dada Lara tiba-tiba sakit. Ada perih yang rasanya sulit dideskripsikan yang ia rasakan. Bukan, bukan sakit seperti sesak atau apa ... tapi seperti rasa yang ... kalau saja. kalau saja ayahku dulu bisa memanggilku selembut itu. Mungkin aku tidak akan berakhir di tempat yang tidak pernah aku kenali selama ini.

Lara mengenyampingkan rasa sakitnya, lalu maju ke depan menghampiri ayahnya. Beliau memegang kedua tangan Lara, seolah tangannya itu terbuat dari es tipis yang sewaktu-waktu bisa meleleh hanya karena tangannya.

"Terimakasih sudah bangun, nak. Mulai sekarang, hiduplah dengan baik."

Dan Lara tidak sanggup menahan lelehan air matanya. Ia terisak pelan, membuat raut paduka sedikit panik.

"Kenapa? apa ada yang sakit?"

"Tidak, yang mulia..."

"Syukurlah." Paduka menepuk kedua bahunya, seolah mengatakan 'berhentilah menangis, kau akan baik-baik saja selama ada ayah.'

"Nikmatilah makananmu Elara." Lanjutnya, " Ayah tidak pernah tahu makanan favoritmu. Tapi Cornell bilang beberapa hari ini kau banyak makan macaroon dan meminta dibuatkan custard pudding."

Lara hanya menangguk, tanpa menyadari semua orang di sekitar sana membeku.

Sang paduka raja memanggil dirinya sendiri dengan sebutan ayah di depan umum. Selama ini, beliau selalu memarahi anak-anaknya yang memanggilnya ayah jika sedang di dalam suatu pertemuan atau di tempat yang ada banyak orang. Tapi untuk Lara, paduka berbeda. Jangan tanya siapa yang cemburu disini. Bukan hanya permaisuri, tapi Putra mahkota Luiz dan Putri Lioren pun merasakan cemburu. Selama ini mereka berdua yang lebih sering berada di samping ayahandanya, kenapa anak itu yang diistimewakan?

Kael melihat mereka semua dari jauh. Matanya mengamati dibalik bingkai kacamata bulatnya. Ia menggoyang-goyangkan gelas wine yang ia pegang.

'Mata mereka semua seperti ingin membunuh putri elara, ' batinnya, 'Padahal tidak usah dibunuh pun ia akan mati sebentar lagi, gadis yang malang. 'Kael menyesap winenya perlahan dengan mata yang tidak lepas dari Elara yang terlihat aneh. Caranya menatap sang paduka terlihat seperti kagum, mendamba. Seolah sosok paduka yang ia tahu selama ini berbeda dengan yang gadis itu temui hari ini. 'Ah, mungkin hanya perasaanku saja,' Batin Kael menyangkal. 

Pria itu merasa kehadirannya sudah tidak diperlukan lagi di pesta ini. Oleh karena itu, ia pergi meninggalkan ballroom yang megah itu. Namun sosok Elara belum bisa hilang dari pikirannya. Ia masih penasaran, bagaimana orang dengan chakra selemah itu masih bisa hidup seolah ia tidak apa-apa? 

Kalaupun gadis itu hanya berpura-pura sehat, rasanya tidak mungkin. Normalnya, manusia dengan chakra sekecil itu mau berdiripun tidak bisa. 

Sesampainya Kael di rumahnya, ia langsung berlari ke perpustakaan milik ayahnya. Kael meyakinkan diri bahwa ia hanya penasaran. Penasaran akan bagaimana cara tubuh gadis itu bekerja. Dalam hatinya, Kael merasa sangat aneh. Ia tidak pernah seperduli ini pada manusia yang baru ia kenal tidak lebih dari sehari. Tapi bayangan sosok Elara Sinclair ini tidak bisa enyah begitu saja. 

Mungkin ini hanya rasa peduli dan kasihan. Batin Kael. 

Dan pria yang berpikir bahwa ini hanya peduli dan kasihan itu menghabiskan malamnya dengan tumpukan buku di perpustakaan. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   Bab 15 : Izin

    Setelah perdebatan alot antara mereka , Lara dan Kael, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk bertemu dengan yang mulia paduka sore ini. Berdua. Kenapa? Karena Lara terlalu takut untuk menemui paduka sendiri. Pertama karena ingatan Elara tentang paduka itu hanya sedikit, dan kedua, ia takut apa yang dilakukanya bisa memancing kemarahan permaisuri. Hal itu jelas akan sangat menyulitkan dirinya sendiri. Selain itu, Kael akan bertugas menjadi orang yang menemani Lara nanti ke pasar, jadi lara rasa kael harus, wajib, wajib sekali ikut dalam misinya meminta izin paduka. "Jadi apa yang membuat kalian berdua mengunjungiku?" tanya paduka pada mereka berdua. Lara yang hanya melirik Kael dengan ujung matanya hanya diam,seolah meminta Kael yang berbicara saja. 'Untuk merayakan kesembuhannya, Putri Elara ingin berjalan-jalan keluar istana, tuan. Ia ingin berkeliling ke pasar.' Ucap Kael tenang. Arkael terlalu sering berurusan dengan tetuanya di menara, jadi ia terbiasa untuk menutup kegugupan

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   Bab 14: Daftar keinginan Lara

