ログイン"Naik!"
Aria menelan ludah susah payah saat melihat motor besar warna hitam milik Killian Elgara yang terkenal di fakultasnya selama ini. Apalagi, dia disuruh untuk menaikinya sekarang. Killian memang masuk anggota geng motor. Oleh sebab itu dia terkenal dengan tunggangannya yang khas. Killian menyodorkan helm yang dia temukan secara asal di garasi kepada Aria. "Pakai ini!" "U-uhm, Kak, aku beneran bisa berangkat sendiri—" Killian tidak mendengarkan ucapannya, bahkan dia tidak melirik Aria sedikit pun. Dia menatap ke arah rumah untuk memastikan Adikara tidak muncul secara tiba-tiba di sana. "Pakai ini dan jangan protes lagi!" Killian mendorong helm itu ke tubuh depan Aria dan memaksa untuk menerima helm pemberiannya. Aria menelan ludah susah payah. Dia sangat ingin menolak, tapi tiba-tiba saja Adikara dan Elvi keluar dari rumah untuk memastikan keadaan sekalian mengantar kepergian mereka. Aria pun terpaksa memakai helm dan naik ke boncengan motor gede Killian. Dia melambaikan tangan pada Elvi dan Adikara begitu motor hitam itu mulai melaju membelah jalanan. Perjalanan menuju kampus mereka habiskan dalam diam. Killian membawa motornya dengan pelan dan hati-hati, sesuai dengan mandat yang diterima dari Adikara sebelum ini. “K-kak!” Aria tiba-tiba saja menarik bagian belakang jaket hitam yang dikenakan oleh Killian. “Ada apa?” Killian yang menghentikan laju motornya karena lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah. Killian menolehkan kepalanya ke belakang untuk menatap Aria. “Bisa nggak, Kakak turunin aku di halte bus dekat kampus aja?” Aria terlihat takut-takut saat mengatakannya. Killian menatap Aria tanpa suara. Dia ingin sekali bertanya, tapi dia tidak mau ambil pusing dan terlalu ikut campur soal adik tirinya. “Oke.” Singkat, padat, dan jelas. Aria pun merasa lega mendengar jawaban Killian yang langsung menyetujui permintaannya tanpa banyak tanya. Bibirnya mengulum senyum lebar. Dia merasa harinya akan baik-baik saja, hingga ... Killian tiba-tiba saja menyodorkan ponselnya setelah laju motor itu berhenti dan Aria turun dari boncengan motor Killian untuk mengembalikan helm pada Killian. Aria mengerjapkan matanya dan menatap Killian bingung. "Apa maksudnya ini, Kak?" "Nomer lo." "Hah?" "Gue minta nomer ponsel lo." Aria menatapnya tidak mengerti. "Buat apa, Kak?" Killian mengembuskan napas kasar. Dalam hati, dia sudah mengumpati adik tirinya yang tidak peka ini. Bukankah dia pintar dan cerdas, tapi kenapa dia sangat tidak peka sekali, sih?! "Kalau kuliah lo udah selesai, lo bisa langsung telepon gue," jelas Killian. Aria membuka mulutnya syok. "Hah?" "Bokap nyuruh gue jadi sopir pribadi lo selama kuliah. Jadi, gue bakal beneran jadi sopir yang antar jemput lo—" "I-itu nggak perlu, Kak! Aku bisa naik bus, kok! Serius!" tolak Aria cepat-cepat, karena dia merasa tidak enak hati pada Killian. "Emangnya lo mau turun di mana?" Killian berdecak sebal. "Rumah gue sama halte bus jaraknya lumayan jauh. Bisa pegal kaki lo kalau harus jalan kaki pulang pergi setiap kali mau ke kampus, kan?" "Aku nggak apa-apa, Kak. Aku udah biasa jalan kaki juga. Kalau emang beneran capek, aku bisa naik ojek." Aria menganggukkan kepala dengan ekspresi menyakinkan. "Ck!" Killian berdecak kesal. "Apa salahnya kalau berangkat dan pulang bareng gue?" "Aku yang enggak enak sama Kak Killian kalau kakak harus antar-jemput aku setiap hari." "Kita tinggal serumah, jadi enakin aja, kan?" sahut Killian. "Kasihin nomer lo ke gue! Bokap udah nyuruh gue, bahkan sampai ngancem kayak gitu. Kalau lo nggak peduli sama diri lo sendiri, setidaknya lo bisa sedikit peduli sama gue biar uang jajan gue nggak diputus sama bokap, kan?" Aria terdiam mendengar ucapan Killian. Dia mengerti, kalau Killian pun sebenarnya terpaksa melakukan semua ini. Jika Adikara tidak menekan dan mengancam Killian tadi, kakak tirinya pasti tidak akan mau mengantar jempur Aria setiap hari. Tentu saja, mana mungkin Killian sebaik itu padanya kalau tidak ada ancaman yang mendasari