Home / Romansa / Enak Banget, Kak! / 09 - Rebahan Aja

Share

09 - Rebahan Aja

Author: Kaitani_H
last update Last Updated: 2026-01-02 04:18:25

"Kak ...."

"Hm?"

Aria menatap Killian yang sedang menggendongnya dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih karena Kakak sudah menyelamatkanku sebelumnya."

"Gue cuma nggak sengaja salah masuk toilet aja. Lo nggak perlu berterima kasih kayak gitu ke gue," balas Killian cuek, kepalanya berpaling ke arah lain dan saat itulah dia mendengar suara mahasiswa lain yang mulai berisik.

Aria ikut memandangi sekitarnya dan suara-suara itu menyadarkan Aria pada masalah baru yang mungkin saja akan dihadapinya besok.

Aria menundukkan kepala, tangannya tanpa sadar sudah mencengkeram bagian depan kaus yang Killian gunakan dan hal itu menarik perhatian Killian secara diam-diam.

"Apa yang lagi lo pikirin?"

Aria menggeleng dengan cepat. "E-enggak, enggak ada apa-apa kok, Kak."

Setelah mengenalnya cukup lama, Killian tahu Aria sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Laki-laki itu mendengkus pelan. "Lo khawatir sama ucapan mereka?"

Killian menatap kerumunan yang sejak tadi terus saja memandangi mereka berdua dengan wajah penasaran.

Aria menganggukkan kepala. "Aku takut, aku bakal bikin masalah baru buat Kakak."

"Emang siapa yang berani bikin masalah sama gue di sini?" Killian mendengkus lagi.

Aria terdiam. Ucapan Killian ada benarnya. Killian adalah kakak kelas yang dihormati oleh banyak orang. Walaupun hormatnya tidak ditunjukkan secara terang-terangan, tapi bukti bahwa sebagian besar mahasiswa mengikuti dan mau mendengarkannya ada di mana-mana.

"Lagian, mereka semua cuma orang asing, Aria. Lo nggak perlu khawatir soal pandangan mereka ke kita. Mending lo fokus sama diri lo sendiri sekarang."

Aria terdiam cukup lama, sebelum mengangguk patuh. "Baik, Kak."

Killian membawanya menuju ruang kesehatan, lalu dia meletakkan tubuh Aria ke atas ranjang. "Lo rebahan aja dulu, gue cariin baju ganti buat lo!"

Tanpa menunggu jawaban Aria, Killian berbalik pergi dan langsung menghubungi kakak kandungnya yang juga ada di kampus ini.

Killian bisa saja menghubungi kedua temannya tadi, tapi dia merasa gengsi. Selain itu, Bastian tadi bilang kalau dia memiliki perasaan pada Aria.

Jika dua orang itu nantinya berjodoh, bukankah Bastian akan berakhir menjadi adik iparnya?

'Gue males banget bayangin iparan sama dia,' batin Killian.

"Van!" sapa Killian, langsung begitu panggilan telepon mereka tersambung.

Tidak ada respon apa pun di seberang panggilan.

"Oi!"

Masih diam, tidak ada suara apa pun yang terdengar di seberang sana.

Killian mengecek panggilan yang masih berlangsung di seberang. "Jadi bisu lo sekarang, hah?!"

"Ck!" Suara decakan mulai terdengar di seberang sana. "Harusnya lo sadar diri kenapa gue cuma diam aja dari tadi."

"Kenapa emangnya?" Killian terlihat sangat cuek sekali menanggapi ucapan kakak ketiganya itu.

"Gue masih kakak kandung lo btw dan lo manggil gue kayak gitu?"

"Biasanya juga gimana?" Killian mendengkus pelan.

"Minimal, kalau lo nggak mau manggil gue 'kakak', lo bisa manggil gue 'bapak'. Gue masih dosen lo di sini, Killian!" geram Revan Sabara, kakak nomor tiga Killian.

"Pengen banget lo dianggap tua sama gue ya, Van?"

"SIALAN LO YA!" Sosok di seberang sana terdengar marah. "Dasar adik nggak tahu sopan santun! Bisa-bisanya lo ngomong kayak gini ke gue!"

