LOGINThe world is filled with hypocrites—yes, hypocrites. And I am one of them, a traitor to the heart that once held me dear. What am I to do when the one who is not mine, Is the only one I long to call my own? - Emily Grace Mitchel Emily Grace Mitchel, seorang gadis yang akan menginjak semester akhir di California Institute of the Arts. Awalnya hidupnya benar-benar indah saat bertemu dengan kekasih pujaan hatinya, Liam Harris si pewaris tahta Celestial Groups. Namun, segalanya berputar 180 derajat saat ia bertemu Lucas, sepupu Liam yang notabenenya adalah playboy nomor 1 dari Harris Family. Hidupnya, sikapnya bahkan hatinya! Sial, Lucas mengacaukan segalanya!
View MoreSore itu, Emily duduk di bangku café yang menghadap langsung ke trotoar, menyeruput pelan kopinya yang sudah mulai mendingin. Ia sengaja memilih tempat duduk di area terbuka, membiarkan tubuhnya diselimuti sinar matahari yang perlahan turun menuju golden hour. Cahaya keemasan menyapu wajahnya, menciptakan bayangan lembut di pipi dan garis rahangnya. Jemarinya memainkan pinggiran cangkir, berputar-putar tanpa tujuan jelas, seolah mencari ritme untuk menenangkan pikirannya yang sejak tadi tak henti bergerak.Di seberangnya, Sam memperhatikannya dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu. Sejak mereka meninggalkan ballroom tadi, Emily terlihat berbeda—lebih pendiam, lebih sering melamun, seakan sebagian dirinya tertinggal di sana… “So,” Sam akhirnya membuka suara, menyandarkan sikunya di meja, “how do you know him? You must tell me.”Emily melirik sekilas, lalu menunduk kembali pada kopinya. Senyum kecil muncul di bibirnya—bukan senyum bahagia, melainkan sesuatu yang pahit sekaligus hangat
“You first,” kata Liam, masih dengan suara lembut khasnya.Emily tersenyum, sedikit tak percaya. “Bagaimana bisa kamu ada di sini?”Liam menggaruk tengkuknya pelan. “Hmm.. Perusahaanku salah satu pendiri yayasan ini, aku mewakili perusahaanku.”Emily mengangguk cepat, merasa bodoh karena sempat lupa siapa Liam sebenarnya. “Tentu saja… aku bahkan tidak perlu bertanya soal itu.”“What about you?” tanya Liam, suaranya tenang seperti lima tahun yang lalu. “Apa yang membawamu ke sini?”“Aku menyumbangkan salah satu lukisanku untuk acara lelang nanti.”“Oh, jadi inisial EGM itu benar-benar milikmu?” Matanya sedikit membulat. “Pantas saja rasanya familiar.”Emily tersenyum lebih lebar sekarang. “Kamu melihatnya?”Liam mengangguk singkat, lalu mereka saling memandang. Ada keheningan di antara mereka, bukan karena canggung, tapi karena terlalu banyak yang ingin diucapkan dan terlalu sedikit waktu.“Bagaimana kabarmu?” tanya Emily pelan. “Astaga… aku masih tidak percaya kita bisa bertemu lagi.
Pagi itu, Emily menembus jalanan kota Chicago dengan sedan biru milik Lucas. Pria itu memang memberinya kebebasan memilih mobil apa pun di basement, dan setelah menimbang satu per satu, hanya mobil ini yang terasa cukup… normal. Sisanya? Astaga—Lucas benar-benar punya obsesi berlebihan pada mobil sport dan off-road yang mencolok. Jauh dari gaya Emily yang lebih menyukai sesuatu yang sederhana dan tidak menarik perhatian.Chicago tampak ramai pagi ini. Mungkin karena akhir pekan. Jalanan dipenuhi mobil, pejalan kaki, dan klakson yang bersahut-sahutan. Tapi bukan itu yang membuat pikirannya kacau.Yang terus berputar di kepalanya justru—What the hell was I thinking?Bagaimana bisa ia sampai mengira Lucas menginginkan mereka… tidur bersama? Tuhan. Kenapa otaknya bisa semesum itu setiap kali berada di dekat pria itu? Dan yang lebih menyebalkan—kenapa Lucas harus memvalidasi pikirannya dengan senyum licik dan kalimat ambigu yang nyaris menggoda? Sekarang ia harus menyembunyikan wajahnya di
Lucas berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Sial. Bukan begini seharusnya malam ini berakhir. Bukan dengan kesalahpahaman lagi. Bukan dengan Emily yang kembali menjauh.Dia ingin menjelaskan semuanya. Tentang siapa dirinya. Tentang apa yang selama ini dia rasakan.Lucas mengacak rambutnya yang masih setengah basah, frustrasi. Lalu tanpa pikir panjang lagi, ia melangkah keluar—menuju kamar Emily. Jantungnya berdegup kencang. Keberanian yang tadi dikumpulkannya pelan-pelan menguap begitu saja saat ia tiba di depan pintu kamar itu.Ia menarik napas dalam-dalam. Dia harus melakukannya. Dia tidak bisa lagi pura-pura baik-baik saja. Lima hari tanpa Emily sudah cukup menyiksanya. Dia merasa gila. Merana. Dan setelah apa yang terjadi siang tadi—setelah Emily menciumnya—apakah dia akan mampu bertahan kalau gadis itu mengabaikannya lagi?Lucas mengangkat tangannya, bersiap mengetuk. Tapi sebelum jarinya sempat menyentuh pintu, daun pintu itu terbuka pelan. Emily berdiri di sana, mengucek ke
Emily menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa dengan napas yang berat. Sudah beberapa hari terakhir ia terus-menerus merasa mual. Bukan hanya karena aroma makanan—bahkan sabun mandinya saja mampu membuat perutnya bergejolak. Sejak hari ketika ia mencoba gaun pengantin itu, ada sesuatu yang terasa berbeda
Emily mengembuskan napas untuk kesekian kalinya. Jemarinya membolak-balik katalog gaun pengantin di pangkuannya, tapi pandangannya kosong."Apakah ada yang menarik perhatianmu?" suara Liam memecah keheningan yang melingkupi ruangan.Emily menoleh pelan ke arahnya, lalu menggeleng sambil memanyunkan
Emily menaiki anak tangga apartemennya dengan langkah lelah. Sudah lebih dari seminggu sejak terakhir kali ia menyentuh tempat itu—sejak hidupnya dipenuhi oleh Liam. Ia menarik napas panjang. Tangannya penuh dengan kantong belanja; ia memutuskan untuk sekalian belanja sebelum pulang. Ia yakin kulka
Emily masih bersandar di pagar balkon, matanya terpaku pada Liam yang masih berbincang dengan daddy dan ibunya. Percakapan mereka terlihat serius, tapi dari ekspresi ibunya yang tersenyum usil dan tawa ayahnya yang menyusul, Emily bisa menebak—mereka pasti sedang menggoda Liam.“Apakah kalian tadi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.