Setelah tiga SUV hitam berhenti di depan rumah danau, dua belas petugas keamanan berpakaian jas gelap turun satu per satu dengan tertib.
Pemimpin mereka, Anthony Riyadi, memasuki ruang keluarga lalu serahkan salinan dokumen perwalian kepada manajer properti.
“Properti ini ada di bawah kekuasaan Keluarga Limanto. Citra Limanto adalah satu-satunya wali yang ditunjuk, yang berarti instruksinya punya prioritas di atas siapa pun.”
Wajah manajer properti itu berubah begitu selesai baca dokumen itu. Dia noleh kepada Nico dan rendahkan suaranya.
“Maaf, Pak Nico. Berdasarkan ketentuan perwalian, kita wajib ikuti instruksi Nyonya Citra.”
Kunci mobil di tangan Nico berhenti berputar. Daniel bangkit dari sofa.
“Nico selalu bertanggung jawab atas keamanan di sini. Kalian siapa?”
Anthony meliriknya sekilas.
“Orang-orang yang diberi wewenang untuk laksanakan perintah pemilik properti.”
Setelah katakan itu, dia kasih isyarat ke anak buahnya untuk mulai kerja. Para petugas keamanan itu nggak merusak apa pun. Mereka masukkan pakaian, komputer, dan barang-barang pribadi lainnya milik keempat bersaudara itu serta Sabrina ke dalam kotak-kotak terpisah, beri label pada masing-masing kotak, lalu bawa keluar dengan rapi. Para pekerja hentikan pemasangan lemari dan mulai kembalikan studio musik Elena seperti semula.
Ketika Lukas lihat barang-barang bawaannya dikeluarkan, wajahnya langsung berubah jadi muram.
“Ibu, apa kamu beneran harus bertindak sejauh ini?”
“Rumah ini punya Elena. Kalian masuk tanpa izinnya dan keluarkan barang-barangnya dari kamarnya. Aku cuma keluarkan benda-benda yang bukan milik tempat ini.”
“Kita juga putramu,” kata Lukas. “Apa kamu bilang kita nggak berhak pakai properti keluarga?”
“Aku cuma kasih kamu hak itu. Tapi kamu salah artikan itu jadi hak milikmu.”
Saat lihat kosmetiknya dimasukkan ke dalam sebuah kotak, Sabrina buru-buru lari menuju pintu depan.
“Hati-hati! Itu mahal!”
Anak buah Anthony abaikan dia dan letakkan kotak itu dengan hati-hati di samping tangga depan. Sabrina berbalik menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Nyonya Citra, kamu nggak perlu permalukan aku seperti ini. Aku sudah bilang kalau aku bisa kembali ke asrama sekolah.”
“Kalau gitu kembali saja.”
Jelas sekali dia nggak nyangka aku akan setujui ucapannya.
Selama beberapa detik, dia hanya bisa menatapku dengan terpaku. Lukas segera bergerak ke sisinya.
“Kamu nggak perlu mohon ke dia. Kita akan carikan tempat lain untuk kamu.”
Daniel jalan dekati aku, dan kelembutan dalam suaranya lenyap.
“Kalau hari ini kamu usir kita, jangan harap besok kita akan kembali ke perusahaan untuk bereskan kekacauan yang terjadi.”
“Aku belum copot jabatan kalian.”
“Tapi Ibu sedang nantang wewenang kita,” kata Daniel. “Proyek pengembangan Boswati libatkan lebih dari empat puluh pemasok. Kita berempat kendalikan kontrak-kontrak utama, persetujuan pembayaran, dan jadwal konstruksi. Kalau kita semua berhenti kerja, proyek itu nggak akan bertahan satu hari pun.”
Matthew turun dari lantai atas sambil bawa gambar-gambar arsitektur.
“Pembayaran konstruksi pertama jatuh tempo minggu depan. Kalau tanda tangan kita nggak diserahkan tepat waktu, Grup Limanto akan langgar kontrak-kontraknya dan harga saham akan terdampak.”
Mereka bukan sedang peringatkan aku karena khawatir. Mereka sedang ingatkan aku kalau menurut mereka, Grup Limanto nggak akan mungkin bertahan tanpa mereka.
