Share

Bab 2

Author: Jasmine Flower
Dalam perjalanan pulang, Elena tetap meringkuk di sudut kursi belakang, kedua tangannya cengkeram ujung jaketku erat-erat.

“Ibu, aku beneran nggak tindas Sabrina.”

Suaranya lirih dan serak karena terlalu lama nangis dan teriak.

“Dia mau pinjam gaun yang akan aku pakai untuk acara ulang tahunku yang ke-18. Aku bilang permak ukurannya belum selesai, jadi aku nggak bisa pinjamkan ke dia. Saat itulah dia sengaja tuangkan kopi ke sepatuku. Aku cuma suruh dia jangan dekat-dekat aku. Terus Daniel dan yang lainnya datang.”

Aku tarik putriku ke dalam pelukanku dan usap punggungnya dengan lembut.

“Ibu percaya sama kamu.”

Elena terdiam sejenak sebelum mendongak menatapku.

“Mereka dengar aku minta tolong, kan?”

Aku nggak bisa bohong ke dia.

“Iya.”

Sisa harapan yang masih terpancar di matanya pun lenyap. Tujuh belas tahun yang lalu, aku bawa pulang empat anak laki-laki dari panti asuhan yang berbeda. Daniel sudah berusia dua belas tahun. Dia nggak percaya dengan orang dewasa mana pun, tetapi diam-diam selalu sisihkan sebagian makanannya untuk anak-anak yang lebih kecil. Lukas terbiasa selesaikan masalah dengan kepalan tangannya. Matthew jarang bicara, tetapi dia ingat setiap kelemahan yang pernah diamatinya. Nico adalah yang paling muda sekaligus paling impulsif. Pernah suatu ketika, dia biarkan anak laki-laki lain patahkan pergelangan tangannya daripada tinggalkan seorang anak kecil yang sedang dia lindungi.

Aku kasih mereka identitas baru, pendidikan terbaik yang bisa dibeli dengan uang, dan pada akhirnya posisi di dalam Grup Limanto. Aku juga bilang ke mereka kalau Elena adalah saudara perempuan mereka. Aku nggak pernah minta mereka sembah dia, dan aku juga nggak pernah ingin mereka sakiti siapa pun atas namanya. Aku cuma minta mereka saling melindungi, seperti layaknya sebuah keluarga.

Selama bertahun-tahun, mereka benar-benar lakukan itu. Daniel selalu ada di sisi tempat tidur Elena setiap kali putriku jatuh sakit. Pernah suatu kali Lukas setir mobil selama tiga jam hanya untuk ambilkan kostum Elena yang tertinggal di rumah. Matthew periksa setiap formulir pendaftaran sekolah yang diajukan Elena, sementara Nico akan hadapi siapa pun yang ejek dia karena sifatnya yang pemalu.

Itu sebabnya aku nggak sadar, kapan perlindungan mereka berubah jadi penghakiman. Mereka mulai tentukan apa yang boleh Elena pertahankan, apa yang harus dia serahkan, dan bagian mana dari hidupnya yang seharusnya diberikan ke orang lain yang menurut mereka lebih pantas dapatkan itu.

…

Keesokan paginya, aku bekukan kartu kredit pribadi mereka, tarik kembali semua kendaraan yang terdaftar di bawah perwalian Keluarga Limanto, dan cabut akses mereka ke seluruh kediaman keluarga.

Jam delapan pagi, Robert masuk ke ruang makan dan letakkan beberapa kartu akses yang sudah dinonaktifkan di hadapanku.

“Nyonya, kemarin malam Daniel dan yang lainnya nggak kembali ke kediaman utama.”

“Di mana mereka?”

“Di rumah tepi danau di Gentori.”

Aku letakkan cangkir kopiku. Sebenarnya rumah itu disiapkan sebagai hadiah ulang tahun Elena yang ke-18, meskipun secara hukum properti itu masih ada di bawah perwalian keluarga. Selama setahun terakhir, Elena pilih sendiri setiap perabotan di sana dan ubah ruangan yang menghadap ke selatan di lantai pertama jadi studio musik.

“Mereka kok bisa masuk?”

Robert ragu sejenak.

