แชร์

Para Pejuang

ผู้เขียน: EnKa Jasmine
last update วันที่เผยแพร่: 2021-07-23 12:45:43

“Ngelamun terus Mbaknya,” ucap tukang es cendol.

“Enggak kok,” jawabku.

Penjual es yang masih terlihat muda itu merapikan gelas-gelas yang sudah di rapikan dalam gerobak setelah mencuci dan mengelapnya bersih. Rasanya ia memperhatikanku sedari tadi. Nemun, ia membuang muka saat sesekali pandangan mata kami bertemu. “Mbak, sedang cari kerja?”

Aku meneguk cairan es yang ada di tenggorokanku sebelum menjawab pertanyaannya. “Iya, Bang, Tapi bekum dapat juga, efek pandemi m

EnKa Jasmine

Yeyyy Mey Upp lagi. Selamat membaca...

| ชอบ
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Keputusan di Lorong Rumah Sakit

    Bau karbol yang menyengat dan derit roda brankar yang didorong terburu-buru mengisi koridor UGD. Sinar lampu neon yang dingin menimpa lantai rumah sakit, memantulkan bayangan orang-orang yang berdiri dalam kepanikan.Bu Wini berada di dalam ruang penanganan kritis. Dokter dan perawat berpacu dengan waktu untuk menstabilkan kondisi jantung beliau yang mendadak drop akibat guncangan emosional yang hebat.Aku terduduk di salah satu kursi besi dingin di luar ruangan. Pakaian gamisku kotor oleh debu lantai tempatku berlutut tadi, dan jilbabku berantakan. Air mataku sudah mengering, menyisakan rasa perih yang menjalar hingga ke dada.Di ujung koridor, suara langkah kaki tergesa-gesa memecah keheningan yang mencekam. Arkan melangkah kembali setelah mengurus administrasi UGD. Wajahnya pucat, namun rahangnya mengatup rapat memendam kemarahan yang amat pekat.Erick yang berdiri di dekat pintu kaca UGD bersama Mbak Nisa melipat tangannya di dada. Meski raut wajahnya

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Serangan di Tengah Pesta

    Rumah utama hari itu diselimuti suasana meriah dan hangat. Keluarga besar dan beberapa kerabat dekat berkumpul di ruang tengah yang dihiasi bunga-bunga segar untuk menghadiri acara pengajian dan selamatan tujuh bulanan kehamilan Mbak Nisa.Sebagai suster rumah tangga sekaligus mahasiswa PAUD yang dipercaya, aku sibuk membantu Mbok Nah menyajikan hidangan dan memastikan kenyamanan Bu Wini yang duduk anggun di kursi roda. Pakaian gamis krem dan jilbab senada yang kukenakan membuat beberapa tamu kerabat memuji kesopanan dan ketelatenanku.Arkan, yang tampil gagah dengan baju koko putih, berkali-kali mencuri pandang padaku dari sela-sela obrolan dengan para sepupu. Binar matanya memancarkan rasa bangga dan perlindungan yang membuat hatiku sedikit tenang, meski firasat buruk sejak pagi tak berhenti membisiki tengkukku.Namun, ketenangan itu hancur berantakan saat acara utama usai dan sesi ramah tamah dimulai.Erick tiba-tiba berdiri di dekat televisi besar di

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Pengakuan di Bawah Langit Malam

    Malam kian larut, namun gemuruh di dalam dadaku tak kunjung mereda. Setelah kejadian beruntun beberapa hari terakhir mulai dari tuduhan uang kuliah PAUD hingga tatapan tajam Erick. aku merasa tidak bisa lagi terus bersembunyi di balik ketakutan.Aku tahu, menyembunyikan kenyataan dari Arkan yang sudah berkorban begitu banyak untuk melindungiku adalah sebuah ketidakjujuran yang menyiksa.Sekitar pukul sebelas malam, aku melihat pendar cahaya lampu dari ruang studi Arkan di lantai dua masih menyala. Dengan langkah perlahan dan jantung berdebar kencang, aku menaiki tangga kayu, membawa nampan berisi cangkir teh chamomile hangat.Aku mengetuk pintu yang sedikit terbuka itu pelan. "Mas Arkan..."Arkan mendongak dari balik layar laptopnya. Kacamata berbingkai tipis yang dikenakannya saat bekerja memberi kesan makin tegas pada wajah tampannya yang tampak lelah. Begitu melihatku, ia melepaskan kacamatanya dan tersenyum lembut."Mey? Belum tidur? Masuklah,"

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Badai yang Mengintai di Ujung Senyum