“Kalau gitu, lanjutkan pekerjaan kalian,” kataku. “Bukannya untuk itu perusahaan bayar kalian?”
Nico tertawa dingin.
“Ibu masih belum ngerti. Sekarang perusahaan bergantung pada kita, bukan pada nama Limanto.”
“Aku ngerti dengan sangat jelas.”
Aku perintahkan Anthony bawa cello Elena untuk diperbaiki, lalu menatap keempat pria itu.
“Ambil barang-barang kalian dan pergi.”
Daniel lihat tatapanku selama beberapa detik sebelum ambil komputernya.
“Oke.”
Dia kembali berhenti sebelum tinggalkan rumah.
“Tapi aku harap Ibu ingat apa yang Ibu katakan hari ini. Ketika perusahaan mulai berantakan, jangan bilang kalau kita nggak pernah peringatkan Ibu.”
Keempat bersaudara itu pergi bersama Sabrina. Meskipun baru saja diusir dari rumah danau, nggak satu pun dari mereka terlihat benar-benar khawatir. Selama mereka masih kendalikan proyek-proyek terpenting perusahaan, mereka yakin pada akhirnya aku akan memohon agar mereka kembali. Untuk saat ini, aku nggak punya alasan untuk meluruskan keyakinan mereka.
Malam itu, aku perintahkan Anthony untuk selidiki setiap proyek yang ditangani keempat bersaudara itu selama tiga tahun terakhir, dengan fokus pada perusahaan-perusahaan terkait, pengeluaran pribadi, serta pemindahan sumber daya perusahaan yang nggak pernah mendapat persetujuan dewan.
Keesokan paginya, Elena masuki ruang kerjaku sambil bawa laptopnya. Wajahnya pucat, dan matanya yang sembap tunjukkan dengan jelas kalau dia baru saja nangis.
“Ibu, mereka batalkan keikutsertaanku dalam kompetisi.”
Aku ambil laptop dari tangannya. Elena ikuti Kompetisi Kewirausahaan Pelajar Nasional. Setiap sekolah peserta hanya dapat kirimkan satu siswa ke babak final, dan Yayasan Limanto merupakan salah satu sponsor terbesar sekolah Elena. Enam bulan sebelumnya, Elena ajukan proposal bisnis untuk tingkatkan akses layanan kesehatan bagi masyarakat di daerah-daerah yang kurang mampu. Dia telah kunjungi dua belas klinik di berbagai lingkungan, lakukan penelitiannya sendiri, serta selesaikan proyeksi keuangan dan model operasional secara mandiri. Proposalnya telah lewati peninjauan akhir dari pihak sekolah. Namun sekarang, sistem pendaftaran tunjukkan kalau dia secara sukarela mengundurkan diri. Siswa yang gantikan dia adalah Sabrina Hidayat. Yang lebih mengganggu lagi, ringkasan proyek atas nama Sabrina hampir sama persis dengan proposal Elena.
“Aku nggak mengundurkan diri,” kata Elena. “Aku sudah telepon panitia kompetisi. Mereka bilang Daniel kirimkan email resmi sebagai ketua eksekutif Yayasan Limanto dan perintahkan sekolah ganti perwakilannya.”
Dia buka email itu.
“Dia juga bilang kalau proposal yang aku buat gunakan data rahasia Grup Limanto dan bisa bocorkan informasi perusahaan kalau aku tetap ikuti kompetisi. Padahal semua data itu aku kumpulkan sendiri. Nggak ada satu pun yang berasal dari perusahaan.”
Aku tutup laptopnya.
“Ayo siap-siap. Kita ke kantor.”
Satu jam kemudian, kami tiba di kantor pusat Grup Limanto di Malawa.
Resepsionis itu langsung berdiri begitu lihat aku.
“Nyonya Citra.”
Aku bawa Elena menuju lift pribadi.
Begitu kita tiba di lantai eksekutif, beberapa manajer senior berdiri di luar ruang konferensi sambil bicara dengan suara pelan.
Nggak seorang pun masuk ke dalam.
“Rapatnya belum dimulai?” tanyaku.
Wakil direktur keuangan hindari tatapanku.
