Mag-log inAria yakin, apa yang terjadi semalam hanyalah bunga tidurnya saja. Mana mungkin Killian Elgara yang sangat populer di kampus itu adalah kakak tirinya?
Dia yakin semua itu hanya mimpinya saja, karena otaknya masih terbayang-bayang soal peristiwa kemarin siang, ketika dia berurusan dengan Killian. Namun, saat dia turun ke ruang makan untuk sarapan bersama, Aria menemukan Killian sedang duduk di salah satu kursi yang ada. Killian ada di sana. Dia hanya melirik Aria dari ekor mata, tanpa bicara atau sekadar menyapanya, laki-laki itu hanya mengabaikan keberadaan Aria, seperti sosok tidak kasat mata. “Bagaimana tidurmu semalam, Aria?” tanya Adikara langsung saat Aria sudah duduk di kursinya. “Nyenyak, Om.” Aria langsung menggigit bibirnya. Lagi, dia lupa memanggil Adikara dengan panggilan papa seperti yang dicontohkan Rexan sebelumnya. “Baguslah kalau kamu bisa tidur nyenyak semalam." Adikara menatap Killian yang menyantap sarapannya tanpa rasa bersalah sedikit pun. Adikara berdeham pelan, memberikan sebuah kode secara terang-terangan, tapi yang dikode tetap tak acuh pada sekitar. Kesal karena tidak kunjung diperhatikan, Adikara menendang kaki Killian di bawah meja dan memelototinya. “Aria, perkenalkan dia adalah Killian Elgara Putra. Dia kakak tirimu yang nomor empat!” Adikara pun memperkenalkan putra bungsunya. Aria menatap Killian yang meliriknya dengan tatapan dingin. Apa Killian berencana tidak mengenalnya di depan Adikara? Kalau begitu …. “Salam kenal—” “Kami sudah mengenal sebelumnya, Pa,” potong Killian. “Oh, ya?” “Hm.” “Bagaimana ceritanya? Bukannya usia kalian terpaut dua tahun, ya?” Adikara menatap Killian curiga. “Dia adik tingkatku di kampus. Kami masih satu fakultas dan aku pernah mengulang kelas yang sama dengannya. Jadi, bisa dibilang kami sudah saling mengenal sebelumnya,” jelas Killian cuek, masih melanjutkan sarapannya. “Oh, ya?” Adikara menatap Aria yang sedang mengerjapkan mata berulang kali. Aria tidak ingat pasti kapan peristiwa itu terjadi, tapi Killian masih ingat kalau mereka berdua pernah berada di kelas yang sama? Padahal Aria tidak bisa mengingatnya sama sekali, tapi kenapa Killian masih bisa mengingatnya? “Kalau demikian, harusnya kamu tidak keberatan kan kalau harus mengantar Aria pulang pergi kuliah selama Papa dan Mama pergi?” Killian menghentikan acara makannya. “Pergi?” “Kalian mau pergi ke mana?” Aria tersentak dan menatap keduanya dengan ekspresi kaget. “Kami berencana pergi bulan madu, Aria.” Adikara menatap Elvi dengan tatapan penuh cinta. Killian menoleh cepat, ekspresi wajahnya tetap datar. “Bulan madu?” Adikara mengangguk. “Ya.” “Kenapa tiba-tiba sekali kalian mau pergi bulan madu?” “Memang apa salahnya dengan pergi bulan madu? Kami ini pengantin baru, Killian. Jadi, wajar saja bila kami pergi bulan madu, kan?” Killian menatap papanya dingin. “Killian, coba kamu bayangkan kalau kamu berada di posisi papa. Setelah menikah kamu tidak pergi bulan madu sama sekali, apa kamu mau hal seperti itu terjadi padamu nanti?” Adikara pun tidak kuasa menceramahi putra bungsunya ini. “Aku tidak keberatan sama sekali. Memang apa pentingnya pergi bulan madu? Asal ada wanita dan ranjang, sepertinya tidak ada yang harus