Share

Enigmatic
Enigmatic
Author: orizwp

The Boy in The Bookstore

Semilir angin sore berhembus, menerbangkan anak-anak rambut yang tak terikat milik gadis yang duduk termangu di beranda rumahnya. Ia menggerak-gerakkan kakinya sambil menghembuskan nafas berat yang entah sudah berapa kali. Ia bosan. Entah gadis itu yang terlalu cepat bersiap diri atau memang kebiasaan cowok laknat yang sudah ia tunggu sejak hampir setengah jam yang lalu. Sesekali juga ia membuka sosial media di ponselnya dan mengambil foto selfie.

Kirana Cesta Rivandra, atau yang biasa dipanggil Kiran, tersenyum saat melihat hasil jepretannya. Persilangan antara bibit Bandung dan Yogyakarta dari kedua orangtuanya tidak gagal sama sekali. Dari masnya, Gibran, dirinya sendiri, dan juga adik bungsunya, Rendi, semuanya bibit unggul yang kalau bisa dibilang visualnya di atas rata-rata.

Pesona cewek ini tentu saja kuat. Kalau saja ia berada di Korea sekarang, mungkin ia sudah ditawari untuk casting dan menjadi idol di negeri gingseng itu. Cewek yang sekarang duduk di kelas duabelas SMA ini sebenarnya banyak yang ngejar. Tapi entah mengapa ia sudah menjadi direktur utama cinta tak terbalas selama enam tahun karena sejak SD hanya seorang Dirga Yongki Dharmawangsa saja yang mampu menggaet hatinya. Iya, Dirga si ketua OSIS SMA Bhakti Aninditya! Prioritasnya tentu organisasi, bukan Kirana. Siapa Kirana bagi Dirga?

“Lah, belum berangkat?” tanya Rendi yang baru saja keluar dari dalam rumah dengan handuk yang masih bertengger di lehernya. Rambutnya juga masih basah dan acak-acakan. Anak ini baru saja selesai mandi.

Kiran berdeham. “Kebiasaan emang si Jepri,” celanya; menyebut pelesetan nama panggilan yang sangat di benci oleh si empunya nama.

Rendi ikut duduk di samping kakaknya. “Ketiduran lagi kali?” tanyanya yang di jawab gelengan kepala oleh Kiran.

Tak lama, ada sebuah mobil berhenti di depan rumah. Sang empunya turun dan menghampiri kedua kakak beradik itu setelah sebelumnya tersenyum, menyapa ibu-ibu yang sedang momong anaknya.

Julian Jefri Abimanyu, atau Jefri, sekarang berjalan kikuk menghampiri Kiran dan Rendi. Sambil mengusap belakang kepalanya yang tak gatal karena cemas bahwa sahabatnya itu akan marah karena keterlambatannya yang sudah tidak wajar ini.

Doi ini sahabat kentel Kiran. Eh, nggak kentel juga sih karena kalau ada tugas nggak mau bagi-bagi. ‘Biar lo pinter, rajin, dan nggak mageran’ alasannya. Jaga image banget orangnya. Sama Kiran aja bobrok banget, kalau di luar? Beh, sok cool abis! Apalagi kalau lagi jalan di koridor sekolah. Ampuuun! Kiran mau muntah ngeliatnya. Katanya sih biar menarik minat dan perhatian penduduk sekolah tapi.., hei, Jefri! Tingkahmu nggak begitu juga penduduk sekolah pasti akan kepincut sama kamu. Jelas! Muka udah kayak serbuk berlian gitu siapa yang nggak demen coba? Merasa bersyukur banget Mama dan Papanya ngasih nama Abimanyu, alasannya karena ketampanannya meningkat karena nama belakangnya itu. Oh iya, Jefri ini nggak suka namanya dipanggil Jepri, kayak jamet katanya. Harus jelas konsonan ‘F’ nya, nggak boleh pakai ‘P’.

“Widih! Bolehlah, bang, bawa mobil sekarang mah,” sapa Rendi sembari melakukan handshake dengan Jefri.

“Wih, iya dong! Kan mau jalan sama cewek cantik, Ren. Yakali pakai beat.” Jefri tertawa lalu melirik Kiran yang sama sekali tidak tertarik pada guyonan sahabatnya barusan. “Masa ganteng doang, jemput cewek pakai matic?”

Rendi tertawa dan membulatkan bibirnya. “Woooo!” seru Rendi bertepuk tangan.

“Gila, Ren, dia siapa?” bisik Jefri pada Rendi dengan suara normal yang tentu saja masih bisa Kiran dengar. “Kayaknya gue mau pergi sama cewek cantik deh, bukan sapi yang mau ngamuk.”

