Share

Keluarga Rivan-Dra

“DEEEK! BANGUUN!”

Suara berat Gibran memenuhi kamar Kiran, membuat cewek itu mengernyitkan dahi. Sedikit sebal karena abang satu-satunya itu mengganggu tidur paginya yang nyenyak Ia tambah sebal saat merasakan kasurnya bergoyang berkat Gibran yang seenak jidat melemparkan tubuhnya sendiri yang besar ke atas kasur Kiran.

Yap, inilah Gibran Rakabumi Rivan, masnya Kiran yang punya visual bukan main. Jangan tanya mengapa namanya sama seperti nama anak presiden. Kiran tidak tahu, bahkan kedua orang tuanya juga tidak tahu-menahu. Tapi yang jelas nama itu membuat Gibran tambah terkenal di kalangan teman sebaya, kakak kelas cantik, adik-adik kelas gemas, dan juga sekarang para kakak tingkat beken.

Minggir woi anak presiden mau lewat!’ tengilnya Gibran waktu masih duduk di bangku SMA. Sekarang, cowok jangkung yang tingginya sebelas duabelas sama tiang lampu pinggir jalan itu sudah berkuliah. Semester 4 sih, tapi crush-nya di kampus udah nggak kehitung lagi. Eits, ingat, crush boleh banyak, tapi inceran untuk menjadi crush sehidup semati hanya satu di hati. Dulu, sekarang, nanti, selamanya! Di hatinya hanya ada nama Wanda, mahasiswi fakultas kedokteran gigi, sasaran hati tak tergapai dari zaman SMA. Nggak berani nembak karena takut, muka Wanda galak, katanya. Kembali ke visual Gibran. Kalian tahu Chanyeol dari EXO? Yaa, kalian bisa bayangkan visualnya seperti itu, tapi versi lokal. Kalau kalian bertemu Gibran, kalian pasti akan langsung jatuh cinta!

Lalu bagaimana dengan Rendi? Tentu saja visual Rendika Juniar Rivan ini tidak kalah dari dua kakaknya. Dengan wajah itu dia bisa saja di angkut menjadi member ke-24 NCT, lho! Orang rumah suka memanggil cowok yang baru menduduki bangku SMA ini dengan sebutan ‘Renjun’ singkatan dari nama panjangnya. Hobinya basket tapi nggak tinggi-tinggi. Tingginya beda banget sama Gibran. Rendi agak dingin kalau di sekolah, tapi bukan berarti tidak bisa bergaul. Ada Mahes si Canadian Boy salah satunya yang notabennya sudah berteman lama sejak SMP. Dan karena kedinginan Rendi ini mampu memikat hati lawan jenis baik itu teman sebayanya maupun kakak kelas. Tapi Rendi belum menunjukkan minatnya dalam urusan percintaan. Tidak ada yang bisa menyingkirkan game, katanya.

Kiran berdecak dan menggeram karena kelakuan Gibran. Cewek itu lalu membuka sedikit matanya, dan betapa terkejutnya ia saat melihat Gibran yang berada sangat dekat dengan wajahnya, sedang menatap Kiran dengan matanya yang melotot.

“Apa sih, Mas?! Kaget tahu nggak?!” pekik Kiran mendorong wajah Masnya yang tampan.

Gibran terkekeh-kekeh. Hobi betul manusia satu ini mengusili adik perempuan satu-satunya itu. Sungguh, Kiran akan sangat senang saat Gibran pulang larut atau bahkan tidak pulang sama sekali karena kepentingan perkuliahannya. Rumah terasa tentram tanpa keberadaan Gibran karena cewek itu tidak akan dijahili sang abang, dan tentu saja tidak akan ada suara teriakan melengking milik Kiran yang akan keluar.

Pernah beberapa tahun lalu saat Kiran baru saja pulang ke sekolah dan memasuki kamarnya, ia kaget bukan main saat menemukan anak ayam berwarna pink tengah bertengger di ujung kasurnya. Anak ayam itu hanya bersuara ‘piyak-piyak’ dengan keras. Dan tahu apalagi yang membuatnya kesal? Anak ayam itu pup! Iya, kotoran anak ayam itu ada di beberapa tempat di kamar Kiran. Salah satunya ada di atas kasurnya. Rasanya Kiran ingin menangis saat itu juga saat melihat secarik kertas putih bertuliskan ‘Anak ayam khusus untuk Kiran! Warna pink. Lucu kan?! Dijaga ya anak ayamnya. Oh iya, nama ayamnya Babi. Ttd Mas Gibran yang ganteng.’ Kiran langsung mengambil anak ayam itu dan meneriaki nama Gibran ke penjuru rumah. Bisa-bisanya dia menaruh anak ayam itu di kamar Kiran. Dengan warna pink pula, padahal kan Kiran tidak suka warna pink. Saat itu, Kiran sampai mengadu ke Ayah tentang kelakuan Gibran. Tentu Gibran di tegur oleh ayah, tapi Gibran tetap Gibran. Ia tidak akan pernah jera menjahili adiknya.