dicari lagi untuk tidur, kan?” Killian menatap Adikara dengan tatapan tidak mengerti. Adikara melongo mendengar balasan putra bungsunya yang biasanya sangat irit bicara itu. Sedangkan Aria memejamkan mata dan berdoa dalam hati, semoga calon istri kakak tirinya ini diberikan kesabaran dan cinta seluas samudra, lantaran Killian sangat tidak romantis sekali. “Dari mana kamu belajar sesuatu seperti itu?” tanya Adikara mulai merasa penasaran. “Apa sesuatu seperti itu perlu dipelajari?” Elvi berdeham, karena tidak nyaman dengan situasi di meja makan pagi ini. “Kalau anak-anak Mas keberatan, kita tidak perlu pergi—” “Tentu saja kita harus pergi!” Adikara menatap Elvi tajam. “Aku ingin menghabiskan banyak waktu berdua denganmu, Elvi!” 'Papa tiriku ini orangnya sangat romantis, tapi kenapa anaknya bisa menjadi pribadi yang sedingin itu, ya?' batin Aria, sembari menatap Killian dengan tatapan tidak terbaca. “Apa?” Killian membalas tatapan Aria. “Ngapain lo natap gue kayak gitu?” Aria menggeleng cepat. “Enggak, Kak. Enggak ada apa-apa, kok.” Killian mendengkus dan Adikara menatapnya tajam. “Papa nggak mau tahu! Papa dan Mama mau pergi bulan madu! Jadi, selama itu kamu lah yang bertanggung jawab untuk mengantar jemput Aria ke kampus dan menjaganya!” kata Adikara, final. Killian sontak mendelik tidak setuju. “Kenapa harus aku yang melakukannya? Anak-anak Papa bukan cuma aku saja, kan?!” “Tapi hanya kamu yang ada di rumah ini sekarang!” “Tahu begini, aku tidak akan menurut untuk pulang.” Adikara menatapnya tajam. “Killian, kamu harus patuh atau Papa akan membekukan semua rekeningmu!” “Pa!” Killian mencoba menyela, tapi Adikara membuang muka. Dia tidak menerima bantahan apa pun lagi dari putranya. “Om, aku bisa berangkat dan pulang kuliah sendiri. Om tidak perlu membuat Kak Killian menjadi repot begini,” bela Aria berusaha menyelamatkan Killian dari sebuah tanggung jawab untuk mengantar-jemputnya. Killian melirik Aria dari ekor matanya. Aria pun menatap kakak tirinya. Lagi pula akan ada banyak masalah kalau orang-orang kampus melihatnya berangkat bersama Killian Elgara, mengingat sepopuler apa Killian di fakultas mereka. “Tidak boleh! Papa dan mamamu baru lega pergi jauh kalau ada yang bisa menjagamu selama kami tidak ada di sekitarmu.” Adikara langsung menatap Killian tajam. “Nurut!” Killian hanya menggumam samar. “Hm.” “Jawab yang jelas!” tegas Adikara. Killian berdecak kesal. “Iya!” “Jangan pulang larut malam lagi! Jangan mabuk-mabukan atau ikut balapan liar lagi! Selalu pulang tepat waktu dan pastikan kamu menjaga adikmu dengan baik!” “Ck, iya, iya, cerewet sekali!” Killian mendengkus mendengar perintah papanya yang banyak sekali itu. “Kamu sudah dewasa, Killian. Sudah saatnya kamu mulai belajar bagaimana cara bertanggung jawab yang benar!” tegas Adikara yang tidak akan bisa didebat oleh putranya. Elvi menatap Aria dengan senyum lega menghias wajah cantiknya yang tidak termakan usia. Walau usianya sudah lebih empat puluh tahun, tapi Elvi memang masih sangat cantik sekali, seperti masih berusia awal tiga puluh tahun. Adikara menatap putri barunya dengan tatapan lurus. “Aria, kami akan pergi cukup lama, karena kami berencana untuk mengelilingi dunia. Kalau