Share

Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku
Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku
Author: Mika Rani

Bab 1

Author: Mika Rani
"Aku sudah bosan tidur denganmu. Kita putus."

Enam tahun lalu, putri sulung Keluarga Gozali, Mitzy Gozali, meninggalkan kalimat itu begitu saja, lalu dengan tegas memutuskan hubungan dengan Leeon Alaric yang kala itu masih miskin dan tidak punya apa-apa. Setelah itu, Mitzy menikah secara politik dengan putra wali kota, Valdo Ezekiel.

Enam tahun kemudian, Keluarga Gozali bangkrut. Mitzy mengalami KDRT oleh Valdo. Dia pun memutuskan untuk bercerai. Pada saat dirinya berada di titik paling memalukan dan terpuruk dalam hidupnya, dia kembali bertemu dengan Leeon.

Di sebuah kafe.

Mitzy duduk di dekat jendela kaca besar dengan mengenakan kacamata hitam dan topi bisbol. Dia terus-menerus melirik jam tangannya.

Hari ini, Mitzy sudah membuat janji untuk bertemu dengan pengacara yang akan menangani perceraiannya. Namun entah kenapa, padahal waktu yang dijanjikan sudah lewat, tetapi pengacara itu belum juga datang. Saat dia hendak menelepon untuk bertanya, pintu kafe didorong terbuka. Seorang pria bertubuh tinggi masuk ke dalam.

Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu lengkap, kemeja hitam, dan dasi bergaris. Auranya terlihat elegan dan berkelas.

Sejak pria itu melangkah masuk, beberapa staf wanita di kafe itu terus melirik ke arahnya. Wajar saja, wajah dengan struktur tulang yang begitu sempurna seperti model kelas atas memang jarang ditemui di dunia nyata, kecuali di industri hiburan.

Orang lain mungkin terkejut karena ketampanannya. Namun, Mitzy justru terkejut karena ketakutan.

Sebab, pria yang masuk itu adalah Leeon, mantan pacar yang enam tahun lalu Mitzy singkirkan hanya dengan kalimat sudah bosan tidur dengannya.

Enam tahun tidak bertemu, kini Leeon terlihat seperti orang yang sama sekali berbeda.

Dalam ingatan Mitzy, Leeon selalu mengenakan kemeja linen putih, juga berperawakan lembut dan bersih, seperti seorang pria yang hangat. Namun, pria di hadapannya sekarang sudah kehilangan kesan remaja itu. Garis wajahnya makin tegas dan tajam, sementara sorot matanya dingin dan penuh agresivitas, bagaikan pemburu berbahaya.

Jantung Mitzy berdegup kencang. Dengan panik, dia menurunkan sedikit topinya dan berdoa agar Leeon sama sekali tidak melihatnya.

Mitzy baru saja dipukuli oleh Valdo kemarin. Wajahnya penuh luka. Dia tidak ingin Leeon melihat dirinya dalam kondisi seburuk ini. Dia lebih memilih jika kesan terakhir Leeon tentang dirinya tetap berhenti pada sosoknya yang arogan dan tidak masuk akal saat putus dulu, daripada melihat dirinya sebagai wanita lemah yang hancur dalam pernikahan.

Namun, kenyataan tidak berjalan sesuai harapan Mitzy. Leeon berjalan lurus ke arah mejanya dan menarik kursi di seberangnya, lalu duduk dengan tenang.

"Maaf, macet," kata Leeon.

Mitzy kehabisan kata-kata.

Dengan siapa sebenarnya Leeon janjian? Apa dia salah duduk?

"Pak," panggil Mitzy sambil menundukkan kepala. Topi dan kacamata hitam menutupi sebagian besar wajahnya. Dia sengaja menegangkan suaranya agar terdengar berbeda. "Apa kamu salah orang? Ini bukan tempat dudukmu."

"Nona Mitzy, nggak usah berpura-pura. Bahkan kalau kamu jadi abu pun, aku tetap bisa mengenalimu."

Nona Mitzy.

Mitzy langsung membeku. Sejak Keluarga Gozali bangkrut, sudah lama sekali tidak ada yang memanggilnya dengan sebutan itu. Dulu, panggilan ini adalah favorit Leeon. Pria itu sangat suka memeluknya erat-erat saat mereka berdua berhubungan intim. Kemudian, Leeon akan memanggil di telinga Mitzy dengan suara serak dan samar berulang kali, "Nona Mitzy".

