공유

Say Hai..

작가: EnKa Jasmine
last update 게시일: 2022-02-19 15:49:29

Hari kian menua. Berulang kali aku melihat jam tua yang terpampang di dinding. Namun, tak ada tanda-tanda bagi segera datang. Ingin rasanya aku terpejam beberapa saat tapi pikiranku melayang entah kemana. Bayangan pesan singkat juga foto yang masuk dalam ponselku siang tadi sukses mengusik pikiranku. Kenapa harus datang lagi? Aku benar-benar ingin bertaubat. Tak ingin berurusan dengan dunia malam itu lagi.

Kesal tak kunjung bisa terlelap, aku memutuskan untuk keluar kamar berbekal senter
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Racun di Meja Makan

    Pagi hari di rumah utama biasanya diliputi keheningan yang menenangkan, diselingi aroma kopi hangat dan gemericik air manjur di kolam tengah. Namun, pagi ini suasana di meja makan terasa begitu mencekik.Aku berdiri di dekat pintu penghubung pantry, memegang baki berisi cangkir teh herbal hangat untuk Bu Wini. Di meja makan kayu jati yang luas itu, Bu Wini duduk di ujung meja, didampingi Mbak Nisa yang tampak pucat dengan perut kehamilannya yang membuncit. Di seberangnya, Erick duduk bersedekap dada dengan wajah yang dipoles senyum miring yang teramat licik.Arkan melangkah masuk ke ruang makan dengan kemeja kerja berwarna abu-abu gelap yang rapi. Langkah kakinya yang tegap dan berirama seketika menarik perhatian semua orang di ruangan itu."Pagi, Bu," sapa Arkan singkat seraya mencium tangan ibunya penuh hormat, lalu mengambil posisi duduk di sebelah Bu Wini."Pagi, Arkan," sahut Bu Wini lembut.Sebelum Arkan sempat meraih cangkir kopinya, Erick b

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Rencana baru Erick

    Gertakan Erick di dapur pagi itu meninggalkan gema kegelisahan di dalam dadaku. Namun, ada satu hal yang berbeda kali ini: aku tidak lagi merasa sendirian. Benteng ketakutan yang biasanya memenjarakanku perlahan-lahan runtuh, digantikan oleh rasa percaya yang makin mengakar kuat pada sosok pria tegap yang berdiri di depanku.Arkan tidak membiarkan kecurigaan Erick merusak harinya. Setelah memastikan kondisi Bu Wini stabil dan meminum obatnya, Arkan memintaku menemuinya di taman belakang rumah utama. Tempat di mana bunga-bunga bougenville milik Bu Wini sedang mekar lebat.Sore itu, matahari meluncur pelan di ufuk barat, membiaskan warna keemasan yang hangat di sepanjang teras belakang.Aku duduk di kursi kayu taman, memangku buku sketsa tebal bercover kulit yang diberikan Arkan beberapa hari lalu. Jemariku yang tadinya gemetar kini bergerak lebih luwes, menggoreskan pensil 2B di atas kertas tekstur padat. Di hadapanku, Arkan duduk di kursi berhadapan, be

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Serangan Erick

    Uang cek berjumlah lima puluh juta rupiah itu menjadi saksi bisu runtuhnya seluruh benteng pertahanan yang kubangun gila-gilaan selama ini. Malam itu, Arkan tidak membiarkanku mengurus pemerasan Nadine sendirian. Pria itu menghubungi tim hukum perusahaan dan asisten pribadinya untuk menemui Nadine di sebuah restoran di luar kompleks.Bukan hanya menyerahkan uang secara resmi sebagai ganti penyerahan seluruh bukti foto dan dokumen lama di Surabaya, Arkan juga membuat Nadine menandatangani surat perjanjian kerahasiaan (Non-Disclosure Agreement) bernilai hukum tinggi. Jika selembar saja foto atau isu tentang masa laluku bocor ke publik atau keluarga ini, Nadine tidak hanya akan dipenjara atas tuduhan pemerasan, tetapi seluruh asetnya akan disita.Wanita iblis dari masa laluku itu dibuat tak berkutik. Nadine pergi meninggalkan kota malam itu juga dengan ketakutan luar biasa setelah berhadapan dengan pengacara-pengacara bentukan Arkan.Namun, di dalam kamark

