로그인This is the sequel to Emerald Eyed Luna! Although, this book does stand alone, it would be helpful to read it first! King Wyatt and Queen Nina have built a kingdom that surpasses everyone's expectations. Their daughter, Sarah is set to inherit the kingdom when someone comes in and ruins her ceremony. Queen Nina's past threatens to bring death to everyone they hold dear. Now, Sarah has to not only prove her ability to lead but provide safety from the unknown. Can she fulfill her destiny like her mother did?
더 보기Di atas langit kelam malam Wisteria Kingdom petir berkilat-kilat berbahaya dengan suara guntur sesekali menggelegar seperti menggetarkan bumi. Sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda berbulu cokelat tua yang basah kuyup bermandikan air hujan yang cukup deras dikendalikan oleh kusir yang ahli.
Bukan sembarang orang yang berada di dalam kereta kayu berukiran dengan emboss warna emas huruf WK di bagian sisi pintu kereta kanan kiri. Beliau adalah Your Grace Crown Prince William Lancester, calon pewaris tahta Wisteria Kingdom berikutnya.
Sebuah pesan penting dikirimkan kepadanya ke Benua Amerika bagian utara. Dia sedang bersekolah mengenai hukum dan tata negara di negara yang terkenal begitu maju dalam hal pemerintahan dan strata kependudukan. Ilmu yang rumit yang bila diberikan untuk pemuda biasa pada umumnya akan menyerah atau mungkin juga tertidur di kelas saat tutor mengajar.
Perjalanan panjang melelahkan yang ditempuh William akhirnya berakhir. Kereta kuda itu pun berhenti dan pintu kanan kereta dibukakan oleh seseorang dari luar, pastinya salah satu prajurit penjaga pintu gerbang istana.
Pemuda berambut cokelat madu sama seperti warna bola matanya yang juga cokelat dan memiliki tatapan yang tajam menyiratkan kecerdasan, kualitas seorang calon raja berikutnya. Warna mata dan rambutnya itu warisan dari mendiang ratu Wisteria Kingdom, ibundanya yang telah berpulang ke surga sekitar 10 tahun lalu saat ia masih berusia 12 tahun.
Salah satu alasan ayahanda raja mengirim William bersekolah jauh ke seberang lautan tak lain dikarenakan penampilan fisik putera tunggalnya mengingatkan dirinya kepada sang istri, cinta sejatinya. Sang pangeran mahkota tahu mengenai hal itu dan berusaha tegar karena mengingat pesan terakhir ibunda ratu bahwa dia adalah harapan seluruh rakyat Wisteria Kingdom, William harus menjadi pria yang kuat menghadapi apa pun.
"Your Grace, senang melihat Anda kembali!" sambut Alexei Stormside, perdana mentri Wisteria Kingdom sembari membungkukkan punggungnya di hadapan William.
Senyum tipis tersungging di bibir William, dia sangat menghargai pria beruban di hadapannya karena sejak kecil dialah tutor pendidikannya di istana. Seorang pria bijaksana dan setia yang mengabdikan hidupnya, mungkin sampai menutup usia demi negara.
"Sir Alexei, bagaimana kabar Anda? Kuharap segalanya baik setelah kutinggalkan bertahun-tahun," ucap William dengan logat Wisteria yang seolah tak dapat dihilangkan dari lidahnya sampai kapan pun.
"Kabar saya baik, Pangeran. Terima kasih. Tidak banyak masalah selama Anda berada di Benua Amerika, mungkin ada beberapa perubahan fisik kota dan daerah pedesaan menjadi lebih maju. Kami tidak lagi menggunakan lampu minyak dan lilin lagi melainkan lampu pijar yang dapat menyala terang," jawab tuan perdana menteri dengan suara resminya yang kaku seperti papan pengumuman istana.
Sementara mendengarkan Alexei Stormside berbicara, William berjalan tegap menyusuri koridor istana hingga mencapai ruang tengah luas dimana sebuah tangga batu melingkar yang besar nampak. Dia ingat kemana ujung tangga itu menuju, ya ... kamar sang ayahanda raja.
"Naiklah, Your Grace. Beliau sakit keras dan sangat ingin bertemu dengan Anda sebelum wafat." Helaan napas berat terdengar, suara Alexei yang menyiratkan kesedihan dapat ditangkap oleh William.
Pemuda itu pun membalikkan badannya kepada Alexei sebelum menemui ayahanda raja di lantai atas. Dia menjawab, "Aku pasti menemui raja. Ikutlah bersamaku ke kamar beliau, Alexei!"