ada suatu masalah terjadi, kamu bisa mengandalkan kakak-kakakmu yang ada di rumah ini. Papa sudah meminta mereka semua untuk pulang dan menemanimu agar kamu tidak merasa kesepian selama kami pergi. Jangan takut, mereka akan selalu menjaga dan melindungimu kapan pun dan di mana pun itu!” Diam-diam Aria menganggukkan kepala. Kini, dia sadar dari mana sifat keras kepala kakak tiri pertamanya berasal. Sifat itu pasti berasal dari papa tirinya ini, kan? Killian mendengkus mendengar ucapan papanya itu. “Ya, Papa benar, Dek! Ada gue yang bakal jadi sopir pribadi lo, ada Revan yang bakal jadi tutor lo, ada Rexan yang siap jadi dokter lo, dan masih ada Al yang bakal jadi donatur lo.” Killian mendengkus lagi. “Lo pasti seneng banget dengernya, kan?” Aria langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Pada akhirnya dia merasa tidak enak hati pada para kakak tirinya nanti, jika semua ucapan Killian benar-benar menjadi kenyataan. Sindiran yang begitu terang-terangan membuat Elvi merasa khawatir terhadap keselamatan putrinya, tapi genggaman tangan Adikara menguatkan tekad Elvi untuk tetap pergi meninggalkannya. Semua ini Elvi lakukan demi Aria, juga demi dirinya sendiri. Dia harus menyerahkan semua keputusannya pada Adikara, karena sang suami sudah menyusun segala rencananya untuk mereka. “Killian!” geram Adikara tertahan. “Apa?” “Jangan memulainya!" Killian berdecak, lalu berdiri. Dia telah selesai makan sejak tadi. “Bangun, kita berangkat sekarang!” Aria langsung bangun dengan gugup. Dia hanya bisa mengekori Killian, tapi sebelum pergi dia memeluk Elvi, mamanya untuk terakhir kali sebelum kedua orang tuanya pergi bulan madu. “Semoga Mama dan Papa bersenang-senang!” “Tentu saja kami akan bersenang-senang, Aria!” ucap Adikara bangga. “Kamu jaga diri baik-baik ya, Sayang?” pesan Elvi. Aria mengangguk. “Siap, Ma.” “Kalau kakak-kakak tirimu melakukan sesuatu yang jahat padamu. Jangan ragu untuk melaporkan masalahnya pada Papa, biar Papa yang mengurus segalanya.” Aria mengangguk, bibirnya mengulum senyum. “Iya, Pa. Aria pasti akan melakukannya.” Saat itu, baik Adikara dan Elvi merasa bahagia hanya dengan satu panggilan ‘papa’ yang diberikan Aria untuk Adikara. “Woi, jalan lo lelet banget, sih!” teriak Killian yang mulai tidak sabaran. Adikara yang mendengarnya pun menggeram marah. “Ck, anak itu!” “Aku nggak apa-apa, Pa!” Aria tersenyum manis pada mereka. “Aku berangkat ya, Pa, Ma!” “Hati-hati, Sayang!” “Jaga dirimu baik-baik!”Kak Alva : Selamat siang, Aria!Aria : Selamat siang, Kak Al!Kak Alva : Apa kamu sudah memutuskannya?Aria : Memutuskan apa, Kak?Kak Alva : Bukannya kamu mau beli apartemen? Apa kamu sudah memutuskan mau beli apartemen di mana?Aria sontak meringis pelan ketika membaca pesan masuk dari kakaknya. Dia memang ingin membeli unit apartemen, tapi dia ingin membelinya menggunakan uang tabungannya sendiri, bukannya dibelikan oleh kakak pertamanya ini.Walaupun Aria tahu, harga sebuah unit apartemen bisa mencapai milyaran rupiah, tapi dengan uang saku sebulan seratus juta, ditambah nanti kalau dia sudah bekerja ... Aria rasa semua itu tidak akan mustahil untuk jadi realita.Aria : Aku akan membelinya sendiri dengan uangku, Kak. Aku akan menabung setiap hari hingga bisa membelinya.Tidak ada jawaban cepat yang datang. Aria pun menghela napasnya lega. "Apa sifat orang kaya memang seperti ini, ya?"Alicia yang juga berada di ruangan itu menoleh ke Aria. "Kenapa, Aria?"Aria menggeleng pelan. "T
