LOGINSelalu seperti ini.
Entah sudah berapa kali Aria diseret ke tempat sepi untuk dimaki atau disiksa semenjak perusahaan keluarganya bangkrut dan dia menjadi miskin. Padahal, Aria yakin tidak pernah memperlakukan siapa pun dengan buruk sebelumnya, tapi ketika dia jatuh ada banyak sekali orang yang ingin menginjak kepalanya, termasuk sahabat yang dia percaya. Dulu, Aria masih memiliki Jesslyn yang berusaha menolongnya setiap kali dia berada dalam masalah, tapi sekarang? Aria mendongak, menatap Mona yang siap dengan ponsel menyala yang akan digunakan untuk merekam perbuatan mereka, Claudia yang siap dengan gayung berisi air di tangannya, dan Fara yang siap mengacak-acak bajunya dan menelanjanginya di sana. Di saat seperti ini, Aria hanya bisa mengandalkan diri sendiri, tapi .... Apa dirinya yang lemah ini masih bisa diandalkan? Apa dia yang seperti ini masih bisa melawan? Ataukah dia hanya akan diam saja dan menjadi sebuah aib yang memalukan? Tubuh Aria mulai bergetar, isak dan air matanya keluar, tatapannya berubah menjadi nanar. Dalam terangnya ruangan, Aria merasa dia berada dalam kegelapan. Dia dibungkus oleh kegelapan yang memeluknya dengan sangat erat dan membuatnya merasa kedinginan. 'Sebenarnya, apa salahku?' 'Kenapa mereka selalu membully-ku?' 'Apa yang sudah kubuat pada mereka, hingga mereka tega melakukan semua itu padaku?' 'Aku sudah menarik diri, aku menjauhi semua tuduhan mereka padaku selama ini, tapi kenapa ....' Aria meringkuk, memeluk kedua lututnya dengan erat. 'Kenapa mereka masih tidak mau berhenti dan malah semakin menjadi-jadi?' Byyuuurrr! Air yang membasahi tubuh tak cukup membangunkan Aria dari alam bawah sadarnya. Tatap matanya kosong, tapi orang-orang itu sama sekali tidak peduli bagaimana keadaannya. Mereka malah tertawa melihat keadaannya yang tidak berdaya. Mereka semua tidak peduli, bahkan mereka mulai memaki Aria. "Lihat nih ekspresinya!" seru Fara, kegirangan dengan ide yang diberikan Mona sebelumnya. "Bagus banget nggak, sih?" Claudia tertawa. "Pastikan lo rekam semuanya baik-baik, Mon!" "Siap, Cla!" "Pantes aja banyak yang suka sama lo!" Fara berdecak kesal. "Selain cantik, lo jago desah, mana ekspresinya bagus banget lagi!" "Ya, kan? Jalang kecil dan miskin ini bagusnya jualan aja daripada godain cowok-cowok ganteng di kampus kita lagi!" balas Mona. Claudia berdecak kesal. "Gue makin benci sama lo!" Byuurrr! Lagi, Claudia menyiram Aria dan Fara menjalankan aksinya untuk melepas baju yang dipakai Aria. Namun, gadis yang menjadi korban aksi gila mereka bertiga hanya diam saja. Dia dalam kondisi setengah sadar. Dia sama sekali tidak melawan. Dia benar-benar pasrah pada keadaan. "Dilepas semuanya nggak? Mulus banget tubuhnya, ck!" Fara berdecak. "Nggak salah kalau cowok-cowok pada suka sama dia. Apalagi kalau mereka bisa belai nih cewek, keknya mereka bakal seneng banget, deh?" "Lain kali kita cari cowok buat ngelakuin itu gimana?" usul Mona yang membuat Claudia dan Fara menoleh ke arahnya. "Boleh juga, tuh!" Fara menyeringai senang. "Kalau begitu, kayaknya dia bakal langsung dikeluarin dari kampus nggak, sih?" Claudia mencengkeram dagu Aria, memaksanya