LOGIN“You first,” kata Liam, masih dengan suara lembut khasnya.Emily tersenyum, sedikit tak percaya. “Bagaimana bisa kamu ada di sini?”Liam menggaruk tengkuknya pelan. “Hmm.. Perusahaanku salah satu pendiri yayasan ini, aku mewakili perusahaanku.”Emily mengangguk cepat, merasa bodoh karena sempat lupa siapa Liam sebenarnya. “Tentu saja… aku bahkan tidak perlu bertanya soal itu.”“What about you?” tanya Liam, suaranya tenang seperti lima tahun yang lalu. “Apa yang membawamu ke sini?”“Aku menyumbangkan salah satu lukisanku untuk acara lelang nanti.”“Oh, jadi inisial EGM itu benar-benar milikmu?” Matanya sedikit membulat. “Pantas saja rasanya familiar.”Emily tersenyum lebih lebar sekarang. “Kamu melihatnya?”Liam mengangguk singkat, lalu mereka saling memandang. Ada keheningan di antara mereka, bukan karena canggung, tapi karena terlalu banyak yang ingin diucapkan dan terlalu sedikit waktu.“Bagaimana kabarmu?” tanya Emily pelan. “Astaga… aku masih tidak percaya kita bisa bertemu lagi.
Pagi itu, Emily menembus jalanan kota Chicago dengan sedan biru milik Lucas. Pria itu memang memberinya kebebasan memilih mobil apa pun di basement, dan setelah menimbang satu per satu, hanya mobil ini yang terasa cukup… normal. Sisanya? Astaga—Lucas benar-benar punya obsesi berlebihan pada mobil sport dan off-road yang mencolok. Jauh dari gaya Emily yang lebih menyukai sesuatu yang sederhana dan tidak menarik perhatian.Chicago tampak ramai pagi ini. Mungkin karena akhir pekan. Jalanan dipenuhi mobil, pejalan kaki, dan klakson yang bersahut-sahutan. Tapi bukan itu yang membuat pikirannya kacau.Yang terus berputar di kepalanya justru—What the hell was I thinking?Bagaimana bisa ia sampai mengira Lucas menginginkan mereka… tidur bersama? Tuhan. Kenapa otaknya bisa semesum itu setiap kali berada di dekat pria itu? Dan yang lebih menyebalkan—kenapa Lucas harus memvalidasi pikirannya dengan senyum licik dan kalimat ambigu yang nyaris menggoda? Sekarang ia harus menyembunyikan wajahnya di
Lucas berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Sial. Bukan begini seharusnya malam ini berakhir. Bukan dengan kesalahpahaman lagi. Bukan dengan Emily yang kembali menjauh.Dia ingin menjelaskan semuanya. Tentang siapa dirinya. Tentang apa yang selama ini dia rasakan.Lucas mengacak rambutnya yang masih setengah basah, frustrasi. Lalu tanpa pikir panjang lagi, ia melangkah keluar—menuju kamar Emily. Jantungnya berdegup kencang. Keberanian yang tadi dikumpulkannya pelan-pelan menguap begitu saja saat ia tiba di depan pintu kamar itu.Ia menarik napas dalam-dalam. Dia harus melakukannya. Dia tidak bisa lagi pura-pura baik-baik saja. Lima hari tanpa Emily sudah cukup menyiksanya. Dia merasa gila. Merana. Dan setelah apa yang terjadi siang tadi—setelah Emily menciumnya—apakah dia akan mampu bertahan kalau gadis itu mengabaikannya lagi?Lucas mengangkat tangannya, bersiap mengetuk. Tapi sebelum jarinya sempat menyentuh pintu, daun pintu itu terbuka pelan. Emily berdiri di sana, mengucek ke
Deru mesin mobil berpadu dengan irama rintik hujan yang membasahi jalanan kota Chicago malam itu. Lucas menepati janjinya—ia benar-benar menjemput Emily dan Alex malam ini, seperti yang ia ucapkan siang tadi.Namun suasana di dalam mobil terasa terlalu senyap. Alex sudah tertidur di kursi belakang, dan entah mengapa, atmosfer di antara Emily dan Lucas dipenuhi keheningan yang canggung. Tak ada percakapan, hanya pikiran masing-masing yang sibuk memutar tanya.Apa sebenarnya hubungan mereka sekarang? Apakah wajar, atau bahkan mungkin, untuk memulai sesuatu yang dulu bahkan belum sempat benar-benar dimulai? Lucas menyimpan seribu pertanyaan dalam benaknya, sementara Emily hanya diam, menatap lampu-lampu kota yang memantul di kaca jendela.Hingga akhirnya, Lucas memecah keheningan.“Kamu sudah makan malam, Em?”Emily sedikit terkejut, lalu mengangguk pelan. “Sudah.”Lucas mengangguk kecil. “Oke. Aku pikir kalian belum makan… mungkin aku akan pesan makanan setelah sampai dirumah.”Emily be
“Tempat pensil? Check. Botol minum? Check. Snack? Check. Oke, Alex, sepertinya tasmu sudah lengkap,” ucap Emily sambil memeriksa isi tas putranya satu per satu. Nadanya lembut, penuh perhatian.Alex hanya mengangguk kecil, tanda setuju. Ia baru saja hendak berbalik menghampiri Anna yang sudah menunggu, ketika Emily tiba-tiba menarik lengannya pelan.“Kau melupakan sesuatu,” ujar Emily, matanya menatap Alex penuh makna.Anak itu terkekeh kecil. “I’m sorry, Mom. Aku lupa,” ucapnya cepat, lalu mengecup dahi Emily, diikuti ciuman di pipi kanan dan kiri ibunya. Senyum Emily langsung merekah lebar. Ia berdiri dari posisi berlututnya, menatap kepergian Alex ke playground dengan perasaan hangat yang tak bisa dijelaskan.Hari ini adalah hari kelima. Lima hari sejak Lucas terakhir kali mengantar dan menjemput Alex. Lima hari juga sejak pria itu bahkan tidak mengirim satu pesan pun—tak ada kabar, tak ada penjelasan. Kosong. Emily mencoba bertahan dengan prinsipnya. Ia menolak meladeni sikap keka
Lucas membuka matanya perlahan. Kelopak matanya terasa berat, kepalanya berdenyut hebat. Pening itu seolah mengguncang dari dalam. Ia baru menyadari, semalaman ia tidak benar-benar tertidur—rasa bersalah membebani pikirannya tanpa henti.Bayangan wajah Emily tidak pernah pergi dari benaknya. Ia ingin meminta maaf. Tapi sepanjang malam, ia hanya bisa mendengar isak tangis Emily dari kamar sebelah. Dan ketika tangisan itu akhirnya reda, gadis itu sudah terlelap, tenggelam dalam kelelahan emosionalnya.Lucas menyumpahi dirinya sendiri. Kata-katanya semalam, ekspresi dinginnya—semuanya begitu bodoh. Ia tidak bisa berhenti memikirkannya, hingga akhirnya ia menyerah dan memilih menghabiskan malam bersama sebotol whisky, berharap mabuk bisa membius rasa sesalnya. Nyatanya, yang tersisa pagi ini hanyalah pening dan rasa muak terhadap dirinya sendiri.Ia mendesah pelan dan perlahan duduk di tepi ranjang. Kakinya menyentuh lantai dingin, lalu ia mencoba berdiri. Namun seketika itu juga, seluruh