Kedua pria berbeda kedudukan dan juga berbeda generasi itu menaiki tangga batu berusia berabad-abad yang cenderung membuat lelah saat ditapaki satu per satu. Ada ketegangan yang disembunyikan oleh William saat akan menemui pria yang mengasingkan dirinya ke luar negeri selama bertahun-tahun tanpa satu pun kabar.
Pintu kamar yang berat karena tingginya mencapai hampir setinggi langit-langit kamar dibukakan oleh dua prajurit penjaga. Suaranya terdengar berderak dan berkeriut menambah tegang suasana. Di luar pun cuaca buruk berhujan petir masih belum terganti.
"A–apa itu kau, William—puteraku?" Suara renta bercampur batuk kronis itu terdengar menggema hingga ke ambang pintu dimana pemuda itu berdiri mematung dengan jantung berdebar-debar.
Langkah kaki yang berat itu memasuki kamar yang lama tak pernah ia injak begitu lama, William menghampiri tempat pembaringan raja yang berbentuk seperti panggung. William melihat beberapa sosok wanita berusia lebih muda dari mendiang ibundanya menemani sang raja yang terbaring lemah di ranjang berselimut sutera ungu tebal. Dia memalingkan wajahnya.
"William—mendekatlah kepada Ayah ... kemarilah!" pinta Raja Alderan Lancester melambaikan tangan kanannya agar William mendekatinya.
Dia benci melihat selir-selir ayahandanya, dia pun menjawab, "Bisakah gundik-gundik itu meninggalkan kamar ini sejenak, Ayahanda Raja?"
Wajah Raja Alderan memerah dan ia terbatuk-batuk karena kesal mendengar permintaan William. Namun, akhirnya demi kepentingan negara, ia pun mengalah dan menyuruh pergi selir-selir cantik yang biasa menghiburnya.
"Baiklah, sekarang duduklah di kursi dekatku, Will. Uhuk ... uhuk ... kita harus bicara sesuatu yang penting!" pinta raja terbatuk-batuk dengan darah segar yang ia usap dengan sapu tangan.
William memang duduk di kursi samping pembaringan ayahandanya. Perdana mentri masih setia menemani dengan berdiri di belakangnya. Dia lalu bertanya, "Apakah kesehatan Ayahanda Raja memburuk?"
Raja Alderan mengangguk-anggukkan kepalanya, dia berkata, "Usiaku tak lama lagi, kau harus siap menggantikanku sebagai raja Wisteria Kingdom. Siap atau tidak siap! Dan ... sebelum itu carilah seorang istri sebagai permaisurimu, Will."
Perintah terakhir raja itu menyisakan sedikit keterkejutan dalam diri sang pangeran, dia masih 22 tahun. Hari-harinya selalu dilalui dengan tempaan pendidikan yang membuatnya pusing tujuh keliling, sulit baginya memecah fokus untuk menjalin percintaan dengan gadis-gadis Amerika yang menarik.
"Baiklah ..., tapi aku tak ingin gadis dari puteri kerajaan yang manja dan tak berkarakter kuat. Izinkan aku mencari calon ratu untuk Wisteria Kingdom yang sesuai dengan kriteriaku sendiri, Ayahanda Raja," jawab William tegas yang membuat kedua pria tua di depan dan di belakangnya terkejut.
Alexei Stormside terbatuk kecil dan berdehem, ia tak ingin menentang keinginan aneh sang pangeran. Namun, ia berpikir bahwa itu hal yang sulit dilakukan. Apa pemuda itu ingin mencari jarum di tumpukan jerami?
Sedangkan, Raja Alderan Lancester mencoba mengalah sekalipun ia lalu menanggapi, "Boleh. Hanya saja temukan gadis yang menurutmu adalah calon ratu yang tepat itu paling lambat pertengahan musim dingin tahun ini."
"Tapi, Ayahanda saat ini sudah akhir musim panas jelang musim gugur—" William merasa waktunya terlalu pendek untuk menemukan gadis yang akan menjadi pendamping hidupnya.
Raja terbatuk-batuk dan memuntahkan darah kembali. Dia menghela napasnya dengan berat sambil berkata, "Apa kau pikir Ayahmu akan hidup hingga selamanya menunggumu mencari istri yang tepat? Ahli ramal kerajaan telah membaca letak bintang di langit, dia mengatakan Ayah akan berpulang ke surga musim dingin nanti, jadi cepatlah bertindak!"
William tak ingin berkomentar mengenai ramalan bintang yang entah benar atau salah itu mengenai akhir usia ayahandanya. Dia mengangguk yakin lalu menjawab, "Aku pasti akan segera menemukan gadis istimewa itu, Ayahanda tak perlu kuatir. Jaga kesehatan Anda, mungkin aku akan jarang menjenguk ke mari."