mendongak dan menatapnya. "Hei!" Namun, Aria hanya diam saja, tatap matanya kosong. Dia bagaikan boneka yang tidak bernyawa, patuh dan menurut layaknya tak punya otak dan pikiran seperti normalnya manusia. "Saran gue, lo berhenti godain mereka semua sampai sini, kalau lo masih nekat ...." Claudia melirik ke bawah. "Jangan salahin gue, kalau gue bakal lebih kejam dari ini ke lo—" BRAKKK Pintu kamar mandi dibuka dengan kasar, mereka bertiga langsung menoleh. Claudia siap memaki, tapi saat melihat siapa yang datang dan muncul di pintu, mulutnya langsung terkatup. "K-killian?" Tanpa sadar, Claudia mencicit pelan. Aria menoleh ke arah pintu kamar mandi. Saat itu, dia merasa seperti melihat secercah cahaya berada di sana. Sebuah cahaya yang berusaha menariknya dari jurang gelap yang sejak tadi terus membungkus tubuhnya. Claudia tidak menyangka akan melihat seorang Killian Elgara muncul di sana dengan cara mendobrak pintu toilet perempuan. Dua temannya pun tampak segan, karena apa saja perbuatan mereka langsung terlihat jelas oleh Killian. "Apa yang sedang kalian lakukan?" Killian pikir, Aria akan langsung berlari menghampiri dirinya untuk meminta pertolongan, tapi adik tirinya itu hanya diam saja walau sedang menatap ke arahnya. Killian mengernyitkan dahi. Tidak. Ada yang salah dengan adik tirinya ini! Claudia dan Fara berdiri, berusaha menyembunyikan Aria di belakang tubuh mereka dari pandangan Killian. Mona cepat-cepat menurunkan ponselnya kemudian menyembunyikan ponsel itu di belakang tubuhnya. "Nggak ada kok, kita nggak ngapa-ngapain, iya, kan?" Claudia menoleh ke arah kedua temannya yang hanya menganggukkan kepalanya patuh. "Lo kenapa masuk sini, Killian? Ini kan toilet perempuan?" "K-kakak," panggil Aria dengan suara lemah, tapi cukup sampai di telinga Killian. Killian yang mendengar panggilan Aria pun langsung menerobos masuk tanpa mengingat norma lagi. Dia mendorong ketiganya menjauh hingga benar-benar melihat keadaan Aria yang sangat mengenaskan saat ini. Killian membuka jaketnya dan langsung memakaikan jaketnya ke tubuh Aria sebelum mulai menggendong tubuh kurus adik tirinya itu. Sebelum pergi, dia menatap Claudia, Fara, dan Mona secara bergantian. "Lo bertiga siap-siap aja, gue nggak akan biarin semua ini berakhir dengan mudah!"Kak Alva : Selamat siang, Aria!Aria : Selamat siang, Kak Al!Kak Alva : Apa kamu sudah memutuskannya?Aria : Memutuskan apa, Kak?Kak Alva : Bukannya kamu mau beli apartemen? Apa kamu sudah memutuskan mau beli apartemen di mana?Aria sontak meringis pelan ketika membaca pesan masuk dari kakaknya. Dia memang ingin membeli unit apartemen, tapi dia ingin membelinya menggunakan uang tabungannya sendiri, bukannya dibelikan oleh kakak pertamanya ini.Walaupun Aria tahu, harga sebuah unit apartemen bisa mencapai milyaran rupiah, tapi dengan uang saku sebulan seratus juta, ditambah nanti kalau dia sudah bekerja ... Aria rasa semua itu tidak akan mustahil untuk jadi realita.Aria : Aku akan membelinya sendiri dengan uangku, Kak. Aku akan menabung setiap hari hingga bisa membelinya.Tidak ada jawaban cepat yang datang. Aria pun menghela napasnya lega. "Apa sifat orang kaya memang seperti ini, ya?"Alicia yang juga berada di ruangan itu menoleh ke Aria. "Kenapa, Aria?"Aria menggeleng pelan. "T
