Share

Bab 3

Author: Mika Rani
Mitzy mengalami susah tidur.

Sejak awal, pikiran Mitzy memang sudah dipenuhi banyak hal. Kemunculan Leeon membuat perasaannya makin tidak tenang.

Sekitar pukul 3 atau 4 dini hari, Mitzy sempat tertidur sebentar. Namun tidak lama kemudian, dia kembali terbangun karena alarm pagi berbunyi.

Mitzy mematikan alarm, lalu masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka, bersiap-siap, dan merias wajahnya untuk menutupi luka-luka di wajah. Setelah selesai merapikan diri, dia pergi membangunkan Limy.

"Bu, kenapa akhir-akhir ini kamu selalu pakai topi dan kacamata hitam?" tanya Limy dengan penasaran.

"Soalnya Ibu melakukan perawatan kecantikan. Dokter bilang, wajahku harus tertutup seperti ini supaya pemulihannya lebih cepat."

Pada malam Valdo melakukan KDRT terhadapnya, Limy sudah tertidur dan tidak melihat apa-apa. Mitzy juga bersyukur anaknya tidak menyaksikan kejadian itu secara langsung. Jika memungkinkan, dia berharap putrinya tidak akan pernah mengalami pengalaman traumatis seperti itu seumur hidupnya.

"Ibu sudah cantik kok, nggak perlu perawatan lagi," kata Limy sambil memeluk leher Mitzy. "Di hatiku, kamu adalah ibu yang paling cantik."

Hati Mitzy terasa hangat saat mendengarnya.

Sejak kecil, Limy selalu penurut dan pengertian. Kelahirannya telah menyembuhkan hati Mitzy yang dulu penuh luka. Putrinya adalah penebusan yang diberikan Tuhan setelah dengan kejam mendorong Mitzy ke dalam kegelapan, lalu berbelas kasih menariknya kembali.

"Sayang, makasih atas pujiannya. Di hati Ibu, kamu juga adalah harta paling cantik. Ayo, bangun dan bersiap ke TK ya?"

"Ya."

Mitzy mencium putrinya, lalu membawanya berganti baju dan bersiap-siap.

Setelah sarapan, mereka mengobrol sambil berjalan ke lorong untuk menunggu lift.

Begitu pintu lift terbuka, Mitzy langsung tertegun. Leeon ternyata berdiri di dalam lift.

Leeon mengenakan setelan jas abu-abu tua dengan potongan yang sempurna. Kerah kemejanya putih bersih dan rapi, serta menonjolkan garis rahangnya yang tegas. Dia hanya berdiri di sana, tetapi sudah memancarkan aura ketenangan dan kekuatan.

Dengan gugup, Mitzy menggenggam bahu kecil Limy dengan lebih erat.

Kenapa Leeon ada di sini?

Jangan-jangan, pria itu juga tinggal di gedung ini?

Seharusnya tidak mungkin. Apartemen milik Yunita ini memang termasuk hunian kelas menengah ke atas saat pertama kali dipasarkan, tetapi usianya sudah cukup lama dan fasilitas lingkungannya pun terlihat agak tua. Dengan status dan posisi Leeon sekarang, dia pasti punya tempat tinggal yang jauh lebih baik.

Pandangan mereka bertemu sesaat. Leeon hanya melirik Mitzy sekilas, lalu segera mengalihkan pandangannya tanpa berhenti.

"Bu, kita nggak masuk?" Limy menatap Mitzy sambil mendongak.

"A ... ayo, masuk."

Mitzy pun menarik Limy masuk ke dalam lift. Ruang lift cukup luas, tetapi dia sengaja mendorong Limy ke sudut yang paling jauh dari Leeon, lalu menutupi wajah putrinya dengan tubuhnya sendiri.

Lift mulai turun. Angka-angka di panel bergerak perlahan. Setiap detik terasa seperti satu abad.

Mitzy bahkan bernapas dengan sangat hati-hati. Namun sebenarnya, Leeon sama sekali tidak melirik Limy.

Wajar saja. Leeon membenci Mitzy, mana mungkin pria itu akan memedulikan anaknya?

Baru saja Mitzy sedikit mengendurkan kewaspadaan, bola elastis warna pelangi yang sedang dimainkan Limy tiba-tiba terjatuh dan menggelinding ke arah kaki Leeon.

"Bu, bola pelangiku! Bola pelangiku jatuh!"

Mitzy terdiam.

Benar-benar apa yang ditakutkan justru terjadi.

Tangan kecil Limy menyelinap keluar dari sela-sela tubuh Mitzy yang menghalangi dan berusaha meraih bola itu, tetapi sama sekali tidak sampai.