    Setelah Cornell pergi dari kamarnya, Lara teringat lagi dengan list yang akan dia buat. gadis itu menyiapkan pensil dan buku catatanya, Lalu menulis: 'daftar keinginanku' diatasnya. 1. Jalan-jalan ke pasar. 2. Coba buat macaroon 3. Berjalan-jalan keliling istana tanpa rasa takut 4. Hidup menua disini. Lara termenung saat menuliskan keinginan keempatnya. Hidup menua ditempat ini seolah menjadi awal misinya saat ia hidup kembali di dunia ini. Dunia fiksi dimana ia seharusnya sudah mati di awal kehidupan. Harusnya, Putri Elara tidak pernah terbangun dalam koma dan mati saat itu. lalu kematiannya berubah menjadi katalis dalam cerita ini. Jika ia mati, maka Lioren akan memberontak dan melawan sang permaisuri. Luca akan tergeser kedudukannya dan digantikan oleh Lioren sebagai ratu di negara ini. Di cerita aslinya, Lioren akan menghukum semua orang yang menyebabkan kematian Elara, kecuali ibunya. Sang Permaisuri akan diturunkan dari kedudukannya dan dipulangkan ke kampung

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   Bab 13: Ketakutan Elara

    Buat saja daftarnya. Itu kata Kael. Dan dengan santainya Lara mengikuti perkataan pria itu. ya, meskipun jauh di dalam lubuk hatinya terbersit sedikit rasa pesimis, tapi ia tetap senang. Setidaknya di dunia ini ada yang mau mendengarkan keinginan-keinginan bodohnya tanpa menghakiminya. 'Aku juga pernah membuat daftar keinginanku, dulu...' lirih Lara dalam hati. Tapi bukunya dibaca oleh adiknya, lalu ia perlihatkan catatan itu pada ayahnya. Dan ayahnya hanya tertawa tanpa berkata apapun. Dulu, gadis itu masih kelas 10 SMA. masih banyak mimpi-mimpi yang ada di benaknya. Ia masih memiliki rasa optimis saat itu. Kalimat 'Kau akan mencapainya kalau bekerja keras' itu benar-benar ia yakini. Tapi semuanya berubah saat ibundanya tiada. Ayah ketagihan Judi, membuatnya terlilit dalam hutang yang tak kunjung lunas. Adiknya bekerja, tapi adik semata wayangnya itu, yang ia harap bisa sedikit membantunya itu malah memutuskan hubungannya dengan keluarga. Entah apa yang dipikirkannya, t

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   Bab 12: kamu harus tahu

    Lara terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering. Suara batuknya cukup keras membuat Kael yang sedari tadi menunggunya bangun di kursi dekat ranjangnya berinsiatif memberinya minum. Tanpa banyak berkata Lara langsung duduk di bagian headboard kasurnya dan minum. "Terimakasih," ujarnya pelan. Entah kenapa suaranya terasa menghilang. Memelan, dan rasanya sakit sekali. "Jangan banyak bicara dulu. Chakra di sekitar tenggorokanmu tidak stabil." Kael menyimpan gelas Lara di meja di samping kasurnya, "Aku sudah meminta dokter kerajaan untuk membuatkan vitamin supaya imunmu membaik." Lara hanya mengangguk pelan. ia sama sekali tidak mengerti dengan sistem dunia ini bekerja. Apa itu chakra? kenapa istana ini punya dokter dan penyihir juga? apa memang lumrah di dunia ini untuk percaya pada penyihir? pikirnya. karena terlalu sakit untuk bicara, Lara mengambil pensil dan buku tulis dari lacinya lalu menulis beberapa kalimat yang sangat ingin ia tanyakan pada si penyihir men

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   Bab 11: Tentang putri Elara

    "Sebenarnya permaisuri memang selalu mengunjungi kami, tuan." Arkael masih diam. Menunggu Cornell berbicara lebih banyak lagi. "Sejak Putri masih kecil, permaisuri kerap datang kesini hanya untuk menyiksa ibunya. Putri Cecilia." Cornell menghela nafas, tiba-tiba ia mengingat mendiang Cecilia, "Sepertinya permaisuri menyimpan dendam pada Putri Cecilia. Entah apa, tapi beliau tidak bisa benar-benar membunuhnya." "Lalu?" "Tapi perlahan kesehatan beliau terus menurun dan akhirnya meninggal dunia." Kael diam mendengar itu. Tidak mungkin seluruh proses penyiksaan itu tidak berefek untuk Elara. Kael masih diam menunggu Cornell berbicara lagi. Namun otaknya masih tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana trauma yang dialami putri Elara. "Aku yakin putri pasti mengalami trauma karenanya," Sahut Kael. "Betul tuan, Putri selalu meminum obat agar tidak sesak nafas jika ia mau bertemu permaisuri. Nafasnya menjadi pendek tiap kali putri melihat permaisuri." "Apakah ada hal lain sela

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   Bab 10: Kenapa?

    Lara bangun dengan posisi tengkurap. Punggungnya sakit karena beberapa tusukan jarum dan rasanya ia terlalu lelah untuk sekedar menangis. Jadi begini rasanya jadi tokoh yang disiksa di sinetron-sinetron itu? pikirnya. Lara berpikir, bagaimana dulu Elara hidup ya... apakah ia akan menangis di pagi harinya, atau berakhir mengisolasi diri seperti yang selalu ia lakukan (sebagai Elara). kalau Lara ... ia marah. Ia tak terima diperlakukan seperti ini. Tapi jelas tidak mungkin untuk langsung mendatangi permaisuri dan menamparnya. Ya kalau begitu ceritanya hidupnya akan tamat dan novel ini akan berjalan sesuai alur lamanya. Tapi sekarang 'kan Adelia - yang ada di dalam tubuh Elara, ini sangat sekali ingin hidup. Adelia - yang mendeklarasikan dirinya sebagai Lara- ini hanya terdiam sambil menunggu obat yang akan di bawakan oleh Cornell. Punggungnya sakit, tentu saja. Tapi hatinya tidak sesedih itu untuk menangis. Entah karena ia sudah tahu bahwa ia akan disiksa cepat atau lambat, atau h

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status