ホーム / Romansa / Enak Banget, Kak! / 08 - Secercah Cahaya

共有

08 - Secercah Cahaya

作者: Kaitani_H
last update 最終更新日: 2025-12-31 08:27:46

Selalu seperti ini.

Entah sudah berapa kali Aria diseret ke tempat sepi untuk dimaki atau disiksa semenjak perusahaan keluarganya bangkrut dan dia menjadi miskin.

Padahal, Aria yakin tidak pernah memperlakukan siapa pun dengan buruk sebelumnya, tapi ketika dia jatuh ada banyak sekali orang yang ingin menginjak kepalanya, termasuk sahabat yang dia percaya.

Dulu, Aria masih memiliki Jesslyn yang berusaha menolongnya setiap kali dia berada dalam masalah, tapi sekarang?

Aria mendongak, menatap Mona yang siap dengan ponsel menyala yang akan digunakan untuk merekam perbuatan mereka, Claudia yang siap dengan gayung berisi air di tangannya, dan Fara yang siap mengacak-acak bajunya dan menelanjanginya di sana.

Di saat seperti ini, Aria hanya bisa mengandalkan diri sendiri, tapi ....

Apa dirinya yang lemah ini masih bisa diandalkan? Apa dia yang seperti ini masih bisa melawan? Ataukah dia hanya akan diam saja dan menjadi sebuah aib yang memalukan?

Tubuh Aria mulai bergetar, isak dan air matanya keluar, tatapannya berubah menjadi nanar. Dalam terangnya ruangan, Aria merasa dia berada dalam kegelapan. Dia dibungkus oleh kegelapan yang memeluknya dengan sangat erat dan membuatnya merasa kedinginan.

'Sebenarnya, apa salahku?'

'Kenapa mereka selalu membully-ku?'

'Apa yang sudah kubuat pada mereka, hingga mereka tega melakukan semua itu padaku?'

'Aku sudah menarik diri, aku menjauhi semua tuduhan mereka padaku selama ini, tapi kenapa ....'

Aria meringkuk, memeluk kedua lututnya dengan erat.

'Kenapa mereka masih tidak mau berhenti dan malah semakin menjadi-jadi?'

Byyuuurrr!

Air yang membasahi tubuh tak cukup membangunkan Aria dari alam bawah sadarnya.

Tatap matanya kosong, tapi orang-orang itu sama sekali tidak peduli bagaimana keadaannya.

Mereka malah tertawa melihat keadaannya yang tidak berdaya. Mereka semua tidak peduli, bahkan mereka mulai memaki Aria.

"Lihat nih ekspresinya!" seru Fara, kegirangan dengan ide yang diberikan Mona sebelumnya.

"Bagus banget nggak, sih?" Claudia tertawa. "Pastikan lo rekam semuanya baik-baik, Mon!"

"Siap, Cla!"

"Pantes aja banyak yang suka sama lo!" Fara berdecak kesal. "Selain cantik, lo jago desah, mana ekspresinya bagus banget lagi!"

"Ya, kan? Jalang kecil dan miskin ini bagusnya jualan aja daripada godain cowok-cowok ganteng di kampus kita lagi!" balas Mona.

Claudia berdecak kesal. "Gue makin benci sama lo!"

Byuurrr!

Lagi, Claudia menyiram Aria dan Fara menjalankan aksinya untuk melepas baju yang dipakai Aria.

Namun, gadis yang menjadi korban aksi gila mereka bertiga hanya diam saja. Dia dalam kondisi setengah sadar. Dia sama sekali tidak melawan. Dia benar-benar pasrah pada keadaan.

"Dilepas semuanya nggak? Mulus banget tubuhnya, ck!" Fara berdecak. "Nggak salah kalau cowok-cowok pada suka sama dia. Apalagi kalau mereka bisa belai nih cewek, keknya mereka bakal seneng banget, deh?"

"Lain kali kita cari cowok buat ngelakuin itu gimana?" usul Mona yang membuat Claudia dan Fara menoleh ke arahnya.

"Boleh juga, tuh!" Fara menyeringai senang.

"Kalau begitu, kayaknya dia bakal langsung dikeluarin dari kampus nggak, sih?" Claudia mencengkeram dagu Aria, memaksanya mendongak dan menatapnya. "Hei!"

Namun, Aria hanya diam saja, tatap matanya kosong. Dia bagaikan boneka yang tidak bernyawa, patuh dan menurut layaknya tak punya otak dan pikiran seperti normalnya manusia.

"Saran gue, lo berhenti godain mereka semua sampai sini, kalau lo masih nekat ...." Claudia melirik ke bawah. "Jangan salahin gue, kalau gue bakal lebih kejam dari ini ke lo—"

BRAKKK

Pintu kamar mandi dibuka dengan kasar, mereka bertiga langsung menoleh. Claudia siap memaki, tapi saat melihat siapa yang datang dan muncul di pintu, mulutnya langsung terkatup.

