Share

Bab 4

Author: Jasmine Flower
Keesokan paginya, Elena nggak pergi ke sekolah.

Dia duduk di meja makan, berulang kali cek halaman situs kompetisi sambil tunggu panitia berikan tanggapan atas banding yang dia ajukan malam sebelumnya.

“Apa mereka akan periksa bukti yang aku punya?” tanyanya.

“Mereka akan periksa, tetapi mereka nggak akan langsung ambil keputusan.”

Aku sudah perintahkan para pengacaraku untuk kirimkan surat pemberitahuan penyimpanan bukti ke pihak sekolah, panitia kompetisi, dan Yayasan Limanto. Mulai saat itu, setiap upaya untuk hapus email, ubah dokumen, atau manipulasi catatan dalam sistem akan tinggalkan jejak bukti.

Elena masih terlihat gelisah.

“Gimana kalau Sabrina pakai proposalku dalam babak penyisihan hari ini?”

“Biarkan saja.”

Elena mendongak menatapku.

“Kamu yang susun seluruh rencana itu. Yang dia miliki cuma berkas yang sudah diedit. Para juri hanya perlu ajukan beberapa pertanyaan sebelum mereka sadar siapa yang benar-benar ngerti proyek itu.”

“Tapi Daniel dan yang lainnya akan bantu dia.”

“Mereka bisa siapkan jawaban untuk dia. Tapi mereka nggak bisa memasukkan kemampuanmu ke dalam kepalanya.”

Aku hampiri Elena dan masukkan dokumen-dokumen pendukung bandingnya ke dalam sebuah map.

“Hari ini kamu nggak perlu berlutut di hadapan siapa pun, dan kamu juga nggak perlu mohon agar mereka kembalikan sesuatu yang memang jadi hakmu. Yang perlu kamu lakukan hanya jaga semua buktinya tetap utuh.”

Elena mengangguk.

Sebelum tinggalkan kediaman, aku perintahkan Anthony untuk tempatkan dua anggota tim keamanannya tetap bersama Elena. Jam sembilan pagi itu, aku tiba di kantor pusat Grup Limanto. Rapat khusus dewan telah dijadwalkan di ruang konferensi eksekutif di lantai paling atas. Ketika pintu lift terbuka, lebih dari selusin direktur dan eksekutif senior sudah tunggu di koridor. Nggak ada seorang pun berani masuk ke ruangan. Baru ketika Daniel keluar dari lift lain bersama Lukas, Matthew, dan Nico, percakapan di koridor seketika terhenti. Para direktur dan eksekutif itu ikuti keempat bersaudara itu masuk ke ruang konferensi. Daniel nggak perlambat langkah ketika lewati aku.

“Aku senang kamu putuskan untuk datang.”

Nada suaranya sopan, tetapi dia bicara seolah-olah sedang sambut seorang pemegang saham biasa.

Aku nggak jawab dan ikuti mereka masuk.

Daniel ambil kursi di ujung kepala meja konferensi yang panjang. Dulu kursi itu milikku. Tempat dudukku kini ditempatkan di ujung ruangan yang berseberangan. Hanya segelas air dan sebuah dokumen yang sudah disiapkan untuk aku tandatangani yang terletak di hadapanku.

Begitu rapat dimulai, Matthew nyalakan proyektor. Layar tampilkan kinerja keuangan Grup Limanto selama tiga tahun terakhir.

“Sejak kita berempat ambil alih kendali atas divisi-divisi utama perusahaan, pendapatan telah meningkat sebesar empat puluh dua persen, dan proyek pengembangan Boswati telah masuki tahap kedua.”

Matthew beralih ke slide berikutnya.

“Tapi selama dua hari terakhir, perselisihan keluarga yang bersifat pribadi telah ganggu operasional perusahaan secara serius. Enam belas kendaraan milik perusahaan dan perwalian telah ditarik kembali tanpa pemberitahuan, rekening anak perusahaan pribadi yang digunakan oleh beberapa eksekutif senior telah dibekukan, dan tim keamanan di properti Gentori telah diganti secara paksa.”

Para direktur noleh ke aku. Salah seorang dari mereka jadi orang pertama yang bicara, “Citra, perusahaan nggak boleh dijadikan senjata dalam perselisihan keluarga. Kendaraan-kendaraan itu punya Dana Perwakilan Induk Limanto, dan rekening yang dibekukan adalah rekening anak perusahaan pribadi, bukan aset perusahaan.”