Killian memutar bola matanya tak peduli. "Semua itu nggak penting, ada yang jauh lebih penting sekarang."

"Ohhh, apa yang jauh lebih penting dari sopan santun lo yang hilang entah ke mana itu—"

"Salah satu mahasiswi lo sekaligus adik tiri kita baru aja dibully sama mahasiswi lain, bajunya basah semua dan sekarang dia butuh baju ganti. Sebagai seorang dosen dan kakak tiri yang baik, harusnya lo tahu kan apa yang harus lo lakuin sekarang?"

"Lo minta gue nganterin baju ganti buat dia?"

"Tepat." Killian tersenyum samar, kakaknya ini ternyata jauh lebih peka darinya.

"Kenapa nggak lo aja yang pergi ngambilin baju ganti buat dia?"

"Gue harus jaga dia. Siapa tahu pembully-nya bakal balik lagi buat ngancam dia biar nggak lapor ke dosn, kan?" dalih Killian. padahal dia hanya terlalu malas beranjak pergi dari sana sana.

"Temen-temen lo kan ada?"

"Gue sendirian, mereka nggak ada di sini, karena gue nggak sengaja nyelametin dia tadi."

"Oke." Revan mendesah kasar. "Sekarang, lo ada di mana?"

"Ruang kesehatan, jangan lupa bawa baju ganti cewek secepatnya, ya!"

Setelah itu, Killian mematikan panggilan tanpa pamitan pada kakak ketiganya itu. Dia kembali masuk ke dalam, melihat Aria yang duduk di atas ranjang tanpa berusaha pindah sedikit pun.

"Kenapa nggak rebahan aja?" tanya Killian, mendekati Aria dan mengecek suhu keningnya. Agak panas, apa mungkin dia demam?

Aria terkejut sejenak dengan tindakan tiba-tiba Killian, tapi gadis itu bisa memahaminya. "Nanti kasurnya jadi basah semua, Kak. Nggak enak sama petugasnya."

"Ya biarin aja, itu urusan orang-orang bagian kesehatan Aria."

"Aku yang enggak enak, Kak."

"Enakin aja, apa susahnya." Killian menarik kursi, lalu duduk di sana dengan nyaman. "Baju gantinya bentar lagi sampai. Kakak ketiga yang bakal bawa bajunya ke sini."

Aria mengangguk mengerti. "Terima kasih, Kak. Maaf, aku sudah merepotkan kalian semua."

Aria menundukkan kepalanya. Dia benar-benar telah merepotkan keluarga barunya. Dia merasa tidak enak pada mereka. Padahal, rencananya, dia akan menjadi adik tiri yang tidak dianggap oleh mereka berempat, tapi ....

"Gue udah bilang, lo nggak perlu berterima kasih sama gue, kan?"

Aria menggeleng pelan. "Aku masih tetap harus berterima kasih sama Kakak." Aria mendongak, menatap Killian yang sedang memperhatikannya dalam diam. "Kalau kakak nggak nyelamatin aku tadi, mungkin semua ini akanjadi semakin lebih buruk lagi. Jadi, aku harus berterima kasih sama kakak!"

"Gimanapun juga, sekarang lo itu adek tiri gue. Bokap udah nyuruh gue buat jagain lo selama lo kuliah, jadi gue bakal merepotkan diri buat jagain lo selama kuliah di sini." Killian mendengkus kesal. "Kalau lo emang mau berterima kasih, bilang makasih ke bokap gue aja."

Aria menggeleng pelan. "Walaupun papa yang nyuruh kakak, tapi kakak bisa aja tetap tidak peduli dan pura-pura tidak melihatku, kan?"

"Siapa yang tahu, pas udah pulang nanti lo bakalan ngadu sama bokap gue, kan?"

"Aku nggak akan ngelakuin itu." Aria menggelengkan kepala. "Aku nggak mungkin ngerepotin papa dan kakak-kakakku."

"Kalau lo emang nggak mau ngerepotin kami, harusnya lo mulai berpikir gimana cara ngelawan mereka semua saat ini."

Aria mengerjapkan kedua matanya, kepalanya mendongak, menatap Killian dengan tatapan tidak percaya.

