Share

Bab 2

Author: Mika Rani
Begitu keluar dari kafe, kaki Mitzy sampai terasa lemas.

Selama enam tahun ini, nama Leeon selalu tersimpan di sudut paling tersembunyi di hatinya. Namun karena perpisahan mereka dulu begitu menyakitkan, dia sama sekali tidak pernah berharap akan bertemu lagi dengan pria itu.

Hari ini, pertemuan yang terjadi mendadak itu benar-benar mengacaukan suasana hati Mitzy.

Ponselnya berdering. Suara putrinya, Limy, yang lembut dan manja, membuat perasaan Mitzy perlahan menjadi tenang kembali.

"Bu, kapan kamu pulang?"

"Sayang, sebentar lagi Ibu pulang."

Mitzy kembali ke rumah sahabatnya, Yunita Tantra, yang berada di Kompleks Wesity.

Tadi malam setelah Valdo melukai Mitzy, pria itu menghilang tanpa jejak. Polisi juga tidak bisa menghubunginya. Mitzy takut Valdo akan kembali dan menyakiti dirinya serta Limy, jadi dia membawa putrinya pergi dari rumah Keluarga Ezekiel pada malam itu juga, lalu menumpang tinggal di rumah Yunita.

Setelah Keluarga Gozali bangkrut, teman-teman lama Mitzy satu per satu menjauh. Hanya Yunita yang masih sama seperti dulu, selalu siap membantunya hanya dengan satu panggilan telepon.

Begitu pintu dibuka, Limy langsung berlari menghampiri Mitzy dan memeluknya.

"Ibu!"

"Sayang." Mitzy berjongkok dan hendak mencium dahi putrinya. Hanya saja, saat melihat wajah Limy yang sangat mirip dengan Leeon, dia mendadak terdiam.

Sejak Limy masih kecil, orang-orang di sekitarnya sering memuji kecantikannya. Semua orang bilang Limy mewarisi kecantikan Mitzy. Mitzy sendiri juga selalu merasa Limy mirip dengannya. Akan tetapi setelah kembali bertemu dengan Leeon hari ini, Mitzy baru menyadari bahwa makin lama, Limy justru makin mirip dengan pria itu.

"Ibu kenapa?"

"Nggak apa-apa." Mitzy menyembunyikan emosinya. "Selama di rumah Bibi Yunita, kamu patuh, 'kan?"

"Ya, Limy nurut banget. Tadi, dia juga bantu aku menyiram tanaman kecil," ucap Yunita sambil keluar dari kamar mandi. "Gimana, Mitzy? Apa kata pengacara?"

Mitzy memberi isyarat dengan matanya, lalu lebih dulu membawa putrinya masuk ke kamar dan memberinya sebuah buku aktivitas menenangkan.

"Limy main sendiri dulu ya. Ibu dan Bibi Yunita mau ngobrol sebentar. Nanti, Ibu akan masuk lagi untuk menemanimu. Oke?"

"Oke."

Limy paling suka bermain dengan buku aktivitas menenangkan. Dia bisa bermain peran sendirian cukup lama.

Mitzy kembali ke ruang tamu. Yunita sudah menyiapkan buah-buahan untuknya. Mitzy pun duduk dan menceritakan kepada Yunita tentang pertemuannya dengan Leeon di kafe.

"Apa? Kamu bilang Leeon mau menangani kasus perceraianmu? Dia itu penanggung jawab di Scalate. Mana mungkin mau menangani perkara perceraian sekecil itu?"

"Penanggung jawab Scalate?"

"Kamu nggak tahu?" Yunita membuka sebuah wawancara tokoh di ponselnya. "Lihat ini. Leeon sekarang adalah Presdir Firma Hukum Internasional Scalate! Kamu pernah dengar Scalate, 'kan?"

"Firma hukum internasional papan atas itu?"

"Ya. Katanya, Scalate punya lebih dari 30 cabang di seluruh dunia, lebih dari 2.000 pengacara, dan pendapatan tahunan mereka melebihi satu miliar dolar Amresa!"

Mitzy melirik laporan itu dan baru menyadari bahwa pria miskin yang dulu dia tinggalkan kini sudah menjadi tokoh besar di firma hukum elite. Tidak heran, setiap gerak-gerik Leeon sekarang memancarkan keanggunan yang ditempa oleh kekayaan.

Benar-benar seperti kata orang, nasib bisa berputar. Hari ini di atas, besok di bawah.