"K-killian?" Tanpa sadar, Claudia mencicit pelan.

Aria menoleh ke arah pintu kamar mandi. Saat itu, dia merasa seperti melihat secercah cahaya berada di sana. Sebuah cahaya yang berusaha menariknya dari jurang gelap yang sejak tadi terus membungkus tubuhnya.

Claudia tidak menyangka akan melihat seorang Killian Elgara muncul di sana dengan cara mendobrak pintu toilet perempuan. Dua temannya pun tampak segan, karena apa saja perbuatan mereka langsung terlihat jelas oleh Killian.

"Apa yang sedang kalian lakukan?"

Killian pikir, Aria akan langsung berlari menghampiri dirinya untuk meminta pertolongan, tapi adik tirinya itu hanya diam saja walau sedang menatap ke arahnya.

Killian mengernyitkan dahi. Tidak. Ada yang salah dengan adik tirinya ini!

Claudia dan Fara berdiri, berusaha menyembunyikan Aria di belakang tubuh mereka dari pandangan Killian. Mona cepat-cepat menurunkan ponselnya kemudian menyembunyikan ponsel itu di belakang tubuhnya.

"Nggak ada kok, kita nggak ngapa-ngapain, iya, kan?" Claudia menoleh ke arah kedua temannya yang hanya menganggukkan kepalanya patuh. "Lo kenapa masuk sini, Killian? Ini kan toilet perempuan?"

"K-kakak," panggil Aria dengan suara lemah, tapi cukup sampai di telinga Killian.

Killian yang mendengar panggilan Aria pun langsung menerobos masuk tanpa mengingat norma lagi. Dia mendorong ketiganya menjauh hingga benar-benar melihat keadaan Aria yang sangat mengenaskan saat ini.

Killian membuka jaketnya dan langsung memakaikan jaketnya ke tubuh Aria sebelum mulai menggendong tubuh kurus adik tirinya itu.

Sebelum pergi, dia menatap Claudia, Fara, dan Mona secara bergantian. "Lo bertiga siap-siap aja, gue nggak akan biarin semua ini berakhir dengan mudah!"

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Enak Banget, Kak!   28 - Tawa

    "Aria udah siuman, kan?" tanya Revan begitu panggilan mereka tersambung."Iya, dia udah siuman.""Syukur kalau gitu!" Revan mengembuskan napas lega. "Aslinya gue mau nungguin Aria sampai sadar, tapi gue masih harus ngajar. Rencana awalnya gue mau nganter Aria ke tempat lo aja tadi. Malah jadinya kayak gini.""Hmm," gumam Rexan, sama sekali tidak bersemangat."Lo nggak apa-apa?" Revan sepertinya menyadari ada yang berbeda dari kembarannya. "Ada masalah?"Rexan tersenyum masam. "Dikit.""Ada apa?" tanya Revan serius.Rexan langsung teringat ucapan Alicia sebelum pergi meninggalkan ruangannya. "Ini hanya saran saya, tapi jangan mengungkit soal visum dan bully di depan Aria untuk sementara waktu, karena otaknya masih belum mampu menerima beban seberat itu."Rexan mengembuskan napas kasar. "Untuk sementara waktu, jangan dekati Aria dulu.""Hah?""Jangan bahas soal bully, visum, dan lain-lainnya," lanjut Rexan, sekali lagi mengembuskan napas berat."Kenapa? Lo tahu pasti, gue butuh bukti it

  • Enak Banget, Kak!   27 - Privasi

    "Maaf, saya tidak tahu kalau ada dokter di sini."Alicia mendengkus pelan. "Walaupun Anda tidak tahu, tapi harusnya Anda masih mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk ke ruangan ini kan, Dokter Rexan?"Rexan hanya bisa menelan ludahnya susah payah. Dia merasa tidak berkutik di depan dokter yang namanya cukup terkenal di kota ini.Nama Alicia Zeallyn memang dikenal sebagai seorang psikiater muda yang berbakat. Reputasinya berasal dari kecerdasan akademisnya yang dibuktikan oleh kemampuan medis, serta dukungan keluarga yang tidak main-main.Walaupun sifatnya tidak terlalu hangat, tapi Alicia memiliki kepribadian yang kuat, tenang, elegan, juga bermartabat.Rexan awalnya ingin meminta Alicia menjadi psikiater Aria karena reputasinya. Namun, setelah berhadapan langsung dengannya, Rexan harus memikirkannya ulang."Maaf, saya terlalu panik tadi sampai tidak menyadari ada dokter yang sedang menangani.""Saya tidak menyangka, orang seperti Dokter Rexan ternyata bisa mendapat serangan panik ju