Leeon melirik sekilas, lalu membungkuk, mengambil bola elastis itu, dan menyerahkannya kembali kepada Limy.

Melihat tangan besar dan tangan kecil mereka bersentuhan, keringat dingin langsung keluar dari tubuh Mitzy.

Bahkan, bentuk tangan mereka pun terlihat sangat mirip!

"Makasih, Paman," kata Limy sambil tersenyum manis pada Leeon.

Leeon mengangguk ringan dengan raut wajah datar, seperti mesin tanpa ekspresi.

Limy masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi Mitzy segera menutup mulut putrinya dengan tangannya.

Akhirnya, lift tiba di lantai satu. Bunyi lift terdengar seperti suara paling merdu di dunia.

Leeon berdiri di depan. Namun karena hendak turun ke parkiran bawah tanah, dia tetap berdiri di tempat. Mitzy merangkul Limy, lalu menyelinap melewati Leeon dan bergegas keluar dari lift, seolah-olah sedang melarikan diri.

Pintu lift kembali menutup dan melanjutkan perjalanan ke bawah.

Limy menoleh ke belakang, lalu bertanya pelan, "Ibu, paman yang kita temui di lift tadi itu orang jahat ya?"

"Kenapa kamu bertanya begitu?"

"Soalnya tadi Ibu terus menutupi aku, bahkan telapak tanganmu sampai berkeringat."

Baru saat itu, Mitzy menyadari bahwa anaknya merasakan ketegangannya.

"Bukan begitu, Limy. Paman tadi bukan orang jahat. Tapi, dia orang asing. Ibu pernah bilang, dengan orang asing kita harus menjaga jarak, 'kan?"

"Ya. Tapi kalau cuma orang asing biasa, kenapa Ibu sampai tegang begitu?"

"Aku cu ... cuma takut kamu terlambat. Ayo cepat, kalau kebanyakan ngobrol nanti kamu terlambat ke TK."

Pikiran Limy langsung teralihkan. "Aku nggak mau terlambat, aku mau dapat stiker bintang!"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 50

    "Wah, hubungan kalian memang sangat akrab. Baru satu telepon saja, kamu langsung datang secepat ini." Di wajah Valdo tersungging senyum kemenangan, seolah rencananya telah berhasil.Mitzy langsung menyadari sesuatu. "Kamu yang suruh orang meneleponku?""Ya, aku yang suruh orang menelepon. Kalau nggak, gimana caranya aku bisa menemukan kamu yang begitu jago bersembunyi ini?"Setelah berhasil menemukan kembali Limy, Mitzy sudah memblokir semua kontak Valdo. Niatnya jelas. Sebelum perceraian resmi, dia tidak ingin bertemu lagi dengan pria itu. Tak disangka, Valdo justru memaksanya muncul dengan cara seperti ini."Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi di antara kita."Mitzy berbalik dan hendak pergi, tetapi Valdo langsung mencengkeram pergelangan tangannya dan menariknya ke arah berlawanan."Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!" berontak Mitzy, tetapi dia sama sekali tidak bisa melepaskan diri. Menyadari situasinya makin buruk, dia berteriak, "Tolong! Tolong!"Sayangnya, orang-orang di sek

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 49

    Leeon pernah mendengar dengan telinganya sendiri bagaimana ibu mertua Mitzy, Amanda, mendesaknya untuk melahirkan anak laki-laki. Itu sebabnya, dia tidak meragukan jawaban Mitzy sama sekali.Pria itu merapikan dokumen-dokumen di atas meja kerjanya, lalu memberi tahu Mitzy, "Hari ini, aku akan menyuruh orang menyiapkan surat gugatan. Besok, kita akan resmi mengajukan gugatan cerai ke pengadilan.""Oke. Makasih, Pak Leeon. Kalau begitu silakan lanjut bekerja, aku pamit dulu."Sambil berkata demikian, Mitzy berdiri dan hendak pergi."Sudah selesai dimanfaatkan, mau langsung pergi?" Leeon mengulurkan tangan dan menarik Mitzy ke sisinya, lalu memaksa wanita itu duduk di atas pahanya. "Kamu anggap aku ini apa?"Mitzy merasakan paha keras Leeon yang bagaikan besi, serta perubahan pada tubuhnya.Astaga. Padahal sudah berlalu begitu lama, kenapa masih juga belum reda?Secara refleks Mitzy ingin melarikan diri, tetapi lengan Leeon melingkari pinggangnya dengan kuat dan menahannya agar tetap bera