"Nona Mitzy, boleh masuk?"

"Nona Mitzy, mau lagi atau nggak?"

"Nona Mitzy, bilang kamu mencintaiku."

Kenangan tentang kedekatan mereka, tentang hasrat dan kepemilikan yang begitu kuat, semuanya menyerbu sekaligus. Namun hari ini, saat kata "Nona Mitzy" keluar dari mulut Leeon, tidak ada sedikit pun nuansa mesra. Yang ada hanyalah kebencian yang terang-terangan.

"Pak, aku bukan orang yang kamu cari. Tolong tinggalkan tempat ini. Orang yang kutunggu sebentar lagi akan datang." Mitzy tetap bersikeras berpura-pura tidak mengenalnya.

"Bobby nggak akan datang," kata Leeon. Sambil memesan secangkir kopi, dia berbicara dengan nada santai, "Kasus perceraianmu akan ditangani olehku sekarang."

Mitzy mendongak dengan tiba-tiba. "Kenapa? Bukannya aku sudah janji dengan Pak Bobby?"

"Kamu akhirnya mau mengangkat kepala dan melihatku."

Mitzy tertegun.

Di balik lensa hitam kacamata, tatapan Leeon terlihat tenang dan sulit ditebak, bahkan penuh aura orang yang berada di posisi atas.

Mitzy tidak sempat memikirkan hal lain dan langsung bertanya, "Kenapa Pak Bobby nggak datang?"

"Selama masa praktiknya, Bobby berkali-kali melanggar aturan. Hari ini, dia sudah dikeluarkan dari firma hukum."

"Tadi malam kami masih berkomunikasi, tapi hari ini izin praktiknya langsung dihentikan. Mana mungkin bisa begitu kebetulan? Leeon, kamu sengaja, 'kan?"

"Aku sengaja untuk apa? Datang menemuimu?" Leeon mendengus dingin. "Mitzy, kamu pikir aku masih belum bisa melupakanmu?"

Tentu saja Mitzy tidak sebodoh itu untuk berpikir demikian. Dia tahu Leeon membencinya. Tidak ada pria yang akan terus merindukan wanita yang telah menghancurkan harga dirinya.

"Aku bukan bermaksud begitu."

"Jadi, maksudmu apa?"

"Maksudku, mungkin kamu sengaja datang cuma untuk melihatku jadi bahan tertawaan."

"Setidaknya kamu masih sadar diri."

Leeon mengakuinya. Dia benar-benar datang untuk melihat Mitzy dipermalukan.

Meski Mitzy sudah menduganya, mendengar pengakuan itu langsung dari mulut Leeon tetap membuat dadanya terasa nyeri.

Selama enam tahun menikah ke Keluarga Ezekiel, hubungan Mitzy dengan suaminya tidak harmonis. Mertuanya juga tidak menyukainya. Setelah Keluarga Gozali bangkrut, Keluarga Ezekiel makin memandang rendah dirinya. Hidupnya terasa sangat tersiksa. Kesombongan yang dulu hanya dimiliki oleh Mitzy telah habis terkikis oleh kenyataan. Orang-orang yang ingin mentertawakannya ada di mana-mana, tetapi jika bicara tentang siapa yang benar-benar pantas mentertawakannya, memang hanya Leeon.

"Kalau kamu ingin melihatku jadi bahan tertawaan, sekalian saja kuperlihatkan semuanya."

Mitzy melepas kacamata hitam dan topi bisbolnya.

Hari ini, Mitzy tidak memakai riasan. Kulitnya yang pucat terlihat seperti kanvas kosong. Hal itu membuat kemerahan di pelipis dan lebam kebiruan di sudut matanya terlihat makin mencolok.

Ketika Leeon melihat luka di wajah Mitzy, pandangannya langsung menjadi suram. Jari-jarinya mencengkeram cangkir kopi dengan erat, sementara urat-urat di punggung tangannya menonjol jelas.

Valdo benar-benar berengsek!

"Sudah puas lihatnya?" Suara Mitzy bergetar. "Kalau belum puas, aku bisa jelaskan. Luka di dahi ini karena dihantam asbak. Yang di sudut mata ini karena ...."

"Cukup! Diam!" Leeon merasa dadanya seperti ditusuk benda tajam. Rasa sakit menyebar tanpa henti. "Ini semua pilihanmu sendiri! Semua ini akibat perbuatanmu sendiri!"