"Mitzy, jangan-jangan dia masih belum bisa melupakanmu?"

"Tentu saja bukan. Dia cuma datang untuk melihatku jadi bahan tertawaan."

"Aduh. Dengan status dan posisi Leeon sekarang, waktu itu sangat berharga baginya. Kalau bukan masih punya perasaan padamu, masa dia rela meluangkan waktu khusus cuma untuk melihatmu jadi bahan tertawaan?"

"Aku sudah nikah dan punya anak. Dengan status dan posisi Leeon sekarang, wanita seperti apa pun bisa dia dapatkan. Mana mungkin dia masih belum melupakanku?"

"Mitzy, sebenarnya dari dulu aku ingin bertanya. Apa yang sebenarnya terjadi waktu itu? Kamu jelas-jelas sangat menyukai Leeon sampai mengejarnya begitu lama baru bisa bersamanya. Kenapa tiba-tiba kamu memutuskannya dan malah menikah dengan Valdo yang berengsek begitu?"

Mitzy terdiam.

Semua itu sudah terlalu lama berlalu. Mengungkit kembali masa lalu sekarang sudah tidak ada artinya.

"Sudahlah, kita nggak usah bahas ini," ucap Yunita saat melihat Mitzy tidak ingin melanjutkan. Dia pun segera mengganti topik. "Jadi, apa rencanamu selanjutnya?"

"Mencari pengacara baru. Apa pun caranya, aku harus segera bercerai."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 50

    "Wah, hubungan kalian memang sangat akrab. Baru satu telepon saja, kamu langsung datang secepat ini." Di wajah Valdo tersungging senyum kemenangan, seolah rencananya telah berhasil.Mitzy langsung menyadari sesuatu. "Kamu yang suruh orang meneleponku?""Ya, aku yang suruh orang menelepon. Kalau nggak, gimana caranya aku bisa menemukan kamu yang begitu jago bersembunyi ini?"Setelah berhasil menemukan kembali Limy, Mitzy sudah memblokir semua kontak Valdo. Niatnya jelas. Sebelum perceraian resmi, dia tidak ingin bertemu lagi dengan pria itu. Tak disangka, Valdo justru memaksanya muncul dengan cara seperti ini."Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi di antara kita."Mitzy berbalik dan hendak pergi, tetapi Valdo langsung mencengkeram pergelangan tangannya dan menariknya ke arah berlawanan."Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!" berontak Mitzy, tetapi dia sama sekali tidak bisa melepaskan diri. Menyadari situasinya makin buruk, dia berteriak, "Tolong! Tolong!"Sayangnya, orang-orang di sek

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 49

    Leeon pernah mendengar dengan telinganya sendiri bagaimana ibu mertua Mitzy, Amanda, mendesaknya untuk melahirkan anak laki-laki. Itu sebabnya, dia tidak meragukan jawaban Mitzy sama sekali.Pria itu merapikan dokumen-dokumen di atas meja kerjanya, lalu memberi tahu Mitzy, "Hari ini, aku akan menyuruh orang menyiapkan surat gugatan. Besok, kita akan resmi mengajukan gugatan cerai ke pengadilan.""Oke. Makasih, Pak Leeon. Kalau begitu silakan lanjut bekerja, aku pamit dulu."Sambil berkata demikian, Mitzy berdiri dan hendak pergi."Sudah selesai dimanfaatkan, mau langsung pergi?" Leeon mengulurkan tangan dan menarik Mitzy ke sisinya, lalu memaksa wanita itu duduk di atas pahanya. "Kamu anggap aku ini apa?"Mitzy merasakan paha keras Leeon yang bagaikan besi, serta perubahan pada tubuhnya.Astaga. Padahal sudah berlalu begitu lama, kenapa masih juga belum reda?Secara refleks Mitzy ingin melarikan diri, tetapi lengan Leeon melingkari pinggangnya dengan kuat dan menahannya agar tetap bera