“Staf terima perintah langsung dari Nico. Karena dialah yang awasi keamanan perusahaan dan seluruh properti Limanto, mereka kira keempat pria itu memang punya wewenang untuk pakai properti apa pun yang ada di bawah nama Keluarga Limanto.”

“Apa lagi?”

“Daniel perintahkan staf untuk kosongkan studio musik Nona Elena. Mereka akan ubah itu jadi kamar untuk Nona Sabrina.”

Elena duduk di ujung meja makan yang lain. Begitu dengar hal itu, ia langsung berdiri.

“Celloku masih di sana.”

Itu adalah alat musik yang diwariskan neneknya ke dia.

“Biar Ibu yang urus,” kataku. “Kamu di rumah saja istirahat.”

“Ibu ….”

“Percaya ke Ibu.”

Elena menatap wajahku selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. Empat puluh menit kemudian, aku tiba di rumah tepi danau itu. Gerbang depan terbuka lebar, sementara sebuah truk pindahan terparkir di halaman. Beberapa pekerja sedang keluarkan buku-buku seni Elena, lembaran musik, dan berbagai hiasan pribadinya.

Saat masuki ruang keluarga, aku lihat Sabrina duduk di sofa sambil kenakan jubah sutra favorit Elena dan menyeruput kopi. Daniel duduk di sampingnya, sibuk periksa ulang dokumen proyek di laptopnya.

Begitu lihat aku, dia hanya tutup laptop itu.

“Kamu datang lebih cepat dari yang aku duga, Ibu.”

Nada suaranya begitu santai, seolah-olah rumah itu memang selalu jadi miliknya.

“Siapa yang kasih kamu izin untuk tinggal di sini?”

“Sabrina lagi persiapkan pendaftaran kuliahnya dan butuh tempat yang tenang untuk belajar.” Daniel bangkit dari sofa. “Tempat ini kan kosong. Kita cuma berniat tinggal beberapa minggu.”

Sabrina segera letakkan cangkir kopinya.

“Maaf, Nyonya Citra. Aku nggak tahu kalau kamu nggak mau aku ada di sini.”

Dia cengkeram kerah jubah milik Elena dan menatapku dengan gelisah.

“Kalau aku sudah buat masalah, aku akan pergi sekarang juga.”

Lukas keluar dari dapur sambil serahkan segelas susu hangat ke dia.

“Kamu nggak akan pergi ke mana-mana.”

Kemudian dia noleh ke aku.

“Kita juga bagian dari keluarga ini. Seharusnya kita nggak perlu adakan rapat dewan setiap kali mau undang seorang teman untuk tinggal di properti keluarga.”

“Rumah ini punya Elena.”

“Dia belum berusia delapan belas tahun, dan properti ini masih ada di bawah perwalian keluarga.” Matthew turun dari lantai atas sambil bawa satu set gambar arsitektur. “Secara teknis, dia belum jadi pemilik rumah ini.”

Aku menatapnya.

“Jadi menurutmu, itu kasih kamu hak untuk tentukan gimana rumah ini akan digunakan?”

Matthew tetap tenang.

“Kita cuma manfaatkan properti kosong secara wajar. Elena tinggal di Wilasto dan hampir nggak pernah datang ke sini. Sabrina lebih butuh ini dibanding Elena.”

Sekali lagi, kata itu muncul.

Butuh.

Setiap kali Sabrina inginkan sesuatu, semua yang dimiliki Elena tiba-tiba dianggap sebagai kemewahan yang nggak diperlukan.

“Di mana studio musiknya?”

Daniel betulkan kacamatanya.

“Sabrina nggak punya tempat untuk simpan pakaian dan dokumen pendaftarannya, jadi aku minta ruangan itu dikosongkan untuk sementara.”

Aku jalan lurus menuju ruangan di ujung lorong lantai pertama. Begitu buka pintunya, aku lihat dua pekerja sedang pasang lemari pakaian baru. Karpet yang dipilih Elena digulung dan disandarkan di salah satu sisi dinding, sementara lembaran musik dan foto-foto pertunjukannya dilempar begitu saja ke dalam kardus. Cellonya tergeletak miring di sudut ruangan. Dua senarnya putus, dan sebuah goresan dalam membelah permukaan tubuh cello itu.