“Tetapi orang-orang yang pakai aset itu adalah bagian dari jajaran pimpinan inti perusahaan,” kata direktur lainnya.

“Kalau para eksekutif bisa kehilangan sumber daya yang mereka andalkan setiap kali terjadi perselisihan di rumah, gimana para pemegang saham bisa yakin akan stabilitas perusahaan ini?”

Lukas letakkan setumpuk foto di atas meja.

Foto-foto itu menunjukkan kotak-kotak barang yang dikeluarkan dari rumah pinggir danau sehari sebelumnya.

“Sabrina cuma berniat tinggal selama beberapa minggu. Karena Elena nggak mau berbagi satu ruangan yang nggak digunakan, ibuku bawa tim keamanan dari luar dan usir kita dari properti tersebut.”

“Rumah itu milik Elena,” kataku.

“Secara hukum, rumah itu masih ada di bawah Dana Perwakilan Induk Limanto,” koreksi Matthew. “Elena belum jadi pemilik sahnya.”

“Aku adalah walinya.”

“Itulah tepatnya yang ingin kita bahas di sini.”

Daniel akhirnya angkat bicara. Dia dorong sebuah dokumen ke tengah meja.

“Biarkan satu orang kendalikan aset perwalian sekaligus manajemen eksekutif perusahaan telah ciptakan konflik kepentingan yang serius. Setiap kali Elena nggak suka dengan suatu keputusan, kamu bisa tarik kembali kendaraan, tempat tinggal, dan sumber daya lainnya yang digunakan para eksekutif senior perusahaan.”

Dia letakkan satu tangan di atas dokumen tersebut.

“Itu sebabnya Dana Perwakilan Induk Limanto butuh komite manajemen independen. Kamu nggak boleh lagi punya wewenang sepihak atas pembagian aset-aset itu.”

Aku buka dokumen di hadapanku. Mereka nggak hanya sekadar menuntut pembentukan komite perwalian baru. Mereka ingin aku serahkan kursiku di dewan direksi, wewenang untuk angkat dan berhentikan para eksekutif senior, serta pengawasanku atas Yayasan Limanto. Keempat putra angkatku itu ingin bagi kendali atas Grup Limanto, yayasan, properti perwalian, dan aset-aset yang tersisa di antara mereka sendiri. Begitu aku tanda tangani dokumen itu, mereka akan punya kekuatan hukum untuk tentukan apa yang masih boleh dimiliki Elena.

“Sudah berapa lama kalian persiapkan ini?” tanyaku.

Selama beberapa saat keheningan selimuti ruangan. Daniel nggak jawab secara langsung.

“Ini bukan serangan pribadi. Kita sedang berusaha bangun struktur manajemen yang lebih profesional.”

“Kalian sudah hubungi para direktur sebelum kemarin.”

“Kita punya tanggung jawab untuk bersiap hadapi risiko yang mungkin terjadi.”

Aku memandang ke sekeliling meja. Nggak satu pun dari mereka terlihat terkejut. Mereka semua sudah tahu apa sebenarnya tujuan rapat ini. Tujuh belas tahun sebelumnya, aku tinggalkan dunia mafia dan untuk sementara mengubur nama Muryani.

Dengan identitas publik sebagai Citra Limanto, aku dirikan Grup Limanto. Itulah perusahaan pertama yang sepenuhnya aku bawa ke permukaan, dan perusahaan itu mewakili bagian paling bersih serta paling terbuka dari kerajaan besar yang dibangun di bawah nama Muryani.

Untuk pisahkan Grup Limanto dari masa laluku sekaligus tarik karyawan dan investor institusional jangka panjang, aku secara bertahap kurangi kepemilikan pribadiku. Sekarang, hanya dua persen saham perusahaan yang tercatat atas namaku sendiri.

Namun, Dana Perwakilan Induk Limanto masih punya dua puluh delapan persen saham perusahaan, dan aku tetap jadi satu-satunya wali yang kendalikan itu. Selama aku nggak tanda tangani dokumen di hadapanku, aku masih punya wewenang hukum untuk gunakan hak suara atas saham-saham itu dan tentukan apa yang kelak akan diwarisi Elena.

Keempat pria yang duduk di seberangku nggak hanya sekadar berusaha ambil dua persen saham milikku. Mereka ingin aku mengundurkan diri dari dewan direksi, serahkan hak suara perwalian, serta lepaskan kendali atas yayasan, pengangkatan eksekutif, dan aset-aset perwalian.