Bagaimana nasib ayam itu? Setelah menasihati Gibran dan bersama Bunda membersihkan kamar Kiran, Ayah Rivan membelikan kandang kecil untuk si ayam di luar rumah.. Awalnya Kiran tidak mau memiliharanya karena ayam itu jahat, sudah buang kotoran di kamarnya, warnanya juga pink. Namun kala itu ayah memberitahunya satu hal;

Kiran… nak, jangan cepat mengambil keputusan hanya karena kamu tidak suka atau sesuatu itu sudah berbuat tidak baik padamu. Setidaknya berilah dia sekali kesempatan lagi untuk menunjukkan bahwa dia adalah sesuatu yang tepat untuk di pertahankan, di perjuangkan, atau bahkan disayang. Ayam ini… sebenarnya dia bukan berwarna pink, lho. Kamu tahu kan warna asli ayam ini kuning? Kenapa nggak kita tunggu saja sampai warnanya luntur sendiri sembari kamu pelihara dan memberinya makan dan minum tiap hari? Dan juga untuk masalah kamarmu… itu bukan salah si ayam. Gibran saja yang iseng menguncinya di dalam sana, terus pas dia mau buang air nggak tahu harus kemana. Sebenernya ayah tadi nggak tahan pas bersihin kamarmu, habisnya bauuu…” Ayah dan Kiran tertawa. “Jadi…, kasih ayam ini kesempatan, ya? Siapa tahu di esok hari, dia bakal berguna untukmu.”

Karena perkataan ayahnya, Kiran memelihara ayam itu sampai sang ayam besar. Dengan nama yang awalnya di berikan Gibran, Babi, ia menghabiskan harinya selain untuk belajar tapi juga untuk memberi makan Babi. Untuk urusan kebersihan kendang, ia sudah sepakat untuk membersihkannya bersama-sama Gibran setiap hari. Sedangkan Rendi? Ia hanya menyimak kedua kakaknya sambil bermain basket di halaman depan.

Dan benar saja, beberapa bulan kemudian saat ayam itu sudah tumbuh menjadi ayam gemuk dan sehat, Ayah sengaja memotongnya dan di masak oleh Bunda menjadi sop ‘Babi’. Itu adalah pengalaman pertama Kiran melihat ayam disembelih. Saat itu Kiran tidak tega untuk memakan sop daging Babi yang sudah ia rawat dengan sepenuh hati.

Walau Gibran sangat jahil pada Kiran, tapi saat ada orang lain yang usil pada Kiran, Gibran adalah orang terdepan yang akan melawan. Pernah saat kecil dan Kiran dalam perjalanan pulang dari tempat les. Segerombolan anak gang sebelah yang seumuran Gibran mencegat Kiran berjalan. Kiran yang waktu itu masih kelas empat SD tidak tahu harus bagaimana hanya menunduk dan berusaha melewati gerombolan itu. Bukannya Kiran penakut, hanya saja mereka banyakan. Coba saja hanya ada si anak gendut sang dalang dari semua ini, pasti Kiran berani. Dicegatnya Kiran ini terpicu karena Kiran yang tak sengaja menjatuhkan sepotong cokelat ke buku Jayden, si anak gendut itu. Padahal Kiran sudah meminta maaf tapi tak berhasil. Untungnya, Gibran yang kala itu disuruh Bunda untuk membeli garam lewat. Melihat adiknya yang ketakutan, Gibran langsung turun dari sepedanya tanpa menyetandarkannya terlebih dulu lalu menghampiri gerombolan anak itu. Memang dari dulu Gibran ini terkenal dengan istilah ‘jagoan kampung’. Jadi saat Gibran menunjukkan diri di hadapan anak-anak itu, mereka langsung kabur kecuali Jayden.

Adik kamu duluan yang ngotorin buku ku!

ucap Jayden kecil.

Aku nggak sengaja,” ucap Kiran kecil. ‘kan aku juga udah minta maaf!

