Share

Serangan Erick

Author: EnKa Jasmine
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-28 15:00:07

Uang cek berjumlah lima puluh juta rupiah itu menjadi saksi bisu runtuhnya seluruh benteng pertahanan yang kubangun gila-gilaan selama ini. Malam itu, Arkan tidak membiarkanku mengurus pemerasan Nadine sendirian. Pria itu menghubungi tim hukum perusahaan dan asisten pribadinya untuk menemui Nadine di sebuah restoran di luar kompleks.

Bukan hanya menyerahkan uang secara resmi sebagai ganti penyerahan seluruh bukti foto dan dokumen lama di Surabaya, Arkan juga membuat Nadine menandatanga

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Serangan Erick

    Uang cek berjumlah lima puluh juta rupiah itu menjadi saksi bisu runtuhnya seluruh benteng pertahanan yang kubangun gila-gilaan selama ini. Malam itu, Arkan tidak membiarkanku mengurus pemerasan Nadine sendirian. Pria itu menghubungi tim hukum perusahaan dan asisten pribadinya untuk menemui Nadine di sebuah restoran di luar kompleks.Bukan hanya menyerahkan uang secara resmi sebagai ganti penyerahan seluruh bukti foto dan dokumen lama di Surabaya, Arkan juga membuat Nadine menandatangani surat perjanjian kerahasiaan (Non-Disclosure Agreement) bernilai hukum tinggi. Jika selembar saja foto atau isu tentang masa laluku bocor ke publik atau keluarga ini, Nadine tidak hanya akan dipenjara atas tuduhan pemerasan, tetapi seluruh asetnya akan disita.Wanita iblis dari masa laluku itu dibuat tak berkutik. Nadine pergi meninggalkan kota malam itu juga dengan ketakutan luar biasa setelah berhadapan dengan pengacara-pengacara bentukan Arkan.Namun, di dalam kamark

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Batas Waktu Malam Hari

    Pukul delapan malam. Lengang yang mencekik perlahan merayapi seluruh sudut rumah besar ini.Jarum jam dinding di kamar pelayan terasa berdetak jauh lebih kencang daripada biasanya. Setiap detakannya bagaikan bunyi ketukan palu keadilan yang siap meremukkan sisa kepalaku. Satu jam lagi. Hanya tersisa enam puluh menit sebelum ancaman Nadine menjadi kenyataan.Aku duduk bersimpuh di tepi ranjang sempit, meremas ponsel murah di genggamanku hingga buku-buku jariku memutih. Layar ponsel itu menampilkan angka saldo di rekening tabunganku: dua juta empat ratus ribu rupiah. Angka yang teramat menyedihkan jika dibandingkan dengan angka lima puluh juta rupiah yang dituntut oleh Nadine.Bagaimana aku bisa mendapatkan sisa puluhan juta itu dalam waktu singkat? Meminjam pada Mbok Nah jelas mustahil. Meminjam pada Bu Wini atau Mbak Nisa? Sama saja dengan meletakkan leherku sendiri di atas meja pemenggalan. Mereka pasti akan bertanya untuk apa uang sebesar itu dibutuhkan.

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Ancaman di Balik Pagar

    Pandanganku mendadak kabur. Seluruh persendianku serasa diloloskan paksa saat sepasang mata tajam berias tebal itu menatapku dari balik kaca mobil.Nadine.Wanita itu melangkah keluar dari mobil sedan hitamnya. Gaun ketat berwarna merah menyala dan aroma parfum menyengat yang menguar dari tubuhnya terasa begitu asing dan sangat menakutkan. Di lingkungan kompleks perumahan yang tenang ini. Langkah kakinya yang diampu sepatu hak tinggi terdengar menyentak, mendekatiku yang mematung di samping tempat sampah besar dekat gerbang."Ternyata benar dugaan kawan-kawan di Surabaya," ujar Nadine dengan nada mengejek, menyilangkan kedua tangan di dada. Matanya menyapu tubuhku dari ujung jilbab hingga ujung seragam suster putih polos yang kukenakan. "Meylissa... si primadona yang tiba-tiba hilang ditelan bumi, ternyata menyamar jadi suster alim di rumah orang kaya.""N-Nadine..." suaraku tercekat di tenggorokan, rapat dan bergetar parah. Jantungku berpacu gila-gilaan.