"Benar, ini pilihanku sendiri. Semua ini memang pantas kuterima. Sekarang, kamu sudah lihat hidupku nggak bahagia. Kamu juga bisa merasa lega," kata Mitzy dengan mata memanas. Dia menatap Leeon sambil melanjutkan, "Dulu memang aku yang salah. Aku minta maaf. Mulai sekarang, kita impas."

Usai berkata demikian, Mitzy mengambil kacamata hitam dan topinya, lalu pergi dengan langkah cepat seolah-olah hendak melarikan diri.

Leeon tetap duduk di tempatnya. Tatapannya mengikuti punggung Mitzy yang menjauh. Emosinya bergulung hebat dan nyaris meluluhlantakkannya dalam sekejap.

Ponselnya tiba-tiba berdering.

"Leeon, kamu di mana?"

"Lagi bertemu klien."

"Kamu baru pulang dari luar negeri, gimana bisa dapat klien?" Orang di seberang terdiam beberapa saat, lalu berkata, "Jangan bilang kamu benar-benar mengambil alih kasus perceraian yang sebelumnya dipegang Bobby? Tolonglah, kamu itu pemilik firma hukum besar. Sejak kapan kamu mau menangani kasus kecil seperti itu?"

Leeon tidak menanggapi pertanyaan itu. Sebaliknya, dia hanya berkata, "Tolong bantu aku satu hal."

"Apa?"

"Selidiki Valdo."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 50

    "Wah, hubungan kalian memang sangat akrab. Baru satu telepon saja, kamu langsung datang secepat ini." Di wajah Valdo tersungging senyum kemenangan, seolah rencananya telah berhasil.Mitzy langsung menyadari sesuatu. "Kamu yang suruh orang meneleponku?""Ya, aku yang suruh orang menelepon. Kalau nggak, gimana caranya aku bisa menemukan kamu yang begitu jago bersembunyi ini?"Setelah berhasil menemukan kembali Limy, Mitzy sudah memblokir semua kontak Valdo. Niatnya jelas. Sebelum perceraian resmi, dia tidak ingin bertemu lagi dengan pria itu. Tak disangka, Valdo justru memaksanya muncul dengan cara seperti ini."Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi di antara kita."Mitzy berbalik dan hendak pergi, tetapi Valdo langsung mencengkeram pergelangan tangannya dan menariknya ke arah berlawanan."Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!" berontak Mitzy, tetapi dia sama sekali tidak bisa melepaskan diri. Menyadari situasinya makin buruk, dia berteriak, "Tolong! Tolong!"Sayangnya, orang-orang di sek

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 49

    Leeon pernah mendengar dengan telinganya sendiri bagaimana ibu mertua Mitzy, Amanda, mendesaknya untuk melahirkan anak laki-laki. Itu sebabnya, dia tidak meragukan jawaban Mitzy sama sekali.Pria itu merapikan dokumen-dokumen di atas meja kerjanya, lalu memberi tahu Mitzy, "Hari ini, aku akan menyuruh orang menyiapkan surat gugatan. Besok, kita akan resmi mengajukan gugatan cerai ke pengadilan.""Oke. Makasih, Pak Leeon. Kalau begitu silakan lanjut bekerja, aku pamit dulu."Sambil berkata demikian, Mitzy berdiri dan hendak pergi."Sudah selesai dimanfaatkan, mau langsung pergi?" Leeon mengulurkan tangan dan menarik Mitzy ke sisinya, lalu memaksa wanita itu duduk di atas pahanya. "Kamu anggap aku ini apa?"Mitzy merasakan paha keras Leeon yang bagaikan besi, serta perubahan pada tubuhnya.Astaga. Padahal sudah berlalu begitu lama, kenapa masih juga belum reda?Secara refleks Mitzy ingin melarikan diri, tetapi lengan Leeon melingkari pinggangnya dengan kuat dan menahannya agar tetap bera