Aku seberangi ruangan dan angkat alat musik itu dengan hati-hati.

“Siapa yang sentuh ini?”

Nico bersandar di ambang pintu sambil memutar-mutar kunci mobil dengan satu jari.

“Terjadi kecelakaan waktu para pekerja pindahkan itu.”

“Siapa yang suruh mereka pindahkan itu?”

“Aku.”

Nggak ada sedikit pun nada penyesalan dalam suaranya.

“Itu cuma cello tua. Aku sudah minta asistenku hubungi dealer terbaik di Nevasa. Mereka bisa antarkan yang baru besok.”

“Cello ini punya nenek Elena.”

“Aku tahu.”

Nico angkat bahu.

“Tapi sudah rusak, mau gimana lagi. Seharusnya kita selesaikan masalahnya, bukan terobsesi pada benda tua.”

Aku menatapnya.

“Kamu pikir uang bisa selesaikan segalanya?”

“Uang bisa selesaikan masalah cello yang rusak.” Dia melirikku. “Benda itu bisa diganti lebih cepat kalau ibu nggak bekukan kartu-kartuku.”

Sabrina datang dan berdiri di samping Daniel, air mata sudah mengalir di wajahnya.

“Semua ini salahku. Cello-nya nggak akan pernah rusak kalau aku nggak datang ke sini.”

Dia tarik lengan baju Daniel.

“Seharusnya aku kembali ke asrama sekolah. Aku nggak ingin jadi alasan hubunganmu dengan keluargamu jadi buruk.”

Daniel tepuk tangannya.

“Ini bukan salahmu.”

Kemudian dia noleh ke aku.

“Ibu, kejadian di sekolah sudah selesai. Kamu bekukan kartu kita dan tarik kembali kendaraan-kendaraan kita, tapi kita nggak permasalahkan hal itu. Sekarang kamu kejar kita sampai ke sini. Apa kamu berniat ubah setiap masalah kecil jadi perang?”

“Masalah kecil?”

“Cello-nya bisa diperbaiki, dan ruangan ini bisa dikembalikan seperti semula.” Suara Daniel tetap tenang dan terukur. “Proyek pengembangan Boswati lagi ada di tahap yang sangat penting, dan setiap hari kita tangani kontrak senilai miliaran rupiah. Aku nggak punya waktu untuk terus berdebat tentang siapa yang berhak pakai satu ruangan.”

“Kalau gitu, nggak ada lagi yang perlu dibicarakan.”

Aku ambil HP dan telepon Robert.

“Suruh staf properti hentikan pemindahan barang-barang Elena dan segera kembalikan studio musiknya seperti semula.”

Robert terdiam selama beberapa detik.

“Nyonya, manajer properti menolak patuhi perintah itu. Katanya Nico kendalikan keamanan perusahaan dan seluruh properti Limanto. Tanpa otorisasi tertulis dari dia, staf nggak akan ubah pengaturan yang sudah dibuat.”

Senyum tipis muncul di wajah Nico. Dia sengaja hindari tatapanku dan hanya terus memutar-mutar kunci mobil di jarinya. Ini bukan lagi soal pakai rumah Elena tanpa izin.

Mereka sedang uji siapa yang sebenarnya pegang kendali atas segala sesuatu yang ada di bawah nama Limano.

Daniel kembali buka laptopnya, rasa percaya dirinya telah pulih sepenuhnya.

“Ibu pulang dulu saja. Kita bisa bicarakan ini lagi setelah Ibu sudah tenang.”

Aku akhiri panggilan, lalu kirim pesan ke sebuah nomor yang sudah lebih dari sepuluh tahun nggak pernah aku hubungi.

Balasannya datang tiga detik kemudian.

[KAMI PATUH PADA ANDA, NYONYA.]

Aku segera simpan kembali HP-ku sebelum siapa pun sempat lihat layarnya.

Ketika aku tinggalkan dunia itu, aku serahkan pengelolaan properti Limanto dan operasi keamanan ke Nico. Aku percayakan pengelolaan harian Grup Limanto ke Daniel, lalu secara bertahap berikan lebih banyak wewenang ke Lukas dan Matthew.

