Short
Empat Putra Angkatku Mengkhianati Putriku

Empat Putra Angkatku Mengkhianati Putriku

By:  Jasmine FlowerCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
11Chapters
60views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aku besarkan empat anak laki-laki terlantar dan anggap mereka sebagai putra-putraku sendiri. Aku kasih mereka rumahku, uangku, koneksiku, dan pada akhirnya kekuasaan yang cukup besar kepada mereka hingga mereka mampu kendalikan empat divisi terpenting di Grup Limanto. Selama tujuh belas tahun, aku percaya kalau mereka sayangi putri kandungku, Elena Limanto, layaknya saudara perempuan mereka sendiri. Sampai suatu hari, dia telepon aku dari kamar mandi sekolah. “Ibu, tolong aku.” Ketika aku tiba, seragamnya sudah terkoyak, dan tubuhnya dipenuhi memar. Keempat putraku sudah dengar jeritannya. Namun, mereka nggak lakukan apa pun. Mereka justru berdiri di luar, lindungi Sabrina Hidayat. Menurut mereka, Elena terlalu dimanja. Dia punya terlalu banyak, sementara Sabrina kekurangan. Jadi, mereka putuskan untuk ajari Elena gimana caranya lepaskan apa yang jadi miliknya. Awalnya, hanya sebuah gaun. Kemudian mereka berikan rumah di tepi danau yang seharusnya jadi hadiah ulang tahun Elena yang ke-18 ke Sabrina, bahkan kosongkan studio pribadi Elena untuk diberikan ke dia. Dan akhirnya, mereka ambil proposal bisnis yang telah Elena kerjakan selama enam bulan, hapus namanya, lalu ajukan itu atas nama Sabrina. Ketika Elena menuntut agar proposal itu dikembalikan, putra-putraku justru sebut dia egois. “Kamu sudah punya segalanya. Sabrina lebih butuh itu dibanding kamu.” Saat itulah aku ngerti. Keempat anak laki-laki yang pernah aku selamatkan itu sudah nggak lagi memandang Elena sebagai saudara perempuan mereka. Mereka anggap warisan Elena sebagai sesuatu yang berhak mereka bagi sesuka hati. Dan nggak lama kemudian, mereka mulai incar milikku juga. Mereka duduk di ruang rapatku dan tuntut kendali atas perusahaanku, dana perwalian induk Limanto, serta segala sesuatu yang telah aku bangun. Mereka kira Grup Limanto berdiri karena mereka. Mereka kira aku hanyalah seorang ibu yang semakin tua dan bisa mereka singkirkan begitu saja. Mereka sama sekali nggak tahu kalau tujuh belas tahun lalu, aku telah tinggalkan kerajaan kriminal Muryani demi berikan kehidupan normal ke Elena. Grup Limanto hanyalah salah satu perusahaan legal yang berdiri di dalam sebuah kerajaan yang nggak pernah mereka ketahui keberadaannya. Dan kekuasaan yang begitu mereka banggakan? Akulah yang kasih itu ke mereka. Putra-putraku ingin ajari Elena kalau nggak ada sesuatu pun yang akan jadi miliknya hanya karena dia punya margaku. Baiklah. Aku akan ajari mereka berempat pelajaran yang sama.

View More

Chapter 1

Bab 1

“Katamu, kalian cuma mau takut-takutin dia?”

Aku menatap Matthew Limanto lurus-lurus. Dia mengernyit, seolah-olah justru akulah yang bersikap nggak masuk akal.

“Ibu, seumur hidup Elena selalu hidup dalam perlindungan. Kalau ada sedikit kesulitan justru akan baik untuk dia.” Dia melirik ke arah kamar mandi. “Kita bakal ada di luar. Kita nggak mungkin biarkan sesuatu yang serius terjadi.”

Aku ikuti arah pandangannya. Elena meringkuk di lantai, bersandar pada dinding keramik yang dingin. Tubuhnya gemetar hebat hingga giginya bergemeletuk. Salah satu sisi blus seragam sekolahnya telah terkoyak, sementara memar-memar gelap mulai bermunculan di sepanjang bahunya. Dengan kedua tangan, dia cengkeram sisa kerah bajunya, berusaha mati-matian tutupi tubuhnya. Dan inilah yang mereka anggap sebagai sesuatu yang nggak serius.

