Mantan Pacarku Rekan Kerjaku

Mantan Pacarku Rekan Kerjaku

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-09-24
Oleh:  Umi KulsumBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel12goodnovel
Belum ada penilaian
6Bab
9Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Claire Bennett, 24 tahun, akhirnya diterima bekerja di LUMIÈRE, perusahaan lifestyle dan beauty besar milik Keluarga Callahan. Pada hari pertamanya, ia mengetahui bahwa Team Leader Brand Marketing adalah Ethan Callahan, mantan kekasihnya yang telah dua tahun tidak ia temui. Yang lebih mengguncang, Ethan ternyata pewaris utama LUMIÈRE. Selama tiga tahun berpacaran, Claire tidak pernah tahu bahwa lelaki yang ia kenal sederhana itu berasal dari keluarga pemilik perusahaan tempatnya kini bekerja. Dua tahun lalu, Claire tanpa sengaja memecahkan sebuah jam antik milik keluarga Ethan di apartemen kecilnya, tanpa tahu siapa Ethan sebenarnya. Sejak itu, ia percaya bahwa dirinya lah penyebab perpisahan mereka. Namun ketika mereka bertemu kembali, Ethan mengatakan satu hal yang mengubah segalanya, jam itu bukan alasan sebenarnya mereka putus. Ternyata perpisahan mereka berkaitan dengan konflik internal Keluarga Callahan dan perebutan kendali atas LUMIÈRE. Tanpa menyadarinya, Claire pernah dijadikan alat untuk menyerang posisi Ethan sebagai calon penerus. Ethan mengetahui sebagian kebenaran itu dan memilih menjauhkan Claire, namun cara yang ia pilih salah, ia menyembunyikan kebenaran dan membiarkan Claire percaya bahwa semuanya kesalahannya. Sekarang mereka kembali bertemu sebagai atasan dan bawahan, dan rahasia yang mereka kubur selama dua tahun mulai terbuka, satu lapis demi satu lapis.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Part 1

Pagi itu Claire Bennett berdiri di depan gedung LUMIÈRE hampir lima menit, cukup lama sampai petugas keamanan di dekat pintu putar mulai memandangnya dengan curiga. Bukan keraguan yang menahannya. Ia hanya sedang membujuk kedua kakinya agar mau melangkah masuk.

Hari itu adalah hari pertamanya bekerja.

Dua puluh empat tahun hidup, dan baru kali ini sebuah gedung setinggi itu menganggapnya sebagai bagian dari isinya. Lantai lobi nya mengkilap sampai bisa memantulkan wajah orang, dan aroma ruangan nya, entah bunga atau parfum mahal, membuat Claire tiba-tiba merasa jaket rajut nya terlalu sederhana untuk udara di tempat ini.

"Kamu bisa," gumamnya pelan, nyaris tidak terdengar. "Kamu sudah ditolak di sembilan tempat. Ini cuma gedung."

Ia mengeratkan tali tas di bahu, lalu melangkah.

Pagi di rumah tadi masih hangat di kepalanya. Ibunya, Elena, menyelipkan setangkai baby's breath ke dalam kotak makan sebelum Claire berangkat, kebiasaan yang sudah dilakukan sejak Claire masih sekolah dasar setiap kali ada hal penting. "Biar hoki," kata ibunya sambil tersenyum, dan dapur kecil tempat mereka sarapan itu terasa wangi seperti toko bunganya. Ayahnya, yang baru pulang tugas, hanya menepuk pundaknya dengan gaya khas Kolonel Richard Bennett, singkat, tegas, tetapi dengan cara yang sulit dijelaskan membuat mata Claire menghangat. Dan Ryan, adiknya, tentu saja mengucapkan kalimat langganannya. "Kak, ingat. Kalau ketemu atasan galak, pura-pura tersenyum saja. Orang galak takut sama orang bahagia."

Claire tersenyum sendiri mengingat itu, lalu melangkah ke meja informasi di tengah lobi. Seorang petugas keamanan mengangkat kepala.

"Ada yang bisa dibantu?"

"Claire Bennett. Hari pertama kerja, divisi Brand Marketing," jawabnya, berusaha terdengar lebih percaya diri daripada yang ia rasakan.

Petugas itu membuka layar di meja nya, menelusuri beberapa baris daftar, lalu mengangguk. "Ada di daftar karyawan baru. Silakan lapor ke tim HRD di lantai lima. Foto nya sudah kami terima, jadi kartu karyawan bisa langsung dicetak di sana." Ia menunjuk lift di sebelah kanan. "Tekan lantai lima, lalu ikuti petunjuk di dinding."

Claire berterima kasih. Tidak ada kartu tamu, tidak ada lanyard sementara, hanya satu kalimat yang membuat jantungnya berdebar. Nama kecilnya memang sudah tercatat di gedung ini, dan itu terasa lebih nyata daripada apa pun.