Jika aku tanda tangani itu, mereka akan dapatkan kendali hukum atas Grup Limanto sekaligus kekuasaan untuk tentukan apa yang pantas dipertahankan oleh Elena.

Yang nggak mereka pahami adalah meskipun mereka berhasil ambil alih seluruh perusahaan, mereka tetap hanya curi satu bisnis yang sengaja aku tampilkan ke publik. Mereka keliru kalau kira sebagian kecil kekuasaan yang aku izinkan mereka untuk lihat sebagai seluruh kekuasaan yang aku miliki.

Seorang direktur yang lebih tua berdeham.

“Citra, kamu sudah bertahun-tahun nggak terlibat lagi dalam pengelolaan sehari-hari. Apa pun yang telah terjadi, Daniel dan yang lainnya tetap layak dapatkan penghargaan atas pertumbuhan perusahaan.”

Direktur lain menyusul.

“Pengaturan ini nggak akan pengaruhi gaya hidupmu. Kamu akan tetap jadi pendiri Grup Limanto sekaligus ibu mereka. Perusahaan akan pertahankan posisi kehormatanmu dan seluruh fasilitas pribadi yang selama ini kamu nikmati.”

Aku memandang pria yang satu, lalu pria yang lainnya.

“Jadi, kalian berniat ambil perusahaan yang aku bangun, lalu gunakan uangku sendiri untuk biayai aku?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Empat Putra Angkatku Mengkhianati Putriku   Bab 11

    Delapan belas bulan kemudian, audit terhadap Grup Limanto dan seluruh penyelidikan kriminal akhirnya berakhir. Dari 1,488 triliun transaksi mencurigakan, lebih dari 960 miliar berhasil dikembalikan. Sementara kerugian yang tersisa akan terus dikejar melalui penyitaan aset-aset terkait dan tuntutan ganti rugi secara perdata.Dihadapkan pada email, rekaman percakapan, serta catatan transaksi bank, keempat bersaudara itu nggak mampu lagi pertahankan satu cerita yang sama. Daniel akui telah setujui kontrak-kontrak yang mengandung penipuan, tetapi berdalih kalau Matthew-lah yang bertanggung jawab periksa pembayaran. Matthew serahkan instruksi tertulis dari Daniel dan bersikeras kalau dia telah beberapa kali sampaikan keberatannya. Lukas salahkan ibu Sabrina, sementara Nico serahkan daftar pemasok lengkap sebagai imbalan atas pencabutan salah satu dakwaan terhadapnya.Dulu, mereka percaya kalau selama mereka tetap bersatu, mereka bisa kendalikan segala sesuatu yang berkaitan dengan nama Lima

  • Empat Putra Angkatku Mengkhianati Putriku   Bab 10

    Aku kembalikan pernyataan kerja sama Sabrina ke Helen.“Lanjutkan penyelidikan. Setiap rupiah yang masih bisa dikembalikan harus dikembalikan, dan masing-masing dari mereka harus pertanggungjawabkan setiap dokumen yang telah mereka tanda tangani.”Aku nggak perlu gunakan koneksi lamaku untuk permalukan mereka. Hukum, kontrak yang mereka buat sendiri, serta bukti-bukti yang mereka ciptakan dengan tangan mereka sendiri sudah cukup untuk selesaikan perhitungan ini.…Keesokan harinya, Elena tampil di babak final Kompetisi Kewirausahaan Pelajar Nasional. Untuk hindari konflik kepentingan, panitia ganti dua orang juri yang punya hubungan bisnis dengan Grup Limanto. Elena nggak terima bantuan apa pun dari Yayasan Limanto, dan baik Marco maupun siapa pun dari perusahaan nggak hubungi para juri untuk bantu dia.Di hadapan tujuh juri independen, Elena jelaskan biaya operasional klinik, kebutuhan tenaga kerja, cakupan asuransi, serta rencana pendanaannya. Setiap angka yang dia sampaikan berasal

  • Empat Putra Angkatku Mengkhianati Putriku   Bab 9

    Begitu pembangunan proyek Boswati kembali berjalan normal, keempat bersaudara itu kehilangan kartu tawar terakhir yang masih mereka miliki. Para pemasok nggak ikut pergi bersama mereka, dewan direksi sama sekali nggak berniat kembalikan posisi mereka, dan Keluarga Vivali juga nggak menarik diri dari kerja sama itu. Sementara itu, para auditor independen terus temukan masalah baru setiap harinya.Dua minggu kemudian, ibu Sabrina, Rebecca, terima surat panggilan resmi dari pengadilan, sementara Sabrina sendiri diskors dari sekolah. Barulah dia sadar kalau keempat bersaudara itu sudah nggak punya kuasa untuk lindungi dia. Ketika Daniel kembali ke apartemen mereka di Rusika sore itu, Sabrina lagi beres-beres.Dua koper sudah penuh dengan pakaian dan dokumen, sementara kalung yang pernah diberikan Lukas ke dia diletakkan begitu saja di atas meja.“Kamu mau pergi ke mana?” tanya Daniel.“Ke hotel.”Lukas kernyitkan keningnya.“Rekeningmu juga lagi diperiksa. Kita sudah siapkan pengacara untu