Dulu, aku pernah hidup di dunia tempat para pria selipkan pistol di balik jas mereka yang dijahit sempurna, dan satu penghinaan saja bisa buat seseorang kehilangan jauh lebih banyak daripada sekadar uang. Namun di dunia seperti itu pun, nggak ada seorang pun yang pernah berani sentuh putriku.

Aku melangkah dekati Matthew.

“Jadi, menurutmu kapan keadaan ini baru akan dianggap serius? Setelah mereka lepaskan sisa pakaiannya, atau setelah seseorang unggah videonya ke internet?”

Ekspresi Matthew berubah. Sebelum dia sempat jawab, Daniel Limanto melangkah di antara kita. Dia betulkan kacamata berbingkai emasnya, lalu bicara dengan suara tenang dan terukur yang biasa dia gunakan dalam rapat dewan direksi, suara yang selalu berhasil buat orang percaya kalau dialah satu-satunya orang yang masuk akal di ruangan itu, “Ibu, kamu nggak tahu keseluruhan ceritanya.”

“Aku tahu apa yang sedang aku lihat.”

“Tapi Ibu nggak tahu apa yang sebabkan semua ini.”

Daniel melirik gadis yang sembunyi di belakangnya.

“Sabrina nggak sengaja tumpahkan kopi ke sepatu Elena. Elena permalukan dia di depan semua orang dan bilang kalau Sabrina nggak akan pernah mampu beli sepatu untuk gantikan punya dia.”

Sabrina Hidayat cengkeram bagian belakang jas Daniel. Matanya berkaca-kaca, dan suaranya nyaris nggak terdengar.

“Bu Citra, aku sudah tawarkan diri untuk bersihkan sepatunya, tetapi Elena bilang orang seperti aku nggak pantas sentuh sepatu itu.”

Kepala Elena Limanto langsung terangkat.

“Aku nggak pernah bilang gitu.”

Sabrina gigit bibirnya.

“Aku tahu Elena nggak suka sama aku. Seharusnya aku nggak minta pinjam gaun yang sudah dia rencanakan untuk dipakai ke gala amal. Aku cuma pikir ….”

“Kamu nggak minta itu ke aku.”

Suara Elena serak, tetapi dia paksa setiap kata keluar dari tenggorokannya.

“Kamu bilang ke semua orang kalau Daniel sudah janji akan kasih gaunku ke kamu. Waktu aku bilang itu nggak benar, kamu sengaja tuangkan kopi ke sepatuku.”

Ekspresi Sabrina membeku sesaat.

“Aku nggak ….”

“Cukup.”

Lukas Limanto segera bergerak ke hadapannya. Dia lepas jasnya dan dengan hati-hati sampirkan itu ke bahu Sabrina, meskipun gadis itu masih berpakaian lengkap sementara putriku duduk setengah telanjang di lantai.

“Sabrina nggak bilang kayak gitu waktu dia cerita sambil nangis ke kita.”

Lukas menatapku, sorot tuduhan jelas terpancar di matanya.

“Ibu, Elena buat dia merasa nggak berharga hanya gara-gara satu gaun bodoh. Dia pikir karena dirinya lahir di keluarga ini, semua orang harus tunduk ke dia.”

“Jadi, kalian biarkan gadis-gadis itu seret dia ke kamar mandi?”

“Kita cuma minta mereka bicara dengan Elena,” jawab Matthew. “Terus keadaannya jadi sedikit di luar kendali.”

“Kalian dengar dia minta tolong.”

Kamar mandi itu seketika jadi sunyi. Mereka dengar itu. Ketika Elena nangis dan mohon agar gadis-gadis itu berhenti, keempat kakaknya berdiri di luar pintu. Salah satu dari mereka bisa saja masuk dan akhiri semuanya. Namun nggak satu pun dari mereka lakukan itu.

Nico Limanto bersandar di dekat wastafel, memutar-mutar sebuah pemantik perak di antara jemarinya. Kelihatannya dia sama sekali nggak peduli.

“Elena perlu dikasih pelajaran.”

Dia tutup pemantik itu dengan bunyi klik.

“Elena nggak bisa anggap segala sesuatu jadi miliknya hanya karena dia lahir di keluarga ini.”

Aku menatapnya. Saat aku temukan dia, Nico baru berusia sembilan tahun. Pergelangan tangannya patah, dan di dalam sakunya hanya ada 32 ribu rupiah. Selama berbulan-bulan setelah aku bawa pulang, dia terbangun di tengah malam sambil teriak akibat mimpi buruk. Saat itu, Elena yang masih kecil sering bawa bantalnya ke kamar Nico dan duduk di samping tempat tidurnya sampai pagi. Sekarang, Nico bicara tentang Elena seolah-olah gadis itu hanyalah orang asing.