Lantai lima ternyata berbeda dari yang ia bayangkan. Ruang HRD berupa sederet meja dengan sekat rendah, dinding putih tanpa hiasan, dan satu ruang kecil berpintu kaca untuk wawancara. Seorang perempuan paruh baya berdiri menyambutnya sambil memegang map dan sebuah lanyard plastik kosong.

"Claire Bennett, kan? Aku Selena, dari tim HRD." Ia menyodorkan tangan sekilas, lalu menyerahkan map itu. "Selamat datang di LUMIÈRE. Sebelum ke tim, kita urus dulu administrasi nya."

Untuk dua puluh menit berikutnya, Claire menandatangani kontrak kerja, mengisi data rekening untuk penggajian, dan menyerahkan salinan dokumen yang sudah ia siapkan sejak seminggu lalu. Ia menandatangani terlalu hati-hati, seperti takut salah menulis namanya sendiri. Ketika semuanya selesai, Bu Selena menyerahkan sebuah kartu putih dengan foto Claire tercetak di sudut.

"Ini kartu karyawanmu. Dipakai untuk absen dan akses lift. Jangan sampai hilang, karena mengurus yang baru butuh tiga hari." Ia tersenyum. "Sekarang, hal-hal umum. Jam kerja sembilan sampai enam, absen lewat kartu di pintu masuk lantai. Portal internal untuk cuti dan slip gaji sudah aktif hari ini, akun nya memakai email kantormu. Fasilitas kantin di lantai tiga, klinik di lantai empat, gym di basement. Kalau ada pertanyaan soal asuransi atau administrasi, kirim email ke aku. Sisanya, soal pekerjaan dan kebiasaan di lantai, tanya langsung ke timmu. Mereka lebih tahu."

Claire menggantung kartu itu di lehernya, dan untuk pertama kalinya ia merasa gedung ini mulai menganggapnya ada. Ia mencatat dua hal di ponselnya, portal internal, dan nama Selena.

"Kamu masuk ke Brand Marketing Team, lantai dua belas," lanjut Bu Selena, menutup mapnya. "Aku antar sampai depan pintu, biar kamu tidak nyasar. Timnya kecil, tapi kerjanya berat. Untungnya team leadernya masih muda dan lumayan enak diajak kerja."

Masih muda dan enak diajak kerja. Entah mengapa kalimat itu membuat hati Claire sedikit lega.

Ruang Brand Marketing ternyata tidak sebesar yang ia bayangkan, enam meja, beberapa tanaman yang tumbuh dengan susah payah di bawah pendingin ruangan, dan satu papan besar penuh jadwal kampanye yang ditempeli sticky note warna-warni. Seorang perempuan seusianya menyambutnya duluan, rambut diikat asal, dengan senyum yang terlalu cerah untuk jam sembilan pagi.

"Claire Bennett, kan? Aku Mia. Sebelah sini." Ia menepuk meja kosong di sebelahnya. "Selamat datang di sarang stres."

"Terima kasih," jawab Claire, dan untuk pertama kalinya pagi itu ia benar-benar merasa bisa bernapas.

Mia menunjukkan meja yang akan jadi tempatnya, laci kosong, dan satu komputer yang sudah menyala dengan akun atas namanya. "Link pengaturan awal sudah aku kirim ke kamu lewat chat. Kalau macet, panggil aku." Ia menunjuk ke ujung lorong. "Pantry di sebelah sana, mesin kopinya lumayan. Tapi hati-hati, kalau kamu peminum kopi, mesin itu tidak pernah tidur. Nanti makan siang ikut aku, biar tahu tempatnya."

Bu Selena, yang masih berdiri di ambang pintu, menyerahkan Claire kepada Mia dengan satu anggukan. "Aku serahkan ke tim, ya. Kalau ada urusan administrasi, hubungi aku." Ia menoleh ke Claire. "Oh iya, sebelum mulai, team leader mau ketemu kamu dulu. Sebentar saja, cuma perkenalan."

Claire mengangguk dan mengikuti Bu Selena ke ujung lorong. Ada satu ruangan berpintu kaca di sana, dengan blinds yang tertutup rapat. Di dinding sebelah pintu, sebuah plakat nama berkilau tipis di bawah lampu.

Ethan Callahan, Team Leader, Brand Marketing.

Nama itu tidak langsung berarti apa-apa baginya. Bukan karena ia tidak mengenalnya, tetapi karena otaknya menolak memproses huruf-huruf itu dengan benar. Claire berhenti sejenak, menatap plakat itu, lalu menggeleng pelan. Banyak orang bisa bernama Ethan Callahan. Di negara ini, nama itu bahkan tidak terlalu langka.

Bu Selena mengetuk pintu dua kali dan membukanya.