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Jejak yang Tercium

    Lari dari ruang laundry sore itu terasa seperti melarikan diri dari medan perang. Dadaku sesak, napasku berburu kencang, dan air mata rasanya tak mau berhenti menetes. Aku mengurung diri di kamar mandi ruang belakang selama belasan menit, membasuh wajahku berulang kali dengan air dingin hingga rasa sembap di mataku sedikit berkurang.Aku harus kuat. Aku harus mempertahankan benteng ini. Semakin Arkan berusaha mendekat dan menunjukkan kebaikannya, semakin keras pula aku harus menepisnya. Sebab aku tahu, begitu Arkan tahu siapa aku sebenarnya di masa lalu, kebaikan itu akan berubah menjadi belati tajam yang menusukku tanpa ampun. Lebih baik aku yang menyakiti diriku sendiri sekarang daripada harus melihat tatapan kecewa dan jijik dari pria itu nanti.Namun, Arkan bukanlah pria yang mudah menyerah.Setelah penolakan keras yang kuberikan di ruang laundry, suasana rumah utama berubah menjadi hening yang menegang. Arkan tidak lagi berusaha memanggil

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Perang Dingin

    Pengakuan Arkan di perpustakaan hari itu tidak membawa kedamaian yang kuharapkan. Justru sebaliknya, kata-kata itu menjelma menjadi hantu baru yang terus menakut-nakuti setiap jengkal pikiranku.Karena kamu bukan sekadar suster bayaran bagiku, Mey.Setiap kali teringat kalimat itu, dadaku berdesir hebat—sebuah sensasi manis yang sangat ingin kunikmati, tetapi langsung dibunuh secara kejam oleh kenyataan pahit yang mencengkeram hidupku.Aku tidak boleh luluh. Aku tidak boleh membiarkan perasaanku tumbuh untuk pria setinggi Arkan.Bisikan-bisikan kejam Erick di dapur tempo hari kembali bergema di telingaku, meracuni setiap sudut logikaku: “Ingat posisi milikmu di sini. Kamu cuma mantan wanita penghibur dari Surabaya yang kebetulan pakai baju tertutup. Jangan mimpi bisa bersanding dengan Arkan!”Erick benar. Bagaimanapun aku berusaha menutupi seragam sustersku dengan kebaikan, kenyataan bahwa tubuh dan masa laluku p

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Benteng Pertahana

    Kata-kata Arkan di dapur sore itu terus bergaung di kepalaku bagai gema yang tak kunjung padam. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu. Termasuk mas-ku sendiri.Kalimat pendek yang diucapkan dengan nada serak dan penuh penekanan itu berhasil meruntuhkan sebagian benteng pertahanan batin yang kubangun rapat-rapat selama ini. Untuk pertama kalinya sejak aku melarikan diri dari dunia malam Surabaya, ada seorang pria yang berdiri di depanku bukan untuk memanfaatkan tubuhku atau menguliti dosaku, melainkan untuk melindungiku.Namun, di saat yang sama, rasa bersalah justru menghujam dadaku makin dalam. Arkan adalah pria yang jujur, tegas, dan terhormat. Dia melindungiku karena dia mengira aku hanyalah suster polos yang menjadi korban ketidaksopanan kakaknya. Bagaimana jika suatu hari dia tahu bahwa aku dan Erick punya rekam jejak yang menjijikkan di masa lalu? Apakah tatapan protektif di mata elang itu akan berganti menjadi tatapan benci dan jijik?"

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Nasi Kotak Pengantar Rindu

    Aku duduk di lantai, meluruskan kaki sambil menyandarkan punggung di dinding teras kosku. Seharian penuh keliling kota Jakarta, membuat kaki terasa kaku, belum lagi lecet di kaki karena terhimpit flatshoes yang kupakai tanpa kaus kaki. Meskipun begitu, belum juga ada ha

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Kesempatan

    Aku mengusap peluh yang membahasi kening dengan punggung tanganku. Sudah hampir tengah hari, namun belum juga ada satupun perusahaan yang menerimaku. Apalagi hanya dengan ijazah SMA tanpa embel-embel sertifikat ketrampilan.Aku duduk di samping taman, salah satu perusahaan ternama di Jakar

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Laki-laki itu

    Aku memijit pelipis yang terasa berdenyut. Sudah beberapa hari menunggu, namun tak ada satupun jawaban dari teman-teman terdekatku tentang lowongan pekerjaan yang aku cari. Jangankan menjawab ada juga yang hanya me-read pesan dariku. Kuletakkan kembali dompet yang hanya tersisa dua lemba

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Maaf

    Aku melempar kaleng minum bekas minumku ke dalam tempat sampah di sudut kamarku. Tempat sampah berbahan plastik itu hampir penuh dengan plastik-plastik bekas snack. Sudah tiga hari kubiarkan menumpuk di sudut ruang. Jika kak Dini melihatnya sudah pasti dia akan mengelus dada. Sebenarnya aku bukan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status