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 48

    Mitzy sama sekali tidak menyangka Leeon akan melontarkan pertanyaan seperti itu.Alis dan mata Mitzy melengkung, sementara lesung pipinya terlihat samar saat dia tersenyum. "Pak Leeon, perlukah menanyakan hal yang begitu pribadi?""Tentu saja. Saat pengadilan menilai apakah hubungan emosional sudah benar-benar retak, mereka akan mempertimbangkan banyak faktor. Apakah hubungan suami istri sudah lama cuma tinggal nama adalah bukti penting untuk menunjukkan seberapa kuat keinginan kedua pihak untuk bercerai." Leeon menyandarkan punggungnya ke kursi. Kedua tangannya saling bertaut di atas meja. Dia menatap Mitzy dengan sikap yang sangat rasional. "Kalau kamu nggak mau jawab, apakah aku boleh berasumsi bahwa hubungan kalian memang nggak harmonis?""Harmonis. Hubungan kami sangat harmonis. Selain saat masa menstruasi, hampir setiap hari bisa satu, dua, tiga, bahkan empat ronde. Detailnya nggak usah kujelaskan, takutnya nanti Pak Leeon malah minder.""Benarkah?" Leeon menggertakkan rahangnya,

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 47

    Hati Mitzy terasa seperti hancur mendengarnya.Limy memang dewasa sebelum waktunya. Justru karena anak itu terlalu pengertian, rasa perih di hati Mitzy menjadi makin dalam."Ibu, aku benci ayah. Perceraian itu bukan berarti ayah nggak mau aku dan Ibu lagi, tapi kita yang nggak mau dia," kata Limy sambil bersandar di pelukan Mitzy. Tangan kecilnya menangkup pipi Mitzy. "Ibu, waktu sendirian di Kota Herington, Ibu harus melindungi diri sendiri. Aku nggak mau melihat Ibu terluka lagi.""Ya," jawab Mitzy dengan suara tercekat sambil mengecup kening putrinya. "Limy, kamu juga harus menjaga diri dengan baik. Ibu sayang kamu.""Aku juga sayang Ibu."....Di perjalanan kembali ke kota, Mitzy terus menangis tanpa henti.Orang sering berkata bahwa cinta selalu disertai rasa berutang. Berhubung terlalu mencintai Limy, Mitzy justru kerap merasa telah berutang terlalu banyak pada anak itu. Identitas yang tak bisa dia ungkapkan dengan jujur, keluarga utuh yang tak mampu dia berikan, semuanya menjadi

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 46

    Tatapan Mitzy yang begitu berani dan terus terang membuat Leeon tiba-tiba merasa bahwa dirinya sangat konyol. Dia sungguh sudah gila, sampai-sampai coba mencari bukti bahwa dirinya pernah dicintai oleh Mitzy, bahkan bisa-bisanya dari anak yang wanita itu miliki bersama orang lain.Kalau Mitzy benar-benar pernah mencintainya, mana mungkin dia akan meninggalkan Leeon dengan begitu tegas, lalu menikah dan punya anak dengan pria lain?"Setelah anak itu sembuh, kirim dia pergi," ujar Leeon dengan nada dingin. "Aku nggak menerima transaksi beli satu gratis satu. Lagian aku juga nggak mau saat aku tidur denganmu, ada anak di samping yang merusak suasana."Transaksi.Tidur dengannya.Suasana.Kata-kata itu seperti diulang-ulang untuk mengingatkan Mitzy akan posisinya sekarang, bahwa kini dia hanyalah seseorang yang telah menjual dirinya sendiri dan tak lebih dari sekadar mainan.Mitzy menahan perih di dadanya, lalu mengangguk. "Tenang saja, Pak Leeon. Bahkan tanpa kamu katakan pun, aku akan me

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 45

    "Pak Leeon ...." Tatapan Mitzy penuh permohonan. Dia berharap Leeon sama sekali tidak mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak pantas di depan anak itu.Leeon menatapnya. Setelah beberapa saat, dia pun melepaskan genggaman tangannya."Mau sarapan apa? Aku suruh orang mengantarkannya."Mitzy akhirnya menghela napas lega. "Bubur saja."....Setelah menyemprotkan obat ke tenggorokan Limy, anak itu bilang ingin menonton "Peppo Pig". Ponsel Mitzy hampir kehabisan baterai, jadi dia membawa Limy turun ke bawah.Di ruang makan lantai bawah, Leeon sedang menyeduh kopi."Pak Leeon, boleh pinjam TV di rumahmu untuk menonton kartun sebentar?" tanya Mitzy."Remotnya ada di atas meja sofa.""Oke, makasih."Mitzy memutar "Peppo Pig" untuk Limy, lalu naik ke atas untuk membersihkan diri.Semalam, Mitzy sibuk mengurus Limy sampai kelabakan. Dia sama sekali tidak sempat merapikan diri. Untungnya saat Leeon menyuruh orang mengantar sarapan tadi, pria itu juga sekaligus meminta mereka membawakan beber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status