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Batas Waktu Malam Hari

    Pukul delapan malam. Lengang yang mencekik perlahan merayapi seluruh sudut rumah besar ini.Jarum jam dinding di kamar pelayan terasa berdetak jauh lebih kencang daripada biasanya. Setiap detakannya bagaikan bunyi ketukan palu keadilan yang siap meremukkan sisa kepalaku. Satu jam lagi. Hanya tersisa enam puluh menit sebelum ancaman Nadine menjadi kenyataan.Aku duduk bersimpuh di tepi ranjang sempit, meremas ponsel murah di genggamanku hingga buku-buku jariku memutih. Layar ponsel itu menampilkan angka saldo di rekening tabunganku: dua juta empat ratus ribu rupiah. Angka yang teramat menyedihkan jika dibandingkan dengan angka lima puluh juta rupiah yang dituntut oleh Nadine.Bagaimana aku bisa mendapatkan sisa puluhan juta itu dalam waktu singkat? Meminjam pada Mbok Nah jelas mustahil. Meminjam pada Bu Wini atau Mbak Nisa? Sama saja dengan meletakkan leherku sendiri di atas meja pemenggalan. Mereka pasti akan bertanya untuk apa uang sebesar itu dibutuhkan.

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Ancaman di Balik Pagar

    Pandanganku mendadak kabur. Seluruh persendianku serasa diloloskan paksa saat sepasang mata tajam berias tebal itu menatapku dari balik kaca mobil.Nadine.Wanita itu melangkah keluar dari mobil sedan hitamnya. Gaun ketat berwarna merah menyala dan aroma parfum menyengat yang menguar dari tubuhnya terasa begitu asing dan sangat menakutkan. Di lingkungan kompleks perumahan yang tenang ini. Langkah kakinya yang diampu sepatu hak tinggi terdengar menyentak, mendekatiku yang mematung di samping tempat sampah besar dekat gerbang."Ternyata benar dugaan kawan-kawan di Surabaya," ujar Nadine dengan nada mengejek, menyilangkan kedua tangan di dada. Matanya menyapu tubuhku dari ujung jilbab hingga ujung seragam suster putih polos yang kukenakan. "Meylissa... si primadona yang tiba-tiba hilang ditelan bumi, ternyata menyamar jadi suster alim di rumah orang kaya.""N-Nadine..." suaraku tercekat di tenggorokan, rapat dan bergetar parah. Jantungku berpacu gila-gilaan.

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Jejak yang Tercium

    Lari dari ruang laundry sore itu terasa seperti melarikan diri dari medan perang. Dadaku sesak, napasku berburu kencang, dan air mata rasanya tak mau berhenti menetes. Aku mengurung diri di kamar mandi ruang belakang selama belasan menit, membasuh wajahku berulang kali dengan air dingin hingga rasa sembap di mataku sedikit berkurang.Aku harus kuat. Aku harus mempertahankan benteng ini. Semakin Arkan berusaha mendekat dan menunjukkan kebaikannya, semakin keras pula aku harus menepisnya. Sebab aku tahu, begitu Arkan tahu siapa aku sebenarnya di masa lalu, kebaikan itu akan berubah menjadi belati tajam yang menusukku tanpa ampun. Lebih baik aku yang menyakiti diriku sendiri sekarang daripada harus melihat tatapan kecewa dan jijik dari pria itu nanti.Namun, Arkan bukanlah pria yang mudah menyerah.Setelah penolakan keras yang kuberikan di ruang laundry, suasana rumah utama berubah menjadi hening yang menegang. Arkan tidak lagi berusaha memanggil

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Penebusan

    Aku memutar-mutar ponsel di genggamanku. Sambil berusaha menerawang kata apa yang pantas untuk kukatakan ketika berbicara dengan Teh Anggi. Dari pesan singkat yang ia titipkan pada bu Luluk, sudah pasti Teh Anggi sudah mengetahui semuanya. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa marah

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Pulang

    Aku menatap gedung mencakar langit di hadapanku penuh haru. Syukur, masih ada kesempatan bagiku untuk menikmati keMaha baikan-Nya. Dua bulan tinggal di sini, sudah cukup membuatku tersiksa. Gedung megah namun mencekam. Tak ada tawa bahagia di dalamnya.Aku menengadahkan kepala, kupejamkan

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Ini Inginku

    Aku masih bergeming. Menatap foto keluarga yang tersimpan di galeri ponsel. "Buat apa sih Teh foto bersama?" Protesku. Hari itu Teh Anggi memaksaku pergi ke studio foto. Untuk foto keluarga katanya. Padahal menurutku foto pakai kamera ponsel dengan kecanggihannya saat ini, itu sudah cukup.

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Titik Nol Diri

    Aku terlahir sempurna. Cantik dan lumayan pintar. Namun bukan berarti tanpa kekurangan. Baik buruk kita di masa lalu tetaplah masa lalu yang hanya bisa dikenang sebagai evaluasi diri agar menjadi manusia yang lebih baik.Arini, begitu orang memanggilku. Nama indah yang disematkan Aba

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status