LOGINSetelah Sandra dibawa pergi, ruang tamu yang tadinya gaduh menjadi sunyi senyap.Tiga lainnya juga mengerutkan kening. Mereka juga merasakan ada sesuatu yang tidak beres.Apa ini benar-benar pengakuan yang dibuat secara spontan oleh Robert, atau jebakan yang direncanakan secara cermat? Jika Sandra benar-benar dalangnya, mana mungkin dia begitu mudah terpancing oleh beberapa kata dari Robert dan menguatkan kecurigaannya?Wajah Tuan Besar Irawan berubah pucat pasi. Tangannya yang memegang cangkir teh sedikit gemetar. Perselingkuhan istrinya dengan putranya bagaikan duri, tertancap dalam-dalam di bagian terdalam hatinya, membuatnya hampir tidak bisa bernapas.Dia telah menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai kepala rumah tangga yang berkuasa. Dia tidak pernah membayangkan bahwa istri, dan putranya yang tidak becus, akan melakukan hal keji seperti itu di belakangnya.Teh di dalam cangkir sedikit bergoyang. Matanya menunjukkan keterkejutan, kemarahan, dan rasa malu yang mendalam yang t
Tuan Besar Irawan mengerutkan kening. "Apa maksudmu?""Aku nggak sengaja mendorong Kak Helen jatuh dari tangga. Aku ... aku nggak bermaksud mencelakainya," isak Robert. Wajahnya penuh penyesalan dan ketakutan. "Saat itu, aku bertengkar dengan Kak Helen. Aku takut dia .... Aku memang bajingan! Aku nggak seharusnya khilaf! Aku pantas mati!"Robert menampar dirinya sendiri berulang kali. Setiap tamparan lebih keras dari sebelumnya.Melvin mengulurkan tangan untuk menghentikannya. "Robert, mari kita bicarakan baik-baik. Jangan sampai melukai dirimu sendiri.""Ini salahku, Ayah! Aku memang bajingan. Aku sudah bersalah padamu!""Kamu bersalah padaku?" Tuan Besar Irawan merenungkan kata-katanya, lalu tiba-tiba melirik Sandra di sampingnya. Sandra tetap terpaku di tempat duduknya, tanpa bereaksi."Aku nggak seharusnya berhubungan dengan Sandra. Aku nggak seharusnya tergoda olehnya! Aku bajingan. Akulah yang mencelakai Kak Helen!"Kata-kata itu bagaikan petir yang menyambar di ruang tamu.Sandr
Emosi Robert yang mulanya bergejolak mereda setelah mendengar kata-kata itu. Dia tahu betapa ayahnya menghargai Melvin. Saat ini, ayahnya mempercayakan semua urusan, baik besar maupun kecil, kepada Melvin. Bahkan, dia tidak diizinkan untuk ikut campur.Melvin telah mengamankan proyek besar di Argenta. Jika dia berhasil menjodohkan putri Alex dengan putra angkat Arman, semua usahanya akan sia-sia.Dia menenangkan dirinya. Otot rahangnya sedikit berkedut. "Jadi, apa rencanamu?""Karena masalah perselingkuhanmu dengan ibuku nggak bisa disembunyikan lagi, maka nggak perlu disembunyikan lagi."Robert terpaku di tempat. Jari-jarinya tanpa sadar mencengkeram ponselnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Kamu gila?"Suara di telepon itu terdengar begitu dingin dan penuh dorongan. Setiap kata bagaikan jarum yang membeku, menusuk pikirannya yang kacau. "Korbankan bidak untuk menyelamatkan raja, bukankah Kak Robert selalu melakukannya dengan baik? Sama seperti saat bersama Kak Helen."Ja
Clara tersenyum pasrah. "Aku tahu. Aku nggak bodoh. Mana mungkin aku meninggalkan barang begitu penting di rumah?"Victor tertegun, lalu dengan bingung menatap Clara yang menyeringai."Tuan Victor, apa ... yang terjadi?""Bibi, nggak apa-apa. Lanjutkan pekerjaan Bibi saja," bujuk Clara.Pelayan itu tidak bertanya lagi dan pergi ke dapur dengan hati-hati.Victor berkacak pinggang dan menarik napas dalam-dalam. Dia bergegas pulang dengan panik karena takut adiknya yang mengetahui hal ini akan mengalami nasib yang sama seperti Helen.Lagi pula, Clara baru saja kembali ke Keluarga Irawan, jadi Robert belum berani secara terbuka menyerangnya, tetapi itu bukan berarti dia tidak bisa menyerang Clara lebih dulu.Clara menyadari kekhawatiran pria itu dan menggenggam tangan kakaknya. "Aku nggak akan bertindak gegabah. Aku sudah menghapus rekaman dari perekam itu. Rekaman itu nggak bisa dipulihkan lagi. Toh, itu hanya dalih belaka.""Dalih?""Aku hanya ingin tahu apa Paman Robert akan datang untu
