LOGIN“AAA—hmph!”
“Lo pikir sekarang jam berapa?” desis laki-laki yang sedang membekap mulut Aria. “Bisa-bisanya lo teriak kayak gitu tengah malam gini? Lo mau bikin semua orang di rumah ini bangun, karena dengar suara teriakan lo yang keras itu, hm?” Suaranya terdengar tidak asing, tapi Aria yakin kalau dia salah satu kakak tirinya yang lain. Aria melirik rupa kakak tirinya dalam gelap, tapi dia hanya bisa melihat siluet yang tidak begitu jelas bagaimana bentuk wajahnya. “M-maaf, Kak, aku pikir tadi ada hantu,” jawab Aria ketika laki-laki itu mulai melepaskan bekapan tangannya. Laki-laki itu hanya mendengkus. “Harusnya gue yang mikir kayak gitu. Bisa-bisanya lo muncul di dapur tengah malam gini, mana lampunya nggak dinyalain lagi?” “Niatnya, aku cuma mau minum sebentar, Kak.” Aria menundukkan kepalanya merasa bersalah. “Aku nggak mau bangunin yang lain, makanya lampunya nggak aku nyalain.” Laki-laki itu berdecak, kemudian menyalakan lampu dapur yang membuat tatapan keduanya bertemu secara langsung. “Kak Killian?” Aria mengerjap dengan tatapan tidak percaya. Seorang Killian Elgara sekarang menjadi kakak tirinya? Ini bukan mimpi, kan? Killian mengernyit. “Lo—” Aria menelan ludah susah payah. “M-maaf!” Killian mengembuskan napas kasar. Dia berbalik, lalu duduk di salah satu kursi yang ada. “Bikinin gue sesuatu, kepala gue pusing.” “Pusing?” Aria mengerjap bingung. “Hm.” Aria melihat Killian yang memejamkan mata sambil memegangi dahinya. Wajahnya terlihat lelah, pipinya pun tampak memerah. “Kak Killian lagi mabuk?” tanya Aria langsung. “Enggak.” Tapi ekspresinya kayak orang abis minum, batin Aria sangat yakin dengan pendapatnya itu. “Cuma minum dikit.” Killian membalas tatapan Aria. “Gue nggak mabuk.” “Ohh!” Aria mengangguk, walaupun dia tidak begitu tahu apa bedanya, karena keduanya sama-sama memiliki arti mabuk. “Aku bikinin teh madu ya, Kak?” “Hm.” Aria mulai mendidihkan air, lalu dia mencari di mana bahan teh dan madu yang diperlukan untuk membuat teh madu. Namun, dia tidak bisa menemukannya. “Cari di lemari,” kata Killian tiba-tiba memberikan instruksi. Aria menurut dan dia langsung berhasil menemukan apa yang dia cari sejak tadi. Setelah air mulai menguap, Aria mematikan kompor dan menuangkan air itu ke gelas untuk menyeduh teh. Dia menunggu tiga menitan sebelum menambahkan madu ke teh agar khasiat madunya tidak hilang. Setelah itu dia memberikannya pada Killian. Killian mulai meminumnya dengan pelan. Aria hanya berdiri saja dan hal itu sedikit mengusik perhatian Killian. “Kenapa lo cuma berdiri aja?” Aria terkejut, dia baru sadar masih terbawa kebiasaan dirinya dulu. “M-maaf, aku harus apa, Kak?” “Duduk!” Aria pun menarik kursi lainnya, lalu duduk di sana sembari menemani Killian yang sedang menghabiskan teh madu buatannya. Tak ada yang bicara di antara mereka. Hanya hening yang menemani kebersamaan mereka. “Gue nggak nyangka, kalau lo terampil bikin teh madu kayak gini.” Killian mulai membuka obrolan, karena mulai merasa tidak nyaman dengan keheningan di antara mereka. “Soalnya, papa dulu sering minta teh madu kalau abis mabuk, Kak.” Jawaban itu membuat Killian mengernyitkan dahi dan mulai memfokuskan tatapan ke arah Aria. “Bokap lo sering mabuk?” Aria mengangguk. “Iya.” “Kenapa dia minta teh madu ke lo?” Aria menggeleng. “Aku juga nggak tahu, Kak.” “Aneh.” Aria mengangguk. Hal itu memang aneh. Padahal Elvi juga ada di rumah, tapi saat mabuk pasti Aria lah yang dicari oleh papanya. “Terus, sekarang bokap lo ada di mana?” “Papa udah meninggal dunia, Kak.” “Kapan?” “Lima tahun lalu.” “Meninggal karena apa?” “Kecelakaan.” Aria tersenyum tipis. “Papa sempat koma selama satu bulan sebelum meninggal dunia, Kak.” “Pasti lo sama nyokap lo kehilangan banget waktu itu, ya?” Aria hanya bisa menganggukkan kepala, tanpa bisa mengatakan yang terjadi sebenarnya. Karena mungkin, mereka