LOGINHari kian menua. Berulang kali aku melihat jam tua yang terpampang di dinding. Namun, tak ada tanda-tanda bagi segera datang. Ingin rasanya aku terpejam beberapa saat tapi pikiranku melayang entah kemana. Bayangan pesan singkat juga foto yang masuk dalam ponselku siang tadi sukses mengusik pikiranku. Kenapa harus datang lagi? Aku benar-benar ingin bertaubat. Tak ingin berurusan dengan dunia malam itu lagi.
Kesal tak kunjung bisa terlelap, aku memutuskan untuk keluar kamar berbekal senterPrahara di meja makan kemarin meninggalkan bekas luka yang cukup dalam pada atmosfer rumah utama. Erick tak lagi berani terang-terangan melontarkan tuduhan di depan Bu Wini setelah diancam akan diusir. Namun, ketenangan ini terasa semu, bagaikan permukaan laut yang tenang tepat sebelum badai besar datang menerjang.Pagi itu, Mbak Nisa mendatangi dapur tempatku menyiapkan obat dan nutrisi pagi untuk Bu Wini. Wajah Mbak Nisa yang biasanya ramah dan lembut kini tampak diliputi keraguan. Perutnya yang makin membuncit membuat langkahnya agak berat."Mey," panggil Mbak Nisa pelan, berdiri di dekat counter dapur.Aku segera menghentikan aktivitas mengaduk susu kalsium dan menunduk hormat. "Iya, Mbak Nisa? Ada yang bisa saya bantu?"Mbak Nisa memperhatikan gerak-gerikku sebentar, lalu menghela napas panjang. "Soal kejadian kemarin di meja makan... Mbak minta maaf ya kalau Mas Erick bicara terlalu keras padamu."Aku tersentak pelan. Tak menduga Mbak Nisa ak
Pagi hari di rumah utama biasanya diliputi keheningan yang menenangkan, diselingi aroma kopi hangat dan gemericik air manjur di kolam tengah. Namun, pagi ini suasana di meja makan terasa begitu mencekik.Aku berdiri di dekat pintu penghubung pantry, memegang baki berisi cangkir teh herbal hangat untuk Bu Wini. Di meja makan kayu jati yang luas itu, Bu Wini duduk di ujung meja, didampingi Mbak Nisa yang tampak pucat dengan perut kehamilannya yang membuncit. Di seberangnya, Erick duduk bersedekap dada dengan wajah yang dipoles senyum miring yang teramat licik.Arkan melangkah masuk ke ruang makan dengan kemeja kerja berwarna abu-abu gelap yang rapi. Langkah kakinya yang tegap dan berirama seketika menarik perhatian semua orang di ruangan itu."Pagi, Bu," sapa Arkan singkat seraya mencium tangan ibunya penuh hormat, lalu mengambil posisi duduk di sebelah Bu Wini."Pagi, Arkan," sahut Bu Wini lembut.Sebelum Arkan sempat meraih cangkir kopinya, Erick b
Gertakan Erick di dapur pagi itu meninggalkan gema kegelisahan di dalam dadaku. Namun, ada satu hal yang berbeda kali ini: aku tidak lagi merasa sendirian. Benteng ketakutan yang biasanya memenjarakanku perlahan-lahan runtuh, digantikan oleh rasa percaya yang makin mengakar kuat pada sosok pria tegap yang berdiri di depanku.Arkan tidak membiarkan kecurigaan Erick merusak harinya. Setelah memastikan kondisi Bu Wini stabil dan meminum obatnya, Arkan memintaku menemuinya di taman belakang rumah utama. Tempat di mana bunga-bunga bougenville milik Bu Wini sedang mekar lebat.Sore itu, matahari meluncur pelan di ufuk barat, membiaskan warna keemasan yang hangat di sepanjang teras belakang.Aku duduk di kursi kayu taman, memangku buku sketsa tebal bercover kulit yang diberikan Arkan beberapa hari lalu. Jemariku yang tadinya gemetar kini bergerak lebih luwes, menggoreskan pensil 2B di atas kertas tekstur padat. Di hadapanku, Arkan duduk di kursi berhadapan, be