"Kak!""Hm?""Aku rasa, ada yang salah dengan isi kepala Kak Al."Ucapan itu berhasil Rexan tersedak dan langsung menatap Aria horor. "Kamu bertemu Alva?"Aria mengangguk dengan wajah bingung yang terlihat lucu. "Kapan dan di mana kamu bertemu dengannya?" Rexan terlihat kaget sekaligus panik sekarang."Tadi pagi, Kak, di rumah. Kak Al pulang dan dia berencana untuk tinggal sementara waktu, Kak," jelas Aria.Rexan mengernyitkan dahi. Seorang Alva Nagara Putra yang mandiri dan sangat peduli dengan harga diri mana mungkin mau tinggal di rumah orang tuanya begini?!"Apa orang itu benar-benar Alva?" Rexan mengernyitkan dahinya curiga. Dia tidak yakin, pria ditemui Aria adalah kakaknya. "Alva yang aku kenal tidak akan mau tinggal di rumah orang tuanya apa pun yang terjadi."Aria mengerjapkan kedua matanya dengan wajah polos yang begitu menggemaskan. "Dia benar-benar Kak Al, kok.""Ohh, ya? Dari mana kamu tahu kalau dia adalah Alva?""Wajahnya mirip kalian, selain itu Kak Killian juga terli
Aria terkejut melihat sosok pria dewasa memakai kemeja dan celana rapi sedang duduk di kursi meja makan. Bukan karena kehadirannya yang tiba-tiba, tapi karena dia berani duduk di kursi milik kepala keluarga.'Apa dia Kak Al?'Aria memperhatikan wajah tampan itu dengan teliti. Pria itu memang terlihat mirip dengan kakak tirinya yang lain. Tentu saja dalam versi yang lebih dewasa dari dua kakak kembarnya.Apakah pria tampan itu benar-benar kakak pertamanya?"Selamat pagi, Kak Al!" Aria memutuskan untuk menyapa, karena rasa penasaran pada pria yang duduk si seberang meja.Pria yang sejak tadi hanya memejamkan matanya dengan ekspresi wajah datar itu akhirnya mau membuka matanya. Dia menoleh ke arah Aria dan saat itu dia terkejut melihat rupa adik tirinya."Kamu ...." Alva Nagara Putra menelan kembali kalimatnya.Sedangkan Aria memiringkan kepalanya, kedua matanya mengerjap, menunjukkan kebingungan yang nyata. "Aku kenapa, Kak?"Alva menggeleng. "Lupakan. Di mana Killian?"Aria menoleh ke
Aria masih terdiam. Dia tampak merenungi kelakuannya yang telah menghabiskan dua puluh juta dalam hitungan menit saja. Walaupun laptop memang menjadi salah satu barang yang dia perlukan untuk kuliah, tapi harusnya dia tidak perlu membeli laptop yang mahal itu, kan?Aria menghembuskan napasnya berat. Setelah keluarganya bangkrut beberapa tahun lalu, Aria memang tidak pernah lagi menghabiskan uang sebanyak itu.Bahkan, dia tidak pernah memiliki uang sebanyak itu lagi dalam beberapa tahun terakhir, hingga Aria lupa ... kalau dulu dia pernah menjadi anak orang kaya juga."Kenapa?" Killian tampak geli melihat ekspresi Aria sejak tadi. "Jangan bilang, lo masih nggak ikhlas ngeluarin uang buat beli laptop itu, ya?"Aria mengulum senyum getir. Dia ingin menganggukkan kepala, tapi dia takut menyinggung perasaan kakaknya. Apalagi Aria sekarang telah menjadi bagian dari keluarga Putra, hanya dua puluh juta bagi keluarga ini jelas bukan nominal seberapa."Kalau lo masih nggak ikhlas, gue bisa gan
