ホーム / Romansa / Emily'S Lover / CHAPTER TWENTY SEVEN

共有

CHAPTER TWENTY SEVEN

作者: Kowalska
last update 公開日: 2025-10-15 18:07:39

Liam terbangun dengan mata yang masih berat. Cahaya pagi menyelinap masuk dari celah tirai, membuatnya menyipit. Lebih dari dua belas jam ia tertidur. Ia menggerakkan tubuhnya perlahan, merasakan kasur di sebelahnya kosong dan dingin. Emily tidak ada.

Apa dia pulang? Tidak jadi menginap? Apakah Emily marah karena perbuatannya kemarin?

Liam mengusap wajahnya, mengusir kantuk yang masih tersisa. Belum sempat pikirannya menyusun jawaban, ponselnya yang tergeletak di meja bergetar lagi—untuk keseki
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Emily'S Lover   CHAPTER SEVENTY SEVEN

    Sore itu, Emily duduk di bangku café yang menghadap langsung ke trotoar, menyeruput pelan kopinya yang sudah mulai mendingin. Ia sengaja memilih tempat duduk di area terbuka, membiarkan tubuhnya diselimuti sinar matahari yang perlahan turun menuju golden hour. Cahaya keemasan menyapu wajahnya, menciptakan bayangan lembut di pipi dan garis rahangnya. Jemarinya memainkan pinggiran cangkir, berputar-putar tanpa tujuan jelas, seolah mencari ritme untuk menenangkan pikirannya yang sejak tadi tak henti bergerak.Di seberangnya, Sam memperhatikannya dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu. Sejak mereka meninggalkan ballroom tadi, Emily terlihat berbeda—lebih pendiam, lebih sering melamun, seakan sebagian dirinya tertinggal di sana… “So,” Sam akhirnya membuka suara, menyandarkan sikunya di meja, “how do you know him? You must tell me.”Emily melirik sekilas, lalu menunduk kembali pada kopinya. Senyum kecil muncul di bibirnya—bukan senyum bahagia, melainkan sesuatu yang pahit sekaligus hangat

  • Emily'S Lover   CHAPTER SEVENTY SIX

    “You first,” kata Liam, masih dengan suara lembut khasnya.Emily tersenyum, sedikit tak percaya. “Bagaimana bisa kamu ada di sini?”Liam menggaruk tengkuknya pelan. “Hmm.. Perusahaanku salah satu pendiri yayasan ini, aku mewakili perusahaanku.”Emily mengangguk cepat, merasa bodoh karena sempat lupa siapa Liam sebenarnya. “Tentu saja… aku bahkan tidak perlu bertanya soal itu.”“What about you?” tanya Liam, suaranya tenang seperti lima tahun yang lalu. “Apa yang membawamu ke sini?”“Aku menyumbangkan salah satu lukisanku untuk acara lelang nanti.”“Oh, jadi inisial EGM itu benar-benar milikmu?” Matanya sedikit membulat. “Pantas saja rasanya familiar.”Emily tersenyum lebih lebar sekarang. “Kamu melihatnya?”Liam mengangguk singkat, lalu mereka saling memandang. Ada keheningan di antara mereka, bukan karena canggung, tapi karena terlalu banyak yang ingin diucapkan dan terlalu sedikit waktu.“Bagaimana kabarmu?” tanya Emily pelan. “Astaga… aku masih tidak percaya kita bisa bertemu lagi.

  • Emily'S Lover   CHAPTER SEVENTY FIVE

    Pagi itu, Emily menembus jalanan kota Chicago dengan sedan biru milik Lucas. Pria itu memang memberinya kebebasan memilih mobil apa pun di basement, dan setelah menimbang satu per satu, hanya mobil ini yang terasa cukup… normal. Sisanya? Astaga—Lucas benar-benar punya obsesi berlebihan pada mobil sport dan off-road yang mencolok. Jauh dari gaya Emily yang lebih menyukai sesuatu yang sederhana dan tidak menarik perhatian.Chicago tampak ramai pagi ini. Mungkin karena akhir pekan. Jalanan dipenuhi mobil, pejalan kaki, dan klakson yang bersahut-sahutan. Tapi bukan itu yang membuat pikirannya kacau.Yang terus berputar di kepalanya justru—What the hell was I thinking?Bagaimana bisa ia sampai mengira Lucas menginginkan mereka… tidur bersama? Tuhan. Kenapa otaknya bisa semesum itu setiap kali berada di dekat pria itu? Dan yang lebih menyebalkan—kenapa Lucas harus memvalidasi pikirannya dengan senyum licik dan kalimat ambigu yang nyaris menggoda? Sekarang ia harus menyembunyikan wajahnya di