Uang cek berjumlah lima puluh juta rupiah itu menjadi saksi bisu runtuhnya seluruh benteng pertahanan yang kubangun gila-gilaan selama ini. Malam itu, Arkan tidak membiarkanku mengurus pemerasan Nadine sendirian. Pria itu menghubungi tim hukum perusahaan dan asisten pribadinya untuk menemui Nadine di sebuah restoran di luar kompleks.Bukan hanya menyerahkan uang secara resmi sebagai ganti penyerahan seluruh bukti foto dan dokumen lama di Surabaya, Arkan juga membuat Nadine menandatangani surat perjanjian kerahasiaan (Non-Disclosure Agreement) bernilai hukum tinggi. Jika selembar saja foto atau isu tentang masa laluku bocor ke publik atau keluarga ini, Nadine tidak hanya akan dipenjara atas tuduhan pemerasan, tetapi seluruh asetnya akan disita.Wanita iblis dari masa laluku itu dibuat tak berkutik. Nadine pergi meninggalkan kota malam itu juga dengan ketakutan luar biasa setelah berhadapan dengan pengacara-pengacara bentukan Arkan.Namun, di dalam kamark
Pukul delapan malam. Lengang yang mencekik perlahan merayapi seluruh sudut rumah besar ini.Jarum jam dinding di kamar pelayan terasa berdetak jauh lebih kencang daripada biasanya. Setiap detakannya bagaikan bunyi ketukan palu keadilan yang siap meremukkan sisa kepalaku. Satu jam lagi. Hanya tersisa enam puluh menit sebelum ancaman Nadine menjadi kenyataan.Aku duduk bersimpuh di tepi ranjang sempit, meremas ponsel murah di genggamanku hingga buku-buku jariku memutih. Layar ponsel itu menampilkan angka saldo di rekening tabunganku: dua juta empat ratus ribu rupiah. Angka yang teramat menyedihkan jika dibandingkan dengan angka lima puluh juta rupiah yang dituntut oleh Nadine.Bagaimana aku bisa mendapatkan sisa puluhan juta itu dalam waktu singkat? Meminjam pada Mbok Nah jelas mustahil. Meminjam pada Bu Wini atau Mbak Nisa? Sama saja dengan meletakkan leherku sendiri di atas meja pemenggalan. Mereka pasti akan bertanya untuk apa uang sebesar itu dibutuhkan.
Pandanganku mendadak kabur. Seluruh persendianku serasa diloloskan paksa saat sepasang mata tajam berias tebal itu menatapku dari balik kaca mobil.Nadine.Wanita itu melangkah keluar dari mobil sedan hitamnya. Gaun ketat berwarna merah menyala dan aroma parfum menyengat yang menguar dari tubuhnya terasa begitu asing dan sangat menakutkan. Di lingkungan kompleks perumahan yang tenang ini. Langkah kakinya yang diampu sepatu hak tinggi terdengar menyentak, mendekatiku yang mematung di samping tempat sampah besar dekat gerbang."Ternyata benar dugaan kawan-kawan di Surabaya," ujar Nadine dengan nada mengejek, menyilangkan kedua tangan di dada. Matanya menyapu tubuhku dari ujung jilbab hingga ujung seragam suster putih polos yang kukenakan. "Meylissa... si primadona yang tiba-tiba hilang ditelan bumi, ternyata menyamar jadi suster alim di rumah orang kaya.""N-Nadine..." suaraku tercekat di tenggorokan, rapat dan bergetar parah. Jantungku berpacu gila-gilaan.
Aku duduk di lantai, meluruskan kaki sambil menyandarkan punggung di dinding teras kosku. Seharian penuh keliling kota Jakarta, membuat kaki terasa kaku, belum lagi lecet di kaki karena terhimpit flatshoes yang kupakai tanpa kaus kaki. Meskipun begitu, belum juga ada ha
Aku mengusap peluh yang membahasi kening dengan punggung tanganku. Sudah hampir tengah hari, namun belum juga ada satupun perusahaan yang menerimaku. Apalagi hanya dengan ijazah SMA tanpa embel-embel sertifikat ketrampilan.Aku duduk di samping taman, salah satu perusahaan ternama di Jakar
Aku memijit pelipis yang terasa berdenyut. Sudah beberapa hari menunggu, namun tak ada satupun jawaban dari teman-teman terdekatku tentang lowongan pekerjaan yang aku cari. Jangankan menjawab ada juga yang hanya me-read pesan dariku. Kuletakkan kembali dompet yang hanya tersisa dua lemba
Aku melempar kaleng minum bekas minumku ke dalam tempat sampah di sudut kamarku. Tempat sampah berbahan plastik itu hampir penuh dengan plastik-plastik bekas snack. Sudah tiga hari kubiarkan menumpuk di sudut ruang. Jika kak Dini melihatnya sudah pasti dia akan mengelus dada. Sebenarnya aku bukan