merasa lega dan bahagia saat papanya meninggal dunia. “Menurut lo, bokap gue orangnya gimana?” Aria menatap Killian yang telah menghabiskan teh madunya. Tatapan laki-laki itu lurus ke depan. Dia terlihat memandang jauh, layaknya sedang menerawang sesuatu yang tak kasat mata sekarang. “Baik. Menurutku, Om Adikara orang yang sangat baik sekali.” Aria tersenyum padanya. Killian melirik bagaimana ekspresi wajah Aria dari ekor matanya. “Benarkah?” Aria mengangguk. “Tentu saja!” “Bagaimana jika dia tidak sebaik kelihatannya?” Pertanyaan itu berhasil membuat Aria terdiam cukup lama. “Bagaimana jika suatu hari nanti, dia bikin lo kecewa atau bikin nyokap lo sakit hati?” Killian menatap Aria lurus. “Apa yang bakal lo lakuin kalau sesuatu seperti itu terjadi?” Aria menggeleng. “Aku nggak akan lakuin apa pun.” “Kenapa?” Aria hanya diam. Bibirnya mengulum senyuman tipis tanpa makna yang berarti dan membuat keduanya terdiam dengan isi pikiran masing-masing. Aria tidak akan melakukan apa pun pada Adikara, karena dia percaya atas keputusan yang telah dibuat oleh mamanya. Jika itu hanya kesalahan-kesalahan kecil, Aria yakin mamanya masih bisa memaafkannya. Karena apa yang sudah dibuat oleh almarhum papanya pada mereka pasti jauh lebih besar daripada kesalahan yang telah Adikara perbuat pada mereka. Mereka masih terus diam dalam keheningan malam, hingga Aria yang masih mengantuk itu tidur dengan meja sebagai sandaran kepalanya. Killian mengerjap sekilas. Dia menatap Aria dalam diamnya. Tangannya terulur menyentuh helai rambut Aria yang menutupi wajah cantiknya. “Kenapa ….” Killian menarik kembali tangannya dan mengepalkan tangannya erat. “Kenapa harus lo yang jadi adik tiri gue, Aria?”"Aria udah siuman, kan?" tanya Revan begitu panggilan mereka tersambung."Iya, dia udah siuman.""Syukur kalau gitu!" Revan mengembuskan napas lega. "Aslinya gue mau nungguin Aria sampai sadar, tapi gue masih harus ngajar. Rencana awalnya gue mau nganter Aria ke tempat lo aja tadi. Malah jadinya kayak gini.""Hmm," gumam Rexan, sama sekali tidak bersemangat."Lo nggak apa-apa?" Revan sepertinya menyadari ada yang berbeda dari kembarannya. "Ada masalah?"Rexan tersenyum masam. "Dikit.""Ada apa?" tanya Revan serius.Rexan langsung teringat ucapan Alicia sebelum pergi meninggalkan ruangannya. "Ini hanya saran saya, tapi jangan mengungkit soal visum dan bully di depan Aria untuk sementara waktu, karena otaknya masih belum mampu menerima beban seberat itu."Rexan mengembuskan napas kasar. "Untuk sementara waktu, jangan dekati Aria dulu.""Hah?""Jangan bahas soal bully, visum, dan lain-lainnya," lanjut Rexan, sekali lagi mengembuskan napas berat."Kenapa? Lo tahu pasti, gue butuh bukti it
"Maaf, saya tidak tahu kalau ada dokter di sini."Alicia mendengkus pelan. "Walaupun Anda tidak tahu, tapi harusnya Anda masih mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk ke ruangan ini kan, Dokter Rexan?"Rexan hanya bisa menelan ludahnya susah payah. Dia merasa tidak berkutik di depan dokter yang namanya cukup terkenal di kota ini.Nama Alicia Zeallyn memang dikenal sebagai seorang psikiater muda yang berbakat. Reputasinya berasal dari kecerdasan akademisnya yang dibuktikan oleh kemampuan medis, serta dukungan keluarga yang tidak main-main.Walaupun sifatnya tidak terlalu hangat, tapi Alicia memiliki kepribadian yang kuat, tenang, elegan, juga bermartabat.Rexan awalnya ingin meminta Alicia menjadi psikiater Aria karena reputasinya. Namun, setelah berhadapan langsung dengannya, Rexan harus memikirkannya ulang."Maaf, saya terlalu panik tadi sampai tidak menyadari ada dokter yang sedang menangani.""Saya tidak menyangka, orang seperti Dokter Rexan ternyata bisa mendapat serangan panik ju