    Minggu pagi menyapa rumah utama dengan kehangatan sinar matahari yang menembus sela-sela jendela kaca ruang tengah. Hari ini adalah jadwal libur kuliahku, setelah seharian kemarin memeras pikiran dengan tugas-tugas PAUD.Di teras belakang yang menghadap ke taman, aku mendampingi Bu Wini yang sedang duduk di kursi roda. Setelah berhari-hari tegang akibat gesekan di meja makan, raut wajah wanita tua itu tampak jauh lebih rileks."Mey," panggil Bu Wini lembut seraya menatap kertas-kertas bergambar hewan berukuran besar yang kupangku. "Itu apa yang kamu pegang?"Aku tersenyum manis, memajukan kursiku agar lebih dekat dengan beliau. "Ini media stimulasi kognitif, Bu. Kemarin di kampus, dosen PAUD Mey mengajarkan teknik flashcard dan senam otak ringan. Ternyata, gerakan dan stimulasi visual yang digunakan untuk anak usia dini ini juga sangat efektif membantu pemulihan saraf motorik halus untuk pasien pasca-stroke atau masa pemulihan seperti Ibu."Mata

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Di Antara Tugas dan Hati

    Isak tangisku perlahan mereda, namun rasa sesak di dadaku belum juga menghilang. Kertas-kertas modul kuliah PAUD dan alat menggambar pemberian Arkan terhampar di atas meja kecil kamarku. Malam kian larut, tetapi mataku sama sekali tidak bisa terpejam.Tuduhan Erick dan tatapan kecewa Mbak Nisa tadi sore terus berputar di kepalaku bagaikan kaset rusak. Aku merasa begitu kerdil. Setiap kali aku berusaha berdiri tegak memperbaiki hidup lewat bekerja merawat Bu Wini dan menempuh kuliah PAUD selalu ada saja cara dari Erick untuk menyeretku kembali ke kubangan ketakutan.Ketukan pelan di pintu kamarku membuatku tersentak dari lamunan. Aku terburu-buru mengusap sisa air mata di pipiku, menata jilbab instan yang mengenakan, lalu membuka pintu sedikit.Arkan berdiri di sana. Pria itu sudah mengganti kemeja kerjanya dengan kaos polos berwarna hitam dan celana santai. Di tangannya, ia membawa sebuah nampan berisi segelas susu hangat dan piring kecil berisi roti panggang.

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Perangkap di Ujung Sore

    Kampus sore itu dibasahi sisa-sisa air hujan. Selama empat jam duduk di ruang kuliah PAUD, pikiranku tak sepenuhnya fokus pada teori perkembangan kognitif anak yang dipaparkan dosen. Sebagian besar ruang di kepalaku justru dipenuhi oleh ingatan tentang sentuhan lembut tangan Arkan di puncak kepalaku tadi pagi, serta janji pria itu yang akan menjemputku sore ini.Saat jam perkuliahan berakhir, aku melangkah keluar menuju gerbang kampus. Sebuah mobil SUV hitam yang sangat kukenal sudah terparkir rapi di bawah naungan pohon trembesi.Arkan menurunkan kaca mobilnya, melambai pelan padaku. Wajahnya yang tegas dan tampan tampak sedikit lelah setelah menyelesaikan urusan bisnisnya seharian, namun binar matanya langsung menyala hangat begitu melihatku mendekat."Gimana kuliahnya hari ini?" tanya Arkan saat aku sudah duduk di sampingnya dan memasang sabuk pengaman."Lancar, Mas," jawabku tersenyum tipis. Aku merogoh tas ranselku, mengeluarkan sebuah buku sketsa ke

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Nasi Kotak Pengantar Rindu

    Aku duduk di lantai, meluruskan kaki sambil menyandarkan punggung di dinding teras kosku. Seharian penuh keliling kota Jakarta, membuat kaki terasa kaku, belum lagi lecet di kaki karena terhimpit flatshoes yang kupakai tanpa kaus kaki. Meskipun begitu, belum juga ada ha

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Kesempatan

    Aku mengusap peluh yang membahasi kening dengan punggung tanganku. Sudah hampir tengah hari, namun belum juga ada satupun perusahaan yang menerimaku. Apalagi hanya dengan ijazah SMA tanpa embel-embel sertifikat ketrampilan.Aku duduk di samping taman, salah satu perusahaan ternama di Jakar

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Laki-laki itu

    Aku memijit pelipis yang terasa berdenyut. Sudah beberapa hari menunggu, namun tak ada satupun jawaban dari teman-teman terdekatku tentang lowongan pekerjaan yang aku cari. Jangankan menjawab ada juga yang hanya me-read pesan dariku. Kuletakkan kembali dompet yang hanya tersisa dua lemba

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Maaf

    Aku melempar kaleng minum bekas minumku ke dalam tempat sampah di sudut kamarku. Tempat sampah berbahan plastik itu hampir penuh dengan plastik-plastik bekas snack. Sudah tiga hari kubiarkan menumpuk di sudut ruang. Jika kak Dini melihatnya sudah pasti dia akan mengelus dada. Sebenarnya aku bukan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status