“Pelajaran apa yang mau kalian ajarkan ke dia?” tanyaku.

Daniel jawab, “Berbagi.”

Tatapannya tertuju pada Elena tanpa sedikit pun rasa iba.

“Dia sudah punya banyak, lebih dari yang dia butuhkan. Sabrina cuma mau pinjam sebuah gaun. Emangnya Elena punya alasan apa untuk tolak itu?”

“Itu gaunku,” ujar Elena lirih.

Daniel abaikan dia.

“Sabrina harus kerja keras untuk dapatkan segala sesuatu yang dia miliki. Elena terlahir dengan segala keuntungan. Kalau kita nggak perbaiki itu dari sekarang, dia akan tumbuh jadi seperti yang selama ini orang-orang bayangkan, seorang pewaris kaya yang egois dan angkuh, yang kira seluruh dunia berutang segala sesuatu ke dia.”

Selama tujuh belas tahun, aku telah kasih keempat anak laki-laki itu segala sesuatu yang mampu aku berikan. Aku bawa mereka keluar dari panti asuhan, tempat penampungan, dan ruang-ruang sidang pengadilan anak. Aku bayar pendidikan terbaik yang tersedia dan pastikan mereka jalani terapi selama bertahun-tahun.

Ketika mereka tumbuh dewasa, aku bawa mereka masuk ke Grup Limanto. Daniel kelola operasional perusahaan. Lukas awasi hubungan masyarakat dan kemitraan eksternal. Matthew kendalikan keuangan, sementara Nico tangani pengembangan properti dan keamanan.

Media bisnis juluki mereka sebagai Limanto bersaudara. Orang-orang bicarakan mereka seolah-olah mereka terlahir dalam kekuasaan. Mungkin, itulah kesalahan terbesarku. Aku telah kasih mereka begitu banyak sampai mereka lupa, kalau pada awalnya semua itu bukan milik mereka.

Aku lewati Daniel, lalu berjongkok di samping Elena. Aku lepas jaketku dan bungkus tubuhnya yang memar serta seragamnya yang terkoyak dengan rapat. Kemudian, aku tarik dia ke dalam pelukanku.

“Sekarang semuanya sudah selesai. Ibu akan bawa kamu pulang.”

Elena benamkan wajahnya di bahuku dan cengkeram gaunku dengan kedua tangannya.

“Aku nggak pernah lakukan seperti yang mereka bilang.”

“Ibu tahu.”

Daniel hembuskan napas dengan tidak sabar di belakangku.

“Ibu, belain dia kayak gini hanya akan buat keadaan tambah buruk.”

Aku nggak noleh.

“Daniel, nggak usah banyak bicara.”

Namun dia tetap lanjutkan, “Kalau Ibu terus cari alasan untuk belain dia, Elena nggak akan pernah belajar bertanggung jawab atas perbuatannya. Elena harus berdiri dan minta maaf ke Sabrina.”

Tubuh Elena jadi tegang dalam pelukanku. Daniel mendekat dan ulurkan tangan untuk raih lengannya.

“Bangun, Elena. Minta maaf, terus kita lupakan semua ini.”

Aku berdiri dan tampar wajahnya. Suara tamparan itu menggema keras di seluruh kamar mandi. Kepala Daniel terhempas ke samping. Kacamata berbingkai emasnya jatuh ke lantai dan meluncur hingga masuk ke bawah wastafel.

Keempat pria itu langsung terdiam. Lukas jadi orang pertama yang bereaksi.

“Ibu ngapain?”

Dia melangkah ke arahku, tetapi Matthew segera tangkap lengannya. Daniel perlahan noleh kembali. Bekas telapak tanganku mulai membekas merah di pipinya. Topeng tenang dan terkendali yang selalu dikenakannya akhirnya retak, perlihatkan kemarahan yang selama ini tersembunyi di baliknya.

“Kalau tampar aku buat ibu merasa lebih baik, silakan.”

Dia kembali menatapku.

“Tapi itu nggak akan ubah kenyataan kalau Elena memang salah. Kalian masih anggap semua ini cuma soal sepasang sepatu? Ini tentang dia bakal jadi seperti apa nantinya.”

“Nggak.”

Aku menatap matanya tanpa gentar.

