LOGIN[DEWASA 21+] “Kalau aku bersihin yang bawah,” bisik Luina sambil tersenyum miring, “Kamu bangun nggak, Mas?” ***** Luina menikah karena dijodohkan dengan Skala — pria dingin yang tak banyak bicara. Namun di malam pernikahannya, keduanya kecelakaan hingga pria itu jatuh koma. Ia pikir pernikahan itu berakhir sebelum sempat dimulai. Tapi setiap kali ia menyentuh suaminya yang tak sadarkan diri, detak jantung pria itu selalu naik. Apakah rayuannya yang setiap hari ia lakukan mampu membuat suaminya bangun?
View More“Kamu—gak gay, kan?”
Pertanyaan Luina membuat Skala menengok ke arahnya sekilas. Padahal belum juga urung mereka turun dari panggung pernikahan. “Kalau iya, kamu bisa bicarakan ke aku,” lanjut Luina, tetap tersenyum pada tamu-tamu yang lewat. “Soalnya waktu perjodohan ini kamu gak sedikit pun menolak.” Skala tidak langsung menjawab. Hanya berdiri tegap, pandangan lurus ke depan seperti batu di tengah arus. Kilau lampu kristal menari di atas kepala, memantulkan cahaya ke segala arah seperti serpihan bintang yang jatuh ke bumi. Musik lembut mengalun, mengiringi langkah-langkah para tamu yang datang dengan senyum, doa, dan ucapan selamat. Namun di balik senyum yang mereka paksakan, ada dua hati yang menolak untuk menyatu. Pernikahan itu bukan pilihan. Bagi Skala, itu adalah kewajiban. Bagi Luinara, itu adalah perangkap. Dua keluarga perusahaan besar baru saja menandatangani kesepakatan merger. Dan pernikahan mereka adalah meterai hidup yang memastikan saham gabungan tetap utuh. “Luinara Giselma.” panggil Skala. “Saya juga terpaksa dengan pernikahan ini.” Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah pria di sampingnya. “Terpaksa, tapi tetap mau? Kamu gak kehilangan muka, kan, jadi orang dijodohin cuma karena ayahmu butuh merger?” Skala tidak menoleh. Tidak menjawab. Luinara menatapnya lama. “Dari tampang kamu yang cakep ini, gak mungkin kamu jomblo dan mau dijodohin gitu aja.” Ia tersenyum miring, tapi senyum itu tidak sampai ke mata. “Jadi, kenapa kamu masih terima perjodohan ini?” Ia berdiri tegap, pandangannya lurus ke depan, wajahnya setenang permukaan danau yang tidak bergerak. Seolah apa pun yang keluar dari mulut Luina hanyalah angin yang berdesir tanpa arti. “Kalau kamu gak gay.” Luina mendecakkan bibirnya kesal. Ia menoleh ke samping, menggerutu sendiri, membiarkan kata-kata kecilnya lepas ke udara. Senyum itu tetap tersimpan, tapi di dalam hatinya, rasa frustrasi menumpuk. Ia menyesal harus menekannya sendiri, menikah dengan pria yang nyaris asing baginya. Skala hanya menoleh sebentar ke Luina, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke para tamu. "Dengerin baik-baik ya, aku nggak bakal biarin kamu nanti sentuh-sentuh aku! Yang boleh sentuh aku itu orang yang aku cinta! Jadi jangan berharap apa-apa dalam pernikahan ini!" bisik Luina lagi pada Skala, kali ini sedikit lebih keras, tapi tetap tidak ada reaksi apapun dari pria itu. Skala hanya bergumam kecil. Setelah acara selesai, mereka meninggalkan gedung pernikahan. Mobil hitam Skala sudah menunggu, berkilau di bawah lampu jalan, seolah menegaskan status sang pemilik. Luina masuk ke dalamnya dengan langkah tergesa-gesa, masih membawa sisa emosi dari pesta yang memaksa itu. Sepanjang perjalanan, Luina tidak berhenti menggerutu. "Aku mau di apartemen kamu. Semua yang aku butuh sudah harus tersedia ya," ujarnya, setengah menuntut. “Terus— kartu kredit kamu, jadi kan kasih ke aku?” "Iya," jawab Skala singkat. "Aku juga mau tidurnya pisah! Jangan sering-sering ketemu. Jangan ambil kesempatan," lanjut Luina, menekankan nada perintahnya. Skala menarik napas panjang. "Ya," jawabnya lagi, tenang dan monoton. Luina menggerutu, suaranya terdengar nyaris tenggelam di antara deru mesin mobil. "Kamu tuh ga punya mulut, ya?” lanjutnya, frustrasi semakin memuncak. Skala hanya menoleh sebentar ke arah Luina, bibirnya bergerak seakan ingin membalas, tapi akhirnya hanya satu kata singkat yang terucap, dingin dan formal. "Mulut kamu di lem kali ya, Mas?” gerutunya. Skala tetap diam, menatap lurus ke depan, wajahnya tenang, seolah tidak peduli dengan perkataan perempuan yang kini duduk di sampingnya. “Berarti kamu gay.” Sekali lagi perempuan ini bicara, Skala tahu ia akan benar-benar kehilangan kesabaran. Namun sebelum amarah sempat naik ke permukaan. Lampu depannya menyilaukan mata, suara klakson menjerit menusuk telinga— "Mas Skala! Awas!” Skala buru-buru menginjak rem, memutar setir secepat mungkin untuk menghindari tabrakan. Namun truk itu terlalu cepat, dan mobil mewah yang mereka tumpangi lebih dulu dihantam dengan keras. Refleks, Skala langsung melepas sabuk pengamannya dan memeluk tubuh Luina. "Luina!" teriaknya, suaranya tegang dan penuh