Tampaknya mereka telah lupakan satu hal: kuasa apa pun yang sudah aku kasih ke mereka bisa aku ambil kembali.

Aku noleh ke arah pintu depan. Tiga SUV hitam tanpa tanda perusahaan sudah berbelok masuki halaman.

“Robert.”

“Ya, Nyonya.”

“Jangan biarkan seorang pun di rumah ini bergerak.”

Kemudian aku menatap Daniel, sementara keyakinan perlahan menghilang dari wajahnya.

“Kalau orang-orangmu sudah nggak ngerti perintahku, aku akan ganti dengan orang-orang yang masih ngerti perintahku.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Empat Putra Angkatku Mengkhianati Putriku   Bab 11

    Delapan belas bulan kemudian, audit terhadap Grup Limanto dan seluruh penyelidikan kriminal akhirnya berakhir. Dari 1,488 triliun transaksi mencurigakan, lebih dari 960 miliar berhasil dikembalikan. Sementara kerugian yang tersisa akan terus dikejar melalui penyitaan aset-aset terkait dan tuntutan ganti rugi secara perdata.Dihadapkan pada email, rekaman percakapan, serta catatan transaksi bank, keempat bersaudara itu nggak mampu lagi pertahankan satu cerita yang sama. Daniel akui telah setujui kontrak-kontrak yang mengandung penipuan, tetapi berdalih kalau Matthew-lah yang bertanggung jawab periksa pembayaran. Matthew serahkan instruksi tertulis dari Daniel dan bersikeras kalau dia telah beberapa kali sampaikan keberatannya. Lukas salahkan ibu Sabrina, sementara Nico serahkan daftar pemasok lengkap sebagai imbalan atas pencabutan salah satu dakwaan terhadapnya.Dulu, mereka percaya kalau selama mereka tetap bersatu, mereka bisa kendalikan segala sesuatu yang berkaitan dengan nama Lima

  • Empat Putra Angkatku Mengkhianati Putriku   Bab 10

    Aku kembalikan pernyataan kerja sama Sabrina ke Helen.“Lanjutkan penyelidikan. Setiap rupiah yang masih bisa dikembalikan harus dikembalikan, dan masing-masing dari mereka harus pertanggungjawabkan setiap dokumen yang telah mereka tanda tangani.”Aku nggak perlu gunakan koneksi lamaku untuk permalukan mereka. Hukum, kontrak yang mereka buat sendiri, serta bukti-bukti yang mereka ciptakan dengan tangan mereka sendiri sudah cukup untuk selesaikan perhitungan ini.…Keesokan harinya, Elena tampil di babak final Kompetisi Kewirausahaan Pelajar Nasional. Untuk hindari konflik kepentingan, panitia ganti dua orang juri yang punya hubungan bisnis dengan Grup Limanto. Elena nggak terima bantuan apa pun dari Yayasan Limanto, dan baik Marco maupun siapa pun dari perusahaan nggak hubungi para juri untuk bantu dia.Di hadapan tujuh juri independen, Elena jelaskan biaya operasional klinik, kebutuhan tenaga kerja, cakupan asuransi, serta rencana pendanaannya. Setiap angka yang dia sampaikan berasal

  • Empat Putra Angkatku Mengkhianati Putriku   Bab 9

    Begitu pembangunan proyek Boswati kembali berjalan normal, keempat bersaudara itu kehilangan kartu tawar terakhir yang masih mereka miliki. Para pemasok nggak ikut pergi bersama mereka, dewan direksi sama sekali nggak berniat kembalikan posisi mereka, dan Keluarga Vivali juga nggak menarik diri dari kerja sama itu. Sementara itu, para auditor independen terus temukan masalah baru setiap harinya.Dua minggu kemudian, ibu Sabrina, Rebecca, terima surat panggilan resmi dari pengadilan, sementara Sabrina sendiri diskors dari sekolah. Barulah dia sadar kalau keempat bersaudara itu sudah nggak punya kuasa untuk lindungi dia. Ketika Daniel kembali ke apartemen mereka di Rusika sore itu, Sabrina lagi beres-beres.Dua koper sudah penuh dengan pakaian dan dokumen, sementara kalung yang pernah diberikan Lukas ke dia diletakkan begitu saja di atas meja.“Kamu mau pergi ke mana?” tanya Daniel.“Ke hotel.”Lukas kernyitkan keningnya.“Rekeningmu juga lagi diperiksa. Kita sudah siapkan pengacara untu