  • Empat Putra Angkatku Mengkhianati Putriku   Bab 8

    Penyelidikan itu terus berlangsung selama tiga minggu. Hasil audit ternyata jauh lebih buruk daripada yang aku perkirakan. Selama tiga tahun terakhir, keempat saudara itu telah pindahkan lebih dari 1,28 triliun melalui tujuh belas perusahaan yang saling terafiliasi, dan sedikitnya 416 miliar di antaranya nggak bisa dikaitkan dengan layanan sah apa pun.Konsultan Bisnis Strategis Hidayat telah terima 192 miliar dari Yayasan Limanto. Lebih dari setengah uang itu pada akhirnya masuk ke rekening yang dikendalikan oleh ibu Sabrina.Daniel setujui proyek-proyek itu. Matthew lewati prosedur pemeriksaan keuangan yang biasanya diwajibkan. Lukas gunakan departemen hubungan masyarakat untuk sembunyikan hubungan di antara perusahaan-perusahaan itu, sementara Nico tambahkan perusahaan-perusahaan cangkang ke dalam daftar pemasok yang telah disetujui. Masing-masing saudara kendalikan tahapan yang berbeda dalam proses itu, ciptakan rantai persetujuan yang sengaja dirancang untuk hindari pengawasan nor

  • Empat Putra Angkatku Mengkhianati Putriku   Bab 7

    Aku menatap keempat putra angkatku.“Kalian sudah berhari-hari bersikeras kalau Grup Limanto harus dikelola oleh para profesional. Kalau gitu, kita bisa mulai dengan audit pekerjaan kalian.”Nico tekan kedua tangannya ke atas meja konferensi.“Ibu, kamu pakai penyelidikan ini untuk hukum kita.”“Kalau seluruh rekening bersih, audit ini nggak akan ubah hasil apa pun.”Suara Daniel berubah dingin.“Ibu beneran pikir dengan menonaktifkan akses sistem kita, ibu bisa ambil alih proyek pembangunan Boswati dan kerja sama dengan Vivali?”“Aku belum umumkan kalau kalian bakal diskors.”Sebagian ketegangan di wajah Daniel menghilang.Aku noleh ke Helen.“Sekarang kamu boleh umumkan.”Helen keluarkan empat surat pemberitahuan resmi.“Berdasarkan klausul integritas dalam kontrak eksekutif kalian, Daniel Limanto, Lukas Limanto, Matthew Limanto, dan Nico Limanto ditangguhkan dari jabatan masing-masing, terhitung mulai saat ini, sambil tunggu hasil audit independen.”“Selama masa penangguhan, kalian

  • Empat Putra Angkatku Mengkhianati Putriku   Bab 6

    Daniel jadi orang pertama yang berhasil kembali kuasai dirinya. Dia melirik para pengacara dan penyelidik yang berdiri di belakang Anthony, lalu berbalik menghadap petugas keamanan Grup Limanto yang ada di sisi meja konferensi.“Dewan baru saja berikan suara untuk cabut wewenang Citra atas seluruh personel perusahaan. Segera keluarkan orang-orang luar ini dari gedung.”Nggak satu pun petugas keamanan bergerak. Helen Suteja, kepala bagian hukum Grup Limanto, melangkah maju dan letakkan sebuah dokumen di hadapan Daniel.“Mereka bukan karyawan Grup Limanto, dan Nyonya Citra nggak bawa mereka ke sini berdasarkan wewenangnya sebagai direktur.”“Kalau gitu, kenapa mereka diizinkan masuk ke gedung?”“Karena Dana Perwakilan Induk Limanto masih merupakan pemegang saham tunggal terbesar perusahaan, dan Citra Limanto masih jadi satu-satunya walinya. Perjanjian yang kalian coba paksa untuk dia tanda tangani nggak pernah berlaku.”Helen buka dokumen kedua.“Yang lebih penting, komite audit independ

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status