Share

Bab : 7 Melawan Biksu Tat Mo

Kening di wajah Yu Lai mengerut mendengar nama Ang-bit-sat-Sin ( Elmaut berwajah merah )

Kin Tho melesat ke tengah Bu-koan, setelah berdiri di sisi Kin Bwe, Kin Tho memberi hormat dan berkata.

“Taihiap! Aku adalah Kin Tho, Pangcu sungai panjang, jika Taihiap berkenan datang berkunjung ke perkumpulan ku, harap unjukan diri agar bisa bercakap-cakap karena di sini juga ada Yu Lai Taihiap serta Biksu Tat Mo.”

Kin Tho sengaja menyebut nama Yu Lai dan Biksu Tat Mo agar orang tersebut berpikir dua kali jika ingin berbuat onar di perkumpulannya.

Baru saja Kin Tho selesai bicara, satu bayangan bergerak melesat di atas para penonton.

Whut….tap!

Seorang pria dengan rambut ter urai panjang serta setengah wajahnya tertutup topeng dari kulit sudah berdiri di tengah Bu-koan.

Suara dingin terdengar dari mulut pria bertopeng, “maaf sudah mengganggu acara Pangcu Sungai Panjang.”

“Taihiap kenapa harus datang seperti ini? Kalau Taihiap datang secara baik-baik kami dari perkumpulan sungai panjang pasti akan menyambut kedatangan Taihiap,” balas Kin Tho.

“Maaf Pangcu! Tadi Aku lewat dan mendengar kalau perkumpulan Sungai panjang kedatangan tamu istimewa, aku penasaran seperti apa tamu istimewa itu, ternyata salah satu dari 4 rasul langit,” Elmaut berwajah merah yang tidak lain adalah Thian Sin membalas perkataan Kin Tho.

Yu Lai langsung berdiri dari kursinya mendengar perkataan Thian Sin dan bertanya.

“Maaf! Apa kita saling kenal?

“Aku tidak kenal dengan orang munafik, aku hanya ingin melihat wajah orang yang katanya tidak tertandingi di kolong langit,” jawab Thian Sin.

“Ayah! Biarkan Yu Kang memberi pelajaran kepada orang ini,” Yu Kang yang dari tadi kesal karena merasa terganggu ikut bicara.

Yu Lai walau hatinya panas mendengar perkataan Thian Sin, tetapi akhirnya anggukan kepala, ia tahu kapasitas dari Yu Kang, karena ia sendiri yang melatih sang putra, saat ini Yu Kang berusia 20 tahun, tetapi berkat gemblengan keras dari sang ayah, serta di bantu oleh obat-obat mukjizat, tenaga dalam Yu Kang seperti orang yang berlatih selama 50 tahun.

Yu Lai yakin putranya tidak akan kalah dari orang yang menyebut dirinya Elmaut berwajah merah.

Kali ini Yu Kang mencabut pedang setelah ayahnya memberi ijin.

Sring!

Tanpa banyak basa basi Yu Kang langsung melesat dan pedangnya menebas ke arah leher Thian Sin.

Thian Sin mundur selangkah menghindari serangan Yu Kang sambil bibirnya menyeringai, melihat serangan keji lawan.

Melihat serangannya berhasil di hindari, pedang Yu Kang bergerak turun dan balik menebas ke arah pinggang Thian Sin.

Thian Sin jejakan kaki ke lantai, tubuhnya bergerak naik menghindari tebasan Yu Kang.

Yu Kang semakin bernafsu melihat dua serangannya berhasil di hindari lawan, Yu Kang lompat dan menusuk dengan jurus Cian-Jiu-Ki kiam.

Thian Sin melihat pedang lawan lurus ke arah dada, tiga jari menekuk ke dalam dan dua jari lurus menunjuk ke arah pedang Yu Kang.

Shing!

Satu sinar kuning ke emasan melesat keluar dari jari Thian Sin dan langsung menghantam ujung pedang Yu Kang.

Trang!

Pedang Yu Kang hancur setelah terkena sinar ke emasan dari jari Thian Sin, Yu Kang terkejut dan jatuhkan diri lalu berguling menghindari sinar emas yang terus menuju ke arah bahunya.

Blar!

Lantai Bu koan berlubang terkena hantaman sinar ke emasan dari jari Thian Sin.

Para penonton terperangah melihat sinar ke emasan yang keluar dari jari Thian Sin, mereka kagum akan kehebatan jurus tersebut.

Biksu Tat Mo langsung berdiri melihat jurus yang di keluarkan oleh Thian Sin sambil menyebut nama jurus tersebut dalam hati.

“Hud lek Kim Kong Sin ci.”

Amitabha

“Yu Lai Taihiap! Suruh putramu mundur sebelum terlambat,” Biksu Tat Mo berkata.

Tanpa di beritahu, Yu Lai sudah yakin bahwa putranya bukan tandingan dari orang yang menyebut dirinya Elmaut berwajah merah.

Melihat Yu Kang sudah bangkit dan siap untuk menyerang, Yu Lai langsung bergerak.