kebaikannya itu, kan? Aria mengembuskan napas kasar. Dia menerima ponsel Killian, mengetikkan nomornya, dan mengembalikan ponsel itu kembali kepada pemiliknya. "Kalau lo udah selesai kuliah, tapi gue belum bisa dihubungi, tunggu beberapa menit dulu terus coba lagi. Jangan pernah mikir buat pulang sendiri dan jangan coba-coba buat balik sendiri, ngerti?" Aria hanya diam saja, tapi kepalanya mengangguk patuh. "Ngerti, nggak?!" ulang Killian yang emosi, karena adik tirinya ini tidak bersuara sama sekali. Aria mengangguk. "I-iya, Kak! Aku ngerti" "Kalau gue ada latihan basket, lo harus mau nungguin gue sampai latihan gue selesai, karena gue males kalau harus bolak-balik ke rumah cuma buat anterin lo pulang doang, paham?" Aria mengangguk lagi. "Paham, Kak." "Good, sana lo jalan kaki!" Killian menyalakan mesin motornya lagi dan memasuki area kampus. Sedang Aria masih di sana sendirian dengan helaan napas yang keluar dari mulut, karena dia harus jalan kaki, sama seperti yang biasa dia lakukan selama ini. Mereka tidak tahu, momen singkat itu telah diabadikan oleh orang lain dan dibagikan di akun gosip kampus. Aria baru menyadari berita itu setelah mata kuliah pertama selesai. Dia mendengar kasak-kusuk tentang hubungannya dengan Killian dari mahasiswa lain yang ada di sekitarnya. Aria memang belum mengecek ponselnya lagi, karena mata kuliah pertamanya hampir dimulai ketika dia sampai di fakultasnya. Aria mengecek akun gosip kampus dan mendapati fotonya bersama Killian tadi pagi sedang menjadi trending di sana. Wajah Aria langsung berubah menjadi pucat pasi. Apalagi di sana tertera jelas sosoknya dan nama Killian yang tidak dirahasiakan sama sekali. Seorang Killian Elgara memiliki hubungan rahasia dengan siswi beasiswa. Fakta itu berhasil menggemparkan mahasiswa lainnya. Banyak yang menyangkal berita itu hanya rekayasa, tapi ada pula segelintir mahasiswa yang membela, karena berita itu seperti drama-drama romansa di novel yang pernah mereka baca. "Ikut gue lo!" Tiba-tiba saja tangannya ditarik dan dia dibawa pergi dari sana.Kak Alva : Selamat siang, Aria!Aria : Selamat siang, Kak Al!Kak Alva : Apa kamu sudah memutuskannya?Aria : Memutuskan apa, Kak?Kak Alva : Bukannya kamu mau beli apartemen? Apa kamu sudah memutuskan mau beli apartemen di mana?Aria sontak meringis pelan ketika membaca pesan masuk dari kakaknya. Dia memang ingin membeli unit apartemen, tapi dia ingin membelinya menggunakan uang tabungannya sendiri, bukannya dibelikan oleh kakak pertamanya ini.Walaupun Aria tahu, harga sebuah unit apartemen bisa mencapai milyaran rupiah, tapi dengan uang saku sebulan seratus juta, ditambah nanti kalau dia sudah bekerja ... Aria rasa semua itu tidak akan mustahil untuk jadi realita.Aria : Aku akan membelinya sendiri dengan uangku, Kak. Aku akan menabung setiap hari hingga bisa membelinya.Tidak ada jawaban cepat yang datang. Aria pun menghela napasnya lega. "Apa sifat orang kaya memang seperti ini, ya?"Alicia yang juga berada di ruangan itu menoleh ke Aria. "Kenapa, Aria?"Aria menggeleng pelan. "T
"Kak!""Hm?""Aku rasa, ada yang salah dengan isi kepala Kak Al."Ucapan itu berhasil Rexan tersedak dan langsung menatap Aria horor. "Kamu bertemu Alva?"Aria mengangguk dengan wajah bingung yang terlihat lucu. "Kapan dan di mana kamu bertemu dengannya?" Rexan terlihat kaget sekaligus panik sekarang."Tadi pagi, Kak, di rumah. Kak Al pulang dan dia berencana untuk tinggal sementara waktu, Kak," jelas Aria.Rexan mengernyitkan dahi. Seorang Alva Nagara Putra yang mandiri dan sangat peduli dengan harga diri mana mungkin mau tinggal di rumah orang tuanya begini?!"Apa orang itu benar-benar Alva?" Rexan mengernyitkan dahinya curiga. Dia tidak yakin, pria ditemui Aria adalah kakaknya. "Alva yang aku kenal tidak akan mau tinggal di rumah orang tuanya apa pun yang terjadi."Aria mengerjapkan kedua matanya dengan wajah polos yang begitu menggemaskan. "Dia benar-benar Kak Al, kok.""Ohh, ya? Dari mana kamu tahu kalau dia adalah Alva?""Wajahnya mirip kalian, selain itu Kak Killian juga terli