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 48

    Mitzy sama sekali tidak menyangka Leeon akan melontarkan pertanyaan seperti itu.Alis dan mata Mitzy melengkung, sementara lesung pipinya terlihat samar saat dia tersenyum. "Pak Leeon, perlukah menanyakan hal yang begitu pribadi?""Tentu saja. Saat pengadilan menilai apakah hubungan emosional sudah benar-benar retak, mereka akan mempertimbangkan banyak faktor. Apakah hubungan suami istri sudah lama cuma tinggal nama adalah bukti penting untuk menunjukkan seberapa kuat keinginan kedua pihak untuk bercerai." Leeon menyandarkan punggungnya ke kursi. Kedua tangannya saling bertaut di atas meja. Dia menatap Mitzy dengan sikap yang sangat rasional. "Kalau kamu nggak mau jawab, apakah aku boleh berasumsi bahwa hubungan kalian memang nggak harmonis?""Harmonis. Hubungan kami sangat harmonis. Selain saat masa menstruasi, hampir setiap hari bisa satu, dua, tiga, bahkan empat ronde. Detailnya nggak usah kujelaskan, takutnya nanti Pak Leeon malah minder.""Benarkah?" Leeon menggertakkan rahangnya,

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 47

    Hati Mitzy terasa seperti hancur mendengarnya.Limy memang dewasa sebelum waktunya. Justru karena anak itu terlalu pengertian, rasa perih di hati Mitzy menjadi makin dalam."Ibu, aku benci ayah. Perceraian itu bukan berarti ayah nggak mau aku dan Ibu lagi, tapi kita yang nggak mau dia," kata Limy sambil bersandar di pelukan Mitzy. Tangan kecilnya menangkup pipi Mitzy. "Ibu, waktu sendirian di Kota Herington, Ibu harus melindungi diri sendiri. Aku nggak mau melihat Ibu terluka lagi.""Ya," jawab Mitzy dengan suara tercekat sambil mengecup kening putrinya. "Limy, kamu juga harus menjaga diri dengan baik. Ibu sayang kamu.""Aku juga sayang Ibu."....Di perjalanan kembali ke kota, Mitzy terus menangis tanpa henti.Orang sering berkata bahwa cinta selalu disertai rasa berutang. Berhubung terlalu mencintai Limy, Mitzy justru kerap merasa telah berutang terlalu banyak pada anak itu. Identitas yang tak bisa dia ungkapkan dengan jujur, keluarga utuh yang tak mampu dia berikan, semuanya menjadi

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 46

    Tatapan Mitzy yang begitu berani dan terus terang membuat Leeon tiba-tiba merasa bahwa dirinya sangat konyol. Dia sungguh sudah gila, sampai-sampai coba mencari bukti bahwa dirinya pernah dicintai oleh Mitzy, bahkan bisa-bisanya dari anak yang wanita itu miliki bersama orang lain.Kalau Mitzy benar-benar pernah mencintainya, mana mungkin dia akan meninggalkan Leeon dengan begitu tegas, lalu menikah dan punya anak dengan pria lain?"Setelah anak itu sembuh, kirim dia pergi," ujar Leeon dengan nada dingin. "Aku nggak menerima transaksi beli satu gratis satu. Lagian aku juga nggak mau saat aku tidur denganmu, ada anak di samping yang merusak suasana."Transaksi.Tidur dengannya.Suasana.Kata-kata itu seperti diulang-ulang untuk mengingatkan Mitzy akan posisinya sekarang, bahwa kini dia hanyalah seseorang yang telah menjual dirinya sendiri dan tak lebih dari sekadar mainan.Mitzy menahan perih di dadanya, lalu mengangguk. "Tenang saja, Pak Leeon. Bahkan tanpa kamu katakan pun, aku akan me

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 45

    "Pak Leeon ...." Tatapan Mitzy penuh permohonan. Dia berharap Leeon sama sekali tidak mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak pantas di depan anak itu.Leeon menatapnya. Setelah beberapa saat, dia pun melepaskan genggaman tangannya."Mau sarapan apa? Aku suruh orang mengantarkannya."Mitzy akhirnya menghela napas lega. "Bubur saja."....Setelah menyemprotkan obat ke tenggorokan Limy, anak itu bilang ingin menonton "Peppo Pig". Ponsel Mitzy hampir kehabisan baterai, jadi dia membawa Limy turun ke bawah.Di ruang makan lantai bawah, Leeon sedang menyeduh kopi."Pak Leeon, boleh pinjam TV di rumahmu untuk menonton kartun sebentar?" tanya Mitzy."Remotnya ada di atas meja sofa.""Oke, makasih."Mitzy memutar "Peppo Pig" untuk Limy, lalu naik ke atas untuk membersihkan diri.Semalam, Mitzy sibuk mengurus Limy sampai kelabakan. Dia sama sekali tidak sempat merapikan diri. Untungnya saat Leeon menyuruh orang mengantar sarapan tadi, pria itu juga sekaligus meminta mereka membawakan beber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status