“Itu sebenernya mah sapi, bang. Lagi wayahnya berubah jadi cewek cantik aja, nanti juga berubah lagi jadi sapi. Baik-baik, bang, nanti di seruduk,” kelakar Rendi.

Kiran mendecih. Ia kesal dengan kelakuan dua cowok di depannya ini. Rendi juga ikut-ikutan saja, sebenernya kakaknya bocah itu siapa, sih?

Kini tatapannya beralih ke Jefri. Cowok itu lantas menunduk kala bola matanya bertemu dengan tatapan tajam bak elang yang sudah menemukan mangsa dan siap menerkam milik Kiran. “Berangkat dari 30 menit yang lalu kemana dulu lo?”

“Marah-marah mulu kayak pacar,” celetuk Jefri.

Rendi mengangkat kedua alisnya mendengar celetukan Jefri. “Yaudahlah, mau mabar aja sama Mahes,” gerutu Rendi yang kemudian berbalik masuk ke dalam rumah meninggalkan dua manusia yang lebih tua darinya itu.

Kembali menaruh perhatiannya pada Kiran, Jefri mengulum senyum. Menampakkan lesung pipinya, berharap Kiran akan luluh dan tak lagi merasa kesal padanya. Namun tentu hal itu sama sekali tidak mempan untuk cewek itu. Ia malah mengangkat tangan kanannya ke udara, seperti hendak memukul cowok jangkung di depannya ini tapi tertahan. Tentu Jefri refleks meringkukkan tubuhnya saat melihat Kiran mengangkat tangannya.

“Tadi tuh emang udah mau berangkat, Ran…” tutur Jefri, sengaja menggantungkan kalimatnya sambil menurunkan tangan Kiran yang menggantung di udara. Mencoba menjelaskan pelan-pelan alasan keterlambatannya. “Tapi pas dilihat motor di pakai Lia ya gue tunda dulu berangkatnya.”

“Terus?”

“Ya terus gue masuk lagi nungguin Lia pulang,” jawab Jefri polos. “Terus gue makan martabak mie telur bikinan Mama pagi tadi, terus gue sakit perut yaudah gue ke toilet dulu dong. Selepas itu si Lia nggak balik-balik juga yaudah gue pinjam mobil buat keluar.”

“Ih, lo mah ya emang bangke banget, Jep! Gue nungguin lo anjir,” gerutu Kiran. Lalu ia berjalan mendahului Jefri menuju mobil yang terparkir di halaman depan rumahnya.

Merasa kalau Kiran sudah memaafkannya, Jefri tercengir kemudian berlari mendahului Kirain. Cowok itu membukakan pintu mobil untuk sahabatnya dan bertingkah seolah sedang membukakan pintu untuk seorang puteri.

“Silahkan masuk, Tuan Puteri.”

Sempat menyunggingkan bibirnya ke atas dengan ekspresi dongkol, Kiran akhirnya masuk ke dalam mobil. Setelahnya, Jefri berlari kecil memutari mobil dan ikut memasukinya. Tak lupa ia memasang sabuk pengaman lalu melihat Kiran yang duduk di sampingnya.

“Apa?’ ketus Kiran.

“Udahan atuh marahnya. Hm?” rayu Jefri.

“Kesel gue, Jep,” keluh Kiran.

“Iya, maaf yaa…”

Make up gue luntur setengah jam nungguin lo,” keluh Kiran lagi.

Jefri tertawa mendengar ucapan Kiran.”yaelah mau ketemu siapa sih lo di sana?”

“Ya siapa tahu kan ketemu jodoh di sana.”

Bibir Jefri tersungging ke atas, “Jauh-jauh amat nyari jodoh ke toko buku. Padahal di sampingmu ada ini.”

Kiran mendelik, kemudian menatap cowok tengil di sampingnya. “dih, ada apa?”

“Adaaa…” Jefri menggantungkan kalimatnya dan mulai menjalankan mobil. Tak lupa ia membunyikan klakson untuk menyapa ibu-ibu yang masih saja nongkrong di depan. “Ada Jefri,” sambungnya.

“Ya terus?” tanya Kiran, ragu.

“Ya siapa tau jodoh, kan?”

Deg! Kiran terdiam. Tidak biasanya Jefri mengajukan pertanyaan seperti ini. Walaupun ia hanya menganggap Jefri hanya sebatas sahabat kentelnya saja, bukan tidak mungkin jika di ajukan pertanyaan seperti ini, sistem kerja jantungnya akan meningkat lebih cepat. Ia takut, kasus seperti di film-film akan terjadi juga padanya.