  • Empat Putra Angkatku Mengkhianati Putriku   Bab 8

    Penyelidikan itu terus berlangsung selama tiga minggu. Hasil audit ternyata jauh lebih buruk daripada yang aku perkirakan. Selama tiga tahun terakhir, keempat saudara itu telah pindahkan lebih dari 1,28 triliun melalui tujuh belas perusahaan yang saling terafiliasi, dan sedikitnya 416 miliar di antaranya nggak bisa dikaitkan dengan layanan sah apa pun.Konsultan Bisnis Strategis Hidayat telah terima 192 miliar dari Yayasan Limanto. Lebih dari setengah uang itu pada akhirnya masuk ke rekening yang dikendalikan oleh ibu Sabrina.Daniel setujui proyek-proyek itu. Matthew lewati prosedur pemeriksaan keuangan yang biasanya diwajibkan. Lukas gunakan departemen hubungan masyarakat untuk sembunyikan hubungan di antara perusahaan-perusahaan itu, sementara Nico tambahkan perusahaan-perusahaan cangkang ke dalam daftar pemasok yang telah disetujui. Masing-masing saudara kendalikan tahapan yang berbeda dalam proses itu, ciptakan rantai persetujuan yang sengaja dirancang untuk hindari pengawasan nor

  • Empat Putra Angkatku Mengkhianati Putriku   Bab 7

    Aku menatap keempat putra angkatku.“Kalian sudah berhari-hari bersikeras kalau Grup Limanto harus dikelola oleh para profesional. Kalau gitu, kita bisa mulai dengan audit pekerjaan kalian.”Nico tekan kedua tangannya ke atas meja konferensi.“Ibu, kamu pakai penyelidikan ini untuk hukum kita.”“Kalau seluruh rekening bersih, audit ini nggak akan ubah hasil apa pun.”Suara Daniel berubah dingin.“Ibu beneran pikir dengan menonaktifkan akses sistem kita, ibu bisa ambil alih proyek pembangunan Boswati dan kerja sama dengan Vivali?”“Aku belum umumkan kalau kalian bakal diskors.”Sebagian ketegangan di wajah Daniel menghilang.Aku noleh ke Helen.“Sekarang kamu boleh umumkan.”Helen keluarkan empat surat pemberitahuan resmi.“Berdasarkan klausul integritas dalam kontrak eksekutif kalian, Daniel Limanto, Lukas Limanto, Matthew Limanto, dan Nico Limanto ditangguhkan dari jabatan masing-masing, terhitung mulai saat ini, sambil tunggu hasil audit independen.”“Selama masa penangguhan, kalian

  • Empat Putra Angkatku Mengkhianati Putriku   Bab 6

    Daniel jadi orang pertama yang berhasil kembali kuasai dirinya. Dia melirik para pengacara dan penyelidik yang berdiri di belakang Anthony, lalu berbalik menghadap petugas keamanan Grup Limanto yang ada di sisi meja konferensi.“Dewan baru saja berikan suara untuk cabut wewenang Citra atas seluruh personel perusahaan. Segera keluarkan orang-orang luar ini dari gedung.”Nggak satu pun petugas keamanan bergerak. Helen Suteja, kepala bagian hukum Grup Limanto, melangkah maju dan letakkan sebuah dokumen di hadapan Daniel.“Mereka bukan karyawan Grup Limanto, dan Nyonya Citra nggak bawa mereka ke sini berdasarkan wewenangnya sebagai direktur.”“Kalau gitu, kenapa mereka diizinkan masuk ke gedung?”“Karena Dana Perwakilan Induk Limanto masih merupakan pemegang saham tunggal terbesar perusahaan, dan Citra Limanto masih jadi satu-satunya walinya. Perjanjian yang kalian coba paksa untuk dia tanda tangani nggak pernah berlaku.”Helen buka dokumen kedua.“Yang lebih penting, komite audit independ

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status