“Mundur….dia bukan lawanmu!?” Teriak Yu Lai sambil melesat ke tengah arena di ikuti oleh Biksu Tat Mo.

Kedua pendekar yang namanya di segani di dunia persilatan sudah berdiri di depan Thian Sin, sedangkan Yu Kang sambil tundukan kepala akhirnya melangkah keluar dari Bu Koan.

Amitabha

“Tuan pendekar! Boleh pinceng bertanya sesuatu? Tanya Tat Mo sambil memberi hormat dengan satu telapak tangan berada di dada.

“Apa yang Biksu ingin tanyakan? Jawab Thian Sin.

“Darimana tuan pendekar mempelajari jurus sakti, Hud lek Kim Kong Sinci?

Yu Lai terkejut mendengar biksu Tat Mo menyebut nama Hud Lek Kim Kong Sinci, karena setahu Yu Lai, jurus sakti Buddha tersebut hanya di miliki oleh ketua Shaolin.

Bukan hanya Yu Lai, Thian Sin juga terkejut ketika sang biksu tahu jurus yang ia keluarkan.

Ha Ha Ha

“Banyak ilmu dan jurus di dunia persilatan ini, tidak hanya milik pendeta Shaolin,” Thian Sin menanggapi pertanyaan biksu Tat Mo.

“Benar juga! Jurus Hud lek Kim Kong Sinci tidak bisa di gunakan oleh sembarang orang, karena jurus tersebut satu paket dengan tenaga dalamnya,” batin Tat Mo mendengar perkataan Thian Sin.

“Biksu! Apa benar itu jurus sakti milik Shaolin? Tanya Yu Lai.

“Pinceng belum bisa memastikan, karena ilmu jari sakti Buddha satu paket, kalau sampai benar itu jurus sakti Buddha dari shaolin, dunia persilatan akan gempar,” jawab Tat Mo sambil lanjut berkata.

“Biar pinceng hadapi orang ini, tuan Yu Lai berjaga jaga saja agar orang ini tidak melarikan diri, sebisa mungkin pinceng akan membuka topengnya agar kita bisa mengenali wajah orang itu.”

Walau hati penasaran, tetapi Yu Lai anggukan kepala mendengar perkataan biksu Tat Mo, Yu Lai kembali ke tempat duduknya dan memeriksa keadaan Yu Kang.

“Kokcu! Apa tindakan kita selanjutnya? Tanya Tay Hu setelah Yu Lai selesai memeriksa keadaan sang putra.

“Kita berjaga jaga, agar orang yang mengaku Elmaut berwajah merah tidak melarikan diri, biksu Tat Mo akan berusaha membuka topeng orang itu agar bisa di kenali wajahnya,” jawab Yu Lai.

Tay Hu anggukan kepala dan langsung berjaga jaga.

Tat Mo menatap Thian Sin, lalu bicara.

“Pinceng ingin mengenal tuan lebih jauh dan membuktikan apa jurus tadi benar milik Shaolin?”

Thian Sin tidak menanggapi, Thian Sin malah menoleh ke arah Kin Bwe dan berkata.

“Tadi aku sudah lihat dan belajar jurus yang nona gunakan, apa boleh aku coba?

Kin Bwe terkejut mendengar perkataan pria bertopeng dan menoleh ke arah Kin Tho, melihat sang ayah diam saja.

Kin Bwe kembali menatap Thian Sin dan membalas.

“Kalau tuan memang bisa, Silahkan saja.”

Bibir Thian Sin tersenyum, kemudian pasang kuda-kuda untuk mainkan 12 jurus sungai panjang.

Thian Sin tidak ingin menggunakan Ban Tok Ciang karena jurus tersebut mengandung racun mematikan dan tidak ingin jati dirinya di ketahui.

Karena sudah hapal dengan teori jurus sungai panjang, Thian Sin ingin menggunakan jurus tersebut untuk menghadapi biksu Tat Mo, agar tidak di kenali satu-satunya jalan adalah meminta ijin kepada si pemilik jurus.

Raut wajah Tat Mo langsung berubah kelam mendengar perkataan Thian Sin, karena perkataan Thian Sin di anggap merendahkan dirinya.

Tat Mo langsung bergerak, kedua tangan menyerang ke arah bahu serta dada Thian Sin.

Thian Sin tidak mau menangkis serangan Tat Mo dan memilih mundur, kemudian maju kembali sambil lompat dan kakinya menendang ke arah pundak sang Biksu.

Biksu Tat Mo tidak mau bahunya termakan tendangan lawan, telapak tangannya yang terbuka mengepal, kemudian meninju telapak kaki Thian Sin.

Plak!

Thian Sin di bantu oleh tenaga lawan yang mengenai telapak kaki, tubuhnya berputar sambil salto dan kali ini kaki kirinya menendang ke arah pinggang sang biksu.

Tangan kanan sang biksu kembali menangkis tendangan Thian Sin, tetapi kali ini Tat Mo balik menyerang dada Thian Sin dengan tangan kiri.