panik. Dentuman logam yang keras mengguncang tubuh mereka. Mobil menghantam pembatas jalan dengan keras, kaca pecah berhamburan, dan kendaraan terbalik dengan suara gemuruh yang membuat jantung Luina seakan berhenti. Udara dipenuhi aroma terbakar, debu, dan logam. Luina menutup mata, menahan napas, tubuhnya menempel erat pada Skala. Panik, ketakutan, dan adrenalin bercampur menjadi satu. Tangannya menggenggam Skala sekuat tenaga, berharap ada yang bisa menahan mereka dari kehancuran. "To... lo... ng..." Mata Luina terbelalak ketika melihat Skala yang berdarah-darah dan tak bergerak. Ia ingin menyentuhnya, memanggil namanya, tapi kepalanya mendadak pusing, dunia berputar, dan akhirnya semuanya menjadi gelap.Skala tidak memberikan waktu Luina. Ia kembali menyerbu bibir Luina, ciumannya kini bergeser ke leher Luina, mencium dan menjilat lembut, sebelum ia turun ke tulang selangka. Skala menarik ke atas kaus yang menutupi tubuh Luina, mengekspos dada Luina. Ia menunduk, dan menggigit lembut dada Luina, meninggalkan bekas kemerahan yang samar. Tangan Skala yang besar memaksa Luina untuk melepaskan sisa pakaiannya. "Mas..." desahan Luina kini menggantikan protes, perlawanannya segera melemah di bawah sentuhan Skala. Skala kembali menatap mata Luina. "Mas mencintai kamu, Luina. Jangan pernah lagi bikin Mas takut.” Luina mengaitkan tangannya di leher Skala. "Aku juga cinta sama Mas. Maafin aku," bisiknya, sebelum menarik Skala kembali untuk ciuman yang kini sama-sama menuntut. Luina memutuskan untuk mengambil kendali. Dengan kekuatan yang mengejutkan, Luina memutar posisi, ia kini berada di atas Skala. Skala terkejut sejenak, namun senyum geli segera tersungging di bibirnya. Ia memb
Beberapa hari berlalu. Luina sudah pulih total dari gegar otak ringannya dan secara resmi diperbolehkan pulang oleh Dr. Sari. Selama masa observasi, Skala tidak pernah meninggalkannya, tidur di sofa, dan terus menjaganya. Ia juga menjaga rahasia chat log dan sulitnya melacak peneror dari Luina, hanya mengatakan bahwa timnya sedang bekerja. Skala masuk ke ruang rawat Luina setelah mengurus semua administrasi rumah sakit. Luina sudah berganti pakaian santai, wajahnya kembali ceria, dan energi jahilnya sudah pulih sepenuhnya. "Yeay… pulang!" seru Luina, ia berjoget kecil di samping ranjang, bergerak hati-hati agar tidak menyenggol tiang infus yang sudah dilepas. Skala mendekat, tersenyum kecil melihat tingkah istrinya yang kembali normal. Ia memeluk Luina dengan erat. “Mas, kenapa? Kok kayak nggak senang gitu kita mau pulang ke apartemen? Mas udah nggak mau tinggal bareng aku ya?” Luina menggodanya, nadanya manja dan khawatir palsu. Skala melepaskan pelukannya, menatap Luina
Luina tertawa geli menonton film kartun di ponsel Skala, sementara Skala berbaring di sampingnya, terus mengelus lembut rambut Luina.Tawa Luina terhenti saat ponsel yang dipegangnya tiba-tiba bergetar, menampilkan panggilan masuk. Di layar tertera nama: Farhan.Luina mendecak kesal. “Farhan ganggu banget sih, Mas!” gerutunya manja sambil menyerahkan ponsel itu pada suaminya.Skala tersenyum kecil melihat kecemburuan Luina. Ia tahu Farhan pasti membawa kabar penting."Sebentar ya, Sayang. Mas angkat telepon Farhan dulu," kata Skala, mencium kening Luina sekilas.Skala segera turun dari ranjang Luina dan melangkah menjauh sedikit, berdiri di dekat jendela. Ia menerima panggilan itu.“Farhan, ada apa?” tanya Skala."Maaf mengganggu waktu istirahat Bapak dan Bu Luina," suara Farhan terdengar serius dan terburu-buru di ujung telepon. "Ada update dari tim IT, Pak. Kami sudah mendapatkan semua chat log antara Bu Luina dan si peneror."Skala menegang. "Bagus. Kirim semua screenshot itu ke po
Skala keluar dari ruang rawat Luina, menutup pintu dengan pelan untuk memastikan Luina tidak terganggu. Ia meraih ponselnya dari dalam saku jasnya dan segera menghubungi Farhan. “Halo, Farhan. Kamu dimana?” tanya Skala, suaranya kembali ke nada perintah yang tegas. “Di kantor, Pak. Saya sedang menunggu update dari Baskara dan Genta.” “Bagus. Kamu suruh Baskara dan Genta antar mobil Luina ke apartemen saya. Terus suruh mereka antar ponsel Luina ke kamu,” perintah Skala. “Siap, Pak. Ponselnya sudah di tangan Baskara. Saya akan instruksikan mereka sekarang.” “Setelah itu kamu jangan kemana-mana. Kamu suruh tim IT untuk segera melacak nomor orang yang meneror Luina. Begitu ponselnya sampai, saya mau mereka bypass keamanannya dan tarik semua chat log yang mencurigakan. Saya mau kamu laporkan ke saya sekarang juga begitu ada hasilnya,” ucap Skala, nadanya mendesak. “Baik, Pak Skala. Saya akan standby dengan tim IT. Ada lagi?” "Itu dulu. Saya tunggu kabar kamu," tutup Skala.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.