"Kalau lo cuma diam dan pasrah dibully kayak gitu waktu lo dibully, yang ada bully-annya semakin menjadi. Lo harus belajar gimana cara melawan balik, lo harus belajar gimana cara membela diri yang baik. Kalau lo cuma diam aja kayak gitu, mereka bakal datang lagi dan lagi cuma buat gangguin lo seumur hidup lo nanti."

Itu benar. Ucapan Killian memang benar, tapi dia melawan balik? Apakah dia bisa melakukannya?

"Apa yang masih bikin lo ragu? Apa yang bikin lo takut, Aria?" Killian menatap adiknya lurus. "Lo nggak sendirian di dunia ini, Aria. Ada gue, ada kakak tiri lo yang lain, lo bisa melalui ini dengan mudah kalau lo mau mengandalkan kami."

"A-apa ...."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Enak Banget, Kak!   28 - Tawa

    "Aria udah siuman, kan?" tanya Revan begitu panggilan mereka tersambung."Iya, dia udah siuman.""Syukur kalau gitu!" Revan mengembuskan napas lega. "Aslinya gue mau nungguin Aria sampai sadar, tapi gue masih harus ngajar. Rencana awalnya gue mau nganter Aria ke tempat lo aja tadi. Malah jadinya kayak gini.""Hmm," gumam Rexan, sama sekali tidak bersemangat."Lo nggak apa-apa?" Revan sepertinya menyadari ada yang berbeda dari kembarannya. "Ada masalah?"Rexan tersenyum masam. "Dikit.""Ada apa?" tanya Revan serius.Rexan langsung teringat ucapan Alicia sebelum pergi meninggalkan ruangannya. "Ini hanya saran saya, tapi jangan mengungkit soal visum dan bully di depan Aria untuk sementara waktu, karena otaknya masih belum mampu menerima beban seberat itu."Rexan mengembuskan napas kasar. "Untuk sementara waktu, jangan dekati Aria dulu.""Hah?""Jangan bahas soal bully, visum, dan lain-lainnya," lanjut Rexan, sekali lagi mengembuskan napas berat."Kenapa? Lo tahu pasti, gue butuh bukti it

  • Enak Banget, Kak!   27 - Privasi

    "Maaf, saya tidak tahu kalau ada dokter di sini."Alicia mendengkus pelan. "Walaupun Anda tidak tahu, tapi harusnya Anda masih mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk ke ruangan ini kan, Dokter Rexan?"Rexan hanya bisa menelan ludahnya susah payah. Dia merasa tidak berkutik di depan dokter yang namanya cukup terkenal di kota ini.Nama Alicia Zeallyn memang dikenal sebagai seorang psikiater muda yang berbakat. Reputasinya berasal dari kecerdasan akademisnya yang dibuktikan oleh kemampuan medis, serta dukungan keluarga yang tidak main-main.Walaupun sifatnya tidak terlalu hangat, tapi Alicia memiliki kepribadian yang kuat, tenang, elegan, juga bermartabat.Rexan awalnya ingin meminta Alicia menjadi psikiater Aria karena reputasinya. Namun, setelah berhadapan langsung dengannya, Rexan harus memikirkannya ulang."Maaf, saya terlalu panik tadi sampai tidak menyadari ada dokter yang sedang menangani.""Saya tidak menyangka, orang seperti Dokter Rexan ternyata bisa mendapat serangan panik ju

  • Enak Banget, Kak!   26 - Alicia

    Mengingat bagaimana sifat Adikara soal uang, Killian yakin ayahnya sudah menyiapkan uang bulanan untuk Aria. Namun kenapa, Aria belum menerima uang yang harusnya sudah berada di tangannya?Killian : Di mana uang bulanan Aria?Adikara : Apa yang ingin kamu lakukan?Killian berdecak pelan. Rubah tua itu pasti berpikir jika dia akan menggunakan uang Aria untuk kepentingannya sendiri. Padahal, dia tidak membutuhkan uang itu sama sekali.Killian : Aria belum menerima uang bulanannya sedikit pun. Apa papa sengaja membuatnya miskin seperti itu?Adikara : Apa maksudmu? Jelas-jelas semuanya sudah papa atur sebelum pergi bulan madu.Killian : Faktanya, Aria memang belum mendapat uang bulanan sepeser pun dari papa.Adikara : Bagaimana bisa begitu?Killian : Bagaimana aku bisa tahu?Killian mendengkus kesal. Kalau dia tahu, dia tidak akan menanyakannya langsung pada rubah tua sialan ini!Adikara : Kalau begitu, coba kamu temui asisten pribadi papa di kantor. Papa menyerahkan semua urusan itu pada