Setelah pemakaman, Clara beserta ayah dan kakaknya pergi ke rumah sakit bersama Tuan Besar Irawan. Di bangsal, tampak Baron sedang menghibur Yena, yang sangat terpukul secara emosional.Tuan Besar Irawan bertanya kepada Melvin, "Apa kata dokter?""Mungkin dia mengalami gangguan mental karena nggak bisa menerima kematian ibunya."Tuan Besar Irawan melirik ke arah bangsal. Ekspresinya penuh ketidakberdayaan. "Belakangan ini, Keluarga Irawan makin sering mengalami masalah. Entah siapa dalang di balik semua masalah ini."Pria tua itu menarik napas dalam-dalam dan tidak berniat masuk ke bangsal untuk menjenguknya. Dia berbalik dan berpesan, "Biarkan ayahnya menemaninya. Utus orang untuk berjaga di sini. Jangan biarkan dia melakukan bunuh diri lagi."Tuan Besar Irawan berhenti di samping Alex dan berkata, "Alex, aku perlu bicara denganmu."Alex mengangguk. Setelah Tuan Besar Irawan pergi, dia menatap Victor dan berkata, "Antar adikmu pulang nanti.""Aku mengerti."Alex dan Tuan Besar Irawan
Sopir berulang kali mengangguk dan mengemudikan mobil ke persimpangan untuk melakukan putar balik.Namun, saat Robert dan kelompoknya tiba di klinik kecantikan untuk mencari Dokter Saskia, mereka mendapati bahwa dia sudah tidak ada di sana. Robert berdiri dengan tangan di pinggang, menendang tempat sampah di koridor, dan tampak sangat marah.Helen mengetahui perselingkuhannya dengan Sandra, tetapi dia masih tetap memprovokasi mereka dengan cara yang tidak biasa ini. Wanita itu pasti menemukan bukti.Klinik kecantikan adalah tempat yang sering dikunjungi Helen.Tempat paling berbahaya adalah tempat paling aman, tetapi dia terlambat selangkah.Dia tiba-tiba teringat bahwa dia bertemu dengan Clara di klinik kecantikan.Jangan-jangan dia?Terlepas itu benar atau tidak, saat ini dia lebih memilih untuk percaya bahwa itu benar daripada percaya bahwa itu tidak benar.Sudah saatnya dia menyingkirkan dua kakak beradik itu.Tiga hari kemudian, berita kematian Helen menyebar luas. Mengenai penyeb
Jason tiba-tiba angkat bicara.Sindy tampak menegang. Dia diam-diam mengamati ekspresi pria itu. Namun, Jason tampak tenang dan tidak punya emosi apa pun.Nyonya Minah berseru, "Dia merayu suamiku!"Mata Jason perlahan berubah gelap.Pak Frans maju ke depan dan berjalan ke sisi Jason. "Pak Jason, ma
Jason mulanya masih ingin menghindar, tetapi saat mendengar nada bicara wanita itu yang seolah-olah tidak mau dia kembali, dia langsung mengerutkan keningPria itu melangkah lebih dekat. Dia menatap Clara lebih tajam lagi. "Ini rumahku. Aku bisa kembali kapan pun aku mau."Clara refleks menghindar,
Saat menatap laporan penurunan jabatan di meja, wajah Clara berubah muram.Dia adalah dokter spesialis. Sebagai direktur, Sindy memang satu tingkat lebih tinggi darinya, tetapi Clara memiliki hak istimewa yang diberikan oleh Pak Martin, jadi dia tidak perlu berada di bawah kendali direktur mana pun.
Jason tidak tinggal lebih lama lagi dan berjalan keluar.Sindy memperhatikan kepergian Jason, lalu mengepalkan tangannya, dan hampir menggertakkan giginya.Padahal, Jason barusan bilang mau tinggal untuk menemani anak.Jangan-jangan demi si jalang itu?Tidak, tidak akan.Jason jelas-jelas melindungi