“Yaelah gitu aja baper,” ledek Jefri sambil tertawa kemudian mulai menjalankan mobilnya.

Tak butuh waktu lama bagi dua anak manusia itu untuk sampai ke salah satu mall di kotanya. Pasalnya jarak rumah dengan tempat yang mereka tuju tidaklah begitu jauh, hanya memakan waktu sekitar tigapuluh menit saja. Jefri tampak memilah buku-buku fiksi ilmiah yang tersusun rapih di rak sedangkan Kiran hanya membuntuti pria jangkung itu dari tadi. Cewek itu tidak ada minat baca sama sekali. Kiran plus buku? Jangan harap. Satu jam membaca sebuah buku merupakan sebuah rekor bagi Kiran.

Kiran terus mengekori Jefri sampai pada akhirnya cowok itu berbalik badan, membuat dahi Kiran dengan sukses menghantam dada bidang cowok di depannya itu. Kiran mengaduh kemudian mengusap dahinya.

"Jangan ngintilin gue kek, kayak mbak-mbak yang jaga toko lo ngintilin mulu, gue jadi nggak nyaman anjrit hehe..," ucap Jefri terkekeh kecil. "Cari jodoh sana, kan udah make up."

"Nggak mau, mau jodoh sama lo aja."

"Gue yang ogah,” tolak Jefri.

"Dih? Kenapa?" rengek Kiran.

"Lo jelek."

"Jefri bangsat,” cela Kiran.

"Iya emang gue bangsat. Makanya sono main sendiri." Jefri memutarkan tubuh Kiran lalu mendorongnya pelan. Selepas itu ia berlari kecil meninggalkan Kiran yang masih terdiam di tempatnya.

Suasana toko buku saat ini tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa para anak muda yang kira-kira seumuran dengan Kiran dan Jefri. Sebenarnya Kiran benar-benar tidak tahu harus membaca atau bahkan membeli buku apa. Karena Kiran sendiri bukan maniac buku-buku seperti novel atau yang lainnya.

Setelah menarik nafas panjang dan menghentakkan kakinya kesal, Kiran memutuskan untuk melihat-lihat buku resep masakan dan melihat referensi-referensi menu makanan untuk diberikan pada Jefri agar cowok itu memasakkannya nanti.

Tangannya mengambil satu buku yang sudah terbuka segelnya dan mulai melihat isi dalamnya. Matanya berbinar kala melihat gambar masakan di dalam buku itu.

"Wih, kudu minta Jefri buatin nih!" Kiran mengambil ponsel dari tasnya dan memotret bahan serta cara penyajian salah satu makanan dengan bahan utama cumi tersebut. Kemudian cewek itu membuka aplikasi Line dan mengirimi Jefri pesan.

Jep, nanti bikin ini setelah pulang dari sini. Sebagai ucapan terima kasih karena sudah di temani kemari. Oke. No debat, bye!’

Menyimpan ponsel ke dalam tasnya kembali, tiba-tiba Kiran di kagetkan dengan suara buku jatuh dari arah samping kirinya. Benar saja, ada satu buku resep masakan yang tergeletak di lantai. Memang aneh dengan buku yang jatuh dengan sendirinya itu, namun entah kenapa Kiran memberanikan diri mendekati buku itu. Perlahan, cewek itu membungkuk, mengambil buku itu dan menaruhnya kembali ke tempatnya.

Namun, ada satu pemandangan yang membuat alis Kiran berkerut. Di depan sana kini ada seorang laki-laki yang terlihat seumuran dengan Kiran sedang telungkup di lantai sambil membaca sebuah buku. Tangan kirinya ia gunakan untuk menumpu dagu sedangkan tangan kanannya untuk membalikkan halaman buku, kakinya ia gerak-gerakkan ke atas dan ke bawah secara bergantian. Laki-laki itu membaca buku seperti di rumah neneknya sendiri. Padahal jika memang benar dia seumuran dengan Kiran, seharusnya ia sudah tahu etika ataupun peraturan yang berlaku di sini walaupun ia melakukan hal tersebut di sudut pojok yang jarang di lewati orang lain.

"Heh—" Kiran ini sekali menegurnya kalau saja ponselnya tak berbunyi. Ada pesan dari Jefri yang menyuruhnya segera kembali menemuinya. Melupakan laki-laki di lantai tadi, Kiran mendesis dan segera berlalu menyusul Jefri sebelum sahabatnya itu meninggalkannya. Namun tanpa cewek itu sadari, ada sepasang bola mata besar yang menatap kepergiannya.

Cewek itu…” ia menggumam sambil menatap kepergian perempuan di depannya tadi.

“Dia bisa lihat gue?”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status