Setelah makan malam dan menyuruh Aria untuk istirahat di kamarnya, ketiga tuan muda keluarga Putra berkumpul di ruang keluarga."Jadi, Aria sebenernya sakit apa?"Killian memang bertanya, tapi tatapan matanya sejak tadi tertuju pada layar ponselnya. Entah apa yang sedang dia lakukan, karena tangannya tak kunjung berhenti bergerak mengusap layar."Entahlah." Rexan mengembuskan napas berat. "Gue juga nggak tahu."Tangan Killian berhenti bergerak, kepalanya mendongak, menatap sang kakak yang terkenal sebagai seorang dokter bedah sekaligus pemilik rumah sakit tempat Aria dirawat sebelumnya dengan tatapan heran."Kenapa bisa nggak tahu?""Karena psikiaternya nggak mau ngasih tahu." Rexan balas menatap Killian dengan ekspresi yang sulit dijelaskan."Bukannya lo yang punya rumah sakit itu?""Hm." Rexan mengangguk."Kenapa lo nggak dikasih tahu?""Karena itu termasuk privasi pasien." Rexan tersenyum masam. "Psikiaternya nggak mau ngasih tahu gue, karena emang Aria nggak ngizinin gue buat tahu
"Kamu yakin mau langsung pulang?"Rexan tampak tidak senang mendengar kabar kalau Aria sudah diperbolehkan untuk pulang. Padahal, dia berharap Aria akan menginap selama satu atau dua hari ke depan untuk observasi lebih lanjut, tapi Aria malah menolaknya.Aria menganggukkan kepalanya. "Iya, Kak. Lagian aku udah baik-baik saja sekarang."Tentu saja Aria mau pulang secepatnya. Jika dia sampai dirawat, bukankah keluarga barunya akan menghabiskan banyak uang untuk biaya perawatannya?Lagi pula, Alicia bilang tidak masalah kalau Aria mau pulang sekarang. Asalkan dia berjanji akan kembali lagi jika sesuatu terjadi atau mungkin Aria perlu konsultasi mengenai kondisi terbarunya."Jangan berbohong, Aria. Aku tidak mau melihatmu pingsan lagi dengan alasan tidak jelas seperti tadi." Rexan menatap adik tirinya lurus.Aria hanya mengulum senyum menenangkan. "Kak Alicia sudah memberiku obat tadi, kan? Obat itu sudah lebih dari cukup untuk mengatasi semua masalahku, Kak."Rahang Rexan menegang, ekspr
Aria merasa jantungnya berhenti berdetak. Ucapan Killian berhasil membuatnya merasa ketakutan. Daripada disebut merepotkan, dia lebih takut tidak diakui bahkan dibenci oleh kakak tirinya sendiri.Killian masih memandangnya lurus, tatapan yang intens dan terlihat fokus. Dia masih menunggu Aria membu
"Jadi, apa yang mau kalian lakukan setelah ini?" tanya Revan sebelum dia pergi meninggalkan kedua adiknya. "Aku mau pulang saja, Kak." Aria memasang senyuman. "Aku cuma punya satu mata kuliah aja hari ini, jadi aku mau langsung pulang buat ngerjain tugas yang lain." Killian yang sejak tadi sibuk m
Mereka baru saja sampai di apartemen Revan, ketika ponsel Revan dan Killian bergetar secara bersamaan.Revan tampak mengerjap dengan tatapan tidak percaya. Sedangkan Killian melirik layar ponselnya, lalu mengirim sesuatu sebelum memasukkannya kembali ke saku celana.Aria menatap kedua kakaknya deng
Apa yang sedang terjadi di sini?Aria mengerjap dengan tatapan tidak percaya. Dia hanya ingat Killian sempat bertanya sesuatu padanya."Daleman lo nomer berapa?"Dengan polosnya, Aria memberi tahu kakaknya itu. Dia tidak menyangka jika hasilnya akan seperti ini.Dua orang pria dewasa berwajah tampa