  • Enak Banget, Kak!   25 - Visum

    Claudia menatap pemandangan di depannya dengan tatapan tajam, wajahnya memerah, kedua tangannya mengepal.Dia membenci apa yang ada di hadapannya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah dia dan kedua temannya dipanggil oleh Kaprodi dan diminta membuat klarifikasi formal tentang kasus mereka yang membully mahasiswa lain.Claudia langsung menemukan siapa orang yang sudah melaporkannya ke dosen, karena Claudia hanya pernah merundung satu orang selama beberapa bulan terakhir."Gue nggak nyangka, anak miskin itu rupanya berani juga!" desisnya pelan.Dalam klarifikasinya, Claudia menyangkal semuanya. Walaupun dosen sudah menyimpan barang buktinya, tapi semua itu hanya barang bukti dari masa lalu dan Claudia beralasan kalau dia sudah berubah sekarang.Oleh sebab itu, dalam waktu dekat ini dia tidak boleh gegabah dan menunjukkan banyak celah. Masalahnya, anak miskin itu sepertinya sengaja ingin membuatnya kembali berulah."Tunggu gue lepas dari pengawasan ini dan lo bakal abis di tangan

  • Enak Banget, Kak!   24 - Uang Jajan

    "K-kak!" cicit Aria pelan.Suaranya terdengar bergetar, kepalanya menunduk, memandangi tangan kanannya yang mulai dingin tapi masih bertautan dengan tangan kiri Killian.Killian yang mendengar panggilan Aria itu langsung menghentikan langkah kakinya. Kepalanya menoleh ke samping, menatap Aria yang wajahnya terlihat pucat."Kenapa?" Killian menatapnya lurus, tatap matanya begitu fokus yang menunjukkan jika dia tengah serius.Aria menelan ludahnya susah payah, keringat dingin mulai menetes pelan menuruni dahinya. "Apa Kak Killian tadi dengar sesuatu?"Sejenak, Killian terdiam. "Denger apa?"Aria menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak, enggak, enggak ada apa-apa." Gadis itu meringis, tapi di dalam hati, dia kegirangan setengah mati, jika memang Killian tidak mendengar apa pun dari mulutnya tadi.Killian yang melihat itu menyeringai tipis. Dia menarik tangan Aria ke salah satu sudut lorong yang sepi, lalu mengurung tubuh adik tirinya itu ke tembok yang ada di belakangnya.Kejadiannya begi

  • Enak Banget, Kak!   23 - Titik Balik

    Saat itulah suara Killian terngiang-ngiang di kepalanya. Aria mengepalkan kedua tangannya kuat, membulatkan tekadnya, sebelum mulai mengangkat kepala, dan balas menatap mereka.'Kalau lo cuma diem aja kayak gini, lo cuma bakal ngerepotin gue sama Revan.'Tidak. Aria tidak boleh merepotkan kedua kakak tirinya lagi. Mereka sudah berbaik hati membantunya untuk melepaskan diri dari jerat Claudia dan antek-anteknya.Aria tidak boleh terus seperti ini. Dia harus berubah. Dia harus menjadi lebih kuat dan lebih berani agar dia tidak mudah ditindas lagi.Aria harus menjadi jauh lebih kuat lagi. Dengan begitu, usaha kakak tirinya tidak akan berakhir sia-sia begitu saja.BRAKKK"Jawab berengsek! Lo kagak tuli, kan?"Aria memejamkan matanya, menarik napasnya panjang, lalu mengingat baik-baik bagaimana ekspresi wajah Killian selama ini.Aria meniru ekspresi Killian. Dia mengikutinya. Dengan wajah datar dan tatapan yang terlihat meremehkan, dia membalas tatapan Elina."Dari sisi mana kamu melihatku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status