“Ini tentang jadi seperti apa kalian sekarang ini.”

Sabrina sembunyi di belakang Lukas.

“Lukas, dia buat aku takut.”

Lukas seketika bergeser, lindungi dia dengan tubuhnya.

Aku memandang cara Lukas lindungi Sabrina, lalu menatap putriku, putri yang ditinggalkan oleh keempat kakaknya di dalam kamar mandi itu ketika orang-orang asing merobek-robek pakaiannya. Perbedaan itu buat aku merasa muak.

Nico terkekeh dingin.

“Hari ini Ibu benar-benar buat kita kecewa.”

“Kita berusaha cegah Elena tumbuh jadi gadis manja yang suka tindas orang lain. Rupanya, cuma kita berempat yang bersedia bilang nggak ke dia.”

“Hari ini Elena sudah bilang nggak berkali-kali.”

Aku bantu putriku berdiri, sambil tetap lingkarkan satu tangan erat di pinggangnya.

“Dia bilang nggak ketika Sabrina mau rebut gaunnya. Dia bilang nggak ketika gadis-gadis itu seret dia ke kamar mandi ini.”

Aku menatap mereka satu per satu.

“Dan orang-orang yang nggak bisa hormati kata-kata itu adalah kalian.”

Nggak satu pun dari mereka jawab.

“Kalau kalian percaya uang keluarga Limanto sudah buat Elena jadi sombong, maka kalian juga nggak bisa pakai uang itu sepeser pun.”

Matthew silangkan kedua lengannya. Sudut bibirnya terangkat sinis.

“Jadi, Ibu ngancam akan batalkan kartu kredit kita?”

“Aku sedang kasih tahu kamu.”

“Kita kelola empat divisi terpenting Grup Limanto. Apa Ibu benar-benar berpikir batalkan beberapa kartu kredit akan buat kita takut?”

Lukas ikut tertawa.

“Kalau kita berempat pergi, siapa yang akan jalankan proyek pengembangan Boswati? Siapa yang akan jaga dewan tetap ada di bawah kendali? Kamu?”

Aku menatapnya dalam diam.

Dia sungguh-sungguh percaya kalau selama tujuh belas tahun terakhir aku cuma bersantai di kediamanku di Wilasto, sementara mereka berempat bangun Grup Limanto di sekelilingku. Dia sama sekali nggak tahu berapa banyak orang yang masih tunggu satu perintah dari Citra Muryani, atau kalau Grup Limanto hanyalah satu bagian dari kerajaanku yang aku izinkan diketahui oleh publik.

Daniel membungkuk dan ambil kacamatanya. Salah satu lensanya retak, tetapi dia tetap kenakan itu kembali.

“Kita sudah kerja untuk keluarga ini selama bertahun-tahun, dan kitalah yang buat Grup Limanto bisa ada di posisi seperti sekarang.”

Suaranya kembali tenang.

“Apa Ibu beneran akan hancurkan keluarga ini hanya karena Elena menolak berbagi satu gaun?”

“Kalian berhenti lindungi keluarga ini waktu kalian cuma berdiri di luar pintu itu dan dengarkan dia memohon minta tolong.”

Aku tuntun Elena menuju pintu keluar. Saat kita lewati Sabrina, aku berhenti sejenak. Dia segera tundukkan pandangannya, tetapi sebelum itu aku lihat rasa puas yang gagal dia sembunyikan. Dia kira dirinya telah menang. Nggak masalah, nanti aku bakal urus dia. Saat ini, putriku butuh aku.

Aku berhenti di samping Daniel.

“Besok pagi, seluruh kartu kredit pribadi, mobil, dan aksesmu ke semua properti yang ada di bawah nama Limanto akan dibekukan.”

Nico mencibir.

“Ibu akan cabut itu balik dalam tiga hari.”

“Beneran?”

“Perusahaan ini nggak akan bisa bertahan tanpa kita.”

Mereka berempat percayai hal itu. Mereka salah kira, mereka kira wewenang yang aku pinjamkan ke mereka sebagai kekuasaan yang mereka peroleh sendiri.

Aku menatap Daniel untuk terakhir kalinya.

“Kalian mau Elena paham kalau dibesarkan di bawah nama Limanto bukan berarti segala sesuatu jadi miliknya?”

Dia nggak jawab.

“Mulai besok, kalian berempat akan pelajari pelajaran yang sama.”

Setelah itu, aku bawa putriku pulang.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
11 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status