Home / Romansa / Enak Banget, Kak! / 06 - Foto Menggemparkan

Share

06 - Foto Menggemparkan

Author: Kaitani_H
last update Last Updated: 2025-12-25 11:57:09

"Naik!"

Aria menelan ludah susah payah saat melihat motor besar warna hitam milik Killian Elgara yang terkenal di fakultasnya selama ini. Apalagi, dia disuruh untuk menaikinya sekarang.

Killian memang masuk anggota geng motor. Oleh sebab itu dia terkenal dengan tunggangannya yang khas.

Killian menyodorkan helm yang dia temukan secara asal di garasi kepada Aria. "Pakai ini!"

"U-uhm, Kak, aku beneran bisa berangkat sendiri—"

Killian tidak mendengarkan ucapannya, bahkan dia tidak melirik Aria sedikit pun. Dia menatap ke arah rumah untuk memastikan Adikara tidak muncul secara tiba-tiba di sana.

"Pakai ini dan jangan protes lagi!" Killian mendorong helm itu ke tubuh depan Aria dan memaksa untuk menerima helm pemberiannya.

Aria menelan ludah susah payah. Dia sangat ingin menolak, tapi tiba-tiba saja Adikara dan Elvi keluar dari rumah untuk memastikan keadaan sekalian mengantar kepergian mereka.

Aria pun terpaksa memakai helm dan naik ke boncengan motor gede Killian. Dia melambaikan tangan pada Elvi dan Adikara begitu motor hitam itu mulai melaju membelah jalanan.

Perjalanan menuju kampus mereka habiskan dalam diam. Killian membawa motornya dengan pelan dan hati-hati, sesuai dengan mandat yang diterima dari Adikara sebelum ini.

“K-kak!” Aria tiba-tiba saja menarik bagian belakang jaket hitam yang dikenakan oleh Killian.

“Ada apa?” Killian yang menghentikan laju motornya karena lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah. Killian menolehkan kepalanya ke belakang untuk menatap Aria.

“Bisa nggak, Kakak turunin aku di halte bus dekat kampus aja?” Aria terlihat takut-takut saat mengatakannya.

Killian menatap Aria tanpa suara. Dia ingin sekali bertanya, tapi dia tidak mau ambil pusing dan terlalu ikut campur soal adik tirinya. “Oke.”

Singkat, padat, dan jelas. Aria pun merasa lega mendengar jawaban Killian yang langsung menyetujui permintaannya tanpa banyak tanya.

Bibirnya mengulum senyum lebar. Dia merasa harinya akan baik-baik saja, hingga ... Killian tiba-tiba saja menyodorkan ponselnya setelah laju motor itu berhenti dan Aria turun dari boncengan motor Killian untuk mengembalikan helm pada Killian.

Aria mengerjapkan matanya dan menatap Killian bingung. "Apa maksudnya ini, Kak?"

"Nomer lo."

"Hah?"

"Gue minta nomer ponsel lo."

Aria menatapnya tidak mengerti. "Buat apa, Kak?"

Killian mengembuskan napas kasar. Dalam hati, dia sudah mengumpati adik tirinya yang tidak peka ini. Bukankah dia pintar dan cerdas, tapi kenapa dia sangat tidak peka sekali, sih?!

"Kalau kuliah lo udah selesai, lo bisa langsung telepon gue," jelas Killian.

Aria membuka mulutnya syok. "Hah?"

"Bokap nyuruh gue jadi sopir pribadi lo selama kuliah. Jadi, gue bakal beneran jadi sopir yang antar jemput lo—"

"I-itu nggak perlu, Kak! Aku bisa naik bus, kok! Serius!" tolak Aria cepat-cepat, karena dia merasa tidak enak hati pada Killian.

"Emangnya lo mau turun di mana?" Killian berdecak sebal. "Rumah gue sama halte bus jaraknya lumayan jauh. Bisa pegal kaki lo kalau harus jalan kaki pulang pergi setiap kali mau ke kampus, kan?"

"Aku nggak apa-apa, Kak. Aku udah biasa jalan kaki juga. Kalau emang beneran capek, aku bisa naik ojek." Aria menganggukkan kepala dengan ekspresi menyakinkan.

"Ck!" Killian berdecak kesal. "Apa salahnya kalau berangkat dan pulang bareng gue?"

"Aku yang enggak enak sama Kak Killian kalau kakak harus antar-jemput aku setiap hari."

"Kita tinggal serumah, jadi enakin aja, kan?" sahut Killian. "Kasihin nomer lo ke gue! Bokap udah nyuruh gue, bahkan sampai ngancem kayak gitu. Kalau lo nggak peduli sama diri lo sendiri, setidaknya lo bisa sedikit peduli sama gue biar uang jajan gue nggak diputus sama bokap, kan?"

Aria terdiam mendengar ucapan Killian. Dia mengerti, kalau Killian pun sebenarnya terpaksa melakukan semua ini. Jika

Adikara tidak menekan dan mengancam Killian tadi, kakak tirinya pasti tidak akan mau mengantar jempur Aria setiap hari.