Mengingat bagaimana sifat Adikara soal uang, Killian yakin ayahnya sudah menyiapkan uang bulanan untuk Aria. Namun kenapa, Aria belum menerima uang yang harusnya sudah berada di tangannya?Killian : Di mana uang bulanan Aria?Adikara : Apa yang ingin kamu lakukan?Killian berdecak pelan. Rubah tua itu pasti berpikir jika dia akan menggunakan uang Aria untuk kepentingannya sendiri. Padahal, dia tidak membutuhkan uang itu sama sekali.Killian : Aria belum menerima uang bulanannya sedikit pun. Apa papa sengaja membuatnya miskin seperti itu?Adikara : Apa maksudmu? Jelas-jelas semuanya sudah papa atur sebelum pergi bulan madu.Killian : Faktanya, Aria memang belum mendapat uang bulanan sepeser pun dari papa.Adikara : Bagaimana bisa begitu?Killian : Bagaimana aku bisa tahu?Killian mendengkus kesal. Kalau dia tahu, dia tidak akan menanyakannya langsung pada rubah tua sialan ini!Adikara : Kalau begitu, coba kamu temui asisten pribadi papa di kantor. Papa menyerahkan semua urusan itu pada
Claudia menatap pemandangan di depannya dengan tatapan tajam, wajahnya memerah, kedua tangannya mengepal.Dia membenci apa yang ada di hadapannya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah dia dan kedua temannya dipanggil oleh Kaprodi dan diminta membuat klarifikasi formal tentang kasus mereka yang membully mahasiswa lain.Claudia langsung menemukan siapa orang yang sudah melaporkannya ke dosen, karena Claudia hanya pernah merundung satu orang selama beberapa bulan terakhir."Gue nggak nyangka, anak miskin itu rupanya berani juga!" desisnya pelan.Dalam klarifikasinya, Claudia menyangkal semuanya. Walaupun dosen sudah menyimpan barang buktinya, tapi semua itu hanya barang bukti dari masa lalu dan Claudia beralasan kalau dia sudah berubah sekarang.Oleh sebab itu, dalam waktu dekat ini dia tidak boleh gegabah dan menunjukkan banyak celah. Masalahnya, anak miskin itu sepertinya sengaja ingin membuatnya kembali berulah."Tunggu gue lepas dari pengawasan ini dan lo bakal abis di tangan
"K-kak!" cicit Aria pelan.Suaranya terdengar bergetar, kepalanya menunduk, memandangi tangan kanannya yang mulai dingin tapi masih bertautan dengan tangan kiri Killian.Killian yang mendengar panggilan Aria itu langsung menghentikan langkah kakinya. Kepalanya menoleh ke samping, menatap Aria yang wajahnya terlihat pucat."Kenapa?" Killian menatapnya lurus, tatap matanya begitu fokus yang menunjukkan jika dia tengah serius.Aria menelan ludahnya susah payah, keringat dingin mulai menetes pelan menuruni dahinya. "Apa Kak Killian tadi dengar sesuatu?"Sejenak, Killian terdiam. "Denger apa?"Aria menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak, enggak, enggak ada apa-apa." Gadis itu meringis, tapi di dalam hati, dia kegirangan setengah mati, jika memang Killian tidak mendengar apa pun dari mulutnya tadi.Killian yang melihat itu menyeringai tipis. Dia menarik tangan Aria ke salah satu sudut lorong yang sepi, lalu mengurung tubuh adik tirinya itu ke tembok yang ada di belakangnya.Kejadiannya begi
Saat itulah suara Killian terngiang-ngiang di kepalanya. Aria mengepalkan kedua tangannya kuat, membulatkan tekadnya, sebelum mulai mengangkat kepala, dan balas menatap mereka.'Kalau lo cuma diem aja kayak gini, lo cuma bakal ngerepotin gue sama Revan.'Tidak. Aria tidak boleh merepotkan kedua kakak tirinya lagi. Mereka sudah berbaik hati membantunya untuk melepaskan diri dari jerat Claudia dan antek-anteknya.Aria tidak boleh terus seperti ini. Dia harus berubah. Dia harus menjadi lebih kuat dan lebih berani agar dia tidak mudah ditindas lagi.Aria harus menjadi jauh lebih kuat lagi. Dengan begitu, usaha kakak tirinya tidak akan berakhir sia-sia begitu saja.BRAKKK"Jawab berengsek! Lo kagak tuli, kan?"Aria memejamkan matanya, menarik napasnya panjang, lalu mengingat baik-baik bagaimana ekspresi wajah Killian selama ini.Aria meniru ekspresi Killian. Dia mengikutinya. Dengan wajah datar dan tatapan yang terlihat meremehkan, dia membalas tatapan Elina."Dari sisi mana kamu melihatku







