공유

Para Pejuang

작가: EnKa Jasmine
last update 게시일: 2021-07-23 12:45:43

“Ngelamun terus Mbaknya,” ucap tukang es cendol.

“Enggak kok,” jawabku.

Penjual es yang masih terlihat muda itu merapikan gelas-gelas yang sudah di rapikan dalam gerobak setelah mencuci dan mengelapnya bersih. Rasanya ia memperhatikanku sedari tadi. Nemun, ia membuang muka saat sesekali pandangan mata kami bertemu. “Mbak, sedang cari kerja?”

Aku meneguk cairan es yang ada di tenggorokanku sebelum menjawab pertanyaannya. “Iya, Bang, Tapi bekum dapat juga, efek pandemi m

EnKa Jasmine

Yeyyy Mey Upp lagi. Selamat membaca...

| 좋아요
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Penyelamat di balik Ketegangan

    Suasana di dalam dapur rumah utama mendadak sedingin es di kutub utara. Pertanyaan Arkan yang bernada datar namun menuntut itu menggantung berat di udara, menciptakan atmosfer mencekam yang membuat seluruh bulu kudukku berdiri. Jantungku berpacu gila-gilaan karena ketakutan yang membuncah. Pisau dapur di tangan kananku perlahan meluncur turun, namun jemariku yang memegangnya masih bergetar hebat.Erick yang beberapa detik lalu tampak begitu berkuasa dan penuh intimidasi, kini mendadak mengubah raut wajahnya secepat kilat. Ia menarik tangannya yang tadi hampir menyentuh pipiku, lalu berbalik menghadap adiknya dengan tawa renyah yang dipaksakan. Keahlian pria itu dalam memasang topeng kepalsuan benar-benar membuat lambungku mual."Eh, Arkan. Kamu belum berangkat ke kantor?" Erick menepuk bahu Arkan dengan gaya santai, seolah tidak ada hal buruk yang baru saja terjadi di sudut gelap ini. "Ini, Mas cuma mau minta tolong sama suster baru Ibu. Mas tadi nyari Mbak Nisa untuk nanya apa stok b

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Rapuh di balik dingin

    Rapuh di Balik DinginAku menghabiskan sisa hari itu dengan mencurahkan seluruh fokus dan tenaga pada pekerjaan. Berada di dekat Bu Wini adalah satu-satunya benteng pertahananku dari cengkeraman ketakutan yang terus mengintai. Setiap kali aku menginjakkan kaki ke luar kamar, bayang-bayang sosok Erick seolah membuntuti. Tatapan matanya yang penuh ancaman di meja makan tadi pagi masih membakar ingatan, membuat tengkukku dingin dan jemariku refleks bergetar.Namun, di dalam ruangan bertiras lembut ini, di dekat Bu Wini, aku menemukan sedikit ruang untuk bernapas. Aku membantu menyiapkan obat-obatan tepat waktu, merapikan selimut, menyapu lantai kamar hingga tak bersisa debu, dan setia mendengarkan cerita masa lalunya yang panjang.Bu Wini adalah tipe wanita tua yang hangat. Beliau sering menceritakan bagaimana almarhum suaminya membangun keluarga ini dari nol, bagaimana Erick tumbuh menjadi sosok yang keras, dan bagaimana Arkan putra bungsunya selalu menyimpan segala bebannya seorang diri

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Bayangan Masa lalu

    Tangan yang memegang mangkuk sup ayam ini mendadak terasa begitu dingin dan gemetar. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menguasai diri sebelum melangkah keluar dari dapur rumah utama menuju rumah belakang tempat Bu Wini berada pagi ini. Di sana, di meja makan yang melingkar, suara tawa kecil seorang anak perempuan terdengar bersahut-sungguhan dengan suara lembut ibunya.Seharusnya itu menjadi pemandangan keluarga yang hangat. Namun bagiku, itu adalah ruang eksekusi yang siap menguliti lembaran hitam masa laluku."Pagi, Bu Wini, Mbak Nita," sapaku seloroh sembari meletakkan mangkuk sup di tengah meja dengan gerakan sehati-hati mungkin. Aku sengaja menundukkan kepala, menolak untuk mengedarkan pandangan lebih luas."Wah, pas sekali, Mey. Baunya harum sekali, terima kasih ya," sahut Mbak Nita dengan senyum tulus yang begitu manis. Wajahnya memancarkan kebahagiaan seorang ibu yang sedang mengandung anak kedua. Bersih, anggun, dan terhormat. Kontras sekali dengan wanita sepertiku."Sa

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Say Hai..