Tentu saja, mana mungkin Killian sebaik itu padanya kalau tidak ada ancaman yang mendasari kebaikannya itu, kan?

Aria mengembuskan napas kasar. Dia menerima ponsel Killian, mengetikkan nomornya, dan mengembalikan ponsel itu kembali kepada pemiliknya.

"Kalau lo udah selesai kuliah, tapi gue belum bisa dihubungi, tunggu beberapa menit dulu terus coba lagi. Jangan pernah mikir buat pulang sendiri dan jangan coba-coba buat balik sendiri, ngerti?"

Aria hanya diam saja, tapi kepalanya mengangguk patuh.

"Ngerti, nggak?!" ulang Killian yang emosi, karena adik tirinya ini tidak bersuara sama sekali.

Aria mengangguk. "I-iya, Kak! Aku ngerti"

"Kalau gue ada latihan basket, lo harus mau nungguin gue sampai latihan gue selesai, karena gue males kalau harus bolak-balik ke rumah cuma buat anterin lo pulang doang, paham?"

Aria mengangguk lagi. "Paham, Kak."

"Good, sana lo jalan kaki!"

Killian menyalakan mesin motornya lagi dan memasuki area kampus. Sedang Aria masih di sana sendirian dengan helaan napas yang keluar dari mulut, karena dia harus jalan kaki, sama seperti yang biasa dia lakukan selama ini.

Mereka tidak tahu, momen singkat itu telah diabadikan oleh orang lain dan dibagikan di akun gosip kampus.

Aria baru menyadari berita itu setelah mata kuliah pertama selesai. Dia mendengar kasak-kusuk tentang hubungannya dengan Killian dari mahasiswa lain yang ada di sekitarnya.

Aria memang belum mengecek ponselnya lagi, karena mata kuliah pertamanya hampir dimulai ketika dia sampai di fakultasnya.

Aria mengecek akun gosip kampus dan mendapati fotonya bersama Killian tadi pagi sedang menjadi trending di sana.

Wajah Aria langsung berubah menjadi pucat pasi. Apalagi di sana tertera jelas sosoknya dan nama Killian yang tidak dirahasiakan sama sekali.

Seorang Killian Elgara memiliki hubungan rahasia dengan siswi beasiswa.

Fakta itu berhasil menggemparkan mahasiswa lainnya. Banyak yang menyangkal berita itu hanya rekayasa, tapi ada pula segelintir mahasiswa yang membela, karena berita itu seperti drama-drama romansa di novel yang pernah mereka baca.

"Ikut gue lo!"

Tiba-tiba saja tangannya ditarik dan dia dibawa pergi dari sana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Enak Banget, Kak!   28 - Tawa

    "Aria udah siuman, kan?" tanya Revan begitu panggilan mereka tersambung."Iya, dia udah siuman.""Syukur kalau gitu!" Revan mengembuskan napas lega. "Aslinya gue mau nungguin Aria sampai sadar, tapi gue masih harus ngajar. Rencana awalnya gue mau nganter Aria ke tempat lo aja tadi. Malah jadinya kayak gini.""Hmm," gumam Rexan, sama sekali tidak bersemangat."Lo nggak apa-apa?" Revan sepertinya menyadari ada yang berbeda dari kembarannya. "Ada masalah?"Rexan tersenyum masam. "Dikit.""Ada apa?" tanya Revan serius.Rexan langsung teringat ucapan Alicia sebelum pergi meninggalkan ruangannya. "Ini hanya saran saya, tapi jangan mengungkit soal visum dan bully di depan Aria untuk sementara waktu, karena otaknya masih belum mampu menerima beban seberat itu."Rexan mengembuskan napas kasar. "Untuk sementara waktu, jangan dekati Aria dulu.""Hah?""Jangan bahas soal bully, visum, dan lain-lainnya," lanjut Rexan, sekali lagi mengembuskan napas berat."Kenapa? Lo tahu pasti, gue butuh bukti it

  • Enak Banget, Kak!   27 - Privasi

    "Maaf, saya tidak tahu kalau ada dokter di sini."Alicia mendengkus pelan. "Walaupun Anda tidak tahu, tapi harusnya Anda masih mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk ke ruangan ini kan, Dokter Rexan?"Rexan hanya bisa menelan ludahnya susah payah. Dia merasa tidak berkutik di depan dokter yang namanya cukup terkenal di kota ini.Nama Alicia Zeallyn memang dikenal sebagai seorang psikiater muda yang berbakat. Reputasinya berasal dari kecerdasan akademisnya yang dibuktikan oleh kemampuan medis, serta dukungan keluarga yang tidak main-main.Walaupun sifatnya tidak terlalu hangat, tapi Alicia memiliki kepribadian yang kuat, tenang, elegan, juga bermartabat.Rexan awalnya ingin meminta Alicia menjadi psikiater Aria karena reputasinya. Namun, setelah berhadapan langsung dengannya, Rexan harus memikirkannya ulang."Maaf, saya terlalu panik tadi sampai tidak menyadari ada dokter yang sedang menangani.""Saya tidak menyangka, orang seperti Dokter Rexan ternyata bisa mendapat serangan panik ju