Aria terkejut melihat sosok pria dewasa memakai kemeja dan celana rapi sedang duduk di kursi meja makan. Bukan karena kehadirannya yang tiba-tiba, tapi karena dia berani duduk di kursi milik kepala keluarga.'Apa dia Kak Al?'Aria memperhatikan wajah tampan itu dengan teliti. Pria itu memang terlihat mirip dengan kakak tirinya yang lain. Tentu saja dalam versi yang lebih dewasa dari dua kakak kembarnya.Apakah pria tampan itu benar-benar kakak pertamanya?"Selamat pagi, Kak Al!" Aria memutuskan untuk menyapa, karena rasa penasaran pada pria yang duduk si seberang meja.Pria yang sejak tadi hanya memejamkan matanya dengan ekspresi wajah datar itu akhirnya mau membuka matanya. Dia menoleh ke arah Aria dan saat itu dia terkejut melihat rupa adik tirinya."Kamu ...." Alva Nagara Putra menelan kembali kalimatnya.Sedangkan Aria memiringkan kepalanya, kedua matanya mengerjap, menunjukkan kebingungan yang nyata. "Aku kenapa, Kak?"Alva menggeleng. "Lupakan. Di mana Killian?"Aria menoleh ke
Aria masih terdiam. Dia tampak merenungi kelakuannya yang telah menghabiskan dua puluh juta dalam hitungan menit saja. Walaupun laptop memang menjadi salah satu barang yang dia perlukan untuk kuliah, tapi harusnya dia tidak perlu membeli laptop yang mahal itu, kan?Aria menghembuskan napasnya berat. Setelah keluarganya bangkrut beberapa tahun lalu, Aria memang tidak pernah lagi menghabiskan uang sebanyak itu.Bahkan, dia tidak pernah memiliki uang sebanyak itu lagi dalam beberapa tahun terakhir, hingga Aria lupa ... kalau dulu dia pernah menjadi anak orang kaya juga."Kenapa?" Killian tampak geli melihat ekspresi Aria sejak tadi. "Jangan bilang, lo masih nggak ikhlas ngeluarin uang buat beli laptop itu, ya?"Aria mengulum senyum getir. Dia ingin menganggukkan kepala, tapi dia takut menyinggung perasaan kakaknya. Apalagi Aria sekarang telah menjadi bagian dari keluarga Putra, hanya dua puluh juta bagi keluarga ini jelas bukan nominal seberapa."Kalau lo masih nggak ikhlas, gue bisa gan
Setelah makan malam dan menyuruh Aria untuk istirahat di kamarnya, ketiga tuan muda keluarga Putra berkumpul di ruang keluarga."Jadi, Aria sebenernya sakit apa?"Killian memang bertanya, tapi tatapan matanya sejak tadi tertuju pada layar ponselnya. Entah apa yang sedang dia lakukan, karena tangannya tak kunjung berhenti bergerak mengusap layar."Entahlah." Rexan mengembuskan napas berat. "Gue juga nggak tahu."Tangan Killian berhenti bergerak, kepalanya mendongak, menatap sang kakak yang terkenal sebagai seorang dokter bedah sekaligus pemilik rumah sakit tempat Aria dirawat sebelumnya dengan tatapan heran."Kenapa bisa nggak tahu?""Karena psikiaternya nggak mau ngasih tahu." Rexan balas menatap Killian dengan ekspresi yang sulit dijelaskan."Bukannya lo yang punya rumah sakit itu?""Hm." Rexan mengangguk."Kenapa lo nggak dikasih tahu?""Karena itu termasuk privasi pasien." Rexan tersenyum masam. "Psikiaternya nggak mau ngasih tahu gue, karena emang Aria nggak ngizinin gue buat tahu
"Kamu yakin mau langsung pulang?"Rexan tampak tidak senang mendengar kabar kalau Aria sudah diperbolehkan untuk pulang. Padahal, dia berharap Aria akan menginap selama satu atau dua hari ke depan untuk observasi lebih lanjut, tapi Aria malah menolaknya.Aria menganggukkan kepalanya. "Iya, Kak. Lagian aku udah baik-baik saja sekarang."Tentu saja Aria mau pulang secepatnya. Jika dia sampai dirawat, bukankah keluarga barunya akan menghabiskan banyak uang untuk biaya perawatannya?Lagi pula, Alicia bilang tidak masalah kalau Aria mau pulang sekarang. Asalkan dia berjanji akan kembali lagi jika sesuatu terjadi atau mungkin Aria perlu konsultasi mengenai kondisi terbarunya."Jangan berbohong, Aria. Aku tidak mau melihatmu pingsan lagi dengan alasan tidak jelas seperti tadi." Rexan menatap adik tirinya lurus.Aria hanya mengulum senyum menenangkan. "Kak Alicia sudah memberiku obat tadi, kan? Obat itu sudah lebih dari cukup untuk mengatasi semua masalahku, Kak."Rahang Rexan menegang, ekspr