    Hari kian menua. Berulang kali aku melihat jam tua yang terpampang di dinding. Namun, tak ada tanda-tanda bagi segera datang. Ingin rasanya aku terpejam beberapa saat tapi pikiranku melayang entah kemana. Bayangan pesan singkat juga foto yang masuk dalam ponselku siang tadi sukses mengusik pikiranku. Kenapa harus datang lagi? Aku benar-benar ingin bertaubat. Tak ingin berurusan dengan dunia malam itu lagi.Kesal tak kunjung bisa terlelap, aku memutuskan untuk keluar kamar berbekal senter ponsel. Sengaja aku tidak menghidupkan lampu karena masih terlalu larut untuk bangun. Aku menunju dapur yang berada di lantai satu belakang ruang tamu. Bingung tidak ada yang bisa kukerjakan, aku memutuskan untuk membuat secangkir teh untuk menghangatkan tubuh.“Kenapa aku harus khawatir? Ini masa lalu, kan? Semua orang punya kesempatan untuk berubah kan?” ucapku lirih. Mencoba mengusir kerisauan yang merasuk isi kepala.Dalam keheningan, sayup-sayup terdengar gemerincing

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Nomor Baru

    "Bagus, kamu jago juga merangkai bunga," puji Bu Wini setelah perdebatan panjang pagi ini. Satu vas dengan rangkaian bunga segar sudah tertata indah dan siap untuk mengisi ruang. Kini mereka melanjutkan vas berikutnya. Selain hobi mengoleksi lukisan, bu Wini juga menyukai bunga. Tiga minggu sekali biasanya ada kurir yang mengantar bunga untuk bu Wini. Wanita itu juga hobi berkebun. Memanfaatkan sebagian kecil pekarangan rumah untuk menanam berbagai macam jenis bunga. "Terima kasih, Bu." Satu minggu kami selalu menghabiskan waktu bersama, membuatku bisa melihat sisi hangat bu Wini. Ternyata bu Wini tak segalak yang kubayangkan waktu pertama kali bertemu. Bu Wini yang awalnya begitu menutup diri dari jangkauanku, perlahan menunjukkan kepedulian terhadapku. "Kapan mulai kuliah?" tanya Bu Wini. "Mulai minggu depan, Bu." Ekor mataku menangkap anggukan kepala Bu Wini. Tangannya masih terampil menata bunga di vas yang lain. Sedang matanya fokus dengan

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Suami-Istri

    "Oh ya, Mas. Soal pengasuh buat ibu, alhamdulillah sudah dapet." Anita mengambil jas dan tas dari tangan laki-laki di depannya yang baru memasuki rumah dengan koper di tangan kirinya. "Oh, baguslah. Terima kasih ya," jawab laki-laki itu. "Iya, sama-sama. Sudah seharusnya, Pa." "Icha sudah tidur?" "Sudah. Dia keliatannya seneng banget dengan pengasuhnya ibu. Dari sore tadi sejak dia datang, Icha main di rumah ibu." "Oh, ya? Tumben, biasanya Icha kan enggak mudah akrab sama sembarang orang," ujar Erik. Ia sedikit heran. "Iya, itu. Anaknya menyenangkan kelihatannya. Semoga saja ibu cocok sama dia." Erik mwnganggukkan kepala. "Amin, oh ya anak Papa satu ini rewel tidak?" Erik beralih menatap istrinya. Dieluanya perut Anita yang sudah membuncit. "Enggak, Pa. Dede cuma lagi kangen sama Papa. Papa kapan punya waktu buat kita?" ucap Anita dengan menirukan suara anak kecil. Erik masih mengelus perut Anita. Ia membungkukkan tubuhnya, hingga wajahnya tepat di depan perut Anita. "Maafin

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Penebusan

    Aku memutar-mutar ponsel di genggamanku. Sambil berusaha menerawang kata apa yang pantas untuk kukatakan ketika berbicara dengan Teh Anggi. Dari pesan singkat yang ia titipkan pada bu Luluk, sudah pasti Teh Anggi sudah mengetahui semuanya. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa marah

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Pulang

    Aku menatap gedung mencakar langit di hadapanku penuh haru. Syukur, masih ada kesempatan bagiku untuk menikmati keMaha baikan-Nya. Dua bulan tinggal di sini, sudah cukup membuatku tersiksa. Gedung megah namun mencekam. Tak ada tawa bahagia di dalamnya.Aku menengadahkan kepala, kupejamkan

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Ini Inginku

    Aku masih bergeming. Menatap foto keluarga yang tersimpan di galeri ponsel. "Buat apa sih Teh foto bersama?" Protesku. Hari itu Teh Anggi memaksaku pergi ke studio foto. Untuk foto keluarga katanya. Padahal menurutku foto pakai kamera ponsel dengan kecanggihannya saat ini, itu sudah cukup.

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Titik Nol Diri

    Aku terlahir sempurna. Cantik dan lumayan pintar. Namun bukan berarti tanpa kekurangan. Baik buruk kita di masa lalu tetaplah masa lalu yang hanya bisa dikenang sebagai evaluasi diri agar menjadi manusia yang lebih baik.Arini, begitu orang memanggilku. Nama indah yang disematkan Aba

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status