"Kak!""Hm?""Aku rasa, ada yang salah dengan isi kepala Kak Al."Ucapan itu berhasil Rexan tersedak dan langsung menatap Aria horor. "Kamu bertemu Alva?"Aria mengangguk dengan wajah bingung yang terlihat lucu. "Kapan dan di mana kamu bertemu dengannya?" Rexan terlihat kaget sekaligus panik sekarang."Tadi pagi, Kak, di rumah. Kak Al pulang dan dia berencana untuk tinggal sementara waktu, Kak," jelas Aria.Rexan mengernyitkan dahi. Seorang Alva Nagara Putra yang mandiri dan sangat peduli dengan harga diri mana mungkin mau tinggal di rumah orang tuanya begini?!"Apa orang itu benar-benar Alva?" Rexan mengernyitkan dahinya curiga. Dia tidak yakin, pria ditemui Aria adalah kakaknya. "Alva yang aku kenal tidak akan mau tinggal di rumah orang tuanya apa pun yang terjadi."Aria mengerjapkan kedua matanya dengan wajah polos yang begitu menggemaskan. "Dia benar-benar Kak Al, kok.""Ohh, ya? Dari mana kamu tahu kalau dia adalah Alva?""Wajahnya mirip kalian, selain itu Kak Killian juga terli
Aria terkejut melihat sosok pria dewasa memakai kemeja dan celana rapi sedang duduk di kursi meja makan. Bukan karena kehadirannya yang tiba-tiba, tapi karena dia berani duduk di kursi milik kepala keluarga.'Apa dia Kak Al?'Aria memperhatikan wajah tampan itu dengan teliti. Pria itu memang terlihat mirip dengan kakak tirinya yang lain. Tentu saja dalam versi yang lebih dewasa dari dua kakak kembarnya.Apakah pria tampan itu benar-benar kakak pertamanya?"Selamat pagi, Kak Al!" Aria memutuskan untuk menyapa, karena rasa penasaran pada pria yang duduk si seberang meja.Pria yang sejak tadi hanya memejamkan matanya dengan ekspresi wajah datar itu akhirnya mau membuka matanya. Dia menoleh ke arah Aria dan saat itu dia terkejut melihat rupa adik tirinya."Kamu ...." Alva Nagara Putra menelan kembali kalimatnya.Sedangkan Aria memiringkan kepalanya, kedua matanya mengerjap, menunjukkan kebingungan yang nyata. "Aku kenapa, Kak?"Alva menggeleng. "Lupakan. Di mana Killian?"Aria menoleh ke
Aria masih terdiam. Dia tampak merenungi kelakuannya yang telah menghabiskan dua puluh juta dalam hitungan menit saja. Walaupun laptop memang menjadi salah satu barang yang dia perlukan untuk kuliah, tapi harusnya dia tidak perlu membeli laptop yang mahal itu, kan?Aria menghembuskan napasnya berat. Setelah keluarganya bangkrut beberapa tahun lalu, Aria memang tidak pernah lagi menghabiskan uang sebanyak itu.Bahkan, dia tidak pernah memiliki uang sebanyak itu lagi dalam beberapa tahun terakhir, hingga Aria lupa ... kalau dulu dia pernah menjadi anak orang kaya juga."Kenapa?" Killian tampak geli melihat ekspresi Aria sejak tadi. "Jangan bilang, lo masih nggak ikhlas ngeluarin uang buat beli laptop itu, ya?"Aria mengulum senyum getir. Dia ingin menganggukkan kepala, tapi dia takut menyinggung perasaan kakaknya. Apalagi Aria sekarang telah menjadi bagian dari keluarga Putra, hanya dua puluh juta bagi keluarga ini jelas bukan nominal seberapa."Kalau lo masih nggak ikhlas, gue bisa gan