“Pak Daniel belum datang.”
Dua menit kemudian, pintu lift lain terbuka.
Daniel keluar bersama Lukas, Matthew, dan Nico. Sabrina ikuti di belakang mereka sambil membawa proposal bisnis Elena di kedua tangannya. Para eksekutif yang lagi tunggu di koridor langsung berhenti bicara. Daniel nggak sapa mereka. Dia hanya buka pintu ruang konferensi dan jalan masuk, diikuti semua orang lainnya. Seluruh rangkaian itu terlihat begitu alami hingga siapa pun yang lihat mungkin akan kira kalau dialah pemilik sebenarnya dari Grup Limanto.
Elena dan aku masuk paling akhir. Daniel sudah duduk di kursi kepala meja. Sabrina duduk di sebelah kanannya, dengan proposal Elena terbuka di layar komputer di hadapannya.
“Kamu nggak perlu hafal semua angka di bagian ini,” kata Daniel kepadanya. “Kalau para juri tanya tentang biaya, katakan saja Yayasan Limanto akan kasih dukungan tambahan pada tahap berikutnya.”
Lukas tambahkan, “Dan jangan khawatir soal presentasinya. Yayasan Limanto adalah salah satu sponsor utama. Para juri tahu apa yang diharapkan dari mereka.”
Elena langsung melangkah maju.
“Itu proposalku.”
Ruang konferensi seketika jadi sunyi.
Daniel tutup laptop tersebut dan menatapku.
“Kamu datang untuk bahas kejadian kemarin, atau proyek pengembangan Boswati?”
Aku letakkan dokumen perubahan status keikutsertaan Elena di hadapannya.
“Kembalikan tempatnya dalam kompetisi dan kasih tahu panitia kalau kamu tarik kembali emailmu.”
Daniel melirik dokumen itu.
“Keputusannya sudah dibuat.”
“Oleh siapa?”
“Manajemen yayasan.”
“Dengan kata lain, kalian berempat.”
“Kita punya wewenang untuk tentukan gimana sumber daya yang kita sponsori dialokasikan.” Daniel bersandar di kursinya. “Elena masih akan punya banyak kesempatan di masa depan, tetapi kompetisi ini bisa ubah hidup Sabrina. Kasih ini ke orang yang lebih membutuhkannya adalah keputusan yang lebih masuk akal.”
Elena kepalkan kedua tangannya.
“Kalian nggak hanya ambil tempatku. Kalian curi proposalku.”
Matthew angkat wajahnya.
“Jaga ucapanmu. Yayasan Limanto biayai sekolahmu, dan proyekmu berkaitan dengan masalah layanan kesehatan yang telah didukung yayasan selama bertahun-tahun. Kita cuma alihkan proposal yang sudah ada.”
“Aku yang buat proposal itu.”
“Sabrina akan kembangkan itu lebih jauh,” kata Matthew. “Nilai proyek itu nggak berubah hanya karena orang yang dapatkan pengakuannya berbeda.”
Nico bersandar santai di kursinya, suaranya terdengar acuh tak acuh.
“Lagian, kalau kamu yang wakili Keluarga Limanto, semua orang bakal kira keberhasilanmu berasal dari uang dan koneksi. Sabrina punya cerita yang berbeda. Para juri jauh lebih mungkin tersentuh oleh seseorang yang berhasil bangkit dari latar belakang yang sulit.”
Sabrina tundukkan pandangan.
“Elena, kalau ini benar-benar sangat penting buat kamu, aku bisa mengundurkan diri.”
Dia mulai kumpulkan dokumen-dokumen di atas meja.
“Hanya saja, aku sudah cantumkan kompetisi ini dalam aplikasi kuliahku. Kalau aku mundur sekarang, mungkin aku akan kehilangan satu-satunya kesempatan untuk diterima.”
Lukas segera letakkan tangannya di atas tangan Sabrina.
“Kamu nggak akan mengundurkan diri.”
Kemudian dia noleh ke Elena.
“Kamu sudah punya sekolah terbaik, rumah sendiri, dan dana perwalian. Sabrina cuma punya satu kesempatan. Kenapa kamu begitu bersikeras ambil seluruh masa depannya?”