Gerakan keduanya semakin lama semakin cepat, Thian Sin yang hapal betul teori 12 jurus sungai panjang walau masih kaku memainkan jurus tersebut, tetapi tidak ada kendala berarti menggunakannya.

Kin Tho, Kin Bwe serta A Gu sampai tak bisa berkata kata melihat pria bertopeng memainkan jurus yang mereka andalkan dengan sempurna.

Kedua tangan biksu Tat Mo saking cepatnya bergerak, kedua tangan seolah olah berubah menjadi banyak dan menyerang ke seluruh bagian tubuh Thian Sin.

“Tidak percuma tokoh-tokoh persilatan menghormati biksu Shaolin terutama Dewa tangan delapan, benar-benar pertempuran yang hebat,” batin Kin Tho.

Biksu Tat Mo semakin malu dan penasaran, karena setiap tangannya hendak mengenai tubuh Thian Sin, seperti ada tenaga tidak terlihat yang menepis serangannya.

Seiring waktu berjalan, kali Ini Biksu Tat Mo mulai mengeluarkan jurus yang selama ini menjadi andalannya, Budha tangan delapan.

Thian Sin mulai terdesak, karena kecepatan tubuh serta kedua tangan Tat Mo semakin lama semakin meningkat dan Thian Sin tak bisa mengimbangi karena Thian Sin memang tidak mempelajari ilmu meringankan tubuh.

Tay Hu melihat lawan terdesak mulai bersiap, matanya tajam menatap ke arena Bu koan.

Kedua tangan biksu Tat Mo berputar putar memainkan jurus pamungkas Delapan Arhat Budha yang jarang ia gunakan kalau tidak benar-benar menemui lawan yang pantas.

Dalam satu kesempatan setelah Thian Sin berhasil menangkis tamparan tangan kiri Tat Mo ke arah leher, telapak tangan kanan sang Biksu yang terbuka melesat menghantam ke arah dada Thian Sin.

Thian Sin berusaha mundur menghindar, tetapi sang Biksu tidak mau lawan lepas dari jangkauannya, kaki kanan menjejak lantai Bu Koan, tubuh Tat Mo terus melesat cepat ke arah Thian Sin yang mundur sambil telapak tangan kanan lurus ke arah dada.

Tidak ada pilihan lain selain menerima pukulan sang biksu, Thian Sin langsung kerahkan tenaga dalam Hud Kong Sing kang ke arah dada.

Perlahan tubuh Thian Sin di selimuti aura ke emasan.

Blar!

Thian Sin terdorong mundur dua langkah setelah dadanya terkena hantaman, tenaga dalamnya buyar dan titik jalan darahnya terbuka, racun Ang Tok Coa yang terkunci tenaga dalam Hud Kong Sing kang langsung menyebar ke seluruh tubuh, sedangkan Biksu Tat Mo tertegun karena tangannya seperti menghantam dinding baja yang sulit di tembus.

“Tidak salah dugaanku, tenaga dalam Hud Kong Sing kang,” batin Tat Mo setelah melihat aura emas yang keluar dari tubuh Thian Sin.

Tay Hu melihat Biksu Tat Mo diam tidak melanjutkan serangan, tubuhnya bergerak cepat ke arah Thian Sin sambil tangan kanan yang sudah mencabut pedang menebas ke arah wajah Thian Sin.

Thian Sin melihat satu bayangan melesat ke arahnya, tanpa sadar, tangan kanan yang terisi Ban Tok Ciang menampar ke arah leher Tay Hu.

Sret….plak!

Topeng di wajah Thian Sin jatuh terbelah dua terkena sabetan pedang, sedangkan Tay Hu terlempar beberapa tombak akibat lehernya terkena tamparan Thian Sin.

Yu Lai melihat wakilnya terlempar langsung melesat ke arena Bu Koan dan teriak.

“Tay Hu! Kau tidak apa-apa?

Bibir Yu Lai tersenyum melihat Tay Hu berdiri, tetapi setelah berdiri. Tubuh Tay Hu tampak limbung, saat menatap ke arah sang ketua, Tay Hu berkata dengan raut wajah pucat sambil menahan rasa sakit.

“Ra….racun, pu….pukulannya beracun.”

Setelah berkata, Tay Hu ambruk, perlahan dari lehernya yang terkena tamparan, racun ular merah langsung menyebar, Tay Hu tewas dengan tubuh berubah warna menjadi merah.

Yu Lai menatap tak percaya melihat wakilnya tewas hanya dalam sekali serang.

Suasana langsung hening.

Angin semilir berhembus dan menyibak rambut yang menutupi wajah Thian Sin.

Thian Sin setelah tahu wajahnya terbuka dan takut di kenali, tubuhnya melesat dan pergi meninggalkan arena Bu Koan tanpa ada yang berani menghalangi.

Yu Lai serta Biksu Tat Mo melihat raut wajah yang tidak tertutup topeng serta rambut sebelum Thian sin pergi, tanpa terasa tubuh mereka berdua bergetar dan mulutnya keduanya menyebut satu nama bersamaan.

“Ang Bin Moko.”

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status