  • Enak Banget, Kak!   26 - Alicia

    Mengingat bagaimana sifat Adikara soal uang, Killian yakin ayahnya sudah menyiapkan uang bulanan untuk Aria. Namun kenapa, Aria belum menerima uang yang harusnya sudah berada di tangannya?Killian : Di mana uang bulanan Aria?Adikara : Apa yang ingin kamu lakukan?Killian berdecak pelan. Rubah tua itu pasti berpikir jika dia akan menggunakan uang Aria untuk kepentingannya sendiri. Padahal, dia tidak membutuhkan uang itu sama sekali.Killian : Aria belum menerima uang bulanannya sedikit pun. Apa papa sengaja membuatnya miskin seperti itu?Adikara : Apa maksudmu? Jelas-jelas semuanya sudah papa atur sebelum pergi bulan madu.Killian : Faktanya, Aria memang belum mendapat uang bulanan sepeser pun dari papa.Adikara : Bagaimana bisa begitu?Killian : Bagaimana aku bisa tahu?Killian mendengkus kesal. Kalau dia tahu, dia tidak akan menanyakannya langsung pada rubah tua sialan ini!Adikara : Kalau begitu, coba kamu temui asisten pribadi papa di kantor. Papa menyerahkan semua urusan itu pada

  • Enak Banget, Kak!   25 - Visum

    Claudia menatap pemandangan di depannya dengan tatapan tajam, wajahnya memerah, kedua tangannya mengepal.Dia membenci apa yang ada di hadapannya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah dia dan kedua temannya dipanggil oleh Kaprodi dan diminta membuat klarifikasi formal tentang kasus mereka yang membully mahasiswa lain.Claudia langsung menemukan siapa orang yang sudah melaporkannya ke dosen, karena Claudia hanya pernah merundung satu orang selama beberapa bulan terakhir."Gue nggak nyangka, anak miskin itu rupanya berani juga!" desisnya pelan.Dalam klarifikasinya, Claudia menyangkal semuanya. Walaupun dosen sudah menyimpan barang buktinya, tapi semua itu hanya barang bukti dari masa lalu dan Claudia beralasan kalau dia sudah berubah sekarang.Oleh sebab itu, dalam waktu dekat ini dia tidak boleh gegabah dan menunjukkan banyak celah. Masalahnya, anak miskin itu sepertinya sengaja ingin membuatnya kembali berulah."Tunggu gue lepas dari pengawasan ini dan lo bakal abis di tangan

  • Enak Banget, Kak!   24 - Uang Jajan

    "K-kak!" cicit Aria pelan.Suaranya terdengar bergetar, kepalanya menunduk, memandangi tangan kanannya yang mulai dingin tapi masih bertautan dengan tangan kiri Killian.Killian yang mendengar panggilan Aria itu langsung menghentikan langkah kakinya. Kepalanya menoleh ke samping, menatap Aria yang wajahnya terlihat pucat."Kenapa?" Killian menatapnya lurus, tatap matanya begitu fokus yang menunjukkan jika dia tengah serius.Aria menelan ludahnya susah payah, keringat dingin mulai menetes pelan menuruni dahinya. "Apa Kak Killian tadi dengar sesuatu?"Sejenak, Killian terdiam. "Denger apa?"Aria menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak, enggak, enggak ada apa-apa." Gadis itu meringis, tapi di dalam hati, dia kegirangan setengah mati, jika memang Killian tidak mendengar apa pun dari mulutnya tadi.Killian yang melihat itu menyeringai tipis. Dia menarik tangan Aria ke salah satu sudut lorong yang sepi, lalu mengurung tubuh adik tirinya itu ke tembok yang ada di belakangnya.Kejadiannya begi

  • Enak Banget, Kak!   23 - Titik Balik

    Saat itulah suara Killian terngiang-ngiang di kepalanya. Aria mengepalkan kedua tangannya kuat, membulatkan tekadnya, sebelum mulai mengangkat kepala, dan balas menatap mereka.'Kalau lo cuma diem aja kayak gini, lo cuma bakal ngerepotin gue sama Revan.'Tidak. Aria tidak boleh merepotkan kedua kakak tirinya lagi. Mereka sudah berbaik hati membantunya untuk melepaskan diri dari jerat Claudia dan antek-anteknya.Aria tidak boleh terus seperti ini. Dia harus berubah. Dia harus menjadi lebih kuat dan lebih berani agar dia tidak mudah ditindas lagi.Aria harus menjadi jauh lebih kuat lagi. Dengan begitu, usaha kakak tirinya tidak akan berakhir sia-sia begitu saja.BRAKKK"Jawab berengsek! Lo kagak tuli, kan?"Aria memejamkan matanya, menarik napasnya panjang, lalu mengingat baik-baik bagaimana ekspresi wajah Killian selama ini.Aria meniru ekspresi Killian. Dia mengikutinya. Dengan wajah datar dan tatapan yang terlihat meremehkan, dia membalas tatapan Elina."Dari sisi mana kamu melihatku

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status