  • Enak Banget, Kak!   26 - Alicia

    Mengingat bagaimana sifat Adikara soal uang, Killian yakin ayahnya sudah menyiapkan uang bulanan untuk Aria. Namun kenapa, Aria belum menerima uang yang harusnya sudah berada di tangannya?Killian : Di mana uang bulanan Aria?Adikara : Apa yang ingin kamu lakukan?Killian berdecak pelan. Rubah tua itu pasti berpikir jika dia akan menggunakan uang Aria untuk kepentingannya sendiri. Padahal, dia tidak membutuhkan uang itu sama sekali.Killian : Aria belum menerima uang bulanannya sedikit pun. Apa papa sengaja membuatnya miskin seperti itu?Adikara : Apa maksudmu? Jelas-jelas semuanya sudah papa atur sebelum pergi bulan madu.Killian : Faktanya, Aria memang belum mendapat uang bulanan sepeser pun dari papa.Adikara : Bagaimana bisa begitu?Killian : Bagaimana aku bisa tahu?Killian mendengkus kesal. Kalau dia tahu, dia tidak akan menanyakannya langsung pada rubah tua sialan ini!Adikara : Kalau begitu, coba kamu temui asisten pribadi papa di kantor. Papa menyerahkan semua urusan itu pada

  • Enak Banget, Kak!   25 - Visum

    Claudia menatap pemandangan di depannya dengan tatapan tajam, wajahnya memerah, kedua tangannya mengepal.Dia membenci apa yang ada di hadapannya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah dia dan kedua temannya dipanggil oleh Kaprodi dan diminta membuat klarifikasi formal tentang kasus mereka yang membully mahasiswa lain.Claudia langsung menemukan siapa orang yang sudah melaporkannya ke dosen, karena Claudia hanya pernah merundung satu orang selama beberapa bulan terakhir."Gue nggak nyangka, anak miskin itu rupanya berani juga!" desisnya pelan.Dalam klarifikasinya, Claudia menyangkal semuanya. Walaupun dosen sudah menyimpan barang buktinya, tapi semua itu hanya barang bukti dari masa lalu dan Claudia beralasan kalau dia sudah berubah sekarang.Oleh sebab itu, dalam waktu dekat ini dia tidak boleh gegabah dan menunjukkan banyak celah. Masalahnya, anak miskin itu sepertinya sengaja ingin membuatnya kembali berulah."Tunggu gue lepas dari pengawasan ini dan lo bakal abis di tangan

  • Enak Banget, Kak!   24 - Uang Jajan

    "K-kak!" cicit Aria pelan.Suaranya terdengar bergetar, kepalanya menunduk, memandangi tangan kanannya yang mulai dingin tapi masih bertautan dengan tangan kiri Killian.Killian yang mendengar panggilan Aria itu langsung menghentikan langkah kakinya. Kepalanya menoleh ke samping, menatap Aria yang wajahnya terlihat pucat."Kenapa?" Killian menatapnya lurus, tatap matanya begitu fokus yang menunjukkan jika dia tengah serius.Aria menelan ludahnya susah payah, keringat dingin mulai menetes pelan menuruni dahinya. "Apa Kak Killian tadi dengar sesuatu?"Sejenak, Killian terdiam. "Denger apa?"Aria menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak, enggak, enggak ada apa-apa." Gadis itu meringis, tapi di dalam hati, dia kegirangan setengah mati, jika memang Killian tidak mendengar apa pun dari mulutnya tadi.Killian yang melihat itu menyeringai tipis. Dia menarik tangan Aria ke salah satu sudut lorong yang sepi, lalu mengurung tubuh adik tirinya itu ke tembok yang ada di belakangnya.Kejadiannya begi

  • Enak Banget, Kak!   23 - Titik Balik

    Saat itulah suara Killian terngiang-ngiang di kepalanya. Aria mengepalkan kedua tangannya kuat, membulatkan tekadnya, sebelum mulai mengangkat kepala, dan balas menatap mereka.'Kalau lo cuma diem aja kayak gini, lo cuma bakal ngerepotin gue sama Revan.'Tidak. Aria tidak boleh merepotkan kedua kakak tirinya lagi. Mereka sudah berbaik hati membantunya untuk melepaskan diri dari jerat Claudia dan antek-anteknya.Aria tidak boleh terus seperti ini. Dia harus berubah. Dia harus menjadi lebih kuat dan lebih berani agar dia tidak mudah ditindas lagi.Aria harus menjadi jauh lebih kuat lagi. Dengan begitu, usaha kakak tirinya tidak akan berakhir sia-sia begitu saja.BRAKKK"Jawab berengsek! Lo kagak tuli, kan?"Aria memejamkan matanya, menarik napasnya panjang, lalu mengingat baik-baik bagaimana ekspresi wajah Killian selama ini.Aria meniru ekspresi Killian. Dia mengikutinya. Dengan wajah datar dan tatapan yang terlihat meremehkan, dia membalas tatapan Elina."Dari sisi mana kamu melihatku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status