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 48

    Mitzy sama sekali tidak menyangka Leeon akan melontarkan pertanyaan seperti itu.Alis dan mata Mitzy melengkung, sementara lesung pipinya terlihat samar saat dia tersenyum. "Pak Leeon, perlukah menanyakan hal yang begitu pribadi?""Tentu saja. Saat pengadilan menilai apakah hubungan emosional sudah benar-benar retak, mereka akan mempertimbangkan banyak faktor. Apakah hubungan suami istri sudah lama cuma tinggal nama adalah bukti penting untuk menunjukkan seberapa kuat keinginan kedua pihak untuk bercerai." Leeon menyandarkan punggungnya ke kursi. Kedua tangannya saling bertaut di atas meja. Dia menatap Mitzy dengan sikap yang sangat rasional. "Kalau kamu nggak mau jawab, apakah aku boleh berasumsi bahwa hubungan kalian memang nggak harmonis?""Harmonis. Hubungan kami sangat harmonis. Selain saat masa menstruasi, hampir setiap hari bisa satu, dua, tiga, bahkan empat ronde. Detailnya nggak usah kujelaskan, takutnya nanti Pak Leeon malah minder.""Benarkah?" Leeon menggertakkan rahangnya,

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 47

    Hati Mitzy terasa seperti hancur mendengarnya.Limy memang dewasa sebelum waktunya. Justru karena anak itu terlalu pengertian, rasa perih di hati Mitzy menjadi makin dalam."Ibu, aku benci ayah. Perceraian itu bukan berarti ayah nggak mau aku dan Ibu lagi, tapi kita yang nggak mau dia," kata Limy sambil bersandar di pelukan Mitzy. Tangan kecilnya menangkup pipi Mitzy. "Ibu, waktu sendirian di Kota Herington, Ibu harus melindungi diri sendiri. Aku nggak mau melihat Ibu terluka lagi.""Ya," jawab Mitzy dengan suara tercekat sambil mengecup kening putrinya. "Limy, kamu juga harus menjaga diri dengan baik. Ibu sayang kamu.""Aku juga sayang Ibu."....Di perjalanan kembali ke kota, Mitzy terus menangis tanpa henti.Orang sering berkata bahwa cinta selalu disertai rasa berutang. Berhubung terlalu mencintai Limy, Mitzy justru kerap merasa telah berutang terlalu banyak pada anak itu. Identitas yang tak bisa dia ungkapkan dengan jujur, keluarga utuh yang tak mampu dia berikan, semuanya menjadi

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 46

    Tatapan Mitzy yang begitu berani dan terus terang membuat Leeon tiba-tiba merasa bahwa dirinya sangat konyol. Dia sungguh sudah gila, sampai-sampai coba mencari bukti bahwa dirinya pernah dicintai oleh Mitzy, bahkan bisa-bisanya dari anak yang wanita itu miliki bersama orang lain.Kalau Mitzy benar-benar pernah mencintainya, mana mungkin dia akan meninggalkan Leeon dengan begitu tegas, lalu menikah dan punya anak dengan pria lain?"Setelah anak itu sembuh, kirim dia pergi," ujar Leeon dengan nada dingin. "Aku nggak menerima transaksi beli satu gratis satu. Lagian aku juga nggak mau saat aku tidur denganmu, ada anak di samping yang merusak suasana."Transaksi.Tidur dengannya.Suasana.Kata-kata itu seperti diulang-ulang untuk mengingatkan Mitzy akan posisinya sekarang, bahwa kini dia hanyalah seseorang yang telah menjual dirinya sendiri dan tak lebih dari sekadar mainan.Mitzy menahan perih di dadanya, lalu mengangguk. "Tenang saja, Pak Leeon. Bahkan tanpa kamu katakan pun, aku akan me

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 45

    "Pak Leeon ...." Tatapan Mitzy penuh permohonan. Dia berharap Leeon sama sekali tidak mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak pantas di depan anak itu.Leeon menatapnya. Setelah beberapa saat, dia pun melepaskan genggaman tangannya."Mau sarapan apa? Aku suruh orang mengantarkannya."Mitzy akhirnya menghela napas lega. "Bubur saja."....Setelah menyemprotkan obat ke tenggorokan Limy, anak itu bilang ingin menonton "Peppo Pig". Ponsel Mitzy hampir kehabisan baterai, jadi dia membawa Limy turun ke bawah.Di ruang makan lantai bawah, Leeon sedang menyeduh kopi."Pak Leeon, boleh pinjam TV di rumahmu untuk menonton kartun sebentar?" tanya Mitzy."Remotnya ada di atas meja sofa.""Oke, makasih."Mitzy memutar "Peppo Pig" untuk Limy, lalu naik ke atas untuk membersihkan diri.Semalam, Mitzy sibuk mengurus Limy sampai kelabakan. Dia sama sekali tidak sempat merapikan diri. Untungnya saat Leeon menyuruh orang mengantar sarapan tadi, pria itu juga sekaligus meminta mereka membawakan beber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status