MasukThe world is filled with hypocrites—yes, hypocrites. And I am one of them, a traitor to the heart that once held me dear. What am I to do when the one who is not mine, Is the only one I long to call my own? - Emily Grace Mitchel Emily Grace Mitchel, seorang gadis yang akan menginjak semester akhir di California Institute of the Arts. Awalnya hidupnya benar-benar indah saat bertemu dengan kekasih pujaan hatinya, Liam Harris si pewaris tahta Celestial Groups. Namun, segalanya berputar 180 derajat saat ia bertemu Lucas, sepupu Liam yang notabenenya adalah playboy nomor 1 dari Harris Family. Hidupnya, sikapnya bahkan hatinya! Sial, Lucas mengacaukan segalanya!
Lihat lebih banyakLucas membuka matanya perlahan. Kelopak matanya terasa berat, kepalanya berdenyut hebat. Pening itu seolah mengguncang dari dalam. Ia baru menyadari, semalaman ia tidak benar-benar tertidur—rasa bersalah membebani pikirannya tanpa henti.Bayangan wajah Emily tidak pernah pergi dari benaknya. Ia ingin meminta maaf. Tapi sepanjang malam, ia hanya bisa mendengar isak tangis Emily dari kamar sebelah. Dan ketika tangisan itu akhirnya reda, gadis itu sudah terlelap, tenggelam dalam kelelahan emosionalnya.Lucas menyumpahi dirinya sendiri. Kata-katanya semalam, ekspresi dinginnya—semuanya begitu bodoh. Ia tidak bisa berhenti memikirkannya, hingga akhirnya ia menyerah dan memilih menghabiskan malam bersama sebotol whisky, berharap mabuk bisa membius rasa sesalnya. Nyatanya, yang tersisa pagi ini hanyalah pening dan rasa muak terhadap dirinya sendiri.Ia mendesah pelan dan perlahan duduk di tepi ranjang. Kakinya menyentuh lantai dingin, lalu ia mencoba berdiri. Namun seketika itu juga, seluruh
Alex menarik tangan Emily dengan semangat yang begitu menggebu. Langkah kecilnya terasa ringan, seolah tak sabar menunjukkan sesuatu yang sudah lama ingin ia bagi. Hari ini, mimpinya terwujud: ibunya akan tinggal di rumah Lucas walaupun hanya akhir pekan. Sudah sejak minggu lalu Alex berharap hal ini terjadi. Ia menyukai kamar pribadinya yang disiapkan Lucas—tapi kamar sebesar itu, tanpa kehadiran Emily, terasa hampa dan menyedihkan.Beberapa malam lalu, ketika Emily menemaninya tidur, sang ibu sempat berbisik bahwa ia akan mencoba tinggal selama akhir pekan di rumah Lucas. Bagi Alex, itu seperti jawaban dari doanya setiap malam.“Pelan-pelan, Alex. Mommy bisa jatuh kalau kamu menarik mommy sekuat itu,” ucap Emily sambil tersenyum melihat antusiasme putranya.“Ayo Mom, cepat! Aku mau tunjukkan kamarku!”Dari belakang, terdengar suara Lucas yang baru saja masuk sambil mengangkat beberapa koper milik Emily. “Alex, jangan tarik Mommy seperti itu. Pergilah dulu ke kamar, ada hadiah yang m
Emily melambaikan tangan, mengantar kepergian Lucas dan Alex dengan senyum tenang. Sudah seminggu terakhir Lucas rutin menjemput dan mengantar Alex dari rumahnya ke playground. Tak ada drama, tak ada pertengkaran, dan tak ada agenda tersembunyi—murni hanya antar-jemput.Tak disangka, sakit mereka berdua tempo hari justru membawa perubahan. Bolehkah Emily merasa sedikit bersyukur atas kejadian itu? Setidaknya, dua laki-laki dalam hidupnya kini mulai menyadari betapa egoisnya mereka selama ini.Ia menarik napas panjang, lalu mulai berjalan menyusuri halaman rumah. Matanya menyapu deretan tanaman hias, memeriksa satu per satu apakah ada yang rusak atau butuh perhatian. Langkahnya kemudian membawanya ke halaman samping, melewati pagar depan. Di sana, ia baru menyadari satu hal: mainan-mainan Alex masih berserakan, belum dibereskan sejak kemarin. Beberapa bungkus es krim kosong dan sampah kecil lain ikut berserakan di sekitar area bermain.Emily mendesah pelan, sedikit jengkel. Sudah bisa
Lucas terbangun dari tidurnya di pagi hari. Suara bel dari pintu utama membangunkannya, disusul langkah kaki yang terdengar melintasi lorong, lalu suara pintu yang terbuka.Tubuhnya terasa gerah, lehernya basah—efek dari obat penurun demam yang ia minum semalam. Ia mendesah pelan, tubuhnya masih berat, tapi pikirannya mulai sadar.“Hei, kau membawanya?” terdengar suara Emily dari arah luar, samar namun jelas.“Good morning, Grace. Aku menaruhnya di bagasi mobil,” sahut suara laki-laki—dalam, khas, dan tidak asing. Lucas langsung tahu itu suara Samuel. Setelah itu, percakapan mereka tak terdengar lagi.Dengan seluruh tenaga yang tersisa, Lucas memutar tubuhnya di atas sofa dan berusaha bangkit. Ia menyandar sebentar, lalu melongokkan kepala ke arah jendela. Belum terlihat apa pun. Penasaran, ia berjongkok perlahan di atas sofa, tubuhnya condong ke depan, berusaha melihat lebih jelas ke halaman depan rumah.Dan di sana—tepat di sisi mobil—Emily tampak tertawa pelan, tersipu, berdiri di
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.