LOGINAku masuk ke dalam sebuah novel romance dan menjadi tunangan dari tokoh utamanya. Sosok yang kini kuperankan bernama Alea, seorang wanita pendiam yang sejak kecil diadopsi bukan karena kasih sayang, tapi hanya untuk dijual kepada keluarga Keenan, sang tokoh utama. Kehadirannya tidak pernah dianggap. Di dalam keluarganya, Alea selalu dikucilkan, diperlakukan seperti alat, bukan manusia. Dia tumbuh tanpa cinta, tanpa perlindungan, hanya ada dinginnya pengabaian dan tuntutan. Dan sekarang, aku berada di tubuh Alea itu. Menjadi dia. Di akhir cerita, Alea akan dibuang oleh keluarganya karena gagal menikahi Keenan. Dan Keenan-dia bahkan tak pernah menginginkan Alea sejak awal. dan aku tidak ingin hidup seperti itu.
View MoreDi sisi lain rumah Alvarez, langkah Luna terhenti tepat di depan kamar kecil yang selama ini menjadi tempatnya berteduh. Pintu itu masih terbuka. Kasur rapi, Lemari setengah kosong. Seolah rumah itu memang sudah lama bersiap menyingkirkannya. Luna berdiri kaku beberapa detik, lalu perlahan menutup pintu. Bunyi klik terdengar pelan terlalu pelan untuk amarah yang bergejolak di dadanya. Tangannya mengepal. "Tenang, jangan sekarang," bisiknya pada diri sendiri. Ia menunduk, napasnya berat. Dadanya naik turun, bukan karena sedih semata, tapi karena kemarahan yang di paksa untuk di telan mentah mentah. Bertahun tahun. Ia tinggal di rumah ini bukan sebagai tamu, bukan pula sebagai keluarga. Ia bekerja, mengabdi, menyesuaikan diri. Menyingkirkan perasaan, menutup harapan, menerima tatapan orang orang yang selalu setengah curiga. Dan pada akhirnya Ia tetap dianggap orang luar. Luna tertawa kecil, pahit. "Jadi begini caranya," gumamnya. "Begitu ada calon nyonya, aku
"Terserah…" ucap Keenan akhirnya. "Saya mengerti, Nyonya, Besok saya akan membereskan barang barang saya" ujar Luna dengan nada tenang, meski jelas ada luka yang di sembunyikan. "Baguslah kalau kamu bisa memahami, Luna. Saya akui kamu gadis yang gigih dan cerdas, Di masa depan nanti, saya yakin akan membutuhkanmu" kata Nyonya Alvarez. "Terima kasih, Nyonya," balas Luna pelan. Luna bangkit dari duduknya dan melangkah pergi, Tak lama kemudian, Nyonya Alvarez pun menyusul. "Nikmati waktu kalian, ibu ke kamar dulu" ucapnya sebelum menghilang di balik pintu. Alea dan Keenan mengangguk bersamaan. Beberapa saat setelah Nyonya Alvarez pergi, Alea menatap Keenan dengan raut ragu. "Memangnya tidak apa apa Luna pergi?" tanyanya pelan. "Bukankah dia sudah lama tinggal di sini?" "Tidak apa apa," jawab Keenan singkat. "kenapa malah kamu yang khawatir?" "Lalu, bagaimana dengan mu?"Alea kembali bertanya. "Aku?" Keenan menoleh. "Kamu tidak keberatan?" "Tentu saja tidak, Kami
"kakak... "kakak selalu menghindar terus dengan pergi pergi dari rumah, karna kakak gak bisa berbuat apa apa" "Alea, pergi dari sini, jangan ke sini lagi" *** Alea keluar dari kamar Reyhan dengan langkah pelan. Wajahnya pucat, matanya kosong, seolah pikirannya masih tertinggal di dalam ruangan itu. Baru beberapa langkah ia melangkah, Keenan sudah berdiri di hadapannya. "Kamu baik baik saja?" tanyanya pelan, suaranya penuh kekhawatiran. Alea tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Keenan sesaat, lalu menggeleng tipis. "Ayo, kita pulang," ujar Keenan akhirnya, tak ingin memaksanya bicara. Beberapa menit kemudian, Alea sudah duduk di atas motor Keenan. Mesin baru saja menyala ketika sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah. Pintu mobil terbuka, dan Dava keluar. Tatapannya tertuju lurus pada Alea, lekat, dingin, dan penuh makna yang tak terucap. Namun tak satu kata pun keluar. Tanpa menyapa, tanpa penjelasan, Dava justru membalikkan badan dan bergegas masuk ke da
Raisa duduk berdua dengan Luna. Sejak tadi, Luna lebih banyak diam, tatapannya kosong seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sikap itu membuat Raisa merasa resah. "Luna, kamu kenapa? Masih kepikiran omongan mereka, ya? Jangan dipikirin, Clarissa memang mulutnya kayak gitu jahat,"ucap Raisa, mencoba menenangkan. Luna menggeleng pelan. "Bukan kok, Aku bukan tipe orang yang kepikiran cuma karena omongan dangkal seperti itu" "Aku tahu kamu kuat, Luna," kata Raisa lembut. "Terus, kenapa kamu diam aja dari tadi?" Luna terdiam sejenak sebelum akhirnya berbicara. "Aku cuma heran, gimana bisa aku kalah sama Alea, Padahal aku udah belajar mati matian" Raisa terdiam sesaat, memperhatikan ekspresi Luna yang berubah samar. Ada sesuatu di balik nada suaranya barusan. "Bukan aku nggak terima kalah," lanjut Luna pelan. "Cuma, kadang aku mikir, di sekolah ini kan nggak semuanya murni soal usaha" Raisa menoleh. "Maksud kamu?" Luna tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai
Mobil Keenan melambat saat memasuki halaman rumah. Di bawah cahaya lampu teras, sebuah mobil hitam lain baru saja berhenti. Pintu pengemudinya terbuka lebih dulu, Tuan Alvarez turun tanpa menunggu, wajahnya kaku, jasnya belum sempat di rapikan. Beberapa detik kemudian, pintu di sisi penumpang
setelah dari balkon Alea di hampiri temannya Nayla dan Clarissa mereka minum dan tertawa bersama sampai akhirnya seorang pembawa acara naik ke podium. Inilah bab itu, batinnya. Bab di mana Luna akan bersinar. Alea berdiri di barisan tengah, jari jarinya dingin meski aula di penuhi kehangatan.
Di balkon, Alea berdiri sejajar dengan Dava. Dava menatapnya lama, tanpa sepatah kata pun, membiarkan keheningan menggantung berat di udara. Hingga akhirnya, Dava bersuara memecah sunyi yang sejak tadi menekan balkon itu. "Kamu berubah" ucap Dava pelan, nyaris tanpa emosi. "Dan perubahan
Alea mengetuk pintu kamar Nyonya Alvarez dengan lembut, baki teh di tangannya nyaris tak bersuara. Ia menunggu beberapa detik sebelum suara dari dalam menjawab, datar namun tegas. "Masuk" Kamar itu redup, hanya lampu meja di sisi ranjang yang menyala, Tirai setengah tertutup, menyisakan cahaya






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.