“Karena itu punyaku,” jawab Elena.
“Itulah sikap yang selama ini berusaha kita perbaiki,” balas Daniel. “Kamu selalu bagi segala sesuatu jadi apa yang jadi milik kamu dan apa yang jadi milik orang lain, tetapi kamu nggak pernah berhenti untuk pertimbangkan siapa yang lebih butuh.”
Mata Elena memerah, tetapi dia nggak mau nangis.
“Kalau kalian beneran mau bantu dia, kasih saja proyek dan pencapaian kalian sendiri ke dia. Ngapain kalian selalu harus ambil sesuatu dari aku?”
Nggak ada seorang pun yang jawab. Aku menatap para eksekutif yang duduk di kedua sisi meja konferensi.
“Apa kalian semua anggap ikut kompetisi pakai proposal milik orang lain sebagai bentuk alokasi sumber daya yang masuk akal?”
Nggak ada yang bersuara. Setelah beberapa detik, wakil direktur keuangan akhirnya berkata dengan suara pelan, “Selama ini Yayasan memang ada di bawah wewenang Pak Daniel. Rasanya nggak pantas kalau kita campuri keputusannya.”
Daniel tampak puas dengan jawaban itu. Ketika kembali menatapku, sikapnya kembali lembut seperti biasanya.
“Ibu, ini bukan tantangan terhadap wewenangmu. Kita cuma nggak percaya kalau sumber daya perusahaan dan keluarga harus terus berpusat pada Elena.”
“Dan kalau aku bersikeras agar tempatnya dikembalikan?”
Lukas letakkan pulpennya.
“Kalau gitu, kita berempat akan hentikan sementara seluruh proyek yang ada di bawah kendali kita sampai Yayasan Limanto diberi kewenangan pengambilan keputusan secara independen.”
Matthew dorong sebuah dokumen ke arahku.
“Dewan akan adakan rapat khusus besok pagi untuk definisikan kembali wewenang manajemen eksekutif dan perwalian keluarga. Kita harapkan Ibu hadir.”
Aku buka dokumen itu. Mereka mau aku serahkan kendali langsung atas yayasan, hak untuk angkat dan berhentikan para eksekutif senior, serta sebagian aset keluarga yang ada di bawah nama Limanto.
Pengkhianatan ini nggak dimulai kemarin. Mereka telah siapkan dokumen-dokumen ini jauh sebelum insiden di sekolah terjadi. Mereka hanya lagi tunggu kesempatan untuk paksa aku tanda tangani itu.
“Oke.” Aku tutup dokumen itu. “Aku akan datang.”
Senyum muncul di wajah Daniel.
“Aku senang akhirnya Ibu mau bersikap masuk akal.”
Aku genggam tangan Elena dan bawa dia keluar dari ruang konferensi.
Baru setelah pintu lift tertutup, dia menatapku.
“Gimana dengan kompetisinya, Ibu?”
“Biarkan mereka pertahankan tempat itu untuk sementara.”
“Tapi ….”
“Proposal aslinya masih ada di tanganmu. Nggak seorang pun bisa rampas pengetahuan dan kemampuan yang kamu gunakan untuk ciptakan itu.”
Aku serahkan pemberitahuan rapat khusus dewan ke Anthony, yang ikut masuk ke dalam lift bersama kita.
“Kirim ini ke pengacaraku. Terus beri tahu tim audit forensik kalau malam ini mereka harus mulai periksa setiap rekening yang dikendalikan keempat pria itu.”
Anthony terima dokumen tersebut.
“Haruskah saya beri tahu anggota dewan lainnya?”
“Nggak usah.”
Aku menatap angka di atas pintu lift yang terus menurun.
“Kalau mereka sudah putuskan untuk besok ambil Grup Limanto dari aku, biarkan mereka bawa siapa pun yang mereka perlukan.”
Gimanapun juga, Grup Limanto hanyalah satu dari sekian banyak perusahaan sah yang ada di bawah kendaliku.
Aku mau lihat berapa banyak orang yang telah lupakan siapa yang bangun perusahaan itu dan nama apa yang pernah aku sandang sebelum Citra Limanto ada.