Setelah makan malam dan menyuruh Aria untuk istirahat di kamarnya, ketiga tuan muda keluarga Putra berkumpul di ruang keluarga."Jadi, Aria sebenernya sakit apa?"Killian memang bertanya, tapi tatapan matanya sejak tadi tertuju pada layar ponselnya. Entah apa yang sedang dia lakukan, karena tangannya tak kunjung berhenti bergerak mengusap layar."Entahlah." Rexan mengembuskan napas berat. "Gue juga nggak tahu."Tangan Killian berhenti bergerak, kepalanya mendongak, menatap sang kakak yang terkenal sebagai seorang dokter bedah sekaligus pemilik rumah sakit tempat Aria dirawat sebelumnya dengan tatapan heran."Kenapa bisa nggak tahu?""Karena psikiaternya nggak mau ngasih tahu." Rexan balas menatap Killian dengan ekspresi yang sulit dijelaskan."Bukannya lo yang punya rumah sakit itu?""Hm." Rexan mengangguk."Kenapa lo nggak dikasih tahu?""Karena itu termasuk privasi pasien." Rexan tersenyum masam. "Psikiaternya nggak mau ngasih tahu gue, karena emang Aria nggak ngizinin gue buat tahu
"Kamu yakin mau langsung pulang?"Rexan tampak tidak senang mendengar kabar kalau Aria sudah diperbolehkan untuk pulang. Padahal, dia berharap Aria akan menginap selama satu atau dua hari ke depan untuk observasi lebih lanjut, tapi Aria malah menolaknya.Aria menganggukkan kepalanya. "Iya, Kak. Lagian aku udah baik-baik saja sekarang."Tentu saja Aria mau pulang secepatnya. Jika dia sampai dirawat, bukankah keluarga barunya akan menghabiskan banyak uang untuk biaya perawatannya?Lagi pula, Alicia bilang tidak masalah kalau Aria mau pulang sekarang. Asalkan dia berjanji akan kembali lagi jika sesuatu terjadi atau mungkin Aria perlu konsultasi mengenai kondisi terbarunya."Jangan berbohong, Aria. Aku tidak mau melihatmu pingsan lagi dengan alasan tidak jelas seperti tadi." Rexan menatap adik tirinya lurus.Aria hanya mengulum senyum menenangkan. "Kak Alicia sudah memberiku obat tadi, kan? Obat itu sudah lebih dari cukup untuk mengatasi semua masalahku, Kak."Rahang Rexan menegang, ekspr
Claudia menatap pemandangan di depannya dengan tatapan tajam, wajahnya memerah, kedua tangannya mengepal. Dia membenci apa yang ada di hadapannya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah dia dan kedua temannya dipanggil oleh Kaprodi dan diminta membuat klarifikasi formal tentang kasus mereka y
"Aria udah siuman, kan?" tanya Revan begitu panggilan mereka tersambung."Iya, dia udah siuman.""Syukur kalau gitu!" Revan mengembuskan napas lega. "Aslinya gue mau nungguin Aria sampai sadar, tapi gue masih harus ngajar. Rencana awalnya gue mau nganter Aria ke tempat lo aja tadi. Malah jadinya ka
"Maaf, saya tidak tahu kalau ada dokter di sini."Alicia mendengkus pelan. "Walaupun Anda tidak tahu, tapi harusnya Anda masih mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk ke ruangan ini kan, Dokter Rexan?"Rexan hanya bisa menelan ludahnya susah payah. Dia merasa tidak berkutik di depan dokter yang nam
Mengingat bagaimana sifat Adikara soal uang, Killian yakin ayahnya sudah menyiapkan uang bulanan untuk Aria. Namun kenapa, Aria belum menerima uang yang harusnya sudah berada di tangannya?Killian : Di mana uang bulanan Aria?Adikara : Apa yang ingin kamu lakukan?Killian berdecak pelan. Rubah tua