Ruangan itu tidak besar, tetapi rapi, dan cahaya pagi masuk dari jendela yang menghadap ke kota. Seseorang berdiri membelakangi pintu, sedang menutup sebuah berkas di atas meja. Ia memakai kemeja putih dengan lengan tergulung rapi sampai siku, kebiasaan lama yang langsung dikenali oleh tubuh Claire sebelum otaknya sempat ikut bekerja.

Lelaki itu berbalik.

Dunia Claire berhenti selama satu detik penuh.

Ethan Callahan. Wajah yang sama, hanya sedikit lebih tegas di rahangnya, dengan garis lelah tipis di bawah mata yang dulu tidak ada. Rambutnya sedikit lebih pendek. Tapi tatapannya, tatapan tenang yang seperti selalu bisa menebak isi kepala orang sebelum orang itu selesai bicara, tidak berubah sedikit pun.

Dua tahun. Dua tahun Claire melatih dirinya untuk tidak lagi mengenali tatapan itu. Dan dua tahun itu runtuh hanya dalam sekejap.

"Bu Selena," kata Ethan, dan suaranya tenang, terlalu tenang. Ia mengangguk sopan ke arah Bu Selena sebelum matanya beralih ke Claire. Tidak ada kejutan di wajahnya. Tidak ada apa pun. Seolah ini pertemuan biasa antara atasan dan karyawan baru.

Seolah mereka belum pernah saling mengenal.

"Ini Claire Bennett, team leader. Anggota baru tim kita," kata Bu Selena. "Claire, ini Team Leader Ethan Callahan."

Claire membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. Kata-kata macet di tenggorokan. Jantungnya berdebar terlalu cepat, dan untuk sesaat ia lupa bahwa tubuhnya punya tangan, punya kaki, punya suara. Yang keluar akhirnya hanya anggukan kaku dan satu kata yang terdengar begitu asing di telinganya sendiri.

"Senang bertemu dengan Anda."

Ethan menatapnya lebih lama dari yang seharusnya sopan untuk seorang atasan. Jari-jarinya yang masih bersandar pada berkas di meja menegang sepersekian detik, dan ada sesuatu yang berkedip di matanya, terlalu cepat untuk ditangkap, terlalu dalam untuk diabaikan, lalu hilang. Ketika ia bicara, suaranya tenang, tetapi ada satu nada di ujungnya yang tidak berhasil ia rapikan.

"Selamat bergabung," katanya. "Semoga betah."

Bu Selena mengajaknya keluar sesudah itu, memastikan sekali lagi bahwa Claire tidak butuh apa-apa, lalu kembali ke lantai lima. Claire kembali ke mejanya dengan langkah yang terlalu teratur, seolah sengaja menghitung ubin lantai supaya tidak perlu memikirkan apa pun. Ia duduk. Layar komputernya menampilkan halaman login.

"Kamu pucat," kata Mia, menyodorkan segelas air. "Team leadernya galak ya? Biasanya sih tidak. Dia memang kelihatan dingin, tapi sebenarnya..."

Claire menggeleng, berusaha menyusun senyum. "Aku cuma belum sarapan."

Mia menatapnya sebentar, sepertinya percaya, lalu duduk kembali di mejanya. Beberapa detik kemudian, dengan nada santai seperti orang membicarakan cuaca, Mia berkata, "Oh iya, satu hal lagi. Kamu belum tahu, kan? Team Leader kita itu bukan orang sembarangan. Ethan Callahan itu anaknya Pak CEO. Cucu pendiri LUMIÈRE. Jadi kalau nanti kamu dengar orang-orang di lantai lain ribut soal dia, jangan kaget."

Gelas air di tangan Claire berhenti sepersekian sentimeter sebelum menyentuh bibirnya.

Mia masih tersenyum, masih sibuk dengan berkasnya, sama sekali tidak menyadari bahwa ia baru saja menjatuhkan langit-langit ruangan itu ke atas kepala seseorang.

Dua tahun lalu, Claire berpacaran dengan seorang lelaki yang mengaku bekerja di sebuah perusahaan kecil, tinggal di apartemen sederhana, dan selalu memesan ramen karena "sedang hemat". Dua tahun lalu, lelaki itu bilang padanya bahwa mereka putus karena sebuah jam antik yang tidak sengaja ia pecahkan.

Claire menaruh gelas itu kembali ke meja dengan tangan yang sedikit bergetar.

Ethan Callahan. Cucu pendiri LUMIÈRE.

Lantai dua belas. Meja enam. Satu pintu kaca di ujung lorong, dan laki-laki di baliknya adalah orang yang dua tahun lalu memutuskan hubungan mereka tanpa memberi alasan. Claire menarik napas, lalu membuka dokumen pertama di layarnya. Ia akan bekerja. Wajahnya akan biasa. Setidaknya sampai ia tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
6 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status