"Jangan pikirkan aku, Will. Fokuslah dengan tugas yang kuberikan. Besok malam aku mengadakan pesta dansa untuk menyambut kepulanganmu di aula istana. Mungkin kau bisa memilih salah satu dari wanita terhormat itu dan tugas dariku selesai, Will!" ujar Raja Alderan sambil tersenyum miring menatap puteranya yang telah tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan.
Sang pangeran menyahut ringan, "Mungkin iya ... bisa pula tidak, tapi aku menghargai bantuan Ayahanda ini. Terima kasih dan beristirahatlah, hari telah lewat tengah malam, Ayahanda Raja!"
Thank you all for going on this journey with me!! I truely love hearing everyone's comment throughout the book! This book will always have a special place in my heart!Thank you for all the support you have shown me! This has been the more difficult book to write as the first book was so loved! * My next book is called Opal Eyed Luna: Royal Gem Precious Luna Series. Follow me to get all the updates!! I am hoping to sign a new series about strong female Lunas. They will each stand alone and not be sequals! Thank youMrs. Smith
Damian POVI watched her perfect ass walk to the bathroom. I had to hide a laugh as her legs were still shaking. I needed a minute. Sitting on the couch, my mind went over the last few hours. I wasn’t sure what happened but when I saw Dax’s ghost, my heart sank. Then he had the little boy but the worst part was that Sarah wasn’t shocked to see him. She knew he was there. She must have talked to him. I tried to keep the doubt from filling me that she would have chose him. “Damian.” A voice I thought I’d never hear again was clear as day.My head instantly shot up. I was in complete disbelief to see Dax standing in front of me. My mouth opened a few times but nothing came out.”Wa-”“The Moon Goddess is allowing me a five minute visit. I came to tell you that she is all yours. She has accepted I died and she loves you with her whole heart. I was never meant to live through this. This was always how it was suppose to work. She saved you as much as you saved her. It’s cruel how things end
Our bodies froze as I pushed the knife in until I felt his blood run down my hand. Twisting the knife counter clockwise at 90 degrees, I made sure he wouldn’t survive the tree days it would take to suck his soul out. “NO!!” Astra yelled out as she watched Grant fall off me, holding the knife. His eyes landed on her as blood seeped from his eyes, nose and mouth. Kicking him away from me, I grabbed my side breathing heavily. “Give it up. You are finished!” Astra’s eyes went straight back as she chanted something before lifting her head up and screamed. Black smoke formed between us as a sort of bird manifested in front of me. It looked like a Raven but beefed up. Maybe more like a dragon but either way, it’s beady red eyes were focused on me. I reacted on instinct as my shield went up right as it shot something white at me. It was like little daggers hitting my shield so hard that it caused me to fall to the ground, under the pressure. The creature didn’t stop it’s attack. T
I had no idea what to do. Running back into the hut, Maverick’s laugher became background noise. Sliding on my knees, I skidded to a stop, right in front of my mom. Her body was cold as ice. “MOM!” I yelled. Shaking her, she did not respond. I didn’t even think before pulling my hand back and slapping her arm across the face. Nothing. She didn’t move or even flinch as my hand made contact with her body. I looked frantically around, for anything to help. My eyes landed on Dax’s name. Glancing over quickly at Astra, she was still saying an chant. As quietly as I could, I tiptoed my way over to the shelf and uncorked Dax’s vial with shaking hands. The smoke shot out of it. Before it knew it, a ghostly figure that reselmed Dax stood in front of me. “You have to stop her!” Dax looked at me with urgency. “How? What do I do?” My heart ached for him. “I could knock the cauldron over but she could just pick it back up again!” “You can do this. You need to think. Your mother and you joined
My adrenaline started pumping as we strutted to the cells. Apparently, they built them far enough away that it took us ten minutes just to walk to get there. I guess we were strange for wanting to keep a closer eye on the cells. As we got closer, I noticed a tiny little shack. The whole thing looks
I suddenly felt hopeful, just thinking about getting Dax back. What I didn’t understand was the sharp pang of disappointment that ran through me. Damian. Would I really chose Damian over Dax? “I honestly don’t know, Sarah. I doubt it. He died. We burned his body at his funeral. His soul wouldn’t ha
Nina POV Wyatt was grabbing his throat as if he was choking. Small gasp of air barely escaped his lips as his eyes pleaded with me for help. I could feel his panic and anger that had exploded in him. Running up to him, I could see what looked like impressions of a hand around his throat. I started
The birds were chirping as I groggily starting coming around. I slept like crap as I had a dream that the witch put a spell on me that caused me to stab myself in the heart. The sounds of a chair squeaking caught me off guard as I looked up to see Dax was sitting down, fully dressed in a new, all bl






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
리뷰더 보기