Tuh denger! Adikku nggak sengaja.

Tetap aja, aku mau balas dendam! Masa buku aku kotor, buku dia enggak?

Gibran melihat tangan Jayden, dan benar saja di sana dia sudah menggenggam sebuah cat cair. Dengan gerakan cepat, Jayden mengotori baju Kiran dengan cat yang di bawanya. Membuat Kiran kaget begitupun dengan Gibran. Walau tidak terkena banyak, hanya sedikit noda warna biru yang terkena di baju putih Kiran, karena Jayden yang sudah terlebih dahulu berlari takut, tetap saja membuat Gibran geram. Lantas ia melemparkan sandal homypednya dan straight! Mengenai belakang kepala Jayden dengan mulus, membuat anak itu menangis dan mengadu ke mamanya. Karena kejadian tersebut, Mama Jayden menghampiri rumah kakak beradik itu dengan Jayden yang masih menangis tentunya untuk menuntut permintaan maaf dari Gibran dan memperbaiki hubungan antara dua bocah itu.

Dia duluan yang ganggu Kiran, Yah!

sungut Gibran kecil. Tentu ia tidak mau meminta maaf sendiri karena yang duluan mencari masalah adalah Jayden.

Ayah yang mendengarnya saat itu hanya tersenyum dan mengusap tengkuk anak sulungnya itu. “Gibran, meminta maaf itu nggak membuat seseorang menjadi rendah atau tinggi. Tapi ingat, orang yang memaafkan pasti berhati baik dan besar.

Berkat bujukan ayahnya, Gibran akhirnya berbaikan dengan Jayden. Dan siapa sangka, mereka menjadi sohib sejak itu. Apalagi sejak SMA, mereka membentuk sebuah band dengan kedua lelaki itu yang memegang bass, Bagas yang menjadi vokalis, dan Waldo yang memegang drum. Dan sedikit rahasia kecil, Jayden naksir Kiran! Tapi minder duluan ketika mengingat kejadian waktu kecil yang memalukan itu. Jadi… Jayden mundur.

“Katanya mau bantu mandiin Sheryl? Bangun, dong!” Gibran menyingkap selimut Kiran dan menarik tangan adiknya itu. Kiran berteriak kecil, padahal ia masih ingin tidur dan bermalas-malasan di hari minggu ini.

“Masih pagi, nanti sore aja bisaaa…”

“Nggak bisa, cantik, nanti sore mau aku pakai ke rumah Bagas sama Jay!”

“Yaudah, skip minggu depan.”

“Ingkar janji mulu, mau kali jadi orang munafik?”

Kiran mendelik dan menggeleng cepat. “Enggak mauu!”

“Yaudah buru cuci muka, maem bentar, abis itu mulai menggosok badan Sheryl yang seksi itu sampai kinclong!”

“Yaelah, Sheryl mandi sendiri kek!” gerutu Kiran sembari turun dari kasurnya.

“Sheryl kan benda mati, gimana bisa mandi sendiri?” ucap Gibran mengekori adiknya yang mulai turun ke lantai bawah rumah mereka.

Yaa, Sheryl yang mereka maksud adalah motor matic besar keluaran brand ternama milik Gibran yang sudah dua minggu tidak di cuci. Sebelumnya Kiran sudah berjanji akan mencucinya demi sepaket croffle yang Gibran belikan dua minggu lalu.

Ia berjalan gontai menuju halaman depan, melewati Rendi yang menonton kakaknya berjalan seperti zombi, tidak ada kehidupan, sambil menyemili popcorn yang sudah Bunda bikin pagi ini sebelum berangkat ke butik. Bunda Dara, Ibunda ketiga saudara ini, memiliki sebuah butik yang cukup ramai setiap harinya di pusat kota Tangerang Selatan. Dara's Boutique namanya.

Sungguh Kiran sangat malas menyuci motor Gibran pagi –yang sebenarnya sudah menuju siang ini. Apakah ia harus kabur ke rumah Jefri untuk menghindari kewajibannya satu ini? Tanpa cuci muka terlebih dahulu? Kiran tidak peduli apa kata Jefri dan keluarganya tentang penampilannya nanti, yang ia pedulikan adalah apa kata tetangganya jika melihat penampilan terburuknya itu? Dan ketika ia memikirkan kalau saja ia bertemu Dirga di jalan dengan keadaannya yang seperti itu, mau taruh dimana wajah Kiran setelahnya?

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status