MasukAcha cepat-cepat menurunkan tangan dan segera menjauh dari Elvano. Sementara, pria itu mengambil ponsel dari saku celananya, menatap layar sekilas tanpa ekspresi, lalu bangkit dan mengambil jarak beberapa meter sambil mengangkat teleponnya. Acha sendiri masih duduk di tempatnya, membereskan kotak P3K dengan gerakan pelan. ‘Untung saja, lukanya tidak parah,’ batinnya, meski rasa bersalah itu masih mengendap di dadanya.Sesekali, tanpa sadar, pandangannya melirik ke arah Elvano yang berdiri membelakanginya. Entah berbicara dengan siapa, Acha tak bisa mendengar apa pun selain gumaman singkat pria itu, namun dari nada suaranya terdengar sangat serius.Acha menelan ludah, lalu bangkit dan mengembalikan kotak P3K pada salah satu staf yang tadi memberinya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya.“Kenapa jantungku selalu deg-degan begini kalau dekat Pak Elvano?” gumamnya dalam hatinya, nyaris seperti keluhan untuk
Kesadaran Acha kembali sepenuhnya saat menyadari betapa dekat jarak mereka, bahkan dadanya nyaris bersentuhan dengan dada bidang Elvano.Refleks, Acha menarik tubuhnya sendiri, melepas pegangan di bahu sang atasan dan mundur dengan gerakan cepat, seolah ingin segera menjauh dari situasi yang terasa terlalu intens untuk dipahami akal sehatnya.Pandangan Acha langsung menyapu sekeliling. Beberapa pasang mata tertuju pada mereka. Manajer proyek, kontraktor, bahkan beberapa pekerja di kejauhan tampak memperhatikan dengan isi pikiran masing-masing. Entah cemas, penasaran, atau seperti Emak-Emak rumpi yang hanya ingin tahu.Acha sontak menunduk, menahan malu, namun wajahnya tetap memerah.“Pak Elvano, Bu Acha, tidak apa-apa?” Manajer proyek bertanya dengan nada cemas.Acha menggeleng cepat. “Saya tidak apa-apa.”Elvano juga mengangguk singkat. Ekspresinya tetap tenang, walau kali ini tatapannya tampak lebi
Sepanjang perjalanan, Acha lebih banyak diam dengan pandangan tertuju ke luar jendela. Deretan bangunan dan jalanan yang berlalu hanya dijadikan pengalih dari pikirannya sendiri. Di sampingnya, Elvano duduk tegak, fokus pada layar tablet di tangannya. Sesekali ia menerima panggilan, berbicara singkat dan lugas, lalu kembali menatap layar tanpa ekspresi. Tak ada kehangatan di dalam mobil itu, hanya keheningan yang menghiasi, tetapi Acha sudah terbiasa dengan itu. Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di area pembangunan pabrik garmen. Begitu turun, mereka langsung disambut manajer proyek dan beberapa anggota tim yang membawa dua helm proyek berwarna putih serta rompi keselamatan. “Silakan dipakai untuk keamanan, Pak.” Elvano menerima helm itu dan langsung memakainya tanpa komentar. Salah satu tim membantu memasangkan rompi untuk mereka berdua. Acha, yang berdiri di samping Elvano tanpa sadar menoleh. Pandangan itu seharusnya tak lama. Namun, entah kenapa, matan
Acha masih menggenggam ponsel ketika suasana kamar itu perlahan terasa semakin sunyi. Ia membaca ulang pesan dari istri atasannya, lagi dan lagi, sampai ponsel di tangannya terasa berat. Acha tidak langsung membalas. Dadanya mengencang pelan, seakan ada sesuatu yang menahannya untuk segera mengetik. Ia menelan ludah sebelum jari bergerak di atas layar. Sejak lama, Acha tahu, satu kalimat bisa terdengar berbeda tergantung siapa yang membacanya. Hal itu ia rasakan sekarang. Melihat nama Tiara muncul di layar seharusnya biasa saja, tetapi telapak tangannya justru terasa dingin. Acha menarik napas pendek, lalu mengetik balasan. [Iya, Bu. Saya dan Pak Elvano lagi di Malang.] Pesan itu terkirim. Acha mengetuk pelan sisi ponsel dengan ibu jari sembari menunggu. Tak sampai semenit, balasan dari Tiara pun muncul di layar. [Acha, kalau begitu saya titip Elvano selama di sana ya. Elvano itu kadang tidak sadar kalau terlalu memforsir diri.] [Tolong dibantu dijaga.] Acha terd
Acha sontak menoleh. Mulutnya sedikit terbuka. Ia hampir tak percaya Elvano melontarkan pertanyaan yang ia sendiri tahu arahnya sangat jelas. Padahal, Acha mencari Raka bukan karena ada maksud lain. Lalu, apa motivasinya pertanyaan itu? Acha buru-buru mengalihkan pandangan. Tawanya tiba-tiba meledak, mula-mula pelan, lalu sedikit lebih keras. Bukan karena lucu, melainkan karena ia merasa dihakimi hanya karena mencari seseorang. “Ya, nggak mungkinlah, Pak,” katanya di sela tawa. “Ada-ada saja saya suka Pak Raka.” Elvano tak menanggapi lagi. Ekspresinya tetap datar, bahkan tidak ada reaksi apa pun yang bisa ditafsirkan antara ia percaya atau tidak. Pria itu kembali fokus pada tablet di tangannya, seakan percakapan barusan telah usai dan tidak perlu diperpanjang lagi. Elvano baru mengangkat pandangan ketika mereka tiba di bandara. Itu pun hanya sebentar. Begitu duduk di pesawat, perhatiannya kembali tertambat pada layar tablet. Sesibuk itu, seolah dunia di sekitarnya tidak
Acha sedikit terperanjat mendengar perkataan Elvano barusan. Kepalanya yang semula tertunduk, perlahan terangkat. Sejenak, ia hanya menatap Elvano, memastikan pendengarannya tidak salah. ‘Ke luar kota? Dengannya?’ Padahal, Acha sudah bersiap menerima kemarahan. Setidaknya teguran dingin, atau mungkin tatapan kecewa yang akan membuatnya semakin merasa bersalah. Namun, yang keluar dari mulut Elvano justru di luar dugaan. “I-ikut Bapak … ke luar kota?” ulangnya pelan, nadanya sedikit goyah. “Ke Malang,” jawab Elvano singkat. “Saya akan meninjau pembangunan pabrik. Selama di sana, kamu yang pegang jadwal.” Kalimat tegas itu diucapkan tanpa penjelasan tambahan. Acha menelan ludah yang mendadak terasa keras di kerongkongannya. Dadanya penuh sesak oleh sesuatu yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Ia ingin membuka mulut, ingin bertanya sekadar memastikan mengapa harus dirinya bukan Raka? Kenapa justru dirinya, setelah kecerobohan yang belum sehari berlalu? Bahkan, ora