  • Emily'S Lover   CHAPTER SEVENTY FOUR

    Lucas berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Sial. Bukan begini seharusnya malam ini berakhir. Bukan dengan kesalahpahaman lagi. Bukan dengan Emily yang kembali menjauh.Dia ingin menjelaskan semuanya. Tentang siapa dirinya. Tentang apa yang selama ini dia rasakan.Lucas mengacak rambutnya yang masih setengah basah, frustrasi. Lalu tanpa pikir panjang lagi, ia melangkah keluar—menuju kamar Emily. Jantungnya berdegup kencang. Keberanian yang tadi dikumpulkannya pelan-pelan menguap begitu saja saat ia tiba di depan pintu kamar itu.Ia menarik napas dalam-dalam. Dia harus melakukannya. Dia tidak bisa lagi pura-pura baik-baik saja. Lima hari tanpa Emily sudah cukup menyiksanya. Dia merasa gila. Merana. Dan setelah apa yang terjadi siang tadi—setelah Emily menciumnya—apakah dia akan mampu bertahan kalau gadis itu mengabaikannya lagi?Lucas mengangkat tangannya, bersiap mengetuk. Tapi sebelum jarinya sempat menyentuh pintu, daun pintu itu terbuka pelan. Emily berdiri di sana, mengucek ke

  • Emily'S Lover   CHAPTER SEVENTY THREE

    Deru mesin mobil berpadu dengan irama rintik hujan yang membasahi jalanan kota Chicago malam itu. Lucas menepati janjinya—ia benar-benar menjemput Emily dan Alex malam ini, seperti yang ia ucapkan siang tadi.Namun suasana di dalam mobil terasa terlalu senyap. Alex sudah tertidur di kursi belakang, dan entah mengapa, atmosfer di antara Emily dan Lucas dipenuhi keheningan yang canggung. Tak ada percakapan, hanya pikiran masing-masing yang sibuk memutar tanya.Apa sebenarnya hubungan mereka sekarang? Apakah wajar, atau bahkan mungkin, untuk memulai sesuatu yang dulu bahkan belum sempat benar-benar dimulai? Lucas menyimpan seribu pertanyaan dalam benaknya, sementara Emily hanya diam, menatap lampu-lampu kota yang memantul di kaca jendela.Hingga akhirnya, Lucas memecah keheningan.“Kamu sudah makan malam, Em?”Emily sedikit terkejut, lalu mengangguk pelan. “Sudah.”Lucas mengangguk kecil. “Oke. Aku pikir kalian belum makan… mungkin aku akan pesan makanan setelah sampai dirumah.”Emily be

  • Emily'S Lover   CHAPTER SEVENTY TWO

    “Tempat pensil? Check. Botol minum? Check. Snack? Check. Oke, Alex, sepertinya tasmu sudah lengkap,” ucap Emily sambil memeriksa isi tas putranya satu per satu. Nadanya lembut, penuh perhatian.Alex hanya mengangguk kecil, tanda setuju. Ia baru saja hendak berbalik menghampiri Anna yang sudah menunggu, ketika Emily tiba-tiba menarik lengannya pelan.“Kau melupakan sesuatu,” ujar Emily, matanya menatap Alex penuh makna.Anak itu terkekeh kecil. “I’m sorry, Mom. Aku lupa,” ucapnya cepat, lalu mengecup dahi Emily, diikuti ciuman di pipi kanan dan kiri ibunya. Senyum Emily langsung merekah lebar. Ia berdiri dari posisi berlututnya, menatap kepergian Alex ke playground dengan perasaan hangat yang tak bisa dijelaskan.Hari ini adalah hari kelima. Lima hari sejak Lucas terakhir kali mengantar dan menjemput Alex. Lima hari juga sejak pria itu bahkan tidak mengirim satu pesan pun—tak ada kabar, tak ada penjelasan. Kosong. Emily mencoba bertahan dengan prinsipnya. Ia menolak meladeni sikap keka

  • Emily'S Lover   CHAPTER FIFTY TWO

    Langit tampak mendung sejak pagi, seolah ikut mencerminkan kekacauan dalam kepala Emily. Sudah seminggu sejak kejadian di apartemen Liam malam itu, dan sejak itu pula mereka tak lagi saling menghubungi. Tidak ada pesan. Tidak ada telepon. Emily hanya mendapat kabar dari ibu Liam atau dari ibunya sen

  • Emily'S Lover   CHAPTER FIFTY ONE

    Liam dan Emily kembali ke apartemen Liam setelah makan malam keluarga yang berakhir kacau. Begitu pintu terbuka, Liam melempar jasnya ke sofa dengan gerakan tergesa. Napasnya memburu, tubuhnya dipenuhi amarah yang tertahan sejak tadi. Ia langsung jatuh duduk, wajahnya terkubur di antara kedua tanga

  • Emily'S Lover   CHAPTER FIFTY

    Malam itu, angin berembus cukup kencang, membawa aroma lembap dari taman di sekitar mansion keluarga Harris.Emily turun dari mobil bersama ibunya, langkahnya terasa berat saat sepatu haknya menyentuh pelataran batu yang dingin. Jantungnya berdegup cepat. Sejak tadi, ia terus mengecek ponselnya—ber

  • Emily'S Lover   CHAPTER FOURTY NINE

    *Lima Tahun Lalu - University of California, Open House*Siang itu matahari menyengat, namun halaman kampus tetap ramai. Musik dari panggung kecil menyatu dengan suara ramai pengunjung dan mahasiswa. Spanduk warna-warni tergantung di setiap tenda. Liam, dengan kaus fakultas dan topi terbalik di kep

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status